Renungan Akhir Tahun Panbelog (3)

Panyekahan Ni Wayan Jabreg, Ni Made Rinten dan Ni Ketut Rintin

Setelah dilaksanakan upacara pangabenan dadong Ni Wayan Jabreg, kemudiann dilakukan rembug keluarga, maka diputuskan untuk melanjutkan ke upacara Panyekahan. Untuk upacara panyekahan, yang ikut diupacarai adalah dadong Ni Made Rinten dan dadong Ni Ketut Rintin.

Continue reading

Advertisements

Renungan Akhir Tahun Panbelog (2)

Sebelum detik-detik pergantian tahun, mari kita lanjutkan renungan dan flash back kejadian yang terjadi selama tahun 2014 ini.


Pangabenan Ni Ketut Rintin

Ni Ketut Rintin yang lebih sering kami panggil “Dong Tut Sanggah Gede” meninggal pada tanggal 20 September 2014 (kira-kira pukul 21.00 Wita). Beliau meninggal karena sakit setelah sempat beberapa lama dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Badung dan kemudian dilanjutkan perawatan di rumah (rumah Sanggah Gede).

Pengabenan beliau dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2014 di Setra Desa Adat Denkayu. Rekaman lensa pengabenan dapat dilihat di SINI.

Continue reading

Renungan Akhir Tahun Panbelog (1)

Tidak terasa beberapa hari ini kita akan┬ámemasuki tahun baru… Tahun 2015. Selamat tinggal tahun 2014 dan selamat datang 2015.

Pada tahun 2014 ini telah banyak hal yang terjadi, bahkan sangat… sangat… berkesan dan akan saya kenang selama sisa hidup saya. Banyak hal sedih dan gembira terjadi… banyak tujuan dan harapan yang terkabul maupun yang “belum” terkabul, namun semua hal tersebut sangat saya syukuri.

Bersyukur adalah cara terbaik agar merasa cukup, bahkan di saat kekurangan. Jangan berharap lebih sebelum kita berusaha lebih…

Ya… bersyukur dengan apa yang telah kita capai di tahun 2014 ini… dan berusaha meraih impian yang lebih baik di tahun 2015.

Beberapa kejadian yang terjadi di tahun 2014… baik suka dan duka… antara lain :

Continue reading

Pura Batubolong Seseh

Pura Batubolong yang berada di Desa Adat Seseh mempunyai alur ceritra yang hampir sama dengan keberadaan Pura Ulunswi Seseh. Lebih lanjut disebutkan bahwa tatkala pemerintahan I Gusti Agung Sakti, yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan, yang memerintah antara tahun “warsaning loka dwaraning sagara wisaya tunggal” 1549 Saka, lalu beliau memperbaiki beberapa Pura, seperti : Sakenan, Uluwatu, Ulunswi, Watubolong, Watumejan, Purusada, Dalem Puri, Bukitsari, Panarajon, Bukit Kembar, Bratan, Pucak Mangu, Pucak Entapsai, Pucak Padangdawa, Tratebang dan Pucak Sangkur. Setelah beliau memperbaiki Pura Uluwatu, juga memperbaiki Sanghyang Tiga Sakti, Sanghyang Hari Murti, yang berada di Batubolong.

Lontar

Tatkala pemerintahan Cokorda Nyoman Munggu (I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng) raja yang III (ketiga), memperbaiki Pura-Pura yang ada di wilayahnya. Demikian juga pada masa pemerintahan raja V (kelima) I Gusti Agung Madhe Munggu (Cokorda Ngurah Madhe Agung), yang juga banyak memperbaiki Pura-Pura yang ada di wilayah pemerintahannya.

Continue reading

Tri Kaya Parisudha

Tri Kaya Parisudha, artinya tiga prilaku yang harus disucikan, yang terdiri dari :

  1. Kayika, prilaku yang berhubungan dengan badan atau perbuatan.
  2. Wacika, prilaku yang berhubungan dengan kata-kata.
  3. Manacika, prilaku yang berhubungan dengan pikiran.


Kayika Parisudha

Kayika adalah segala prilaku yang berhubungan dengan badan. Bilamana perbuatan itu perbuatan yang benar dan baik maka disebut orang perbuatan itu Kayika Parisudha.

Telek

Setiap orang, selama hayat dikandung badan, selama itu ia harus berbuat sesuatu. Hidup adalah untuk berbuat. Tanpa berbuat sesuatu hidup di dunia ini akan sia-sia belaka. Dengan berbuat, kita akan membuat suatu karma, yang akan menentukan kehidupan kita pada masa yang akan datang. Karena kita mengharapkan hidup yang lebih baik pada masa-masa yang akan datang, haruslah pada waktu sekarang ini kita berbuat baik dan benar, karena hanya dengan perbuatan yang demikianlah akan mengantar kita kepada keselamatan masa datang.

Continue reading

Pura Manik Mas

Tuhan Yang Maha Esa menggunakan api sebagai dasar menciptakan langit dan bumi. Api sebagai sumbernya pengembangan generasi bagi semua makhluk.

Pura Manik Mas berada tidak sampai satu kilometer di sebelah barat Pura Penataran Agung Besakih. Masyarakat umum menyatakan berada di sebelah selatan Pura Penataran Agung Besakih. Di sebelah pura ini terdapat Sekolah Dasar Besakih dan ada juga balai banjar. Pura ini terletak di sebelah kiri jalan menuju Pura Penataran Agung Besakih.

Bangunan suci yang paling utama di pura ini bernama Gedong Simpen. Bangunan yang disebut Gedong Simpen ini bentuknya seperti gedung kecil beratap ijuk dan bertiang empat menghadap ke utara bukan ke barat seperti pandangan orang pada umumnya. Yang dipuja di Pura Manik Mas ini juga Tuhan sebagai pencipta magma yaitu api yang mahabesar di perut bumi.

Continue reading

Pariwisata Dalam Kehidupan Beragama Hindu di Bali

Hubungan Agama dan Kebudayaan dengan Pariwisata

Merupakan suatu keajaiban, agama Hindu bisa bertahan di Pulau Bali yang kecil ini pada hal hampir di seluruh Indonesia telah menganut agama lain. Keajaiban lagi justru pulau Bali dijadikan pusat Pariwisata Indonesia bagian tengah, yang sering disebut dengan Pariwisata Budaya. Dengan keindahan alamnya, keramahan penduduknya, mengundang datangnya wisatawan dari segala pelosok dunia untuk menikmati keindahan dan keunikannya.

Agama Hindu mempunyai andil yang besar di bidang ini. Seni budaya yang bercorakkan Agama Hindu, keindahan yang dijiwai oleh kebaktian terhadap Ida Sanghyang Widhi Wasa, telah melahirkan seni budaya Kedewaan. Agama memberikan dorongan dan ilham untuk berkembangnya seni dan budaya.

Continue reading