Merancang Perubahan Dalam Budaya Organisasi

Latar Belakang

Setiap organisasi pada dasarnya memiliki keunikan tersendiri dalam menjalankan aktivitas keorganisasiannya, mulai dari cara-cara bertindak, nilai-nilai yang dijadikan landasan untuk bertindak, upaya pimpinan memperlakukan bawahan sampai pada upaya pemecahan masalah yang terjadi di lingkungan organisasi, kesemua itu merupakan aspek yang tak terpisahkan dari budaya organisasi.

050214_1601_HakekatHari1.jpg

Bagaimana sebuah organisasi dalam mencapai sasaran tujuan organisasinya sangat tergantung pada dinamika organisasinya. Dinamika organisasi meliputi peran, tanggungjawab dan pedoman yang jelas.

Continue reading

Advertisements

Pura Luhur Hyang Api – di Desa Adat Samuan

Menelisik desa-desa yang ada di Bali, ternyata masih banyak ditemukan kahyangan yang belum diketahui umat secara umum. Mungkin lokasinya tersembunyi atau sama sekali belum tersentuh media. Salah satu kahyangan yang unik adalah Pura Luhur Hyang Api, berlokasi di Desa Adat Samuan, Petang, Badung.

011814_2213_CaturMargaC1.jpg

Sebelum mengetahui lebih jauh, bagaimana keberadaan kahyangan yang satu ini, baiknya diketahui dulu bagaimana bisa sampai ke lokasi. Pura Hyang Api, memang berada di Desa Adat Samuan. Hanya saja, letak puranya berada bukan di jalan utama. Walaupun Desa Samuan sebagian berada di pinggir jalan utama, masih banyak krama desa menghuni desa masuk ke tengah, tapi kondisi jalannya cukup bagus. Sebut saja Samuan Kangin, membentang dari utara ke selatan di bagian timur jalan utama.

Continue reading

Lima Cara Pelaksanaan Panca Yadnya

Pada dasarnya dalam pelaksanaan Panca Yadnya, dapat dilaksanakan dengan lima cara, yaitu :

Drewya Yadnya

Dalam Bhisma Parwa, disebutkan :

Hana drewya yajna, ngaranya, yajna maka sadhanang drewyopakarana, salwiring saji

Ada namanya Drewya Yadnya, yaitu yadnya yang berbentuk benda termasuk semua jenis bebanten

Drewya artinya Materi atau Benda. Drewya Yadnya berarti pemujaan dengan menggunakan bebanten atau upakara. Sesungguhnya upakara atau bebanten itu merupakan konkritasi dari Karma Marga. Upakara artinya segala sesuatu yang dibuat dengan tangan atau dengan kata lain adalah suatu sarana persembahan dari hasil jerih payah bekerja.

083014_1611_TradisiNgur1.jpg

Banten juga artinya Wali. Kata wali mengandung tiga jenis pengertian : wali berarti wakil; wali berarti kembali dan wali berarti Bali. Wali berarti wakil, mengandung arti simbolik filosofis, bahwa banten merupakan wakil dari pada alam semesta yang diciptakan oleh Hyang Widhi.

Wali yang berarti kembali, mengandung makna bahwa segala yang ada atau alam semesta adalah ciptaan Beliau. Ciptaan Beliau itulah dipersembahkan kembali oleh manusia, sebagai pernyataan rasa terimakasih.

Continue reading

Pura Kerta Kawat

Salah Satu Pura Unik di Bali Utara

Pulau Seribu Pura. Begitulah para wisatawan domestik maupun mancanegara menyebut Pulau Bali. Sebuah pulau yang dihuni mayoritas oleh pemeluk Agama Hindu. Masing-masing pura yang dibangun dengan kokoh di setiap daerah memiliki ciri khas atau hal yang membuatnya unik. Bali Utara, sebagai salah satu wilayah yang kaya akan potensi wisata juga memilikinya. Salah satu pura unik di Bali Utara dikenal dengan nama Pura Kerta Kawat.

