Pura Kahyangan Kedaton – Piodalan Tanpa Dupa, Kwangen dan Penjor

Upacara piodalan di Pura Kahyangan Kedaton, di Desa Kukuh, Kecamatan Marga yang jatuh setiap enam bulan tepatnya  Anggara Kasih Medangsia memang memiliki keunikan tersendiri.

alas kedaton1

Beberapa keunikan ditemui saat piodalan di pura yang berlokasi di tengah-tengah hutan Alas Kedaton ini. Seperti piodalan yang jatuh pada Anggara Kasih Medangsia. Keunikan pertama adalah sarana upacara yang tidak menggunakan dupa, kwangen, dan sampiannya harus terbuat dari daun pisang emas. Keunikan kedua tidak menggunakan jajan gina. Dan keunikan yang  paling mencolok kalau di piodalan di Pura lain selalu dipasang penjor, tidak demikian di Pura Kahyangan Kedaton, pantang memasang penjor saat piodalan. Selain keunikan tersebut, ada tradisi menarik yang selalu dijalankan setelah upacara piodalan berakhir yakni Tradisi Ngerebeg.

Ngerebeg digelar sesaat setelah seluruh prosesi upacara piodalan selesai. Biasanya dimulai sekitar pukul 17.30 wita saat sang surya menjemput malam. Menjelang sore, yang diawali dengan dibunyikannya kulkul (kentongan) bertanda tradisi ngerebeg segera dimulai. Anak-anak kecil dan remaja sudah terlihat mempersiapkan bahan-bahan untuk ngerebeg. Jika mereka kalah cepat untuk mendapatkan tedung, bandrang, lelontek dan tombak, mereka pun akan mencari ranting-ranting pohon untuk perkakas ngerebeg. Sebelum prosesi itu dimulai, Ida Betara Petapakan berupa barong landung dan barong ket tedun dari balai paruman untuk menyaksikan prosesi ngerebeg.

Sementara seluruh pemangku se-Desa Kukuh, mempersiapkan tirta yang ditaruh di dalam bumbung, menyiapkan tuak, arak, berem guna dipersembahkan kepada bhuta kala. Ketika pemangku memerciki tirta, sorak pun membahana dan laksana anak panah lepas dari busurnya, anak-anak, remaja dan orang tua yang telah membawa tumbak, lelontek dan tedung melesat berlari mengitari areal pura sebanyak tiga kali. Uniknya, saat ngrebeg berlangsung, penghuni Alas Kedaton seperti monyet ikut bersorak dan berbaris di tembok penyengker pura. Sementara ratusan kelelawar terbang rendah mengitari pura.

Bendesa Adat Kukuh menjelaskan, ngerebeg sebagai simbol ungkapan suka cita karena seluruh rangkaian upacara di Pura Kahyangan Kedaton usai dengan labda karya sidaning don (sempurna, tanpa kekurangan suatu apapun). Sebab jika ditilik dari arti kata ngerebeg bermakna gereget. Ngerebeg merupakan tradisi yang telah diwarisi secara turun temurun. Ngerebeg juga sebagai simbol melepas hawa nafsu, juga bermakna gereget suka cita atas selesainya seluruh rangkaian upacara pidoalan.

Usai tradisi ngerebeg, rangkaian upacara ditutup dengan Tari Pendet. Uniknya tarian ini dibawakan oleh seluruh pemangku se-Desa Adat Kukuh yang menghadiri upacara piodalan. Setelah itu, pemangku akan menarikan Kincang-Kincung. Tampak pemangku berbaris dua beresap berhadapan. Barisan pertama membawa daun pisang emas dalam bentuk tekor, sementara barisan di hadapannya membawa botol yang berisi tuak arak berem. Saat kedua barisan pemangku berpapasan, pemangku pemegang botol menuangkan araknya, sementara pemangku lainnya menengadahkan tekor. Makna dari Tari Kincang Kincung ini kata Bendesa Adat Kukuh sebagai petanda kalau rangkaian upacara telah selesai dan ditutup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s