Baris Pendet – di Desa Adat Tanjung Bungkak

Sejarah Tari Baris Pendet

Sejarah dari tari Baris masih “kabur”. Banyak literatur yang mengungkapkan asal mula dari Tari Baris. Dalam buku Tari Wali (Sanghyang, Rejang, Baris) oleh I Wayan Dibia menyebutkan bahwa sejarah Tari Baris, oleh para ahli, banyak dikaitkan dengan Kidung Sunda, sebuah puisi seni sejarah yang dikarang pada tahun 1550, oleh Claire Holt disebutkan bahwa pada waktu upacara pemakaman raja terbesar Majapahit, yaitu Hayam Wuruk ada dipentaskan tujuh macam tari perang (bebarisan) yang salah satu diantaranya disebut Tari BarisLimping”.

Jika kita berpegangan pada waktu meninggalnya Hayam Wuruk, yakni pada tahun 1389, maka ini berarti bahwa di Jawa Timur telah ada bebarisan sejak abad XIV. Kemudian ketika jatuhnya Kerajaan Majapahit ke tangan Islam diamana banyak bangsawan “wwang” Majapahit yang lari ke Bali, maka tidak mustahil seni bebarisan inipun ikut terbawa.

Tari Baris sebagai salah satu kesenian yang bercorak Hindu sampai saat ini belum dapat dijelaskan dengan pasti kapan timbulnya, karena beberapa literatur yang ada tidak memberikan gambaran yang jelas. Namun demikian dari beberapa literatur dengan keterangan dari para ahli dan penglingsir, maka dapat ditarik suatu argumentasi mengenai asal mula Tari Wali Baris Pendet.

Literatur tertua yang menyinggung tentang Tari Baris adalah Lontar Usana Bali sebagai berikut : “Setelah mayadenawa dapat dikalahkan, Batara Indra dan para Dewata lainnya berkumpul di Manukraya dan kemudian didirikanempat buah khayangan yaitu Kedisan, Tihingan, Manukraya dan Keduhuran. Setelah pertemuan itu diadakan keramaian selama tiga hari, Widyadari menari Rejang, Widyadara menari Baris, dan para Gandara menjadi penabuh”.

Jika dikaitkan dengan sejarah Mayadenawa adalah seorang Raja Bali, anak dari Begawan Kasiapa dengan istrinya Dewi Danu yang memerintah di Kerajaan Balingkang pada tahun 850 Masehi. Dengan demikian kurang lebih pada abad IX (Sembilan) menurut Lontar Usana Bali dinyatakan sudah ada Tari Baris, yang selanjutnya setiap upacara di beberapa khayangan di Bali selalu di pertunjukkan Tari Baris dan Tari Rejang.

Tari Baris dan Tari Rejang sudah ada di Bali sejak dulu, begitu juga Tari Baris Pendet yang memang sudah ada sejak Pura Dalem Tanjung Sari ini didirikan. Pura Dalem Tajung Sari belum bisa dipastikan kapan pura itu didirikan. Mengingat di daerah Semerta Denpasar terdapat dua Pura Dalem yaitu Pura Dalem Sumerta di wilayah Banjar Abiankapas Kaja Desa Pekraman Sumerta wilayah Utara dan Pura Dalem Tunjung Sari yang terletak di Desa Adat Tanjung Bungkak wilayah Selatan. Keduanya memiliki kaitan yang erat dalam wilayahnya dan menguasai dua setra atau kuburan yang terbagi atas pengemponnya.

Dengan keterangan Lontar Usana Bali, literatur tertua dari asal mula Tari Baris ini, setidaknya masyarakat setempat mampu menjelaskan asal mula keberadaan tari sakral ini. Tari sakral ini tidak hanya akan dinikmati oleh masyarakat setempat tapi akan dinikmati oleh masyarakat luar atau wisatawan asing yang ingin menonton tarian sakral ini. Masyarakat luar atau wisatawan asing yang ingin menonton Tari Baris ini akan mengetahui asal mula dari tari ini dan dengan mudah kelestarian dan kesakralan dari Tari Baris ini akan terjaga.

Menurut I Putu Suastika Neteg bahwa pada jaman pemerintahan Raja Gunapriya Dharmapatni/Udayana Warmadewa telah diadakan paruman yang diberi nama “Samuan Tiga” diprakarsai oleh Empu Kuturan dengan 5 (lima) keputusan yaitu:

  • Paham Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) dijadikan dasar keagamaan di Bali.
  • Khayangan Tiga : Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem yang disungsung oleh Desa Adat.
  • Sanggah atau Pemrajan yang ada di setiap rumah sebagai pemujaan kepada leluhur.
  • Tanah milik Desa Adat yang ada di sekitar Desa Adat adalah milik Khayangan Tiga atau Desa Adat.
  • Masyarakat Hindu di Bali menganut agama Siwa Buddha.

