Sanghyang Grodog : Membangkitkan Spirit Semesta

Tanggal 25 Juli 2012 menjadi hari yang istimewa bagi masyarakat Desa Lembongan, sebab itu merupakan hari pertama dari prosesi Sangyang Grodog. Antusiasme masyarakat Desa Lembongan terlihat dari ramainya mereka mendatangi tempat prosesi sanghyang yang dilakukan di catus pata yang merupakan titik nol Desa Lembongan.

Grodog1

Sanghyang Grodog kali ini terhitung sangat istimewa karena pertama kalinya diselenggarakan kembali setelah 29 tahun tidak pernah diselenggarakan di Desa Lembongan. Menyelenggarakan kembali Sanghyang Grodog tentunya bukan perkara mudah, sebab menyelenggarakan kembali sanghyang sudah “tertidur” selama 29 tahun membutuhkan upaya penggalian, terutamanya gending sanghyang yang hanya mampu diingat oleh segelintir orang tua di Desa Lembongan. Sanghyang Grodog di Desa Lembongan tergolong suatu ritual yang unik, berbeda dibandingkan dengan jenis-jenis sanghyang lainnya yang ada di Bali Daratan. Pada Bali Daratan, prosesi sanghyang lazimnya dilakukan oleh penari yang mengalami proses trans atau kehilangan kesadaran diri dan melakukan gerakan-gerakan tertentu sesuai dengan karakter sanghyang yang dipentaskan.

Tetapi tidak demikian yang terjadi pada Sanghyang Grodog di Lembongan. Perbedaannya bukan hanya dari jumlah sanghyang yang tergolong banyak, yakni 22 sanghyang, tetapi juga penggunaan roda kayu pada masing-masing simbol sanghyang. Kedua puluh dua sanghyang tersebut disimbolkan dengan media yang dibuat menyerupai sanghyang yang akan ditampilkan, atau dalam sebutan lokal disebut dengan gegulak.

Gegulak ini dibuat dari kayu dan jerami yang kemudian dihias sehingga menyerupai suatu objek tertentu. Gegulak juga dilengkapi dengan roda yang terbuat dari kayu yang selanjutnya akan digerakkan diiringi dengan nyanyian atau gending sanghyang.

Istilah “Grodog” muncul dari suara yang ditimbulkan ketika roda kayu tersebut digerakkan dan bersentuhan dengan tanah tempat berlangsungnya prosesi sanghyang. Semakin kencang roda kayu itu digerakkan, maka akan semakin keras pula suara yang dihasilkan, oleh sebab itu oleh penduduk Desa Lembongan, sanghyang ini disebut dengan Sanghyang Grodog.

Menurut penuturan Jero Mangku Gua Gala-Gala, Sanghyang Grodog merupakan “ritual pengaci desa” yang dipentaskan setiap tahun dengan fungsi sebagai “penyomia desa”. Nyomia desa merupakan suatu upacara yang dilakukan untuk menetralisir unsur-unsur negatif sehingga menjadi positif. Unsur-unsur yang telah dinetralisir dengan ritual Sanghyang Grodog ini diyakini akan memberikan dampak yang baik secara sekala maupun niskala bagi lingkungan dan masyarakat Desa Lembongan.

Menurut penuturan orang-orang tua di Lembongan, Sanghyang Grodog ini dilakukan untuk mencegah munculnya musibah-musibah yang meresahkan warga desa, diantaranya kekeringan dan wabah penyakit terutamanya penyakit cacar yang dahulu dikategorikan sebagai penyakit yang mematikan. Kedua bencana ini, tergolong hal yang sulit diatasi oleh masyarakat Desa Lembongan yang saat itu masih tradisional dan amat bergantung pada kebaikan alam untuk mampu bertahan hidup.

Selain fungsinya sebagai penyomia desa, penyelenggaraan Sanghyang Grodog pada masa-masa terdahulu merupakan suatu ritual yang dinanti-nantikan oleh masyarakat Desa Lembongan. Ritual ini menjadi suatu hiburan tersendiri bagi masyarakat Desa Lembongan baik kaum muda maupun tua, sangat antuasias menyambut digelarnya prosesi Sanghyang Grodog.

Dalam ingatan Nyoman Adnyani, seorang warga Desa Lembongan yang kerap menyaksikan Sanghyang Grodog semasa kecilnya, “saya sangat senang jika diadakan Sanghyang Grodog, saya biasanya akan menonton setiap malam di bawah cahaya bulan, menyaksikan Sanghyang Grodog yang digerakkan demikian rupa dan penuh semangat memberikan keriangan tersendiri bagi saya”.

