Poleng Kesiman : Tari Keprajuritan Sakral Pada Upacara Ngerebong Di Desa Kesiman

Desa Kesiman merupakan sebuah desa yang terletak di bagian timur Kota Denpasar. Meskipun masih bernaung di wilayah perkotaan, namun desa ini ternyata memiliki khasanah seni budaya yang pantas untuk diteliti lebih lanjut. Contohnya adalah Upacara Ngerebong yang di dalamnya terdapat berbagai peristiwa budaya yang menarik dan khas. Salah satunya adalah keberadaan Tari Poleng Kesiman.

Poleng Kesiman

Menurut buku “Sejarah Pura” hasil penelitian IHD (sekarang UNHI) tahun 2006, upacara Ngerebong termasuk ke dalam kategori Bhuta Yadnya atau pecaruan. Kata Caru berarti cantik atau harmonis. Jadi, prosesi ini bertujuan untuk mengingatkan umat Hindu melalui media ritual sakral untuk selalu menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan. Prosesi “Ngerebong” ini dilangsungkan setiap Redite Pon Medangsia atau 18 hari setelah hari raya Galungan.

Tari Poleng Kesiman ini merupakan suatu bentuk tari wali yang pada masa lalu dipercaya sebagai prajurit andalan Raja Kesiman. Tari ditarikan secara kelompok berjumlah 5 orang penari.

Adapun properti yang dibawa oleh para penari yaitu berbagai jenis senjata seperti Gada, Tombak, Parang, Perisai dan Keris. Kondisi penari pada saat menari adalah dalam kondisi trance atau dikendalikan oleh kekuatan tertentu di luar nalar manusia. Uniknya, dalam keadaan seperti itu, mereka tidak berteriak-teriak seecara histeris seperti trance pada umumnya, namun bergerak menari dengan penuh kharisma.

Dalam pementasannya, para penari Poleng Kesiman mengenakan baju lengan panjang berwarna hitam yang terbuat dari kain bludru, memakai kain putih, saput berwana poleng dan selendang berwarna poleng yang dililitkan di badannya. Serta mengenakan destar (sejenis hiasan kepala berupa lembaran kain yang dilipat-lipat sedemikian rupa) berwarna poleng juga.

Di telinganya diselipkan bunga kembang sepatu berwarna merah dan di pinggangnya diselipkan sebilah keris. Di sini kita dapat melihat adanya suatu kemiripan penggunaan dan jenis kostum dengan tari Baris pada umumnya yang sangat khas terutama pada hiasan kepalanya yang berbentuk kerucut dan dihiasi dengan kulit kerang.

Salah satu dari 6 ciri-ciri seni pertunjukan ritual oleh Prof. Soedarsono adalah diperlukan busana yang khas (Soedarsono, 2002:135). Pada tari Baris Poleng Kesiman, hiasan kepalanya hanya berupa lembaran kain hitam-putih (poleng) yang dilipat-lipat sedemikian rupa hingga menyerupai destar (hiasan kepala untuk bersembahyang umat Hindu pada umumnya). Hal inilah yang menunjukkan salah satu kekhasanyang dimiliki tari Poleng Kesiman dari segi tata busananya.

Alur pementasannya dimulai ketika para pemangku perempuan yang disebut Sutri keluar dari pintu utama pura. Mereka menari dalam keadaan trance namun tidak sehisteris prosesi pertama tadi. Dengan menggunakan busana serba putih dan dihiasi busana sejenis rompi berwarna hijau dan biru. Setelah itu, dilanjutkan dengan mengusung benda sakral pusaka Desa Kesiman berupa sabuk berwarna hitam putih (poleng) sepanjang 18 depa atau kurang lebih 15 meter. Sabuk ini diusung oleh beberapa orang pemangku perempuan yang mengenakan busana serba putih. Selanjutnya, diikuti oleh pemangku perempuan yang berjalan membawa genta sebanyak 4 orang.

Di belakangnya lalu diikuti oleh para pemangku yang menari dengan mengenakan pakaian serba loreng dan membawa berbagai jenis senjata. Mereka inilah yang disebut rerencangan Poleng Kesiman. Terakhir, keluarlah Mangku Pura Dalem Kesiman, Mangku Gede Puri Kesiman, para Manca dan Prasanak menyaksikan jalannya prosesi yang mengitari wantilan sebanyak tiga kali berlawanan arah jarum jam. Setelah itu, para pemangku yang menari ini kembali ke jeroan pura.

Salah satu ciri daripada tari wali adalah tidak terlalu mementingkan estetika gerakan dan koreografi. Hal itu pun berlaku pada tarian Poleng Kesiman ini, dimana para penari kebanyakan menggunakan level rendah (ngaed). Dan, jenis gerakannya mirip seperti gerakan pencak silat.

Hal ini dapat dilihat ketika penari begitu tangkas dalam memainkan properti senjata yang mereka bawa. Sesekali para penari harus memerlukan bantuan orang lain untuk menenangkan dirinya saat mereka tidak lagi bisa mengendalikan keadaan dirinya. Banyak gerakan bermakna yang terdapat pada tarian ini yang dilakukan oleh penari dalam keadaan trance, seperti mengacungkan senjata ke atas dan ke hadapan Pemangku Dalem (yang mengawasi jalannya pementasan tarian dari pintu halaman utama mandala pura dan juga dalam keadaan trance). Gerakan tersebut menandakan kesiapan para penari untuk berperang dan menjaga keamanan Desa Kesiman secara niskala. Hal ini mirip dengan makna tari baris sakral yang terdapat di Bali pada umumnya.

Tradisi seni tari di Bali memiliki lebih dari 40 jenis tari Baris sakral Tari Baris. Tari berasal dari kata baris yang berarti deret atau leret yang menggambarkan kegagahan prajurit perang yang siap berangkat ke medan perang. Hal itu dilukiskan pada gerakannya yang tangkas nan enerjik serta penggunaan senjata sebagi properti pementasannya sekaligus menambah kesan gagah bagi penarinya. Tak jarang pula, setelah menunjukkan gerakan yang sangat tangkas dan energik, para penari baris sakral akan melakukan gerakan memendet yang lemah gemulai dan lebih bersifat kontemplatif.

I Made Bandem dalam bukunya “Kaja dan Kelod Tarian Bali Dalam Transisi” mengungkapkan bahwa tarian memendet adalah tarian yang dilaksanakan oleh pria dewasa dari jemaah pura atau kadang-kadang oleh pemangku sendiri. Setelah selesai menghaturkan sesajen, para pemangku lalu memberi persembahan berupa arak berem kepada roh jahat. Selanjutnya, Soedarsono menyatakan bahwa Baris merupakan tari putra yang dibawakan oleh kelompok pria dewasa yang berfungsi sebagai tari penyambutan kepada para dewa yang diundang pada saat odalan.

Berpijak dari dua pernyataan tersebut, dapat diasumsikan bahwa tari Poleng Kesiman ini termasuk kategori tari Bebarisan tepatnya Tari Baris Pependetan. Sebab, jika dianalisa melalui aspek bentuk tari dan fungsinya, Tari Poleng Kesiman merupakan sebuah bentuk tari keprajuritan yang secara umum berfungsi sebagai pasukan atau para prajurit pengawal dewa yang turun dari kahyangan.

Sumber : IDB Surya Peredantha, SSn., Alumni ISI Denpasar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s