Candi dan Pura

Candi

Sebelum datangnya pengaruh Hindu di Indonesia, nenek moyang bangsa Indonesia telah mengenal berbagai macam upacara yang berhubungan dengan kehidupan rokhani dewasa itu. Terutama tentang pemujaan terhadap roh nenek moyang, dengan mendirikan bangunan-bangunan yang berbentuk teras piramid, pada lereng atau puncak pegunungan, yang menunjukkan adanya suatu anggapan, bahwa gunung adalah tempat keramat sebagai alam arwah. Sedangkan bagaimana bentuk upacara saat itu sampai sekarang belum diketahui bentuknya dengan pasti.

Candi Panataran

Candi Panataran

Kemudian pada jaman perkembangan kebudayaan Hindu, anggapan tentang gunung yang merupakan tempat roh nenek moyang masih tetap dilanjutkan, disamping gunung juga dianggap sebagai tempat dewa-dewa. Untuk keperluan pemujaan terhadap dewa-dewa, dewa-dewa itu diimaginasikan dalam bentuk arca-arca, yang kemudian ditempatkan dalam suatu bangunan yang didirikan dengan mengambil bentuk tiruan dari tempat dewa-dewa yang sebenarnya, yaitu gunung Mahameru, yang kemudian dikenal dengan nama Candi.

Continue reading

Barong Nongkling

Bali dikenal sebagai gudang kesenian dengan berpuluh bahkan ratusan jenis kesenian rakyat. Salah satu dari sekian banyak kesenian rakyat tersebut adalah nong nong kling. Nong nong kling adalah seni pertunjukan yang menggunakan media ungkap tari, musik dan drama. Nama nong nong kling diambil dari suara iringannya yang apabila digerakkan akan menimbulkan efek bunyi “nong, nong, kling“.

wayang wong

Kesenian nong nong kling yang banyak terdapat di Kabupaten Klungkung biasa juga disebut dengan nama Barong Nongkling. Meskipun di dalam pertunjukan itu tidak terdapat “barong“, namun pertunjukan nong nong kling dikelompokkan dalam kesenian barong, seperti halnya barong ket, barong bangkal, barong landung dan banyak barong lainnya. Dengan demikian kesenian nong nong kling termasuk kelompok kesenian barong.

Continue reading

Babad Batudawa – Terjemahan

Ya Tuhan, semoga hamba tidak mendapat halangan dan semoga berhasil.

Permohonan maaf hamba kepada Bhatara Hyang Mami, terutama beliau Hyang Bhatara Pasupati, yang berstana di Sunyataya, berada di Jambhu Dwipa, maafkanlah hamba, oleh semua Bhatara Hyang, yang telah berwujud OM-kara Ratna Mantram amat suci bagaikan yogi agung, beliau yang memberi anugrah, ada ceritra lama, tentang sesuatu yang telah bebas, agar beliau membebaskan dari segala macam kualat dan membebaskan dari segala bentuk mala papa pataka, serta terbebas dari segala kutukan, semoga mendapatkan selamat, sampai seluruh keluarga dan keturunan, semoga duniapun sejahtra.

Pura Kancing Gumi

Pura Kancing Gumi

Ada ceritra lama ada yang disebut Maya Sakti belum berparhyangan, amat dashyat bertaring tajam, runcing, menakutkan, bagaikan danawa, loba moha murka, mencela sastra utama, mencela tattwa-tattwa yang telah ada, semuanya itu musnah, dikejar diburu habis, setelah musnah segala bentuk kejahatan itu kembali ke sorga loka, entah berapa lamanya, kembali dititahkan oleh Hyang untuk menjelma, diberi anugrah utama berwujud ardhanareswarilah beliau, akhirnya menjadi gaib, berada dalan tata kelapa, diputar dengan pedang, setelah diupacarai dan disucikan oleh kekuatan Hyang Tohlangkir, dititahkan oleh Hyang Pasupati, agar bersinggasana di Bali, menjadi pemimpin negari, berganti wujudlah beliau, menjadi raja dikerajaan Bali, dengan abhiseka Sri Aji Masula Masuli, lalu dikawinkanlah beliau dengan adiknya, tidak disebutkan tentang ketenangan seluruh negeri (kerajaan), entah berapa lamanya beliau memerintah, berganti-ganti, sampai akhir masa pemerintahannya, sama-sama moksah kembali ke Antaraloka, demikianlah disebutkan dalam Usana.

Continue reading

Babad Batudawa

OM Awighnamastu Nama Siddham

Pangaksamaning hulun de Bhatara Hyang Mami, singgih ta sira Hyang Bhatara Pasupati, alungguh pwa sira ring sunyataya, jumeneng ri Giri Jambhu Dwipa, tabe-tabe pwanghulun ri olih de Bhatara Hyang kabeh, sang ginelar OM-kara ratna mantram hredayam suci nirlayam yogiswaranam, sira sang anugraha, hana wak kapurwa sang wus lepas, luputakna ring tulah pamidhi de Hyang Mami, mwang wigrahaning mala papa pataka, tan katamanana upadrawa de Hyang Mami, wastu wastu wastu paripurna, anemwaken hayu, katekeng kula sagotra mwang santana, namostu jagathitaya.

