Upacara Melasti (Mekiyis) dalam Rangkaian Perayaan Nyepi – 2

Makna Upacara Melasti / Mekiyis

Menurut ajaran Hindu, melasti adalah nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbol sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri). Ritual dilaksanakan selambat – lambatnya pada tilem sore, pelelastian harus sudah selesai secara keseluruhan, dan pratima yang disucikan sudah harus berada di bale agung.

Melasti2

Ritual Melasti dilengkapi dengan bermacam-macam sesajen baik sesajen khas Jawa maupun Bali. Sesajen tersebut sebagai simbolisasi Tri Murti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma. Serta diarak pula simbol singgasana Dewa Brahma yaitu “Jumpana”.

Makna Upacara melasti yakni proses pembersihan lahir bathin manusia dan alam, dengan jalan menghayutkan segala kotoran menggunakan air kehidupan. Oleh karena itu prosesi sembahyang dilakukan di sumber-sumber air. Dilaksanakan selambat-lambatnya menjelang sore. Upacara ini juga bertujuan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar Umat Hindhu diberi kekuatan dalam melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi.

Tujuan Upacara Melasti

Tujuan dari upacara ini adalah untuk penyucian diri. Dalam upacara Melasti menurut Lontar Sundarigama dan Sang Hyang Aji Swamandala ada empat hal yang dipesankan dalam upacara Melasti tersebut.

Pertama untuk mengingatkan umat agar meningkatkan terus baktinya kepada Tuhan (ngiring parwatek dewata).

Kedua peningkatan bakti itu untuk membangun kepedulian agar dengan aktif melakukan pengentasan penderitaan hidup bersama dalam masyarakat (anganyutaken laraning jagat).

Ketiga untuk membangun sikap hidup yang peduli dengan penderitaan hidup bersama itu harus melakukan upaya untuk menguatkan diri dengan membersihkan kekotoran rohani diri sendiri (anganyut aken papa klesa).

Keempat dengan bersama-sama menjaga kelestarian alam ini (anganyut aken letuhan bhuwana).

Dengan melakukan empat hal itu barulah manusia berhak mendapatkan sari-sari kehidupan di bumi ini (amet sarining amerta ring telenging segara).

Kalau eksistensi cuaca teratur sesuai dengan hukum Rta maka laut akan senantiasa berproses menciptakan mendung. Dari mendung itulah akan turun hujan. Hujan yang turun itu kalau disambut di muka bumi ini oleh ibu pertiwi dengan hutannya yang memadai maka kebutuhan air untuk berbagai keperluan hidup akan senantiasa teratur keberadaannya. Dalam Bhagawad Gita III.14 dinyatakan bahwa air hujan itu adalah Yadnya alam kepada semua makhluk penghuni bumi ini.

Urutan Pelaksanaan Upacara Melasti

Umat Hindu melaksanakan upacara melasti dan tawur agung kesanga dalam rangkaian pelaksanaan hari raya Nyepi. Upacara melasti ini diadakan tepat pada Tilem Kesanga. Melasti dan tawur agung kesanga ini bertujuan untuk memohon tirta amertha sebagai air pembersih dari Hyang Widhi sekaligus pula menghilangkan unsur-unsur bhuta yang dapat mengganggu pelaksanaan Hari Nyepi.

Prosesi melasti dimulai dengan persiapan iring-iringan umat serta jempana dan barong yang akan diarak menuju tempat sumber air. Sumber air yang menjadi tujuan prosesi melasti ini adalah danau atau pantai yang letaknya tidak jauh dari Pura di desa terdekat. Umat yang hadir berjalan beriringan dengan membawa sarana-sarana upacara menuju sumber air (sungai, danau, pantai) dengan diiringi tabuh beleganjur.

Di tepi sumber air itu, upacara melasti dilanjutkan dengan prosesi pengambilan air suci untuk membersihkan sarana-sarana upacara termasuk jempana dan barong. Dalam upacara ini dilaksanakan persembahyangan bersama. Setelah persembahyangan bersama seluruh sarana-sarana upacara serta barong dibawa kembali ke pura.

Upacara melasti kemudian dilanjutkan dengan upacara tawur agung yang dilaksanakan di pelataran parkir Pura. Dalam upacara tawur agung ini dihaturkan persembahan berupa caru yang ditujukan kepada para bhuta. Setelah penghaturan caru dilakukan prosesi pengerupukan dengan membunyikan kentongan dan membakar obor. Api dari obor dan suara dari kentongan tersebut dibawa dari pelataran parkir mengelilingi areal Pura. Sesampainya kembali di pelataran parkir semua sarana upacara tersebut dibakar menjadi satu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s