Makna Ngaben

Ngaben secara umum sering didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat. Tetapi dari asal-usul etimologi kata kurang tepat, karena ada tradisi Ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat.

122814_0121_RenunganAkh4.jpg

Rupa-rupanya “ngaben” berasal dari kata “beya, artinya biaya atau bekal. Dari kata beya, dalam bentuk aktipnya, melakukan pekerjaan menjadi “meyanin” ada juga “ngabeyanin” – “ngabeyain, lalu menjadi kata “ngaben”.

Upacara Ngaben itu tergolong upacara Pitra Yajna. Pitra Yajna itu adalah upacara/persembahan suci kepada leluhur. Leluhur yang dimaksud adalah ibu-bapak, kakek, buyut dan lain-lain, yang merupakan garis lurus ke atas, yang menurunkan kita. Kita ada karena ibu-bapak, ibu dan bapak ada, karena kakek dan nenek, begitulah seterusnya. Kita ada karena atas jasa-jasa mereka, kita telah berutang kepada mereka. Hutang kepada leluhur disebut Pitra Rena. Hutang itu harus dibayar. Membayar hutang kepada leluhur dengan melaksanakan Pitra Yajna. Jadi Pitra Yajna, merupakan suatu pembayaran hutang kepada leluhur. Hal inilah yang menjadi dasar adanya Pitra Yajna.

Upacara menghormati leluhur dalam tradisi Hindu disebut dengan Sradha. Dalam kitab hukum Hindu Manawadharmasastra, ada disebutkan : Upacara Pitra Yajna yang harus kamu lakukan, hendaknya setiap harinya melakukan sradha dengan mempersembahkan nasi, air dan susu, dengan ubi-ubian.Dan dengan demikian ia menyenangkan para leluhur.  (MDS,I.82).

Dala kekawin Ramayana, gubahan Mpu Yogiswara, ada disebutkan : Amat bijaksanalah sang raja Dasaratha, beliau tahu tentang Weda, hormat bhakti kepada para dewa, tidak lupa memuja leluhur, amat sayang beliau kepada keluarga semua. ( K.Ramayana I,3).

Melaksanakan Pitra Yajna adalah merupakan kewajiban pratisantana. Sebelum selesai melaksanakan  Pitra Yajna atau Pengabenan, ia belum berhak mewaris. Tugas pratisantana adalah sampai melinggihkan dan memujanya di Sanggah Kemulan. Setelah kewajiban ini dilaksanakan, barulah pratisantana itu  berhak atas waris. Hal ini berarti bahwa pelaksanakan Pitra Yajna akan terkait dengan hukum waris. Seorang prati santana akan kehilangan hak warisnya, jika ia “ninggal kadaton” dan tidak melaksanakan kewajiban.

Demikianlah dasar-dasar hukum pelaksanaan upacara ngaben, bagi pratisantana terhadap leluhurnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s