Pura Gunung Rawung di Desa Taro

Lokasi

Pura Gunung Rawung, terletak di Desa Taro yaitu di antara Banjar Taro Kaja dan Banjar Taro Kelod. Pura itu sekaligus merupakan perbatasan dari ke dua banjar tersebut, yang termasuk wilayah Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Jaraknya kurang lebih 35 km dari kota Gianyar.

Pura Gunung Rawung

Keadaan alamnya adalah suasana pedesaan, dimana di sebelah utara dan selatan dari Pura tersebut terdapat perumahan penduduk, sedangkan di sebelah barat dan timurnya terdapat hutan-hutan kecil. Desa Taro juga terletak di antara dua buah aliran sungai, yaitu Sungai Wos dan Sungai Ayung.

Continue reading

Legenda Aryo Menak

Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning.

Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat dibawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersenda gurau disana.

Continue reading

Cindelaras

Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.

Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Continue reading

Kryan Kalanganyar

Tersebutlah Aryeng Kapakisan yang datang ke Bali dan menjadi Adipatih Samprangan. Beliau berputra 2 orang, yaitu :

  1. Sira Arya Nyuhaya
  2. Sira Arya Asak.

Sira Arya Nyuhaya, berputra :

  1. Kryan Patandakan,
  2. Kryan Satra,
  3. Kryan Pelangan,
  4. Kryan Akah,
  5. Kryan Cacaran,
  6. Kryan Kloping dan
  7. Ida Di Anggan.

Continue reading

Pande Wayan Tusan – Tokoh Seniman Selonding

Pande Wayan Tusan, yang sering dipanggil I Wayan Tusan, dan kini beliau sudah menjadi orang suci (Sri Mpu Dharma Phala) lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga miskin, dari pasangan Guru Komang Gede dan Ni Nengah Wage di Banjar Tunggak, Dusun Pandesari, Bebandem pada tahun 1943.

selonding

Karena keadaan ekonomi, beliau hanya sempat mengenyam pendidikan formal SR (Sekolah Rakyat) 6 tahun pada Sekolah Rakyat No. 1 Bebandem dengan ijazah tahun 1959.

Bakat “‘Nyastra” rupanya diwarisi dari akar budaya sang ayah, yang mengabdikan diri sebagai “Balian Usada” yang cukup dikenal pada masanya dan kini mewariskan sejumlah lontar dan pengrupak, yang mengilhaminya untuk melanjutkan belajar secara tradisional (1967) di geria-geria di Budhakeling, Sibetan, Bungaya dan Sidemen, mendalami “guna dusun” yaitu kesusastraan tradisional dan kesenian daerah Bali lainnya.

Continue reading

Gambelan Selonding Banjar Pande Tunggak – Bebandem

Gamelan Selonding memiliki sandaran sejarah yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Karawitan Bali. Gamelan Selonding sebagai “puncak-puncak budaya”, sekaligus merupakan arsip dari kegiatan bermusik nenek monyang di masa lampau yang diciptakan pada saat jiwanya dalam keadaan damai, indah dan agung, yang dilandasi dengan kesucian dan ketulusan hati yang mendalam sebagai wujud persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai luhur kehidupan nenek moyang di masa lalu perlu digali kembali dan dikembangkan demi memelihara dan menegakan citra serta martabat dan untuk menapak langkah selanjutnya di masa depan.

selonding

Gamelan Selonding sudah cukup lama dan telah begitu panjang berdialog dalam khasanah kebudayaan Bali di tengah-tengah peradaban Kebudayaan Nusantara. Sampai saat ini di Bali masih sanggup bertahan dalam identitas alam tradisionalnya, serta masih mampu mengendalikan alamnya sendiri. Memang demikian, karena justru di khasanah musiknya sendiri terkandung nilai-nilai universal seperti keluhuran budaya, norma-norma peradaban, adat istiadat, dan aspek filosofinya yang religius magis, sehingga menjalani kedamaian serta kerukunan hidup dengan masyarakat pendukungnya.

Continue reading