Jadi berdasarkan atas pemaduan hasil kepustakaan dan wawancara diperkirakan Tari Baris Pendet di Pura Dalem Tanjung Sari, Desa Adat Tanjung Bungkak telah ada sejak pura tersebut didirikan.

 –

Melestarikan Tari Baris Pendet

Tari Baris Pendet ini dianggap oleh krrama sebagai suatu untaian prosesi upacara piodalan yang mengutamakan ayah-ayahan, namun bila dipahami secara mendalam, tarian ini adalah suatu ilmu pengetahuan yang perlu mendapat perhatian dan pemahaman dalam spiritualisasi keagamaan. Sangat penting mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa tari bukan sekedar gerakan terkomposisi, namun semangat yang ada di dalamnya jauh lebih menukik pada nilai vertikal, penyerahan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk mendapatkan keselamatan lahir bathin.

Pelestarian seni Tari Wali seperti Tari Baris Pendet di Desa Adat Tanjung Bungkak menggunakan managemen tradisional yeng terorganisasi melalui struktur prajuru Desa Adat. Struktur yang diterapkan dengan cara seperti :

 Prajuru Desa Adat Tajung Bungkak

Bendesa Desa Adat Tanjung Bungkak terdiri dari 3 (tiga) Banjar, yaitu Banjar Tanjung Bungkak Kaja, Banjar Tanjung Bungkak Klod dan Banjar Sebudi. Kemudian Prajuru Desa menunjuk kepada salah satu Banjar yang mendapat giliran untuk ngayah Tari Baris Pendet di Pura Dalem Tanjung Sari, Desa Adat Tanjung Bungkak.

Penari dipilih oleh Kelihan/prajuru banjar yang mendapat giliran ngayah sebanyak 8 (delapan) orang anak laki-laki yang berumur 10 (sepuluh) sampai dengan 13 (tiga belas) tahun.

Pelatihan

Latihan di lakukan di Banjar yang mendapat giliran ngayah yang dimulai dari 2 (dua) minggu sebelum odalan di Pura Dalem dengan upacara mepejati. Pelatihya dari anggota Banjar tersebut. Latihan dilengkapi dengan iringan/gamelan gong kebyar terdiri dari 2 (dua) gangsa, kajar, gong, kempur, dan 2 kendang lanang dan wadon.

 Penglamur/upah

Pada hari pementasan, sebelumnya seluruh penari pendet diberikan penglamur/upah berupa 1 (satu) bayuh/tanding daging dan 1 (satu) tanding nasi. Semuanya itu disiapkan dan diberikan oleh prajuru Desa Adat.

Busana/Tata Rias

Perlengkapan busana dan property Tari Baris Pendet dipersiapkan oleh mangku Dalem.  Tata rias yang dipergunakan adalah make up pentas biasa.

Property

Property merupakan perlengkapan yang dibawa oleh penari Tari Baris Pendet sebagai berikut :

  • Canang Oyod yang terdiri dari hiasan janur dengan bunga, rokok, dan dupa.
  • Arak Berem yang terdiri dari minuman arak yang ditempatkan dalam gelas dengan tutupnya.
  • Angin-angin/Kipas yang berwarna putih.
  • Canang Penamprat yang terdiri dari bokor, canang, dan sab/tutup canang.

Tempat Pementasan

Tempat pementasan Tari Baris Pendet di Pura Dalem Tanjung Sari disebut kalangan  (arena) dengan batas-batas pelinggih dan bangunan lainnya yang ada di jeroan pura.

Iringan tari/gamelan

Iringan yang dipergunakan dalam pertujukan Tari Baris Pendet adalah barungan gong kebyar lengkap. Adapun struktur iringannya sebagai berikut:

  • Bagian Penglembar terdiri dari : Gilak, Pengiba, Longor, Kale,
  • Bagian Pemendak terdiri dari : Tunjang, Pengecet
  • Bagian Penamprat terdiri dari : Gilak, Kale

 –

Fungsi dan Makna Tari Baris Pendet

Tari Wali merupakan tarian sakral yang berfungsi sebagai sarana upacara Dewa Yadnya. Cenderung tarian ini disakralkan karena fungsi dan maknanya dikeramatkan, terbukti dari penarinya yang berumur di bawah 15 tahun, waktu, tempat pementasan, dan jarang dipertunjukan untuk hal lain selain fungsi ritual pura.

Fungsi dari Tari Baris Pendet adalah sebagai tari wali untuk mendak sesuhunan Ida Bhatara Dalem. Tarian ini mengungkapkan pengabdian yang tinggi nilainya, untuk menghormati dewa-dewi  sebagai menifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Proses ritual dalam Agama Hindu, umat membuat pementasan tari, gamelan maupun pekerjaan lain yang bersangkutan dengan upacara itu. Ritual merupakan suatu bentuk upacara atau perayaan (celebration) yang berhubungan dengan beberapa kepercayaan atau agama dengan ditandai oleh sifat khusus, dan menimbulkan rasa hormat yang luhur dalam arti merupakan suatu pengalaman yang suci.

