Ngusabha Tegen atau Tatag

Seperti yang diketahui bahwa Pulau Bali adalah pulau yang unik dan dengan keunikannya itu, banyak yang ingin diketahui dari Pulau Bali, baik oleh orang Bali sendiri maupun luar Bali. Oleh karena itu Pulau Bali banyak dikunjungi oleh wisatawan domistik maupun wisatawan mancanegara, yang bertujuan untuk berlibur dan mengetahui keunikan Bali itu sendiri. Budaya dan adat istiadat di Bali adalah salah satu keunikan yang tidak ada di daerah lainnya, baik ritual, upacara sekaligus keramahtamahan masyarakatnya.

Bali yang dikenal dengan seribu pura tentu juga erat kaitanya dengan ritual keagamaan, seperti halnya yang dilaksanakan di Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli memiliki tradisi ritual keagamaan yang terbilang unik. Upacara yang diselenggarakan setiap pinanggal 2-3 Sasih Ketiga (Kalender Bali) atau bulan Agustus dinamakan Ngusabha Tegen atau Ngusabha Tatag.

Dinamakan Ngusabha Tegen karena sarana banten yang dipersembahkan dengan banten/sesajian tegen-tegenen yang terdiri dari sayur-sayuran, buah dan ikan dipikul oleh kaum pria, sedangkan kaum ibu membawa banten gebogan. Disebut juga Ngusabha Tatag karena jika nunas tirta mesti menaiki tangga/tatag.

Prosesi upacara ini untuk persembahan dengan tujuan berterimakasih dan bersyukur kepada Dewi Kesuburan yang berstana di Dalem Prajapati agar tetap diberi kemakmuran dan keselamatan. Juga dengan tujuan diberikan kesempurnaan bagi para pitara setelah melakukan upacara Pitra Yadnya seperti pengabenan jika ada kekurangan dalam prosesinya.

Beberapa hal lain yang unik dalam prosesi upacara Ngusabha Tegen ini seperti sarana banten yang digunakan yaitu jajan atau ikan diolah dengan cara dikukus, rebus atau dibakar pantang digoreng sesuai dengan petunjuk lontar Purana Kedisan.

Sebelum dilaksanakan prosesi Ngusaba Tegen/Tatag, dilakukan cacah jiwa dimana setiap warga membayarkan/mengumpulkan masing-masing 1 buah uang kepeng, setelah uang terkumpul jumlahnya dihitung untuk mengetahui jumlah warga, kemudian ditanam di Pura setempat, dengan tujuan menyampaikan kepada Ida Bhatara jumlah masyarakat Kedisan.

Dilangsungkan juga upacara mengadu telor, siapapun yang kalah ataupun menang tetap senang sehingga terjadi keharmonisan. Sarana banten menggunakan kembang/bunga pohon jempinis yang memang mekar pada bulan-bulan tersebut. Karena secara filosofis yang dipercaya masyarakat Hindu di India adalah pohon yang diberkati oleh Dewa Siwa.

Berbagai keunikan tradisi ini membuat daya pikat juga kepada wisatawan yang berkunjung ke Bali, baik itu dalam rangka liburan, bisnis, tugas kantor ataupun studi untuk bisa meluangkan waktunya aga bisa menyaksikan hal-hal unik di Bali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s