Catatan Nyepi Caka 1937

Hari Raya Nyepi telah berlalu 2 hari yang lalu. Banyak cerita dan kejadian yang terjadi selama rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi yang telah lewat. Mulai dari Melasti, Pangrupukan, Nyepi sampai Ngembak Geni kemarin.

Melasti

Desa adat kami, Desa Adat Denkayu melaksanakan pemelastian pada hari Kamis, 19 Maret 2015. Pemelastian dilaksanakan di Pantai Seseh. Berangkat dari Pura Desa dan Puseh ngiring Ida Bhatara mulai jam 07.30 Wita. Kami berharap dengan berangkat pagi akan terhindar dari kekroditan perjalanan di daerah Kapal, karena bertepatan dengan berangkatnya Ida Bhatara yang bersatana di Desa Kapal. Namun apa daya, memasuki daerah Tangeb, sebelum Pura Dalem Kapal, kemacetan mulai terjadi. Rombongan kami terjebak sampai 30 menit.

IMG_9558

Namun akhirnya kemacetan dapat terurai juga dengan berangkatnya rombongan masyarakat Kapal menuju Pantai Seseh dengan berjalan kaki. Untuk menghindari kemacetan selanjutnya, akhirnya kami mengambil jalur lain, sehingga tiba di Pantai Seseh dengan lancar. Selama perjalanan kami menikmati jejeran ogoh-ogoh yang telah standby di masing-masing banjar dan kami takjub dengan kreatifitas anak muda yang membuat ogoh-ogoh dengan sangat menawan.

Continue reading

Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh merupakan sebuah simbol kesenian khas Bali yang di tuangkan dalam sebuah patung raksasa yang biasanya terbuat dari bahan bambu dilapisi kertas secara berlapis atau stereo foam yang diberi warna-warni sesuai motif dan coraknya.

ogoh2

Ogoh-ogoh menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Raksasa. Dalam fungsi utamanya, ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja Hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Continue reading

Upacara Melasti (Mekiyis) dalam Rangkaian Perayaan Nyepi – 2

Makna Upacara Melasti / Mekiyis

Menurut ajaran Hindu, melasti adalah nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbol sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri). Ritual dilaksanakan selambat – lambatnya pada tilem sore, pelelastian harus sudah selesai secara keseluruhan, dan pratima yang disucikan sudah harus berada di bale agung.

Melasti2

Ritual Melasti dilengkapi dengan bermacam-macam sesajen baik sesajen khas Jawa maupun Bali. Sesajen tersebut sebagai simbolisasi Tri Murti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma. Serta diarak pula simbol singgasana Dewa Brahma yaitu “Jumpana”.

Continue reading

Ogoh – Ogoh 2014 …. Koleksi Foto

Pulau Bali, di masing-masing Kabupaten/Kota pada tanggal 31 Maret 2014 yang lalu semarak dengan kehadiran atraksi pawai ratusan ogoh-ogoh yang diarak keliling kota dan wilayah Banjar sekaligus menandai dimulainya Tapa Brata Penyepian.

ogoh38

Sejak Minggu (30/3/2014) sore sekitar pukul 18.00 Wita, patung raksasa dengan beragam bentuk dan ukuran telah dijejer di beberapa ruas jalan di Kota Denpasar, Badung, Gianyar dan daerah lainnya

Ribuan warga keluar rumah untuk menyaksikan ogoh-ogoh yang diarak kaum muda Banjar, lengkap dengan iringan tetabuhan Baleganjur, gambelan khas tradisional Bali.

Continue reading

Ogoh-Ogoh Lambang Bhutakala

Pengertian dan Asal Muasal Ogoh-Ogoh

Kata ogoh-ogoh berasal dari Bahasa Bali, diduga berasal dari kata ogah atau ogah-ogah yang artinya bergoncang.

Pada awalnya ogoh-ogoh dibuat pada waktu upacara Pitra Yajna, merupakan perwujudan sang kalayu sekar dan semeton catur. Ogoh-ogoh sang kalayu sekar berwujud manusia, berbusana akancut, akampuh, mampok-ampok, apepetet, anyungklit keris, abebadong, apatitis dengan rambut sasobratan atau agelung kakendon. Adakalanya berdestar, tetapi rambutnya tetap sasobratan, memakai gelangkana dan gelang kaki. Demikian pada umumnya ogoh-ogoh sang kalayu sekar, kalau yang meninggal orang laki.

Continue reading