Penari yang hanyut dalam upacara ritual ini menimbulkan rasa keindahan dalam diri. Pada umumnya keindahan dapat menimbulkan dalam jiwa rasa tenang, bahagia, nyaman, dan lain sebagainya. Keindahan mampu memberikan kesadaran pribadi, kesadaran sosial,  kesadaran tanggung jawab dalam ungkapan keindahan, maka akan memberi rasa bahagia dan puas pada jiwa si penari. Kebahagiaan dan kepuasan yng demikian dirasakan sebagai perasaan yang timbul dari nikmat keindahan. Konsep keindahan dalam hal ini adalah segala sesuatu yang menyenangkan dan memenuhi keinginan dalam ini cenderung pada nilai subyektif, karena mementingkan keindahan dalam kebaikan dan kebenaran. Konsep keindahan terkait dengan konsep ke-Tuhan-an pada Tari Wali Baris Pendet yang mengutamakan moral dan konsentrasi

Penari pada tatanan ritual, sehingga dapat menyatukan filsafat secara vertikal antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Mengutamakan seni dalam konteks moral bahwa seni harus bersendi pada moral, yakni moral seniman harus ada hubungannya dengan karya seni dan keindahannya.

Penari yang telah merasakan keindahan dalam dirinya, maka akan ada nilai spiritual yang menyangkut masalah bathin dan watak, namun bukan yang bersifat badan atau tenaga, tetapi hidup dalam aktivitas jiwa manusia. Melihat sebuah karya seni tari wali menimbulkan rasa nikmat dan indah, karena terjadi kesan dalam jiwa melalui salah satu dari pancaindra mata dan telinga atau keduanya sekaligus. Proses pengalaman manusia ketika mengamati suatu karya seni ataupun obyek lain dapat mempengaruhi kejiwaan manusia yang disebut spiritual.

Nilai spiritual adalah nilai sifat dan mutu dari pengalaman indah dalam kejiwaan, yang menganut masalah hasil obyektif dan subyektif moral, yang bertujuan untuk pembentukan jiwa. Dalam pembentukan jiwa ini termotivasi dari perasaan yang mendalam tentang ajaran agama ataupun kediatmikan untuk mencapai kepuasan diri. Spiritual memerlukan konsentrasi jiwa dan raga yang mengutamakan batin dan kerohanian terpusat secara vertikal. Nilai ini perlu diperdalam oleh penari, apalagi yang menarikan tarian sakral. Sebab konteksnya terhadap upacara agama sangat intens.

Tari Baris Pendet dipentaskan di halaman Pura Dalem, tepatnya di depan pelinggih gedong. Dalam mementaskan tarian sakral ini, kalangan/arena Pura Dalem di bagi menjadi 2 (dua) yaitu arena dimana tarian sakral ini dipentaskan dan arena dimana para krama/masyarakat duduk menyaksikan ritualnya. Bukan hanya itu, tugu-tugu/pelinggih di Pura Dalem menghadap ke Barat atau menghadap ke arena tempat Tari Baris Pendet di pentaskan. Ini melambangkan adanya arena khusus atau arena utama yang dijadiakan tempat penari utnuk menarikan tarian sakral ini.

Pada tari Baris Pendet  terdapat 3(tiga) stuktur pertunjukan yang masing-masing mempunyai makna tersendiri tetapi menjadi satu kesatuan yang bertujuan untuk nedunang Ida Bhatara Dalem yaitu :

 Bagian Pertama Penglembar

Pada bagian awal tari Baris Pendet ini, penarinya berjumlah 4 (empat) orang laki-laki. Bagian ini property yang digunakan yaitu Canang Oyodan. Selesainya bagian ini diakhiri dengan kembalinya penari dan tetap membawa Canang Oyodan. Bagian penglembar ini ditarikan sebanyak 2 (dua) kali oleh penari yang berbeda atau ditampilkan kembali 4 (empat) penari dengan stuktur pementasan yang sama. Bagian ini mempunyai makna bukti bakti krama/masyarakat terhadap sesuwunan Bhatara Dalem. Bhakti itu dipertunjukan melalui bentuk tarian yang bersifat sakral dan hanya dipentaskan 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan atau 210 hari.

