Purana Pura Ulunswi – Terjemahan

Ya Tuhan, semoga hamba tidak mendapat halangan dan semoga berhasil.

Inilah hendaknya diketahui tentang asal-usul leluhur hamba, kami mohon maaf kepada leluhur kami, agar tidak mendapatkan kualat. Tersebutlah ada sebuah batu hitam yang berada di sebelah timur Sungai Unda, amat sempurnanya, bagaikan sapi yang sedang tidur, yang disinari oleh sinarnya Hyang Surya. Adapun pada hari baik, yakni amertamasa, terbagi dualah batu itu, dengan pertanda bergetarlah bumi ini yang dibarengi suara gumuruh, bagaikan gempa, hujan lebat dengan suara petirnya, tak henti-hentinya meteor, yang berpindah-pindah di seluruh arah, lalu lahirlah dua orang anak laki-laki, yang mat sempurna dan tampan wajahnya.

Babad

Adapun prihalnya, sekarang lahir dan seketika itu juga menjadi dewasa kedua-duanya, sama-sama tampan tak ada bedanya. Rambutnya hitam lebat, panjangnya sampai dipinggang, batu matanya berwarna kekuning-kuningan, kedua-duanya tidak ada bedanya, sama-sama berkain hijau, berikat pinggang bergambarkan gajah putih serta membawa tongkat yang bernama Ki Babiring Agung. Tersebutlah ada suara yang terdengar oleh banyak orang, ai engkau adalah keturunan orang utama, dua orang laki-laki, engkau lahir dari sebuah batu, engkau disebut Dalem oleh masyarakat, karena engkau keturunan Ksatria, amat utama, tetapi tidak boleh engkau kedua-duanya untuk menjadi raja, memerintah di kerajaan Bali.

Demikianlah sura yang terdengar, sedihlah hatinya Sang Dalem Alitan, pergilah beliau dari Gelgel, dengan membawa tongkat yang selalu menyertai dalam perjalanan, yakni yang bernama Ki Babiring Agung.

Kian kemarilah perjalanan beliau, dengan tujuan menuju puncaknya gunung dengan berjalan dipinggir pantai, mengarah ke barat daya perjalanan beliau, sampailah beliau di wilayah hutan Luhur Uluwatu, di sinilah beliau menjumpai hutan bambu yang lebat. Tersebutlah sebatang pohon bambu yang besar panjang dan lurus, seakan-akan kurang lebih 30 Cm (amusti) dengan langit, keheran-herananlah Sang Dalem memikirkan kesempurnaan bambu petung tersebut, bagaikan dijaga oleh Sanghyang Bhayu, lalu dikutuklah bambu tersebut oleh Sang Dalem, agar supaya bambu itu hamil dan melahirkan seorang putri yang cantik, serta disusui oleh kidang di dalam hutan. Sungguh hebat Sang Dalem, seakan-akan anugrah Bhatara, maka hamillah bambu tersebut dan seketika melahirkan seorang putri yang cantik serta disusui oleh seekor kidang di dalam hutan.

Bambu petung itu, setelah melahirkan seorang anak, lalu menghilang dan moksa. Adapun ceritra tentang bambu petung itu adalah penjelmaan bidadari yang kena kutuk. Pertumbuhan anak itu cepat menjadi dewasa dan rupanya mat cantik, bagaikan penjelmaan Hyang Ratih, se-akan-akan dewanya lautan suci yang berwujud manusia. Lalu jatuh cintalah Sang Dalem, lalu dikawininya anak gadis itu dijadikan permaisuri, amat rukunlah beliau dalam memadu kasih. Sang Dalem berpesan kepada istrinya, jika engkau nantinya berputra dengan diriku, sama sekali tidak boleh makan daging kidang dan tidur beralaskan (magalar) bambu, karena engkau lahir dari bambu dan disusui oleh kidang, demikian juga seketurunanku kelak.

Demikianlah peasan Sang Dalem kepada istrinya, serta beliau mendirikan pondok, berkebun, menanam phala gantung dan phala bungkah dan membangun taman, yang penuh dengan bermacam-macam bunga teratai, berkebun bunga. Pada suatu saat hamillah permaisurinya, tak terceritrakan senang dan bahagianya Sang Dalem, bermain-main di tetamanannya, sambil melihat-lihat indahnya berbagai macam bunga, setelah hampir mendekati jam 1 (satu) siang (dawuh tri), permaisurinya telah menyiapkan hidangan sang suami dan setelah semuanya siap, datanglah seorang laki-laki, yang warna kulitnya kehitam-hitaman, batu matanya bersinar merah, besar dan tinggi, serta tidak terlalu pendek dan tidak juga terlalu tinggi, rambutnya hitam dan keriting, kumis dan berjenggot, warnanya agak pirang, lalu berjalan mendekati hidangan itu dan bertanya kepada permaisuri Dalem.

