Tari Rejang

Pendahuluan

Seni tari tidak bisa terlepas dari budaya yang menghasilkannya. Seni tari mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia, seperti dalam konteks ritual, dalam hal ekspresi estetik murni, maupun sebagai media komunikasi personal maupun kolektif. Namun dinamika budaya masyarakat ikut membawa perubahan-perubahan pada seni tari. Perubahan itu terjadi, baik pada aspek bentuk, fungsi, maupun maknanya.

Secara rasional, masyarakat mengakui bahwa tari-tarian itu berasal dari cetusan rasa hati dan meniru gerak-gerak alam, seperti gerak pepohonan yang ditiup angin, gerak burung, binatang dan sebagainya. Tetapi pada masyarakat yang tinggi kebudayaannya, apalagi bersifat religius seperti di Bali, maka gerak tari ini disadur dan dibumbui dengan syarat dan kode-kode tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan dibuatkan mitologi yang sesuai dengan gerak dan tujuan tari tersebut.

Agama Hindu di Indonesia memiliki kekayaan kesenian yang jelas berhubungan dengan kepercayaan. Kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang beragama Hindu seolah-olah tidak dapat dipisahkan dengan unsur-unsur kebudayaan dan kesenian. Persembahan tersebut dengan bentuk sesaji dengan penuh kecermatan dalam pemilihan bahan-bahan sesaji, nampak menyajikan simbol-simbol yang bersifat ekspresif dengan rasa estetik dan penataan artistik.

Upacara keagamaan yang lebih besar yang banyak dilakukan setiap tahunnya di pura-pura yang sakral, suasana kehadiran seni, khususnya seni tari sangatlah menonjol. Sebagian besar seni pertunjukan tari atau drama ada hubungannya dengan upacara ritual. Misalnya tarian wali yang memiliki sifat suci, dipertunjukan dalam hubungannya untuk memperkuat kepercayaan dan memformulasikan konsepsi agama mengenai kehidupan manusia. Tarian yang berhubungan dengan religi atau kepercayaan bersifat sakral atau suci, seperti misalnya banyak terdapat dalam peninggalan jenis tarian budaya primitif. Penyembahan atau pemujaan terhadap roh nenek moyang dilakukan dengan bentuk tarian merupakan kepercayaan yang telah diwarisi secara turun temurun sejak masyarakat primitif.

Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali yang universal identik dengan kehidupan religi masyarakatnya sehingga mempunyai kedudukan yang sangat mendasar. Para penganutnya dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang Maha Kuasa. Maka banyak muncul kesenian yang dikaitkan dengan pemujaan tertentu atau sebagai pelengkap pemujaan tersebut. Upacara di Pura-Pura (tempat suci) tidak lepas dari seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa dan sastra. Candi-candi, Pura-Pura, dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika dan sikap religius dari penganut Hindu di Bali. Pregina (penari) dalam semangat ngayah (bekerja tanpa pamrih) mempersembahkan tarian sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri.

Para seniman pun ingin menyatu dengan seni karena sesungguhnya setiap insan di dunia ini adalah percikan seni. Selain itu juga berkembang pertunjukkan seni yang bersifat menghibur. Maka di Bali, berdasarkan sifatnya seni digolongkan menjadi seni wali yang disakralkan dan seni yang tidak sakral (disebut profan) yang berfungsi sebagai tontonan atau hiburan saja.

Pada seni tari, tari sakral atau wali adalah tari yang dipentaskan dalam rangka suatu karya atau yadnya atau rangkaian ritual tertentu, dan tarian tersebut biasanya disucikan. Kesuciannya tampak pada peralatan yang digunakan, misalnya pada Tari Pendet ada canang sari (sesajian janur dan bunga yang disusun rapi), pasepan (perapian), dan tetabuhan.

Pada Tari Rejang pada gelungannya serta benang penuntun yang dililitkan pada tubuh penari (khusus Rejang Renteng).

