Tari Baris Bajra

Mendengar Tari Baris sudah tidak asing lagi di telinga kita, namun jika kita mendengar Tari Baris Bajra maka timbulah sebuah pertanyaan, tarian baris yang bagaimana? Setelah kita menonton secara langsung tarian Baris Bajra barulah kita tahu tarian itu sarat dengan identitas dan makna filosofis.

Tari Baris Bajra

Tarian itu berjumlah sebelas orang dan masing-masing penari membawa properti Bajra yang dibuat dari gabus ukurannya tidak terlalu besar maupun tidak terlalu kecil mungkin supaya ringan dan mudah menggerakan properti Bajra tersebut pada saat menarikannya.

Uniknya lagi sebelum menari mereka mengucapkan aksara suci “Ong, Ah, Ung, Krih, Brih, Hrih, Bajra Yana Yanama Swaha” dengan penuh percaya diri sehingga membuat pemedek pura yang menoton tarian tersebut menjadi terkesima mendengarnya. Kemudian gerakan tarian yang begitu anggun dengan lentikan jemari tangan si penari dipadukan dengan gerak Bajra di tangan kanannya layaknya seperti pendeta pada saat mepuja, menujukkan bahwa tarian tersebut mengambil inspirasi dari pendeta.

Continue reading

Advertisements

Pura Segara Penimbangan – 2

Letak Pura

Lokasi Pura Penimbangan terletak di wilayah Desa Panji Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng tepatnya di tepi pantai sebelah barat Kota Singaraja. Pura yang sering disebut dengan Pura Segara Penimbangan ini dipercaya oleh pengemponnya sebagai pura penyeimbang gumi Bali sesuai dengan namanya. Dari segi lokasi, pura ini memang berada di tengah antara Buleleng bagian barat dan Buleleng bagian timur. Sesuai dengan namanya, Penimbangan, pura ini seperti sebuah titik untuk menyeimbangkan barat dan timur agar bumi jadi harmonis dan damai. Di sebelah barat Pura Penimbangan saat ini dibangun sarana wisata keluarga dan menjadi tempat santai favorit di Singaraja. Banyak keluarga terutama di hari minggu dan libur menyempatkan diri mengunjungi tempat ini untuk santai dan berolahraga.

Pura Segara Penimbangan2

Struktur Pura Segara Penimbangan

Jero Mangku Segara menjelaskan, Pura Penimbangan terdapat sejumlah pelinggih berupa meru dan padma. Di sebelah timur terdapat tujuh buah pelinggih dan di sebelah selatan dibangun sembilan buah pelinggih. Sementara di jabaan terdapat tiga buah pelinggih. Pelinggih di sisi timur merupakan pelinggih Ida Bhatara Ngurah Nyarikan, Dewa Bestala, Ngurah Pasek, Kebayan, Dewa Ngurah Agung Segara, Ulun Danu dan Surya. Sementara, pelinggih di selatan merupakan Ida Bhatara Ayu Mas Taman, Ngurah Bukit, Dewa Ngurah Segara, Majapahit, Wahyu Mas Penganten, Dewa Ayu Manik Galih dan Dewa Taksu.

Sementara di luar penyengker pura tepatnya di ujung selatan terdapat pelinggih Ida Bhatara Ratu Sapu Jagat. Satu ciri khas pelinggih ini arsitekturnya bercampur antara Cina dan Hindu.

Areal Pura Penimbangan luasnya diperkirakan 75 are. Untuk jeroaan ukurannya diperkirakan 30 x 20 meter persegi. Sementara di sebelah utara penyengker pura sudah berbatasan dengan laut dan bahkan ketiga ombak pasang, penyengker pura ini terendam air laut. Namun syukur sudah ada pencegahan abrasi dengan pemasangan deker-deker beton untuk memecah ombak.

Hari Suci pura Segara Penimbangan

Odalan di Pura Penimbangan akan berlangsung pada Purnama Kapat. Krama Adat Desa Panji yang menjadi pengempon pura itu sudah bersiap untuk menyelenggarakan upacara yang bukan hanya dihadiri krama di Panji, namun juga sejumlah krama dari seluruh Buleleng. Odalan akan digelar selama tiga hari berturut-turut.