“Ai anak perempuan, siapakah yang memiliki makanan ini ?” Lalu dijawab oleh sang permaisuri Dalem : “Ya Tuanku, makanan ini adalah milikku suami hamba”. Setelah mendengar jawaban tersebut, lalu orang laki itu membuka tutup makanan itu, terkejutlah sang permaisuri dan berkata :”Ai jangan lah berbuat yang senonoh, tidak benar perbuatan kalian, suami hamba belum datang!”

Lalu pergilah Sang Dalem Selem, bersembunyi di sekitar ladang perkebunan.

Tiada berselang lama datang Dalem Putih, beliau telah mengetahui makanannya sudah agak basi, karena telah ada yang membukanya. Lalu beliau bertanya kepada Sang Permaisuri : ” Ya adikku, siapakah yang membuka hidanganku ?” Menjawablah Sang Permaisuri : ” Sungguh Tuanku, ada seorang tamu laki yang tadi datang ke mari, yang membuka hidangan Tuanku, hamba tidak tahu namanya”.

Mendengar hal yang demikian, marahlah Sang Dalem Putih, setelah melihat hidangannya, sembari bertanya : “Kemana perginya orang itu ?’ Dengan membawa tongkat Ki Babiring Agung, lalu mencarinya. Dijumpainyalah orang tersebut tidak jauh dari pondoknya, segera ditombak oleh Sang Dalem dengan Ki Babiring Agung, tepat mengenai dadanya, tetapi sedikitpun tak berbekas, karena teguh oleh berbagai macam senjata. Dibalaslah oleh Sang Dalem Selem, ditusuk dadanya dengan keris yang bernama Ki Jala Katenggeng, namun sedikitpun tak berbekas, apalagi luka, akhirnya terjadilah perang tanding, saling tusuk, saling pukul, sama-sama berani, tetapi akhirnya mereka berhenti karena kepayahan dalam berperang.

Lalu bertanya Sang Dalem kepada musuhnya : “Ai, saudara dari mana dan berani menantang kewibawaanku, dari mana asal saudara dan siapa nama saudara ?” Menjawablah Sang Wawudateng : “Dengarkanlah dengan baik-baik, nama saya Dalem Selem Bedahulu, dan saya keturunan Dalem, saya lahir dari air”. Dan saya kembali bertanya kepada Tuan :”Tuan kelahiran dari mana, siapa nama Tuan, katakanlah dengan sungguh-sungguh !”

Menjawablah Sang Dalem : “Ai, saudara Dalem Selem Bedahulu, sekarang dengarkanlah dengan baik-baik kata-kataku, saya adalah Dalem Putih Jimbaran, saya lahir dari batu dan saya keturunan Dalem”. Setelah mendengar penjelasan yang sedemikian rupa, maka Dalem Selem Bedahulu, menyatakan : “Jika benar demikian, tuan dan saya adalah bersaudara, karena tuan lahir dari batu dan saya lahir dari air”. Sang Dalem Putih Jimbaran, menjawab : “Jika demikian kebenarannya, saya dan saudara adalah kelahiran yang sama: Lalu mereka dengan senang, lalu bersama-sama menghapiri pondoknya, dengan bergandengan tangan lalu memasuki pondoknya, yakni tempat hidangan makanan yang tadi, bersama-sama duduk dan makan, karena mereka amat senang dapat bertemu dengan saudara.

Setelah beliau menyantap hidangan, lalu Dalem Selem Bedahulu, mohon diri kepada Dalem Putih Jimbaran, untuk kembali ke Bedahulu; tak terceritrakan dalam perjalanan.

Adapun yang menjadi kawitan hamba, adalah beliau yang berabhiseka Dalem Putih Jimbaran. Diceritrakan istri Dalem Putih Jimbaran, telah mengandung dan umur kandungannya sudah lewat dari 8 bulan, lahirlah seorang anak laki-laki, yang amat tampan, yang diberi nama Dalem Petak Jingga. Pertumbuhan beliau amat cepat, setelah dewasa, banyaklah orang-orang disekitar pondok-pondok beliau, menaruh rasa hormat dan subakti kepada Dalem Petak Jingga, karena kebijaksanaannya, mahir pada sastra-sastra rahasia. Sehari-hari kegemaran beliau adalah berburu dan mencari burung.

Adapun Dalem Putih Jimbaran, dengan telah mengetahui kemampuan putranya, maka beliau ingin bepergian ke pulau Jawa dan berpesan kepada putranya : :Anakku Dalem Petak Jingga, ayahmu akan pergi ke bumi Solo, di pulau Jawa, anakku tinggallah di sini, dirikanlah Puri di desa Jimbaran, anakku menjadi pimpinan Desa, sebutlah dirimu keturunan Jimbaran, demikian juga semua orang yang ada dalam hutan dan yang berada dipondok-pondok, jika anakku telah mempunyai keturunan dan seketurunanmu, mulai sekarang sampai masa yang akan datang, tidak boleh memakan daging kidang dan beralaskan (galar) dari bambu. Ini ada tongkat ayahmu yang bernama Ki Babiring Agung dan selembar selendang putih, inilah sebagai Prasasti. Janganlah anakku ragu-ragu, peliharalah dengan baik, jangan tidak waspada, jika ada ketutunan anakku yang melanggar bhisama ini, semoga mendapatkan neraka dan dosa, bagaikan membunuh seorang pendeta, menggugurkan kandungan, bagaikan mendapatkan kutukan dari Sanghyang Hari Candani dan tidak dapat dilukat oleh Tri Sadhaka, Siwa Buddha dan Bhujangga. Demikianlah pesan ayah, dengan tujuan seluruh keturunan kita, tidak memakan daging kidang dan tidur beralaskan bambu, hendaknya jagalah dengan baik selendang putih itu dan Ki Babiring Agung, itulah hendaknya dianggap sebagai warisan, serta dihormati sebagai Prasasti Kaliliran.