Topeng Sidakarya pada bentuk tapel (topeng), kekereb (tutup kepala), dan beras sekar ura (beras untuk ditaburkan). Semuanya tidak boleh digunakan sembarangan. Kesakralan juga ada pada si penari itu sendiri, misalnya seorang penari Rejang atau penari Sanghyang harus menampilkan penari yang masih muda, belum pernah kawin, dan belum haid. Atau penarinya harus melakukan pewintenan (upacara penyucian diri) dulu sebelum menarikan tarian sakral.

Dalam sejarahnya tari wali ini sebagian besar dikaitkan dengan mitologi agama yang berkembang di daerah tertentu. Mitologi ini mungkin dibuat bersamaan atau sesudah tari wali itu diciptakan atau sebelumnya. Meskipun tarian ini diciptakan manusia, tetapi karena sudah merupakan konsensus dari masyarakat pendukungnya maka tari wali ini mendapat tempat khusus di hati masyarakat dalam kaitannya dengan keyakinan agama, terutama agama Hindu.

Pakar seni tari Bali, I Made Bandem Wijaya, pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tarian Bali dan salah satunya adalah Tari Rejang. Tari Rejang — Dalam Lontar “Usana Bali” disebutkan bahwa Rejang itu adalah simbol widyadari atau bidadari yang turun ke dunia menuntun Ida Bhatara pada waktu Melasti. Khusus pada tari Rejang Renteng, ada tanda yang khusus yaitu “manuntun benang” – prosesinya adalah “jempana linggih Ida Bhatara” dituntun dengan benang yang panjang, diikatkan di pinggang setiap penari rejang.

Jenis-jenis Tari Rejang antara lain Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Bengkol, Rejang Oyod Padi, Rejang Ngregong, Rejang Alus, Rejang Nyangnyingan, Rejang Luk Penyalin, dan Rejang Glibag Ganjil.


Pengertian Tari Rejang

Tari Rejang adalah sebuah tarian klasik (tradisional) yang gerak-gerak tarinya sangat sederhana (polos), lemah gemulai, yang dilakukan secara berkelompok atau massal, dan penuh dengan rasa pengabdian kepada leluhur. Tari ini dilakukan oleh para wanita di dalam mengikuti persembahyangan dengan cara berbaris, melingkar, dan sering pula berpegangan tangan. Biasanya, Tari Rejang menggunakan pakaian adat atau pakaian upacara, menggunakan hiasan bunga-bunga emas di kepalanya sesuai dengan pakaian adat daerah masing-masing. Tarian ini masih dapat dilihat di beberapa daerah di Bali, bahkan kebanyakan desa memiliki kelompok yang memang difokuskan untuk pertunjukan ini.

Salah satu desa yang memiliki kelompok Rejang di daerah Bali Timur adalah Desa Bugbug, Karangasem.Tari Rejang yang ada di Desa Bugbug, Karangasem merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang yang tidak boleh dilupakan. Hal ini disebabkan karena tarian ini wajib untuk disajikan setiap tahunnya dalam suatu upacara ritual yang disebut dengan Ngusabha, demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat desa tersebut. Upacara agama tersebut didukung oleh Rejang.


Sejarah Tari Rejang

Menurut para sesepuh desa, dikatakan bahwa ketika itu desa yang ada sekarang, belum terbentuk. Orang-orang tinggal di areal persawahan (pra-desa) yang dekat dengan sungai yang disebut Tukad Buhu. Suatu ketika terjadi hujan lebat yang tiada henti-hentinya dan menyebabkan banjir dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga menjadi penghambat bagi orang-orang (Krama Desa) sekitarnya untuk melakukan aktifitas mereka, termasuk penguburan mayat. Kemudian timbul keinginan Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) untuk mempersatukan gubuk-gubuk tersebut di sebuah tempat yang layak dan terbebas dari banjir. Untuk tujuan tersebut, maka tempat yang pertama dipilih adalah Pangiyu (Lateng Ngiyu). Tetapi setelah diperhatikan, tempat tersebut sangat sempit dan kurang mendukung. Kemudian ditinjaulah daerah di bagian timur Bukit Penyu (Bukit Dukuh), yang tenyata terdapat genangan air berwarna biru yang disebut Telaga Ngembeng atau Banu Wka.