Pura Kerta Kawat terletak di Dusun Banyu Poh, Kecamatan Gerokgak, Kabupeten Buleleng. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari kota Singaraja dan sekitar 30 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk. Jika berangkat dari Bandara Ngurah Rai, maka dibutuhkan waktu sekitar 3,5 jam perjalanan menuju lokasi ini. Namun, anda tak perlu khawatir dengan rasa bosan selama perjalanan karena mata anda akan dimanjakan dengan suasana hijau hutan bedugul lengkap dengan tingkah lucu kera-keranya, serta perkebunan dan persawahan warga Kecamatan Seririt dan Banjar.

Continue reading

Tri Rena – Landasan Dasar Panca Yadnya

Dalam kehidupan di dunia ini yang menjadi dasar yang kekal adalah kebajikan, yakni menginginkan suatu hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya. Pada dasarnya orang tidak dapat hidup menyendiri, ia tergantung satu dengan yang lainnya dan tiap-tiap orang dihidupkan oleh suatu jiwatma yang besar yaitu Paramatma. Jika Jiwatma-Jiwatma seseorang berhubungan satu dengan yang lainnya, semuanya itu tergantung pada pada satu Jiwatma yang besar, yaitu Paramatma. Kepada Paramatma itulah tiap-tiap mahluk harus menyesesuaikan dirinya.

sidhakarya5

Dalam hukum timbal-tumimbal dan saling berhubungan itu disebut dengan Yadnya. Bila kita melakukan pekerjaan dengan penuh pengorbanan, maka kita akan mengikuti hukum alam yang besar dan apabila tidak kita akan menderita. Tentang hal itu kitab suci Bhagawadgita, menyebutkan :

Yajnarthat karmano nyatra, Loko yam karmabandhanah, Tad artham karma kaunteya, Muktasanggah samacara.

Maksudnya :

Kecuali pekerjaan yang dilakukan sebagai pengorbanan (yadnya), dunia ini tetap terikat akan perbuatan. Oleh karena itu wahai Arjuna lakukanlah pekerjaanmu itu sebagai pengorbanan dan bebaskanlah dirimu dari semua ikatan.

Continue reading

Pura Gunung Kawi

Sejarah Pura Gunung Kawi

Sumber yang menyatakan kapan Pura Gunung Kawi di Desa Keliki dibangun tidak dapat diketahui secara pasti, karena tidak ada sumber tertulis yang menyebutkan secara jelas mengenai kapan didirikannya pura ini. Namun menurut cerita dari Jero Mangku Gusti Putu Karya dan dari I Ketut Sudarsana, pura ini dibangun pada era Maha Rsi Markandhya yang mengembangkan konsep ajaran Agama Siwa (Tripaksa Sakthi). Hal ini dapat dilihat dari Pura Gunung Kawi merupakan Perhyangan Dewa Siwa dan ditunjukan sebuah benda pusaka berupa Siwakrana, dimana Siwakrana merupakan benda kebesaran yang dimiliki oleh pendeta atau pedanda yang merupakan penganut aliran Siwa Sidanta (Wiratmadja dan Ngurah Nala, 2012: 33).

Selain itu letak Pura Gunung Kawi ini terletak pada kawasan Munduk Gunung Lebah yang merupakan rute perjalanan suci Darmayatra dan Tirtayatra Maha Rsi Markandhya dengan pengiring Wong Aganya.

Continue reading

Tri Manggalaning Yadnya

Ring sajeroning ngamargiang yadnya, wenten tetiga sane mabuat pisan, mangda yadnyane prasida mamargi becik tur antar. Maka tetiga punika madruwe agem-ageman, sane kagambel kangge tuntunan ring sajeroning pamargi.

Tetiga sane mabuat tur utama punika, makadi :

  • Sang Sadhaka
  • Sang Mancagra
  • Sang Adruwe Karya

082314_1602_KramaBali1.jpg


Sang Sadhaka

Sang Sadhaka, wantah ida Sang Sulinggih, sane madruwe wewenang pinaka pamuput yadnya.

Sang Sadhaka/Sang Sulinggih puniki sane kabaos Sang Yajamana, duaning ida sang pinaka pamucuk, mapaica tuntunan ring sajeroning yadnya.

Continue reading