Ada pesan ayahmu, anakku jika ada orang selain keturunan kita, yang menjadi Kuwu Desi, di desa Jimbaran, darimanapun asalnya orang itu, semoga mereka tidak mendapatkan kebahagiaan. Demikianlah pesan /bhisama Dalem Putih Jimbaran, yang telah menyebar sewilayah Jimbaran, termasuk orang-orang yang tinggal ditengah-tengah hutan, sehingga orang-orang menjadi takut, hormat kepada Dalem Petak Jingga.

Lalu Dalem Petak Jingga mendirikan Puri di Jimbaran, tak terceritrakan tentang keindahannya, karena beliau menjadi pimpinan Desa, apapun yang menjadi keinginannya dapat segera terpenuhi, karena tidak ada yang merupakan penghalang.

Tersebutlah Dalem Putih Jimbaran, pergi ke pulau Jawa, yakni daerah Solo, hendaknya lewatkan prihal itu.

Diceritrakan kembali Dalem Petak Jingga, karena dihormati oleh penghuni Jimbaran, lalu beliau mendirikan Palinggih Bhatara, Meru tumpang 11, yang disebut Pura Ulunswi (Hulunswi). Tersebutlah keturunan I Gusti Ngurah Tegehkori, menjalin hubungan dengan Dalem Petak Jingga, beliaulah yang disuruh menjadi Pamangku pada Pura Hulunswi (Ulunswi). Dan lagi Dalem Petak Jingga, mendirikan Kahyangan Pangulun Setra, tersebutlah keturunan I Gusti Ngurah Celuk dari desa Tabanan, juga menjalin hubungan deng Dalem Petak Jingga, lalu beliau disuruh menjadi Pamangku di Pangulun Setra dan lagi Dalem Petak Jingga mendirikan Palinggih Bhatara Meru tumpang 3, lengkap dengan Paibon, yang disebut dengan Pura Dukuh. Tersebutlah keturunan Pasek dari Kusamba, yang pergi meninggalkan desanya, menuju daerah Jimbaran, mengabdi kepada dalem Petak Jingga, merekalah disuruh menjadi Pamangku di Pura Dukuh.

Marilah kita ceritrakan kembali, tempat beliau berperang dahulu, Sang Dalem Putih Jimbaran dengan Sang Dalem Selem Bedahulu, disebut dengan Alas Kali, karena di tempat itu beliau berperang, demikianlah ceritranya.

Sekarang marilah kita ceritrakan orang-orang yang ada di Jimbaran, semuanya bersenang hati, demikian juga orang-orang yang tinggal di hutan, yang tinggal dipondok-pondok, karena pemerintahan beliau Dalem Petak Jingga, yakni menjadi pimpinan di desa Jimbaran, hidup segala yang ditanam dan murah segala yang diberi.

Marilah kita kembali berceritra, yakni tentang kawitan hamba Dalem Putih Jimbaran, setelah beliau datang dari Pulau Jawa Solo, karena ditolak oleh Dalem Solo, disuruh untuk kembali ke Bali, karena beliau kelahiran Bali, maka kembalilah beliau ke Bali, menggunakan tongkat Pering Jati, menuju beliau sebuah hutan, di sebelah selatan Kuta, moksalah beliau, atmanya bersatu dengan Bhatara (Tuhan), karena beliau sudah berbadankan dewa. Adapun di tempat beliau moksa, disebut dengan Purasada, yang disungsung oleh keturunan beliau, dengan mendirikan Palinggih Purasada, karena Dalem Putih Jimbaran, yang merupakan kawitan hamba, yang telah bersatu dengan Bhatara, berstana di Purasada.

Demikianlah yang menjadi Kawitan hamba, yang telah dituliskan dalam Prasasti.

Inilah Surat Piagam, yang dijaga merupakan Prasasti, oleh keturunan Dalem Putih Jimbaran, hamba mohon maaf, agar tidak mendapatkan kualat dari Bhatara.

Lontar yang menjadi babon adalah milik Mangku Nyoman Kusuma, dari Banjar Tampuagan, Karangasem, yang disalin oleh Sira Anwam Kerthadana, dari Utaraning Wreksa, Menghapura, Bandhananagara, pada tahun Saka 1922. Kurang lebihnya saya mohon maaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s