Bagian Kedua Pemendak

Pada bagian ini dibagi lagi menjadi 2 (dua) struktur yaitu bagian memendak dan bagian nedunan. Bagian inilah yang menjadi makna utama dari tarian Baris Pendet. Pada bagian memendak penari berjumlah 6 (enam) orang diantaranya membawa 2 (dua) canang mendak, 2 (dua) arak dan 2 (dua) berem. Bagian mendak ini penari menghadap ke arah timur pura atau menghadap pelinggih, yang melambangkan bahwa penari bermaksud untuk mendak Ida Bhatara untuk menyaksikan prosesi upacara piodalan berlangsung. Bagian mendak ini diakhiri dengan satu persatu penari  ngayabin/menghaturkan sesajen di depan pelinggih Bhatara Dalem seperti: canang mandak, arak, dan berem yang dibawa oleh menari.

Setelah penari selesai menghaturkan sesajen, ke-6 (enam) penari tersebut menarikan tarian pengecet yang bermakna sebagai simbol Ida Bhatara Dalem tedun/turun menyaksikan piodalan. Bagian ini penari menghadap ke Barat yang artinya Ida Bhatara turun bercengkrama dilambangkan dengan tarian kupu-kupu yang menggunakan kipas sebagai propertynya dengan gerakannya mearas-arasan. Kupu-kupu melambangkan keindahan yang ada di alam khayangan. Saat tarian kupu-kupu dilangsungkan berarti Ida Bhatara sudah tedun dan menyaksikan upacara yang dilangsungkan oleh masyarakat Desa Adat. Bagian ini diakhiri dengan kembalinya penari ke Bale Pendet. Bale Pendet merupakan tempat dimana para penari Baris Pendet berias serta tempat untuk beristirahat dan menaruh properti yang akan digunakan oleh para penari.

Bagian Ketiga Penamprat

Pada bagian ini, Tari Baris Pendet ditarikan oleh 8 (delapan) penari dengan pembagian yaitu: 4 (empat) penari dengan membawa canang penamprat, dan 4 (empat) penari lainnya sebagai penamprat. Bagian penamprat ini adalah klimak dari koreografinya, yang disimbolkan dengan tarian perang diantara ke-8 (delapan) penari yaitu antara 4 (empat) penari membawa canang penamprat dengan penari penamprat. Simbolisasi pada bagian ini adalah mengungkapkan nilai-nilai rwa bineda (baik-buruk) yang bergejolak pada alam ini. Baik-buruk, hidup-mati, kaya-miskin tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Rwa bineda ini agar dimaknai oleh krama/masyarakat Desa Adat Tanjung Bungkak sebagai suatu yang pasti dialami oleh manusia.

Tari Baris Pendet mempunyai 3 (tiga) struktur pertunjukan yaitu bagian penglembar, bagian pemendak dan bagian penamprat. Pada setiap bagian mempunyai  fungsi dan amanat yang berbeda tetapi perbedaan tersebut menjadi adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sebagai perwujudan bukti bahkati terhadap sesuwunan Bhatar Dalem.

 –

Pementasan Tari Baris Pendet

Tari Baris Pendet dipentaskan di nataran jeroan atau halaman utama di ajeng gedong dan tajuk Pelinggih Ida Bhatara Dalem Tanjung Sari, Desa Adat Tanjung Bungkak. Pementasan dilaksanakan saat piodalan di Pura Dalem Tanjung Sari saja yaitu pada hari Anggara Kasih, Wuku Medangsia, yang jatuh setiap 6 (enam) bulan dalam perhitungan bulan Bali atau 210 hari sekali.

Pada saat hari piodalan itu, seluruh pratima, arca, barong, dan benda sakral lainnya  yang ada di wilayah Desa Adat Tanjung Bungkak tangkil/datang ke Pura Dalem. Seluruh pratima, arca, barong, benda sakral dan masyarakat mengikuti pelaksanaan upacara lebar dateng atau ngider bhuwana yaitu suatu upacara selamat datang dengan berjalan mengelilingi sesajen secara bersama-sama sebanyak 3 (tiga) kali yang tepat dilaksanakan pada waktu sandikaon atau menjelang matahari terbenam. Ngider Bhuwana ini dilaksanakan kurang lebih selama 2 (dua) jam hingga seluruh rangkaian upacara tersebut tuntas selesai. Semua pratima, arca, barong, dan benda sakral tersebut di tempatkan di suatu pelinggih/tajuk sesuai dengan tempat yang telah ditentukan oleh mangku.

Setelah upacara ngider bhuwana selesai dan pratima melinggih/duduk di tajuk, dilanjutkan dengan upacara ngaturan piodalan kehadapan Ida Bhatara Dalem. Prosesi upacara odalan dimulai yang diawali dengan mempertunjukkan Tari Baris Pendet selama kurang lebih 1 ½ (satu setengah) jam hingga selesai. Kemudian baru dilanjutkan dengan ngaturan piodalan yang identik dengan kerawuhan (kesurupan) dan tarian-tarian ritual lainnya yang berkaitan dengan piodalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s