Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh. Jika hati seputih awan, jgn biarkan dia mendung. Jika pikiran dan prasangka membuat hati gelap, mari terangi dengan cahaya sucinya DHARMA. “Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan”


Jukut serapah lawar serati. Jani nampah mani mebakti. Guling muani basa uyah sera. Ngiring sareng sami mulat sarira. Rahajeng Rahina Jagat Galungan lan Kuningan. Dumogi ngemanggihin kerahayuan ring jagat puniki.

Continue reading

Advertisements

Menyongsong Hari Raya Galungan dan Kuningan

Perayaan Hari Raya Galungan bagi Umat Hindu yang jatuh pada 17 Desember 2014 besok dan yang dilanjutkan dengan Hari Raya Kuningan pada 27 Desember 2014 mendatang, merupakan perayaan spiritual sosial kemanusiaan umat Hindu Indonesia yang memiliki arti sebagai perayaan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (ketidakbenaran).

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama, yakni manis.

Continue reading

Penjor

Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor“, yang dapat diberikan arti sebagai “Pengajum” atau “Pengastawa“, kemudian kehilangan huruf sengau “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian “Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa“.

Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh di depan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan.

Continue reading

Hari Raya Galungan

Hari raya Galungan jatuh pada hari Budha Kliwon Dunggulan dan diperingati setiap enam bulan atau 210 hari. Hari raya Galungan dirayakan sebagai hari pawedalan jagat atau sering juga disebut oton gumi. Nilai yang tersirat pada hari raya galungan adalah “kemenangan dharma melawan adharma“. Di India perayaan hari kemenangan disebut Sradha Wijaya Dasami. Di dalam Ramayana hal ini dilukiskan pertempuran sepuluh hari antara Rama dan Rahwana, lalu kemenangan ada dipihak Rama (dharma).

Di Indonesia perayaan kemenangan dharma dilakukan dengan merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Mitologi yang berkaitan dengan hari raya galungan adalah peperangan antara Maya Denawa dan Bhatara Indra. Perayaan galungan dan kuningan berjarak sepuluh hari, namun sebagai rentetannya dimulai sejak Tumpek Wariga sampai Budha Kliwon Pahang, yaitu sebagai berikut :

Continue reading

Semarak Galungan

Hari Raya Galungan merupakan hari raya untuk memperingati kemenangan dharma melawan adharma. Hari Raya Galungan diperingati setiap 210 hari sekali, jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan dan akan diperingati pada tanggal 17 Desember 2014. Rangkaian peringatan Hari Raya Galungan telah diperingati mulai sejak Tumpek Wariga sampai dengan Budha Kliwon Pahang.

Salah satu yang menjadi ciri khas dalam perayaan Hari Raya Galungan ini adalah pembuatan Penjor. Penjor melambangkan rasa terimakasih umat kepada Tuhan karena sudah diberkati dan dicukupinya kebutuhan, terutama pangan. Di penjor akan digantungkan hasil pertanian baik itu padi, jagung, ketela, kelapa sebagai wujud terimakasih untuk hasil panen yang baik.

Continue reading

Makna Ngelawang

Seni pentas ngelawang dilakukan untuk merayakan kemenangan Dharma atas Adharma. Ngelawang merupakan sajian seni pertunjukan yang memiliki makna sakral, namun tak sedikit orang mengatakan bahwa pertunjukan ini unik. Biasanya berlangsung secara sporadis menyibak ruang dan waktu.

Ngelawang adalah suatu tradisi yang sudah ada dari jaman dahulu dan menjadi warisan budaya masyarakat Bali masa kini. Namun ngelawang mempunyai arti lebih luas lagi yaitu sebagai penolak bala, karena ngelawang mementaskan tarian barong yang merupakan perwujudan dari suatu binatang seperti: babi hutan (bangkal/bangkung), gajah, lembu, macan dan sebagainya yang diyakini oleh masyarakat sebagai perwujudan atau manifestasi dari Dewa Siwa yang menjadi jiwa barong tersebut.

Continue reading

Ngelawang

Tradisi ngelawang atau merupakan salah satu ritual tolak bala bagi umat Hindu di Bali. Ngelawang ini dilakukan setiap 6 bulan sekali di antara Hari Raya Galungan dan Kuningan. Seperti namanya Ngelawang yang artinya lawang (pintu), yang berarti juga pementasan dilakukan dari rumah ke rumah maupun dari desa ke desa, pasar, bahkan di tengah-tengah jalan, digelar dengan menggunakan barong bangkung yaitu barong berupa sosok babi (bangkal) diiringi dengan gamelan bebarongan ataupun gamelan betel. Tujuan dilakukan tradisi ini untuk mengusir roh-roh jahat dan melindungi penduduk dari wabah/penyakit yang diakibatkan oleh roh-roh (bhuta kala) tersebut.

Ngelawang berasal dari mitologi seorang Dewi Cantik bernama Bhatari Ulun Danu berubah wujud menjadi seorang raksasa yang berhati baik dan membantu penduduk desa melakukan pengusiran roh jahat dan membagikan tirtha amertha.

Continue reading