Terjemahan Babad Arya Kenceng – 1

Ya Tuhan, semoga hamba tidak mendapat halangan.

Sembah sujud hamba kehadapan Bhatara Hyang Suksma Wisesa, yang menciptakan baik buruknya menjadi manusia, semoga tak terhalang dalam menyusun riwayat ini, terhindar hamba dari kutukan dan dosa, bukan karena mahir tentang isi Sanghyang Purana Tattwa, sebenarnya tidak hendak durhaka untuk menyusun ceritra lama, terutama sebagai peringatan untuk keluarga besar yang seketurunan, semoga berhasil dengan sempurna.

Lontar

Marilah sekarang kita ceritrakan, sebagai kata pembukaan, pada jaman dulu diantara tahun Saka Bhasmi Bhuta rwaning wulan, 1250 sampai dengan tahun Saka Rasa Gati Tanganing Ratu, 1256, bertahtalah ratu Brha Kahuripan yang bergelar Jaya Wisnu Wardhani, raja Majapahit yang ketiga, adik dari Sri Kalagemet, raja Majapahit yang kedua, putra dari Sri Jaya Wardhana raja Majapahit yang pertama, lahir dari permaisuri putri raja Siwa Budha (raja Kerthanegara), yaitu di Singhasari, yakni keturunan Prabhu Tunggul Ametung di Tumapel dari pihak ibu dan keturunan Prabhu Ken Arok, dari pihak ayah.

Continue reading

Advertisements

Sejarah Bali – Desa Adat Penglipuran

Pedahuluan

Bali merupakan salah satu pulau bagian dari Negara Indonesia yang memiliki potensi budaya yang sangat kental, baik dari segi sistem adat, kebudayaan dan kesenian. Bali memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan dengan daerah-daerah di Indonesia. Keunggulan inilah yang menjadi ciri khas Pulau Bali yang memberikan daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Bali. Yang menjadi maskot Pulau Bali adalah kebudayaannya yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Sistem kebudayaan di Bali terdiri dari tujuh sistem sebagai berikut.

  1. Sistem Mata Pencaharian
  2. Sistem Peralatan
  3. Sistem Kemasyrakatan
  4. Sistem Ilmu Pengetahuan
  5. Sistem Agama
  6. Sistem Kesenian
  7. Sistem Bahasa

Ketujuh sistem kebudayaan tersebut dimiliki oleh semua desa-desa yang ada di Bali. Antara desa yang satu dengan desa yang lainnya memiliki sistem kebudayaan yang berbeda baik dari segi sistem kemasyarakatannya, sistem keseniannya dan lain-lain. Perbedaan inilah yang menjadikan setiap desa memiliki ciri khasnya masing-masing yang sekaligus menimbulkan keragaman kebudayaan.

Seluruh desa-desa di Bali memiliki asal usul yang berbeda-beda. Terbentuknya suatu desa memiliki keunikan tersendiri, baik dilihat dari segi nama desa dan sistem adat. Ada beberapa desa di Bali yang memiliki tradisi yang sangat unik yang benar-benar mempertahankan tradisi yang diwariskan oleh para leluhurnya secara turun-temurun sampai saat ini. Desa tersebut adalah Desa Trunyan dan Desa Penglipuran.

Continue reading

Pura Goa Lawah

Ava divas tarayanti, Sapta suryasya rasmayah. Apah samudrriya dharaah. (Atharvaveda)

Maksudnya:

Sinar tujuh matahari itu menguapkan secara alami air laut ke langit biru. Kemudian dari langit biru itu hujan diturunkan ke bumi.

Tuhan menciptakan alam dengan hukum-hukumnya yang disebut Rta. Matahari bersinar menyinari bumi. Air adalah unsur terbesar yang membangun bumi ini. Demikianlah sinar matahari dengan panasnya menyinari bumi termasuk air laut dengan sangat teratur.

Itulah hukum alam ciptaan Tuhan. Air laut yang terkena sinar matahari menguap ke langit biru. Air laut yang kena sinar matahari itu menguap menjadi mendung. Karena hukum alam itu juga mendung menjadi hujan. Air hujan yang jatuh di gunung akan tersimpan dengan baik kalau hutannya lebat. Dari proses alam ciptaan Tuhan inilah ada kesuburan di bumi. Bumi yang subur itulah sumber kehidupan semua makhluk hidup di bumi. Semuanya itu terjadi karena Rta yaitu hukum alam ciptaan Tuhan. Alangkah besarnya karunia Tuhan kepada umat manusia. Itulah hutang manusia kepada Tuhan. Manusia akan sengsara kalau proses alam berdasarkan Rta itu diganggu.

Continue reading

Pura Bukit Darma di Kutri

Pura ini letaknya di puncak Bukit Kutri, Desa Buruan. Di areal bawah pura ini terdapat dua buah pura lagi. Pura yang paling bawah di pinggir jalan menuju kota Gianyar adalah Pura Puseh Desa Adat Buruan. Di atasnya Pura Pedarman. Naik dari Pura Pedarman inilah letak Pura Bukit Darma atau Pura Durga Kutri. Yang menarik dari keberadaan pura ini adalah distanakannya permaisuri Raja sebagai Dewi Durga.

