Tari Baris Bajra

Mendengar Tari Baris sudah tidak asing lagi di telinga kita, namun jika kita mendengar Tari Baris Bajra maka timbulah sebuah pertanyaan, tarian baris yang bagaimana? Setelah kita menonton secara langsung tarian Baris Bajra barulah kita tahu tarian itu sarat dengan identitas dan makna filosofis.

Tari Baris Bajra

Tarian itu berjumlah sebelas orang dan masing-masing penari membawa properti Bajra yang dibuat dari gabus ukurannya tidak terlalu besar maupun tidak terlalu kecil mungkin supaya ringan dan mudah menggerakan properti Bajra tersebut pada saat menarikannya.

Uniknya lagi sebelum menari mereka mengucapkan aksara suci “Ong, Ah, Ung, Krih, Brih, Hrih, Bajra Yana Yanama Swaha” dengan penuh percaya diri sehingga membuat pemedek pura yang menoton tarian tersebut menjadi terkesima mendengarnya. Kemudian gerakan tarian yang begitu anggun dengan lentikan jemari tangan si penari dipadukan dengan gerak Bajra di tangan kanannya layaknya seperti pendeta pada saat mepuja, menujukkan bahwa tarian tersebut mengambil inspirasi dari pendeta.

Kemudian di pertengahan tarian tersebut mengambil posisi melingkar persis membentuk segi delapan dan di dalam lingkaran tersebut terdapat tiga orang penari mengambil simbol dari Yama Raja lalu kembali mengucapkan sastra dengan penuh keyakinan yaitu “Om, Ah, Ung, Bajra Daka Yanama Swaha Ah Ung” dan diakhir tarian diakhiri dengan purwa daksina mengelilingi areal pura tiga kali putaran.

Walaupun dalam pementasan tarian ini pemedek Pura Taman Sari di Desa Budakeling sangat banyak sehingga di jaba tengah pura yang dijadikan tempat pementasan menjadi sempit si penari menarikan Tari Baris Bajra namun tidak memecah konsentrasi penari dan mengurangi kesakralan tarian tersebut.

Sejarah tari baris Bajra ini diambil dari senjata Bajra yang di gunakan oleh Pendeta (Pedanda Budha) pada saat mepuja. Bajra yang mempunyai ujung lima menghadap keatas dan ke bawah merupakan lambang kekuatan untuk melebur kekuatan jahat adharma menjadi dharma. Bajra ini merupakan identitas Pendeta (Pedanda Budha) yang berasal dari leluhurnya Dang Hyang Astapaka dengan ajaran Budha Mahayana dan kemudian beliau menetap dan mempunyai asrama di Desa Budakeling yang dikenal dengan Pura Taman Sari dengan ajaran Bajra Yana (Bajra Jenana). Bajra yang artinya senjata dan Jenana berarti kesucian pikiran yang membawa perilaku dan pembicaraan dharma dengan kekuatan kemurnian pikiran wacana dan perbuatan ini yang disebut kaya, wak, citta bajra.

Tari Baris Bajra Budakeling

Aksara suci yang digunakan dalam tarian sakral Baris Bajra ini diambil dari kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang bersifat Buddhistik. Tari Baris Bajra ini awal pertama kali dipentaskan yaitu pada tahun 1998 yaitu pada hari rahina odalan Usaba Gede Mungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Desa Budakeling yang ditarikan oleh sebelas penari. Kenapa sebelas penari?  Karena tarian ini mengambil posisi Yama Raja seperti delapan penjuru mata angin dan di dalamnya ada tiga penari simbol alam bhur, bwah, swah, yang bertujuan menetralisir sifat butakala yang erat kaitannya dengan upacara caru.

Kesebelas penari Baris Bajra ini diambil dari pemuda-pemuda yang berada di desa tersebut. Namun pada saat itu tarian Baris Bajra belum begitu sempurna baik dari pakaian penari, tabuh yang mengiringi dan belum berisi menyampaikan aksara suci Budha yang merupakan identitas tarian tersebut, lalu pada tanggal 12 September 2011, di Pura Taman Sari Desa Budakeling yaitu pada saat upacaya Mungkah Agung Ngenteg Linggih dipentaskan yang keduakalinya tarian itu sudah disempurnakan baik dari tabuh yang mengiringi, busana penari yaitu memakai gelungan berbentuk Bajra menghadap ke atas dan sesimping berbentuk Bajra yang menghadap ke bawah lalu membawa senjata Bajra yang dibuat dari properti gabus agar ringan dipakai penari saat menirukan gerak Pendeta (Pedanda Budha) pada saat melaksanakan ritual keagamaan menggunakan sarana Bajra.

Sebuah garapan tarian sakral tidak semudah mengarap tarian seperti tarian lain, karena memadukan sastra dengan gerakan tarian agar terjadinya sebuah kesesuaian sehingga memiliki nilai spiritual dan estetika. Tentu tidak terlepas dari kendala-kendala dalam mengarap tarian tersebut. Kendala tersebut terletak pada seorang penari yang tidak dituntut untuk pintar menari namun yang dibutuhkan adalah karakter prajurit dan penjiwaan pendeta (Pedanda Budha) pada saat mepuja dengan mudra tetanganan melantunkan nyanyian-nyanyian suci sehingga dibutukan keseriusan yang pada akhirnya memunculkan suasana yang begitu sakral dan bisa dikatakan memiliki nila seni tinggi.

Tarian Baris Bajra merupakan tarian yang disakralkan, ditarikan pada hari-hari tertentu yang sebenarnya ditujukan kepada para Dewa bukan kepada penonton atau pemedek di pura sekalipun sebagai sarana pelengkap upacara yadjna juga memberikan sebuah ajaran budhi yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s