Keunikan Desa Bayung Gede

Kabupaten Bangli memang kaya dengan desa-desa kuno. Selain Penglipuran yang terletak di Kecamatan Bangli, masih banyak desa-desa kuno lainnya yang sarat dengan keunikan-keunikan. Desa-desa yang umumnya penganut kebudayaan Bali Aga atau Bali Mula itu cukup banyak tersebar di daerah Kintamani. Di sekitar daerah yang berhawa sejuk itu pula ditemukan banyak tinggalan-tinggalan kuno yang memberikan gambaran kehidupan masyarakat Bali di masa silam. Ada dugaan, daerah Kintamani dulu pernah menjadi pusat kerajaan Bali Kuno.

Salah satu desa kuno yang cukup penting di kawasan Kintamani yakni Bayung Gede.

Desa ini terletak sekitar 55 kilometer timur laut Denpasar serta sekitar 35 kilometer utara Bangli. Jika Anda ingin ke desa ini, bisa lewat dua jalur. Bisa dari jalur jalan Payangan-Kintamani. Bisa juga dari jalur jalan Bangli-Kintamani.

Bayung Gede terdiri dari satu desa dinas, satu desa pakraman, satu banjar dinas dan satu banjar pakraman. Desa ini dibatasi oleh Desa Batur di sebelah utara, Desa Sekardadi di sebelah timur, Bonyoh dan Sekaan di sebelah selatan serta Desa Belacan di sebelah barat.

Desa ini berada pada ketinggian sekitar 800-900 meter dari atas permukaan laut. Karenanya, Bayung Gede senantiasa diselimuti hawa sejuk. Dengan iklim semacam itu, pertanian lahan kering merupakan andalan warga desa ini.

Jika Anda mengunjungi desa ini pada siang hari, Anda akan mendapati suasana desa yang cukup sepi. Jalan-jalan dan gang-gang desa terasa lengang, rumah-rumah warga pun sunyi. Hanya orang-orang tua yang tampak menunggu di rumah.

Sebagian besar warga Bayung Gede berada di tegalan sejak pagi hingga sore hari. Sepanjang hari itu mereka menggarap lahan tegalan dan baru pulang ke rumah sekitar pukul 19.00. Kecuali jika ada upacara di pura-pura penting di desa, barulah warga Bayung Gede lebih lama berada di pusat desa.

Umumnya warga Bayung Gede adalah petani penggarap. “Banyak warga di sini yang tak punya lahan. Mereka hanya nyakap (menggarap lahan orang),” ujar Kelian Desa Pakraman Bayung Gede, Jero Mangku Sriman.

Komoditi pertanian yang berkembang cukup baik di Bayung Gede tidak berbeda jauh dengan desa-desa lainnya di dataran Kintamani seperti jeruk, kopi, aneka jenis sayuran, jagung serta padi gaga. Komoditi favorit tentu saja jeruk Kintamani. Belakangan juga berkembang jeruk siam. Anda yang berkunjung ke rumah warga di desa ini jangan kaget jika saat pulang Anda dibekali satu keresek jeruk.


Mitos Tenaga Besar

Agak sulit melacak asal-usul pasti Desa Bayung Gede. Jero Mangku Sriman malah mengaku tidak tahu secara persis asal-usul nama Bayung Gede. “Setiap kali kami tanyakan kepada para tetua di desa senantiasa dikatakan mula suba ada buka kene, memang sudah ada seperti ini,” kata Jero Mangku Sriman.

Namun, ada sebuah cerita lisan yang menguraikan tentang asal-usul Bayung Gede yang berasal dari sejumlah sumber.

Diceritakan, Batara Sakti Mahameru mengutus sebanyak 40 orang undagi (tukang bangunan) dan seekor kera putih pergi ke Gunung Toh Langkir (sekarang Gunung Agung). Para undagi dan kera putih itu dibekali dengan air suci Tirtha Kamandalu.

Setibanya di Gunung Tuluk Biyu, para undagi itu menemukan kayu tuwed di tengah hutan Pengametan. Perjalanan yang cukup jauh membuat para undagi itu kelelahan sehingga mesti beristirahat dulu. Saat beristirahat, para undagi itu pun menggarap kayu tuwed yang ditemukan sebelumnya menjadi sebuah patung yang menyerupai wajah manusia. Kayu tuwed itu ditemukan kera putih yang berjalan di barisan paling belakang.