012614_0825_BabadTegehk1.jpg

Hana wakning purwakala, hana maya sakti tar parhyangan, krura kara asyung dangastra alungid, tiksna angamah-amah, kadi trapning danawa, lobha moha murkha, de sastra pramadeng ahayu, cinacad sarwa tattweng atita, ya ta wisirna, binuru huta kantep, ring puput nikang kasmala, umantuk tayeng swarga sabha, pira ta kunang kalanira mwah ta sira tinuduh de Hyang anjanma, sinung nugraha suksma ardhanareswari pwa sira, ri wekasan matangnya sinuksma, ring tata kalapa, pinuter dening pedang, huwus pinalinira binresihan de sang pratapaning Tohlangkir, tinuduh de Hyang Pasupati, malinggih ring Balirajya, maka panguluning nagantun, aganti puja stawa ri stulanira, jumeneng ratu ring Balirajya, bhiniseka Sri Aji Masula Masuli, teher winiwaha pwa sira ring sang ari, tan lingen prakretan ikang sanagara, sawijil ira nguni, pira ta kunang kalanira amukti, aganti puja stawa, ganta-gumanti, genep pwa ya ri yoganta, padha muksa sira teka ring antaralaya, nahan ikang tattwa ring usana.

Continue reading

Catur Purusartha

Catur Purusartha, berarti Catur = empat; Purusa = manusia, jiwa; Artha = tujuan. Jadi Catur Purusartha adalah empat tujuan hidup manusia yang utama, yang terdiri dari : Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Tujuan yang ke-empat “moksa” sering dipisahkan tidak dicantumkan, karena merupakan tujuan hidup yang tertinggi, amat abstrak dan sukar diinsafi. Hanya orang-orang atau penganut yang bijaksana dan memiliki kesadaran yang tinggi, karena sering dipandang oleh umat umum tidak besar pengaruhnya dalam kehidupan di masyarakat. Maka itulah Moksa sering tidak menjadi pembicaraan dalam masyarakat umum, sehingga tujuan hidup manusia dalam kehidupan ini ada tiga yang disebut Tri Purusartha.

020114_1313_SumberSumbe1.jpg

Catur Purusartha disebut dengan Catur Warga dan Tri Purusartha disebut dengan Tri Warga. Catur Warga artinya empat tujuan hidup manusia yang terjalin erat antara yang satu dengan yang lainnya, untuk mencapai kesejahtraan masyarakat, untuk mencapai “jagathita” dan “moksa“. Tri Warga, artinya tiga tujuan hidup manusia untuk mencapai kesejahtraan hidup manusia di dunia ini “jagathita“.

Continue reading

Barong Landung – Makna Simbolik

Makna Simbolik Barong Landung

Barong landung secara simbolik adalah salah satu manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Disebutkan oleh Sudarsana (2000: 23-26), sesungguhnya Ida Sang Hyang Widhi adalah tunggal (Ekam Evam Adwityam Brahman), tetapi Beliau memiliki kemahakuasaan untuk memanifestasikan diri melalui kekuatan mayanya menjadi banyak aspek perwujudan. Berbagai manifestasi kekuatan maya Beliau adalah kekuatan Dewa-Dewi, Bathara-Bathari, Bhuta, Kala, Durga, Danawa, Paesaca, termasuk alam semesta serta isinya.

Jro Luh - Barong Landung

Jro Luh – Barong Landung

Sifat-sifat Ida Sang Hyang Widhi adalah sesuai akar katanya “widh” yang artinya widya (maha mengetahui) disamping juga maha agung, maha besar, maha suci, maha tenang/tentram, dan maha sempurna. Karena kemahasempurnaan-Nya, maka Beliau memiliki sebutan “Parama Siwa“.

Continue reading

Barong Landung – Berbagai Versi

Barong Landung adalah salah satu jenis kesenian barong dari banyak seni sakral di Bali, merupakan kesenian yang dipentaskan pada saat pelaksanaan suatu yadnya, dan disesuaikan dengan keperluannya. Pementasan seni sakral ini sangat disucikan dan dikeramatkan oleh masyarakat Bali, dengan tujuan terciptanya dan tetap terjaganya keharmonisan alam semesta ini.

Jro Gede - Barong Landung

Jro Gede – Barong Landung

Fungsi Barong Landung Fungsi

Barong Landung sampai sekarang adalah upacara penolak bala. Biasanya apabila di masyarakat terjadi suatu serangan wabah penyakit, maka dengan didahului proses permohonan spiritual oleh masyarakat kepada Ida Bhatara Dalem Sakti (Jero Gede) dan Jero Luh supaya berkenan turun ke dalam lambang berbentuk Barong Landung untuk mengusir para roh jahat yang mengganggu masyarakat desa.

Continue reading