Om Catur divya maha sakti. Catur asrame Bhatari. Siwa jagatpati Dewi. Durga sarira dewi.

Maksudnya:

Om Hyang Widhi dalam wujud Catur Dewi, mahakuasa dan mahasuci, Hyang Widhi sebagai Dewi yang dipuja dalam empat kehidupan manusia, Catur Dewi adalah saktinya Sang Hyang Siwa, Dewa dari seluruh Dewa. Om Hyang Widhi hamba memuja-Mu dalam wujud sebagai Dewi Durga.

Pada waktu Raja Udayana memerintah di Bali sekitar abad X Masehi, masuknya budaya Hindu ke Bali mulai agak deras sampai pada zaman Majapahit sebagai puncaknya. Pura Bukit Darma di Kutri, Desa Buruan, Blahbatuh ini sebagai salah satu buktinya. Pura Bukit Darma hasil budaya Hindu purbakala ini dapat dijadikan salah satu sumber untuk menelusuri proses pengaruh Hindu dari Jawa ke Bali.

Continue reading

Ngusaba Dodol – Desa Selat

Kecamatan Selat menyuguhkan peragaan rangkaian ritual Upacara Ngusaba di Mel/Carik. Tahapannya setelah usai upacara Usaba Gede yang dilaksanakan di Pura Besakih yang lazim disebut Ngusaba Besakih. Setelah itu barulah Desa Pakraman Selat memulai upacara ngusaba di Mel atau yang disebut dengan Ngusaba Dodol. Seluruh upacaranya diawali dengan rangkaian Upacara Ngepitu. Upacara tersebut bertujuan memohon kepada Ida Bhatara Sakti Gunung Agung, bahwasannya seluruh krama Desa Selat akan siap menyongsong pelaksanaan Usaba di Mel. Kemudian dilanjutkan dengan Upacara Nyaga Nyungsung, upacara ini bermakna ngaturang piuning (memberitahukan) kehadapan Tuhan bahwa krama yang memiliki kegiatan/mata pencaharian sebagai petani, di sawah, kebun dan usaha lainnya siap untuk mulai bekerja dan tetap memohon wara nugraha.

Upacara berikutnya adalah Nguit Toya, upacara ini bermakna ngaturang angayu bagia (syukur) dan memohon agar semua kegiatan yang digelar memperoleh kesuburan dengan memperoleh air, sinar dan memperoleh kebaikan serta keselamatan. Dilanjutkan dengan Upacara Meboros/Medugul dengan sarana bodag jaring bermakna bahwa memohon wara nugraha (anugerah) kehadapan Tuhan agar semua yang ditanam di sawah maupun di kebun, mulai dari menanam, memelihara, sampai dengan memanen tidak diserang oleh hama penyakit.

Continue reading

Makepung

Tradisi Mekepung adalah sebuah atraksi balapan sepasang kerbau yang ditunggangi oleh seorang joki/sais, keberadaanya ada di Bali dan hanya satu-satunya di Kabupaten Jembrana.

Tradisi budaya ini muncul berawal dari hanya sekedar iseng semata, di mana Kabupaten Jembrana merupakan wilayah agraris yang mayoritas penduduknya sebagai petani, dalam hal mengerjakan sawah, dimulai dari membajak sawah menggunakan bajak jangkar (bali: tenggala), kemudian bongkahan-bongkahan tanah ini diratakan menggunakan bajak lampit, kemudian agar lebih halus menggunakan bajak plasah yang semua kegiatan tersebut ditarik oleh kerbau dan bajak ditunggangi oleh pembajak dan selaku joki atau sais. Setelah menjadi rata dan lumpur halus barulah ditanami padi, yang mana dikerjakan secara gotong royong oleh para petani.

Continue reading

Purana Pura Pucak Tedung

Mungguing kawentenan Pura Pucak Tedung, sinah tan prasida pacang maparang sane pastika. Duaning pura inucap sampun wenten saking karihinan pisan tur katami rawuh mangkin. Ring wewengan puniki, mangdane wenten anggen gegambelan, angge sarana bakti, majeng ring Ida Sanghyang Parama Kawi makamiwah tejan-tejanida. Sane mangkin uningayang titiang pinaka gegalihan parindikan Pura Pucak Tedung, sane munggah ring pustaka Raja Purana.

Lontar


OM Awighnamastu nama sidham.

Pangaksamaning hulun de Bhatara Hyang mami, singgih ta sira Hyang Bhatara Pasupati, alungguh pwa sira ring sunyataya, jumeneng ring giri Jambhudwipa, tabe-tabe pwang hulun ri olih Bhatara Hyang kabeh, sang ginelar OM-kara ratna mantra hredaya suci nirmalam, yogiswaranam, sira sang anugraha, hana wak kapurwa sang huwus lepas, luputakna ring tulah pamidhi de Hyang mami, mwang wigrahaning mala papa pataka, tan katamanana upadrawa de Hyang mami, byaktita paripurna anemwaken dirghayusa tekeng satreh sakula gotra santana, apan hulun mupulaken purwakatha cariteng Purana Pura Pucak Tedung, lamakane anemwaken dirghayusaning idhep, namostu jagathitaya.

Continue reading