Para undagi itu pun ingat dengan pesan Batara Sakti Mahameru agar air suci Tirtha Kamandalu yang dibawa diteteskan sebanyak tiga kali. Air suci itu pun diteteskan tiga kali. Ajaib, patung kayu tuwed itu tiba-tiba berubah menjadi manusia laki-laki.

Manusia laki-laki itu pun diajak melanjutkan perjalanan menuju Gunung Toh Langkir. Sesampainya di sana, Batara Sakti Mahameru kaget karena melihat manusia laki-laki yang diajak undagi dan kera putih. Para undagi dan kera putih itu pun disuruh untuk mencari pasangan manusia laki-laki itu yakni seorang wanita. Batara Sakti Mahameru menyuruh mereka untuk melanjutkan kembali perjalanan. Batara Sakti Mahameru meminta para undagi dan kera putih itu menemukan tempat dengan tanah yang berbau perempuan.

Tempat yang dimaksud Batara Sakti Mahameru itu akhirnya berhasil ditemukan. Para undagi dan kera putih kemudian mengambil tanah di tempat itu lalu meremas-remas atau mengolahnya menjadi sebuah patung menyerupai manusia. Selanjutnya, patung dari tanah itu ditetesi air suci tiga kali. Seperti patung kayu tuwed sebelumnya, patung tanah ini pun berubah menjadi seorang manusia perempuan. Tempat ditemukan tanah berbau perempuan itu kemudian diberi nama Belalu.

Setelah kejadian itu, Batara Siwa dan adiknya, Ida Dalem Watukaru mengadakan perjalanan ke suatu tempat untuk melaksanakan yoga-semadi. Ida Dalem Watukaru disuruh beryoga untuk menciptakan tiga manusia, yaitu dua orang perempuan dan seorang laki-laki.

Tatkala sedang khusyuk beryoga, sang kakak ternyata malah membuat hujan sampai tiga hari berturut-turut. Ida Dalem Watukaru akhirnya mengetahui bahwa yang membuat hujan adalah kakaknya sendiri. Tempat sang kakak diketahui membuat hujan itu kemudian diberi nama Ketaro (dalam bahasa Bali ketaro artinya ‘kentara‘). Lama-kelamaan tempat itu berubah menjadi Taro. Kendati begitu, yoga-semadi Ida Dalem Watukaru ternyata berhasil. Dua manusia perempuan dan satu manusia laki-laki berhasil diciptakannya.

Batara Siwa dan Ida Dalem Watukaru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pura Pingit (Tampurhyang). Ida Dalem Watukaru mengutus kakaknya untuk beryoga. Yoga itu dimaksudkan untuk mewujudkan kayu tuwed menjadi dua manusia perempuan dan satu manusia laki-laki. Dalam melaksanakan yoganya itulah Batara Siwa membutuhkan tenaga yang besar atau kuat. Akhirnya, apa yang diharapkan terwujud. Terciptalah dua manusia perempuan dan satu manusia laki-laki. Karena saat beryoga menciptakan ketiga manusia itu membutuhkan tenaga yang besar atau kuat, tempat itu kemudian diberi nama Bayu Gede. Bayu artinya ‘tenaga‘ dan gede artinya ‘besar‘. Lama-kelamaan nama itu berkembang menjadi Bayung Gede.

Cerita ini kental sekali dengan nuansa mitos, memang. Karenanya, agak sulit bagi orang untuk menerimanya sebagai sebuah fakta sejarah asal-usul Bayung Gede.

Perbekel Desa Bayung Gede, Wayan Suwela menyodorkan cerita soal asal-usul Bayung Gede yang tampaknya lebih logis. Menurut Suwela, Bayung Gede awalnya merupakan sebuah hutan yang sangat lebat. Para pendiri Bayung Gede di masa lalu berjuang keras untuk merabas hutan itu sehingga bisa dijadikan sebagai pemukiman yang layak.

“Karena hutan yang sangat lebat, diperlukan bayu gede atau tenaga yang kuat untuk merabas hutan. Setelah menjadi pemukiman baru, tempat itu dinamai Bayung Gede,” tutur Suwela.

Boleh jadi dongeng perjalanan undagi dan kera putih itu sebetulnya sama dengan kisah yang dituturkan Suwela. Inti dari kedua kisah itu sama yakni membuka daerah baru yang membutuhkan tenaga besar.