Selama belasan hingga puluhan tahun, Sanghyang Grodog sempat hanya menjadi kenangan manis dalam ingatan masyarakat Desa Lembongan. Semenjak dimulainya budidaya rumput laut pada tahun 1984 dan munculnya pariwisata di Desa Lembongan, masyarakat Desa Lembongan mulai sibuk dengan aktivitas rumput laut dan pariwisata, maka Sanghyang Grodogan pun perlahan-lahan mulai dilupakan.

Tidak digelarnya sanghyang pada tiap tahun di sasih karo, tidak lagi dianggap sebagai suatu kealpaan, melainkan sebagai suatu kewajaran yang bisa dimaklumi. “Menyiapkan prosesi sanghyang itu membutuhkan waktu dan perhatian khusus serta dengan kesungguhan hati. Kesulitan mencari bahan untuk prosesi sanghyang terutama dalam membuat gegulak membuat kami terpaksa menghentikan tradisi ini. Selain itu mayoritas masyarakat Desa Lembongan yang menjadi petani rumput laut disibukkan dengan aktivitas budidaya rumput laut yang cukup menyita waktu dan perhatian.” Demikian penuturan seorang mangku lingsir Pura Dalem Lembongan.

Maka untuk pertama kalinya, setelah tertidur selama kurang lebih 29 tahun lamanya, tradisi ini dibangkitkan kembali. “Kami sadar sudah menjadi kewajiban kami untuk menjaga dan melestarikan tradisi leluhur kami, sangat disayangkan apabila tradisi Sanghyang Grodog yang sarat akan makna ini punah. Kami akan merasa sangat bersalah pada anak cucu kami, apabila nantinya mereka benar-benar tidak pernah menyaksikan tradisi leluhur ini. Selain itu kami percaya akan spirit pemurnian yang akan muncul dengan diselenggarakannya Sanghyang Grodog”.

Kesadaran inilah yang kemudian memotivasi kelompok pemangku desa yang tergabung dalam Saba Pinandita Desa Lembongan untuk membangkitkan kembali Sanghyang Grodog. Proses ini diawali dengan penggalian gending Sanghyang dan melakukan upacara Guru Piduka, kemudian dimulailah proses persiapan hingga pelaksanaan Sanghyang Grodog.

Sanghyang Grodog dilaksanakan selama 11 hari mulai dari tanggal 25 Juli hingga 4 Agustus 2012. Pada malam pertama diawali dengan sesolahan Sanghyang Sampat yang menyimbolkan pembersihan dan kesiapan untuk melaksanakan rentetan sanghyang hingga berakhir di malam kesebelas. Pemilihan waktu pelaksanaan sanghyang yang dilakukan pada Sasih Karo, diyakini pula dipilih dengan perhitungan yang cermat. Purnama Karo dianggap sebagai purnama yang paling terang dibandingkan dengan purnama-purnama pada sasih lainnya.

Selain itu, pada malam hari di Sasih Karo juga jarang turun hujan sehingga tidak menganggu pelaksanaan Sanghyang Grodog. Selama sebelas malam berturut-turut digelar rangkaian Sanghyang Grodog yang dianggap mewakili kesemestaan Desa Lembongan, diantaranya Sanghyang Bumbung, Penyalin, Sanghyang Lingga, Sanghyang Joged, Sanghyang Jaran, Sanghyang Dukuh Ngaba Cicing, Sanghyang Sampi, Sanghyang Dukuh Ngaba Bubu, Sanghyang Kebo, Sanghyang Bangu-Bangu, Sanghyang Menjangan, Sanghyang Enjo-Enjo, Sanghyang Tutut, Sanghyang Barong, Sanghyang Jangolan, Sanghyang Perahu, Sanghyang Kelor, Sanghyang Capah, Sanghyang Payung dan Sanghyang Bunga.

Rentetan Sanghyang Grodog diakhiri dengan Sanghyang Bunga, yang apabila dicermati bait gegendingannya seyogyanya merupakan ucapan kegembiraan atas turunnya berkah para dewa melalui simbol bidadara dan bidadari yang menebarkan keharuman di jagat Lembongan. Kegembiraan ini diekspresikan dengan prosesi sanghyang di malam terakhir yang sedianya akan dilaksanakan dari tengah malam menjelang pagi hari.

Grodog2

Gegulakan yang tinggi menjulang dan dipenuhi dengan hiasan janur dan bunga akan menjadi penutup prosesi Sanghyang Grodog. Sepanjang malam hingga pagi, alunan gending Sanghyang Bunga akan dikidungkan hingga hari berganti pagi, pertanda kebahagiaan menyambut hari baru dengan spirit Sanghyang Grodog yang telah dibangunkan dari tidur panjangnya selama dua puluh sembilan tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s