Tempat ini merupakan tempat yang sangat baik, datar, dan luas, sehingga cocok untuk dijadikan tempat pemukiman untuk sebuah desa. Dengan upaya menimbun genangan air tersbeut untuk mengumpulkan (mempersatukan) orang-orang yang mendiami gubuk-gubuk yang tersebar di areal persawahan (pra-desa). Setelah lama menimbun genangan air tersebut, tetapi genagan air tetap saja demikian adanya, tidak tertimbun.

Setelah hampir mencapai puncak keputus asaan dari orang-orang yang bekerja menimbun genangan air tersebut, kemudian Ida Gde beryoga dan mempersatukan bayu, sabda, dan idep untuk menyatu (manunggal) dengan Bhatara Kala, tanpa diketahui oleh orang-orang. Tidak lama kemudian, muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa yang merupakan wujud lain dari Ida Gde yang sudah menyatu dengan Bhatara Kala. Orang-orang tidak mengenali siapa sebenarnya yang datang tersebut. Beliau menamakan dirinya Ki Taruna Bali. Perwujudan Dewata inilah yang menyanggupi untuk menimbun genangan air tersebut. Tetapi beliau memberi persyaratan kepada orang-orang agar dirinya ditanggung makan dan minumnya oleh orang-orang yang telah mendirikan gubuk-gubuk sementara di sekitar Telaga Ngembeng tersebut.

Orang-orang itupun menyanggupinya untuk menanggung makan dan minumnya hingga selesai. Setelah beberapa lama melakukan pekerjaan menimbun genangan air tersebut, porsi makan dan minum Ki Taruna Bali semakin hari semakin bertambah. Maka, orang-orang yang tadinya berjanji dan siap untuk menanggung makan dan minumnya menjadi kewalahan. Tidak lama kemudian setelah hampir selesai menimbun genangan iar tersebut, di saat itulah muncul niat yang kurang baik dari orang-orang untuk memperdaya (membinasakan) Ki Taruna Bali. Tetapi Ki Taruna Bali yang merupakan perwujudan Dewata, mengetahui niat orang-orang tersebut.

Karena keprihatinan Beliau akan kesetiaan dan ketulusan dari orang-orang tersebut, Ki Taruna Bali yang sangat bijaksana memberikan jalan keluarnya dengan memberikan isyarat da pamoran doeng, yang maksudnya adalah jangan menorehkan kapur saja. Secara lebih luas, maksudnya adalah janganlah senantiasa memiliki niat yang kurang baik seperti itu. Beliau berkata kepada orang-orang agar nantinya ia melakukan kewajiban menyelenggarakan upacara dan upakara babanten pacaruan (caru) lengkap dengan rajah (gambar) wong-wongan Sang Hyang Yamaraja Dhipati Uriping Bhuana pada natar Pura Penataran Bale Agung Desa Pakraman Bugbug, Karangasem dan dikelilingi oleh tarian rejang.

Tarian rejang ini nantinya ditarikan oleh anak-anak mereka yang masih muda yang disebut dengan Daha. Agar selalu ditaati oleh orang-orang yang menjadi Krama Desa hingga kelak, maka terbentuklah desa yang dinamakan Desa Bugbug (dalam bahasa Bali berarti pusat atau dipersatukan).

Tari Rejang tersebut memiliki gerak yang sangat sederhana. Hal ini disebabkan karena tidak mementingkan keindahan gerak, tetapi maksud yang diinginkan dari penyajiannya. Gerak tarinya hanya berdiri biasa, tangan kiri memegang kain putih yang digunakan oleh penari yang ada di belakangnya dan penari yang ada di barisan paling depan kain putih yang digunakan diselempangkan ke kanan, dengan gerak membentangkan tangan ke samping kiri, kanan, dan kedua tangan, yang diulang hingga dua kali. Untuk gerak membentangkan kedua tangan ke samping untuk yang kedua kalinya, dilakukan bersamaan dengan pukulan gong. Tarian ini tidak harus dilakukan dengan kompak atau bersamaan antara satu penari dengan penari lainnya, melainkan yang ditekankan di sini adalah geraknya dilakukan dua kali (diulang) dan gerak terakhir tepat pada saat pukulan gong.