Desa Induk

Satu hal yang pasti, Bayung Gede merupakan sebuah desa kuno atau sudah berusia sangat tua. Thomas A Reuters dalam bukunya Custodians of The Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat di Pegunungan Bali (Yayasan Obor Indonesia, 2005) menyebut Bayung Gede menjadi induk dari sejumlah desa-desa kuno lainnya di Bangli seperti Penglipuran, Sekardadi, Bonyoh dan beberapa desa lainnya.

Awalnya, menurut Reuters, desa-desa tersebut merupakan pondokan dari Desa Bayung Gede yang asli. Mereka berasal dari kelompok orang yang bertempat tinggal di kebun (pondok) yang didirikan agak jauh dari desa dan telah lama tumbuh menjadi daerah hunian tetap dan desa adat yang mandiri.

Penglipuran misalnya, hingga kini masih tetap mengakui nenek moyangnya berasal dari Bayung Gede. Pengakuan ini ditunjukkan melalui hubungan ritual di antara kedua desa. Bila dilakukan perbaikan di Pura Bale Agung Penglipuran, warga Penglipuran akan datang ke Bayung Gede untuk nunas tirtha (mohon air suci).

Ciri khas Bayung Gede yang juga mirip dengan desa-desa bekas Pondokan Bayung yakni struktur kepemimpinan adatnya yang menggunakan sistem ulu-apad, berdasarkan kepada keluarga yang paling senior atau nomor urut perkawinan. Jika di Penglipuran struktur kepemimpinan adat itu dipegang oleh 12 orang yang dikenal dengan istilah Kancan Roras, di Bayung Gede kepemimpinan adat dipegang oleh 16 orang yang dikenal dengan istilah Paduluan Saih Nem Belas. Yang relatif mirip dengan model Bayung Gede yakni Bonyoh karena sama-sama menggunakan istilah Paduluan Saih Nem Belas.

Yang dianggap paling utama di antara 16 pengurus adat itu yakni empat keluarga paling senior yang masing-masing dinamakan Jero Kubayan Mucuk (keluarga nomor urut pertama), Jero Kubayan Nyoman (keluarga nomor urut kedua), Jero Bahu Mucuk (keluarga nomor urut ketiga) dan Jero Bahu Nyoman (keluarga nomor urut keempat). Jero Kubayan bertugas memimpin pelaksanaan upacara adat dan agama, sedangkan Jero Bahu sebagai pendamping Jero Kubayan. Keempat pasang keluarga itu bebas dari segala bentuk dedosan (denda) dari desa.

Di bawah Jero Kubayan dan Jero Bahu ada Jero Tanding sebanyak empat pasang keluarga. Tugasnya untuk nanding (menata) sarana upacara. Yang menempati posisi ini adalah keluarga dengan nomor urut lima hingga delapan. Masih ada lagi delapan pasang keluarga yang menempati posisi sebagai Pelancang. Tugasnya membantu menyiapkan segala perlengkapan upacara. Yang duduk di posisi ini yakni keluarga dengan nomor urut sembilan hingga enam belas.

Semua krama desa ngarep Bayung Gede akan mendapatkan kesempatan untuk menduduki jabatan di jajaran Saih Nem Belas. Ada 164 krama desa ngarep yang terlibat dalam sistem ulu-apad itu. Seperti halnya di Penglipuran, krama desa ngarep akan secara bergiliran mendapat kepercayaan sebagai Jero Kubayan atau Jero Bahu sepanjang memenuhi syarat.

Sama halnya dengan di Penglipuran, Saih Nem Belas di Bayung Gede hanya memiliki kewenangan untuk melaksanakan dan memimpin ritual adat dan agama di desa. Belakangan, Jero Kubayan dan Jero Bahu mesti berbagi tugas dengan pemangku untuk memimpin ritual adat dan agama.

“Pemangku di desa ini baru diadakan. Dulu tidak ada pemangku. Yang memimpin upacara adat dan agama di sini Jero Kubayan dan Jero Bahu,” kata Jero Mangku Sriman.

Untuk pemerintahan adat dilaksanakan oleh seorang Kelian Desa Pakraman (dulu Kelian Desa Adat). Kelian Desa Pakraman ini dipilih langsung oleh krama Desa Pakraman Bayung Gede yang jumlahnya tercatat 544 kepala keluarga (KK). Masa jabatannya selama lima tahun. Prajuru desa menjalankan pemerintahan desa adat dengan berpegang kepada adat-istiadat yang telah diwarisi selama ini. Memang, hingga kini Bayung Gede belum memiliki awig-awig tertulis. Kendati begitu, adat dan tradisi yang diwarisi turun-temurun tetap ditaati dan dilestarikan dengan rasa syukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s