Pura Segara Penimbangan – 1

Sejarah Pura Segara Penimbangan

Pura Segara Penimbangan terletak di Desa Panji Kecamatan Sukasada. Sesungguhnya secara umum sama saja dengan Pura Segara lainnya di Bali. Meski demikian, ada sesuatu hal khusus yang membedakan dengan Pura Segara lainnya. Di Pura Segara Penimbangan ini ada sebuah Pelinggih Taksu yang dijadikan media pemujaan oleh umat Hindu di Desa Panji. Pelinggih Taksu ini juga dijadikan media pemujaan oleh umat Buddha di sekitar Buleleng.

Pura Segara Penimbangan

Di Pelinggih Taksu ini terdapat sebuah arca batu yang dipahatkan menempel di Pelinggih Taksu tersebut. Arca tersebut dengan style Cina yang berwujud seorang lelaki gemuk duduk bersila, berkepala gundul dengan perut buncit dalam sikap semadi menghadap ke laut Jawa mirip tokoh Buddha Lokeswara. Pelinggih Taksu ini merupakan Pelinggih Ratu Bungkah Kaang. Konon arca tersebut sebagai peringatan nakhoda kapal milik Dampu Awang atau ada juga yang menyebutnya Empu Awang dari Cina yang pernah kandas di pantai Desa Panji.

Menurut catatan sejarah Soegianto Sostrodiwiryo (1994) dalam bukunya berjudul ”I Gusti Ngurah Panji Sakti Raja Buleleng” penerbit CV. Kayu Mas Agung menyatakan pada tahun 1618 Masehi kapal milik Dampu Awang kandas menabrak karang di pesisir Segara Penimbangan Desa Panji. Saat ada kapal yang kandas itu ada seorang tokoh yang sakti bernama Ki Barak Panji yang dari sejak lahirnya memiliki kesaktian yang luar biasa, putra dari Sri Aji Dalem Sagening dengan selirnya yang bernama Si Luh Pasek. Ki Barak Panji ini memiliki kesaktian yang luar biasa.

Saat ada kapal Dampu Awang kandas, Ki Barak Panji menunjukkan kesaktiannya untuk mengatasi kapal yang kandas tersebut. Dengan menudingkan kerisnya yang bernama Ki Baru Semang ke tengah laut tempat kapal yang kandas itu dengan teriakan histeris, karang yang membuat kapal tersebut kandas terbongkar. Kapal pun bebas dari terkaman batu karang yang memacetkan kapal Dampu Awang tersebut. Nampaknya sejarah terdamparnya kapal Dampu Awang inilah yang menyebabkan di Pura Segara Penimbangan dibuat sebuah Pelinggih Taksu sebagai media pemujaan Ratu Bungkah Kaang. Di atas Pelinggih Taksu tersebut diletakkan sebagai bongkahan batu karang untuk mengingatkan kehebatan Ki Barak Panji menyelamatkan kapal Dampu Awang tersebut.

Tentang cerita Ki Barak Panji, ada cerita menarik dalam buku ”Babad Buleleng” oleh I Gusti Putu Jelantik (1905). Diceritakan Si Luh Pasek adalah seorang gadis desa yang cukup cantik dan dengan penampilan yang memikat yang berasal dari Desa Panji di wilayah Denbukit. Sejak kecil dia dibawa oleh pamannya mengabdi di Istana Kerajaan Gelgel di Sweca Pura sebagai penyeroan puri.

Pada suatu hari Si Luh Pasek kebetulan buang air kecil atau kencing di suatu tempat. Tanah tempat kencing Si Luh Pasek kebetulan diinjak oleh Dalem. Tanah bekas air kencing Si Luh Pasek terasa panas di kaki Dalem. Dalem menanyakan mengapa tanah itu demikian terasa panas saat diinjak oleh Dalem. Setelah Sri Aji Dalem Sagening tahu tanah tersebut bekas air kencing Si Luh Pasek, maka beliau memikir-mikir tentang keutamaan Si Luh Pasek.

