Nyepi sebagai Introspeksi

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936 yang dirayakan umat Hindu se-Indonesia tahun ini jatuh pada Senin, 31 Maret 2014. Rangkaian perayaan meliputi melasti, tawur agung, dan catur brata penyepian merupakan momen reflektif bagi umat Hindu dalam menjaga keseimbangan alam dan diri sendiri sehingga tercipta kehidupan yang mendamaikan jiwa.

Umat Hindu meyakini bahwa kebahagiaan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan di dunia dapat dicapai dengan melaksanakan ajaran Tri Hita Karana. Ajaran itu bermakna tiga hubungan harmonis, menyangkut hubungan antara manusia dan Tuhan Sang Pencipta, antara manusia dan lingkungan/alam semesta, serta antara manusia satu dan lainnya.

Continue reading

Advertisements

Nyepi Menuju Pribadi Dharma

Ada keunikan di kalangan umat Hindu dalam merayakan hari rayanya. Umat lain merayakan hari raya penuh dengan keramaian dan kegembiraan. Namun, umat Hindu merayakannya dengan penuh keheningan. Atau yang biasa disebut Nyepi.

Ada empat hal yang mereka lakukan selama Nyepi berlangsung. Empat hal yang juga disebut Catur Brata Penyepian itu meliputi Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Masing-masing memiliki makna yang mendalam.

Amati Karya diartikan tidak melakukan kegiatan apa pun. Lalu, Amati Geni diwujudkan dengan tidak adanya penerangan di sekelilingnya. Suasana dipastikan alami tanpa ada sinar api ataupun listrik. Selanjutnya, Amati Lelungan yang berarti tidak bepergian. Mereka hanya berdiam diri sambil merenungkan semua tindakan yang sudah dilakukan. Terakhir, Amati Lelanguan, yakni tidak adanya hiburan sama sekali. Hanya suara alam dan sekitarnya yang mereka dengar.

Continue reading

Nyepi dan Sepi dari Korupsi

Pada Nyepi tahun ini, yang jatuh pada hari Senin (31/3), umat Hindu memasuki Tahun Baru Saka 1936. Namun, Nyepi bukan sekadar pergantian tahun Saka, tapi juga hari raya yang disucikan, khususnya bagi hampir tiga juta penganut Hindu Bali dan di berbagai kawasan di Tanah Air.

Ada beberapa ritual dalam menyambut Nyepi. Beberapa hari sebelum Nyepi digelar ritual Melasti, yakni menyucikan arca serta simbol-simbol agama Hindu Dharma guna mendekatkan diri kepada Tuhan. Ritual ini dimaksudkan untuk menyucikan seluruh isi dunia dan khususnya untuk mengambil Amerta atau air suci kehidupan dari laut dan sumber air lainnya. Lalu sehari sebelum Nyepi digelar ritual Tawur Kesanga, terdiri atas upacara Bhuta Yadnya dan Pangrupukan.

Continue reading

Nyepi dan Kebudayaan Luhur

Perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini jatuh pada Senin, Sasih Kadasa, Tahun Baru Saka 1936 bertepatan dengan tanggal 31 Maret 2014 Masehi. Pada puncak perayaan Nyepi ini umat Hindu Indonesia khususnya di daerah “Pulau Dewata” Bali melakukan ritual Brata Penyepian yang dideskripsikan dengan empat larangan beraktivitas. Pertama, amati geni (tidak menyalakan api). Kedua, amati karya (tidak bekerja). Ketiga, amati lelungan (tidak bepergian). Keempat, amati lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan).

Secara etimologis asal kata ‘nyepi‘ berasal dari kata ‘sepi‘ yang memiliki padanan kata sunyi, senyap, dan hening. Berdasarkan kata tersebut, kegiatan Nyepi dengan ritual Brata Penyepian ini menekankan pada prinsip keseimbangan. Yakni, suatu proses mengembalikan (dikembalikan) alam beserta isinya (microcosmos dan macrocosmos) ke dalam suatu keadaan titik/masa, sepi, (sunyi, hening, dan senyap). Tetapi, bukan berarti semua itu tanpa isi, rasa dan makna, ke”nihil“an atau “nol” pada tatanan sosial-kemasyarakatan yang hidup dan bernilai suci serta merupakan suatu tingkatan tertinggi dari sebuah ukuran manusia yang taat kepada ajaran suci Hindu.

Continue reading

Nyepi dan Environmentalisme Hindu

Umat Hindu merayakan Nyepi, 31 Maret 2014 ini. Pada Hari Raya Nyepi, suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan seperti biasa. Umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari Amati Geni (tidak menggunakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Secara sekilas, filosofi Nyepi terlihat seperti ajaran yang sekadar mengajak manusia mengambil jeda sejenak dari dunia. Padahal, jika ditelaah, ajaran Nyepi sejatinya punya makna yang luar biasa konkret dan positif bagi kehidupan duniawi kita; yaitu ia mampu mencetuskan environmentalisme Hindu yang bisa bermanfaat bagi pelestarian lingkungan di tengah geliat dahsyat ekonomi industri yang tinggi karbon.

Continue reading

Makna dan Pelaksanaan Hari Raya Nyepi

Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yadnya (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.

Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “Tawur” berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi keseimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka.

Continue reading

Hubungan Ogoh-ogoh dengan Hari Raya Nyepi

Awal Mula Munculnya Ogoh-Ogoh

Banyaknya versi yang beredar di masyarakat Bali yang menjelaskan tentang awal mula munculnya ogoh-ogoh. Agak sulit sebetulnya menentukan kapan awal mula ogoh-ogoh muncul. Namun, diperkirakan ogoh-ogoh tersebut dikenal sejak jaman Dalem Balingkang. Pada saat itu ogoh-ogoh digunakan pada saat upacara Pitra Yadnya. Pitra Yadnya adalah upacara pemujaan yang ditujukan kepada para pitara dan kepada roh-roh leluhur umat Hindu yang telah meninggal dunia.

Namun ada pendapat lain yang menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari Tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan barong landung yang merupakan perwujudan dari Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) merupakan cikal-bakal dari munculnya ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini. Informasi lain juga menyatakan bahwa ogoh-ogoh itu muncul tahun 70 – 80-an. Ada juga pendapat yang menyatakan ada kemungkinan ogoh-ogoh itu dibuat oleh para pengerajin patung yang telah merasa jenuh membuat patung yang berbahan dasar batu padas, batu atau kayu, namun di sisi lain mereka ingin menunjukan kemampuan mereka dalam mematung, sehingga timbul suatu ide untuk membuat suatu patung dari bahan yang ringan supaya hasilnya nanti bisa diarak dan dipertunjukan.

Continue reading