Daya Tarik Pura Segara Penimbangan

Pura Segara Penimbangan berada di tepi Pantai Penimbangan yang berlokasi di sekitaran Bali Utara, yaitu Kabupaten Buleleng Bali. Di jalan menuju Pura Penimbangan ini terdapat deretan pedagang kaki lima di sepanjang bibir pantai yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya muda-mudi, keluarga serta wisatawan lokal maupun asing, terutama di sore hari hingga malam hari.

Terdapat pula beberapa Rumah Makan dan resto di sepanjang jalan menuju Pantai Penimbangan. Di sekitaran Pantai Pura Penimbangan ini juga sering kali dapat ditemui para pemancing baik itu pemancing serius (nelayan), atau pemancing yang memancing hanya untuk mengisi waktu luang saja.

Pemandangan di pantai ini indah, apalagi di saat sunset karena Pantai Penimbangan ini memiliki posisi berhadapan dengan matahari di saat tenggelam. Di beberapa kesempatan, pengunjung juga dapat melihat ritual keagamaan yang diadakan di Pura Penimbangan.

Pura Segara Penimbangan – 1

Sejarah Pura Segara Penimbangan

Pura Segara Penimbangan terletak di Desa Panji Kecamatan Sukasada. Sesungguhnya secara umum sama saja dengan Pura Segara lainnya di Bali. Meski demikian, ada sesuatu hal khusus yang membedakan dengan Pura Segara lainnya. Di Pura Segara Penimbangan ini ada sebuah Pelinggih Taksu yang dijadikan media pemujaan oleh umat Hindu di Desa Panji. Pelinggih Taksu ini juga dijadikan media pemujaan oleh umat Buddha di sekitar Buleleng.

Pura Segara Penimbangan

Di Pelinggih Taksu ini terdapat sebuah arca batu yang dipahatkan menempel di Pelinggih Taksu tersebut. Arca tersebut dengan style Cina yang berwujud seorang lelaki gemuk duduk bersila, berkepala gundul dengan perut buncit dalam sikap semadi menghadap ke laut Jawa mirip tokoh Buddha Lokeswara. Pelinggih Taksu ini merupakan Pelinggih Ratu Bungkah Kaang. Konon arca tersebut sebagai peringatan nakhoda kapal milik Dampu Awang atau ada juga yang menyebutnya Empu Awang dari Cina yang pernah kandas di pantai Desa Panji.

Continue reading

Tari Baris Jangkang Nusa Penida

Seni tari adalah hasil cipta, rasa, karsa dan karya manusia yang mengandung nilai keindahan. Seni tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat terutama masyarakat Hindu. Seni tari adalah salah satu dari sekian banyak yang memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat Hindu dalam menyelenggarakan upacara keagamaan, khususnya di Bali.

Baris Jangkang

Kesenian Hindu di Bali mempunyai kedudukan yang sangat mendasar, karena tidak dapat dipisahkan dari relegius masyarakat Hindu di Bali. Upacara di pura-pura (tempat suci) juga tidak lepas dari kesenian seperti seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa dan sastra. Candi-candi, pura-pura dan lain-lainya dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika dan sikap relegius dari para umat penganut Hindu di Bali. Pregina atau penari dalam semangat ngayah atau bekerja tanpa pamrih mempersembahkan kesenian tersebut sebagai wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Di dalamnya ada rasa bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri dan seniman ingin sekali menjadi satu dengan seni itu karena sesungguhnya tiap-tiap insan di dunia ini adalah percikan seni.

Continue reading

Pura Pangukur-ukuran

Pura Pangukur-ukuran diyakini jadi tempat mengukur kekuatan Bali tempo dulu. Di sinilah kemampuan Kebo Iwa ditakar sebelum menjadi mahapatih Kerajaan Bali Kuno.

Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, memiliki banyak tempat suci yang dilengkapi ritus-ritus purba. Misalkan Pura Penataran Sasih, Pura Kebo Edan atau Pura Pusering Jagat. Di antara situs-situs tua itulah berdiri Pura Pangukur-ukuran. Lokasinya di Desa Pakraman Sawagunung, Desa Pejeng Kelod.

Pura Pengukur-Ukuran

Beragam kisah dapat dicermati dari keberadaan pura di tepi Tukad Pakerisan ini. Mulai dari jenis palinggih (bangunan suci) hingga tinggalan purbakala yang tersimpan di dalamnya.

Tradisi lisan di Pejeng dan sekitarnya menyebutkan, pura berluas 2 ha ini konon menjadi tempat para raja Bali Kuno mengukur tanah Bali. Termasuk mencari tempat yang cocok buat membangun pura pusat. Kemudian dari Pura Manik Corong, di Desa Pejeng, membidik daerah yang cocok dibangun Pura Basukian. Ada perkira-kiraan semula sang raja hendak membangun Pura Basukian (Besakih) di sebelah utara areal Pura Pangukur-ukuran. Di lokasi ini hingga kini ada peninggalan berupa tanah lapang berdasar batu padas seluas 150 m2. Konon setelah melalui berbagai pertimbangan, di antaranya lokasi pura terlalu di tengah, kurang menunjuk arah timur laut, keinginan membangun Pura Basukian di areal Pura Pangukur-ukuran pun tak dilanjutkan. Kawasan pinggang Gunung Agung (kini bernama Desa Besakih), menjadi pilihan membangun Pura Basukian. “Itu sebab antara Pangukur-ukuran dengan Manik Corong memiliki hubungan erat,” kisah Jero Mangku Dewa Gede Rauh, Pamangku Pamucuk Pura Pangukur-ukuran.

Continue reading

Tradisi “Mesbes Bangke” – Banjar Buruan – Gianyar

Tradisi yang cukup ekstrim, seram dan cukup aneh masih berlaku di salah satu Desa Tampaksiring – Gianyar. Bagi masyarakat awam yang tidak mengetahui dan baru melihat bahkan mendengar akan merasakan kepiluan bila melihat tradisi mencabik mayat atau yang lebih dikenal dengan “Mesbes Bangke” yang dilakukan oleh warga di Desa Tampaksiring.

Mesbes Bangke

Tradisi Mesbes Bangke ini dilakukan dengan menggunakan tangan, bahkan ada yang menggunakan gigi. Setelah tiba di sungai dekat kuburan, para pencabik melepaskan mayat dari joli untuk dipermainkan. Mayat dibawa lari kesana-kemari. Setelah para pencabik capek, barulah mayat dikremasi.

Kelian Dinas dan Adat Banjar Buruan, Desa Tampaksiring, Gianyar mengungkapkan pelaksanaan tradisi tersebut dilakukan setiap ada warga yang menghelat ritual ngaben secara personal.

Continue reading

Baris Cina dan Gong Beri

Baris Cina merupakan salah satu tarian sakral yang lahir, tumbuh dan dilestarikan di Denpasar, tepatnya di Kelurahan Renon. Tidak banyak yang mengenal Baris Cina secara utuh, ada yang tahu nama Baris Cina namun menganggap tarian tersebut serupa dengan Tari Baris lain yang juga berkembang di Bali. Bagi mereka yang pernah melihat secara langsung, akan diliputi berbagai pertanyaan, bagaimana dan darimana asal-usul tarian yang jika dilihat tampilan luarnya sama sekali tidak menggambarkan tampilan sebuah tarian yang lahir di Bali pada umumnya.

Baris Cina

Keberadaan masyarakat penyungsung atau pemaksan Baris Cina memiliki kaitan erat dengan Pura Blanjong – Sanur, dimana lokasinya berdekatan dengan prasasti Blanjong yang menyebutkan kemenangan yang diraih oleh Raja Warmadewa terhadap musuh-musuhnya. Dari cerita yang berkembang di masyarakat disebutkan bahwa di masa akhir perang, leluhur mereka pergi meninggalkan pemukiman mereka di pesisir Blanjong – Sanur menuju ke daerah baru.

Continue reading