Setelah satu frase gerak selesai, penari yang berada di barisan paling depan pindah ke belakang dan tidak menari. Demikian pula gerak selanjutnya sama dengan gerak pertama, dan seterusnya hingga ada yang memberitahu untuk mengakhirinya. Hanya satu frase gerak yang digunakan, sehingga tidak memerlukan waktu untuk latihan.

Seperti yang telah disebutkan di atas pada sejarah Tari Rejang ini, penarinya adalah anak-anak gadis yang merupakan Krama Desa Ngarep yang disebut dengan Daha. Usia penarinya, yaitu kurang lebih antara 17 tahun sampai 26 tahun yang belum menikah dan sudah mengalami akil balik. Ada rapat khusus untuk menentukan usia penari. Selain itu juga, tidak ada proses inisiasi (penyucian) atau prosesi khusus untuk menentukan penarinya karena penarinya sudah didaulat. Cara yang dilakukan untuk mendaulat penarinya adalah dengan cara memberikan ketipat sumbu kepada calon penarinya dan pada usabha yang akan datang, harus sudah mulai menarikan tarian Rejang tersebut. Jumlah penarinya tidak ditentukan karena tergantung dari penari yang ada dan sudah didaulat.


Pendukung Tarian Rejang

Adapun yang dimaksud dengan pendukung tarian Rejang ini, yaitu :

  • Tata rias yang digunakan sangat sederhana, yaitu rias sehari-hari yang tidak terlalu mencolok (tata rias natural/alami).
  • Tata busana, yang terdiri dari : Kain dan angkin celagi manis yang telah ditentukan dan diberikan oleh desa; Klip (seperti tutup dada, tetapi lebih panjang dan lebarnya lebih kecil),yang dililitkan pada tubuh penari; Rantai yang terbuat dari perak atau slaka, yang dililitkan pada tubuh penari di antara lilitan klip. Kain putih yang panjangnya kurang lebih dua meter, yang diikatkan pada pinggang penari. Kain ini yang digunakan pada saat menari; serta rangkaian selendang berwarna-warni yang disebut dengan kibul, yang diikatkan pada pinggang penari menutupi kain putih dan bokong penari.
  • Rambut penari dipusung menggunakan antol tepat di atas ubun-ubun penari, yang fungsinya adalah untuk menjaga bunga-bunga yang akan digunakan nantinya. Ada yang dijahit untuk menguatkan pusungan dan diberi pelepah batang pohon pisang untuk menyejukkan kepala penari. Semuanya tergantung dari orang yang memasangkan pusungan tersebut.Tidak semua orang dapat memusung rambut penari, hanya ada beberapa orang di desa tersebut yang telah ahli dalam hal memusung rambut penari tersebut; Kain hitam yang dipasang pada dahi penari untuk menahan petitis; Bunga kamboja (jepun), yang dirangkai dan dipasang pada kepala bagian belakang penari dan dibentuk setengah lingkaran; Petitis; Bunga mitir yang dipasang tepat di atas petitis ; Bunga-bunga imitasi, tergantung dari penari berapa jumlah dan bunga apa yang digunakan; Bunga palsu yang terbuat dari kertas jagung yang jumlahnya tidak ditentukan; dan Palendo yang merupakan hiasan kuncup-kuncup bunga yang terbuat dari kertas jagung dan wajib digunakan. Apabila tidak digunakan, penari akan dikenakan sanksi.

Tempat pementasannya ada dua, yaitu di pantai yang dilakukan pada saat mencari air suci (tirtha amertha), tirtha sudha-mala, dan lain-lain. Tepatnya adalah pada saat dua hari menjelang puncak usabha. Datang dari pantai, penari Rejang menari di natar Pura Penataran Agung Desa Pakraman Bugbug atau Penataran Bale Agung dan mengelilingi rajah, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Pada saat ini tidak ada pergantian penari karena penari membentuk lingkaran dan berkeliling.

