Filosofi Kisah Ramayana

Secara garis besar konon kisah wayang Ramayana itu menunjukan bahwa manusia itu harus bergelut dengan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum mencapai pencerahan atau mendapatkan wahyu. Disini penggambaran itu di gambarkan sebagai berikut :

Rama digambarkan sebagai satria, sang diri atau pancer.

Sita digambarkan sebagai wahyu atau pencerahan yang harus dicari atau dicapai.

Rahwana digambarkan sebagai sang nafsu merah yang mencuri perhatian dan waktu satria sehingga menjauhkan manusia dari pencapaian wahyu. Penuh dengan amarah dan nafsu memiliki yang membuat manusia menjauh dari pencapaian. Continue reading

Catatan Nyepi Caka 1937

Hari Raya Nyepi telah berlalu 2 hari yang lalu. Banyak cerita dan kejadian yang terjadi selama rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi yang telah lewat. Mulai dari Melasti, Pangrupukan, Nyepi sampai Ngembak Geni kemarin.

Melasti

Desa adat kami, Desa Adat Denkayu melaksanakan pemelastian pada hari Kamis, 19 Maret 2015. Pemelastian dilaksanakan di Pantai Seseh. Berangkat dari Pura Desa dan Puseh ngiring Ida Bhatara mulai jam 07.30 Wita. Kami berharap dengan berangkat pagi akan terhindar dari kekroditan perjalanan di daerah Kapal, karena bertepatan dengan berangkatnya Ida Bhatara yang bersatana di Desa Kapal. Namun apa daya, memasuki daerah Tangeb, sebelum Pura Dalem Kapal, kemacetan mulai terjadi. Rombongan kami terjebak sampai 30 menit.

IMG_9558

Namun akhirnya kemacetan dapat terurai juga dengan berangkatnya rombongan masyarakat Kapal menuju Pantai Seseh dengan berjalan kaki. Untuk menghindari kemacetan selanjutnya, akhirnya kami mengambil jalur lain, sehingga tiba di Pantai Seseh dengan lancar. Selama perjalanan kami menikmati jejeran ogoh-ogoh yang telah standby di masing-masing banjar dan kami takjub dengan kreatifitas anak muda yang membuat ogoh-ogoh dengan sangat menawan.

Continue reading

Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh merupakan sebuah simbol kesenian khas Bali yang di tuangkan dalam sebuah patung raksasa yang biasanya terbuat dari bahan bambu dilapisi kertas secara berlapis atau stereo foam yang diberi warna-warni sesuai motif dan coraknya.

ogoh2

Ogoh-ogoh menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Raksasa. Dalam fungsi utamanya, ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja Hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Continue reading

Pura Ponjok Batu

Pura Ponjok Batu merupakan salah satu Penyungsungan Jagat atau Pura Dang Kahyangan, selain Pura Pulaki di Desa Banyupoh, Gerokgak. Pura ini terletak di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Memang tidak ada data pasti mengenai awal keberadaan pura ini. Namun yang diketahui, keberadaan pura ini tak bisa lepas dari sejarah kedatangan Pendeta Siwa Sidanta yaitu Danghyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke-15, saat masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali.

pura-ponjok-batu2

Pura ini memiliki rekaman sejarah yang panjang dan unik. Hal tersebut ditelusuri lewat temuan arkeologi, efigrafi dan folklore (cerita rakyat) yang hidup di tengah masyarakat Julah dan sekitarnya.

Berdasarkan kajian arkeologis, saat penggalian di lokasi perbaikan pura tahun 1995 ditemukan sarkopah/sarkopagus. Kini sarkopah itu disimpan bersama sarkopah lainnya di halaman depan Pura Duhur Desa Kayuputih. Sarkopah (peti mayat) terbuat dari batu cadas, banyak ditemukan di beberapa daerah di Bali.

Continue reading

Sekilas Tari Topeng

Tari Topeng adalah bentuk dari tarian dan drama dimana penarinya menggunakan topeng dan menampilkan cerita-cerita lama, yang sering berkisah tentang raja dan pahlawan pada jaman dahulu. Tarian ini ada sejak abad ke-17. Tari topeng populer di Bali dan Jawa, tapi juga ditemukan di pulau Madura. Tarian ini diiringi oleh musik Gamelan.

123013_0547_DewaYajna11.jpg

Penggunaan topeng dipercaya sebagai cara memuja para leluhur. Pertunjukan tari topeng ini dimulai dengan tarian tokoh bertopeng yang tidak bicara dan tidak terkait dengan cerita tarian utama. Topeng tradisional ini antara lain : Topeng Manis, Topeng Keras dan Topeng Tua.

Continue reading

Tari Topeng Telek

Tari Telek sampai saat ini masih dipentaskan secara teratur oleh sejumlah banjar/desa adat di Bumi Serombotan, Klungkung, seperti Banjar Adat Pancoran Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Jenis tari wali ini merupakan tetamian (warisan) leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan. Warga setempat meyakini pementasan Telek sebagai sarana untuk meminang keselamatan dunia, khususnya di wawengkon (wilayah) banjar/desa adat mereka. Jika nekat tidak mementaskan Telek, itu sama artinya dengan mengundang kehadiran merana (hama-penyakit pada tanaman dan ternak), sasab (penyakit pada manusia) serta marabahaya lainnya yang mengacaukan harmonisasi dunia.

Telek

Keyakinan itu begitu mengkristal di hati krama Banjar Adat Pancoran, Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Mereka melestarikan jenis kesenian ini dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi sehingga tak sampai tergerus arus zaman. Begitu kuatnya mereka menjaga tetamian leluhur ini, sampai-sampai seluruh pakem pada pementasan Telek dipertahankan secara saklek. “Niki nak sampun ilu lan tetamian leluhur deriki. Sampun napetang. Tiang tan uning, ngawit pidan Telek deriki masolah” (Kesenian Telek ini sudah ada sejak lama dan merupakan warisan leluhur).

Continue reading

Tata Susila

Agama Hindu dapat dipelajari di dalam tiga bagian, yaitu bagian Tattwa, Tata Susila dan Upakara. Ketiga bagian ini tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lainnya. Ketiga ini saling mengisi kesempurnaan pelaksanaan hidup sehari-hari.

012914_0301_IDurma1.jpg

Dalam kesempatan ini akan bicarakan tentang Tata Susila yang berdasarkan ajaran agama Hindu. Tata Susila yang berdasarkan dharma/agama mempunyai dasar yang kuat, laksana rumah dengan dasar beton, tidak mudah dapat ditumbangkan, meskipun dengan tiupan angin yang keras.

Tata Susila berarti peraturan tingkah laku yang baik dan mulia, yang harus menjadi pedoman hidup manusia. Tujuan Tata Susila yaitu untuk membina hubungan yang selaras atau hubungan yang rukun antara seseorang dengan mahluk yang hidup di sekitarnya, hubungan yang selaras antara keluarga yang membentuk masyarakat dengan masyarakat itu sendiri, antara satu bangsa dengan bangsa yang lainnya dan antara manusia dengan alam sekitarnya.

Continue reading