Singkat cerita, Sri Aji Dalem Sagening jatuh cinta pada Si Luh Pasek. Selanjutnya Si Luh Pasek dipersunting oleh Dalem sebagai istri penawing. Diceritakan dalam Babad Buleleng itu, Si Luh Pasek hamil dan akhirnya melahirkan bayi lelaki yang tampan dan mungil. Saat kelahiran bayi si Luh Pasek benar-benar menggemparkan. Karena dari ubun-ubun si bayi mengeluarkan sinar berpijar-pijar. Bayi ini diberi nama Gusti Gede Kepasekan. Tetapi raja memanggil putranya dengan sebutan ”Ki Barak”. Karena rambut dan rona wajahnya yang kemerah-merahan.

Pada tahun 1610 Masehi usia Ki Barak menginjak kesebelas tahun. Dalam usia semuda itu dia sudah bisa mengalahkan Ogongan si gila dengan lambaian ikat kepalanya saja. Barak juga dapat mengalahkan orang-orang yang terkenal kuat hanya dengan senyuman saja. Karena kehebatannya itu permaisuri dan juga Dalem khawatir akan kehebatan Ki Barak. Karena Dalem tidak akan mengangkat putra mahkota dari anak yang lahir dari istri penawing, Dalem mencari akal dengan mengirim Ki Barak ke Desa Panji asal ibunya.

Ki Barak dikirim ke Desa Panji Den Bukit asal ibunya. Beliau dikirim ke Desa Panji dengan sejumlah pengiring dan diberikan senjata keris yang sakti-sakti seperti Keris Tunjung Tutur, ada Keris Ki Baru Semang yang juga bernama Keris Ki Mundaran Cacaran.

Di daerah Den Bukit di wilayah Sima Gendis dengan istananya bernama Puri Gendis ada seorang yang bertabiat tidak baik bernama Ki Pungakan Gendis. Atas permintaan rakyat yang dirugikan atas kecongkakan Ki Pungakan Gendis maka Ki Barak Sakti mengalahkan Ki Pungakan Gendis hanya dengan mengarahkan keris Ki Baru Semang ke arah Ki Pungakan Gendis maka tewaslah orang tersebut dari jarak jauh.

Demikianlah kesaktian Ki Barak Panji digunakan untuk menolong orang yang tertekan dan menegakkan kebenaran. Hal inilah menyebabkan hanya dalam usia 20 tahun Ki Barak Panji menjadi amat terkenal karena keberhasilannya membela kebenaran dan melindungi mereka yang tertindas. Ki Barak Panji amat ramah dan sangat hormat pada tetua di Desa Panji. Perilakunya amat memikat hati rakyat di Desa Gendis. Karena keutamaannya itulah Ki Barak Panji dinobatkan sebagai penguasa baru di Den Bukit dengan gelar Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Orang-orang Gendis dengan parhyangan-nya dipindahkan ke Desa Panji.

Demikianlah sekilas cerita Ki Gusti Anglurah Panji Sakti yang juga dipuja roh sucinya di Pura Segara Penimbangan. Kesaktian yang dimiliki oleh Ki Gusti Anglurah Panji Sakti ini digunakan secara positif. Karena pengertian sakti itu sesungguhnya sangat positif.

Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan sebagai berikut: Sakti Ngarania sang sarwa jnyana muang sarwa karya. Artinya orang sakti itu adalah orang yang banyak memiliki ilmu dan banyak bekerja dengan ilmu tersebut. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti ini dengan hati yang suci mewujudkan kesaktiannya itu untuk melindungi rakyat dan kebenaran. Hal itulah yang menyebabkan dia diangkat menjadi raja. Kata ”raja” berasal dari kata rajintah artinya yang menyenangkan rakyat. Mereka yang telah menyenangkan rakyatlah disebut raja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s