Sehari sebelum puncak upacara dan pada saat puncak upacara, penari Rejang menari di natar Pura Penataran Agung Desa Pakraman Bugbug dengan posisi berbaris menghadap utara. Jadi yang dimaksud dengan tempat pementasannya ada dua tempat tergantung dari waktu pementasannya.

Waktu pementasannya pun dilakukan dengan waktu yang berbeda. Pada saat di pantai penyajiannya dilakukan pada sore hari, yaitu menjelang matahari terbenam. Sedangkan pada saat sehari menjelang puncak upacara dan pada saat puncak upacara dilakukan pada saat pagi hari, yaitu sekitar pukul 9 pagi.

Sama halnya dengan Tari Rejang lainnya yang ada di daerah Bali Timur (Karangasem), Tari Rejang ini juga menggunakan seperangkat gambelan Selonding, yang merupakan gambelan khas Karangasem, sebagai iringan tarinya. Mengenai usia dari tarian ini, hingga saat ini belum dapat diketahui secara pasti tahun berapa tarian ini ada. Berdasarkan informasi dari sesepuh desa tersebut, dikatakan bahwa tarian Rejang tersebut ada sejak pertama kalinya ada upacara agama yang disebut aci atau usabha manggung di desa tersebut.

Tarian ini harus disajikan setiap bulan pertama sasih kasa (Shrawana) nuju beteng di desa tersebut. Pelaksaan tarian Rejang di desa tersebut sama dengan pelaksanaan tarian Rejang di Desa Tenganan, Karangasem.

Mengenai jenisnya, tarian Rejang ini belum dapat digolongkan ke dalam jenis yang mana dari 14 jenis Rejang yang diketahui. Hal ini disebabkan karena belum ada yang melakukan penelitian secara khusus mengenai tarian Rejang ini. Dalam penyajiannya, tidak ada sesaji (banten) khusus untuk mementaskannya. Sedangkan mengenai struktur dari awal hingga akhir, tarian ini tidak memiliki struktur seperti tarian lainnya. Hanya saja, setiap penari melakukan persembahyangan secara pribadi sebelum menari. Usai penyajiannya, setiap penari kembali ke rumah masing-masing tanpa ada upacara khusus.

Saat ini, tarian ini telah mendapatkan generasi yang sudah tak terhitung. Hal ini belum dapat dipastikan karena usia dari tarian ini yang sudah tua dan usia tarian ini pun tidak diketahui.


Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari uraian di atas adalah :

  • Tari Rejang adalah sebuah tarian klasik (tradisional) yang gerak-gerak tarinya sangat sederhana (polos), lemah gemulai, yang dilakukan secara berkelompok atau massal, dan penuh dengan rasa pengabdian kepada leluhur.
  • Tarian Rejang ini nantinya ditarikan oleh anak-anak mereka yang masih muda yang disebut dengan Daha. Agar selalu ditaati oleh orang-orang yang menjadi Krama Desa hingga kelak, maka terbentuklah desa yang dinamakan Desa Bugbug (dalam bahasa Bali berarti pusat atau dipersatukan).
  • Adapun yang dimaksud dengan pendukung tarian Rejang ini, yaitu tata rias yang digunakan sangat sederhana, yaitu rias sehari-hari yang tidak terlalu mencolok (tata rias natural/alami). Tata busana, yang terdiri dari : Kain dan angkin celagi manis yang telah ditentukan dan diberikan oleh desa; Klip (seperti tutup dada, tetapi lebih panjang dan lebarnya lebih kecil),yang dililitkan pada tubuh penari; Rantai yang terbuat dari perak atau slaka, yang dililitkan pada tubuh penari di antara lilitan klip; Kain putih yang panjangnya kurang lebih dua meter, yang diikatkan pada pinggang penari.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s