Sikap Hidup Orang Bali (2)

Sikap Hidup Masyarakat Bali

Sikap yang dimaksud adalah sikap mental. Suatu sikap pada hakekatnya adalah potensi pendorong yang ada dalam jiwa individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya, beserta segala hal yang ada dalam lingkungan itu. Suatu sikap biasanya ditentukan oleh unsur-unsur, seperti :  keadaan fisik individu, keadaan jiwa dan norma-norma yang dianutnya.

122814_0151_RenunganAkh9.jpg

Ajaran agama Hindu membentuk tatanan sikap dan tingkah laku masyarakat Bali, tercermin dalam pikiran, perkataan dan perbuatan serta didasari atas keikhlasan.  Sikap ini melandasi seluruh gerak dan perbuatan, mulai dari kegiatan kehidupan yang bernilai ritual, sampai kepada yang bernilai materi dan jasmani serta sikap meletakkan diri selaku alam mikro di dalam alam makro. Karena itulah semua proses dan produk budaya merupakan cerminan sikap hidup masyarakat Bali.

Dibawah ini akan dicoba mengungkapkan beberapa sikap hidup masyarakat Bali dalam mencapai tujuan hidup jasmani dan rokhani.

Sikap hidup yang selaras dan seimbang

Budaya Bali terbentuk dari sikap religius masyarakatnya yang dimanifestasikan didalam setiap tingkah laku dan perbuatannya yang bersifat niskala maupun sakala. Produk-produk budaya antara lain : seni tari dan tabuh, alat-alat pertanian, bahasa, seni rupa, kidung, termasuk karya arsitektur dan sebagainya. Ssungguhnya cerminan budaya Bali, terlihat dan dapat dirasakan dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam menghubungkan dirinya dengan sang Pencipta (Tuhan), dengan alam semesta maupun antara sesamanya.

Dengan penyelasan dengan sang Pencipta, beserta seluruh manifestasi Nya, melahirkan sikap bakti kepada Tuhan, dimana dalam suatu kesatuan desa adat di Bali dinyatakan dengan pemujaan Kahyangan Tiga, yaitu : Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem.  Pura Desa adalah tempat pemujaan Dewa Brahma, Pura Puseh, tempat pemujaan Dewa Wisnu dan Pura Dalem tempat pemujaan Dewa Siwa. Ketiga Dewa itu disebut dengan Tri Murti.

Rasa bakti kepada Tuhan ditunjukkan juga dengan Yajna. Tuhan menciptakan alam beserta isinya adalah dengan Yajna, manusia berkembang dalam kehidupannya juga dengan yajna, dengan yajna pula manusia kembali bersatu dengan asalnya. Inilah siklus Tri Kona, dari yajna yang berintikan kepada karma dan dari karma menimbulkan pahala.Tiada karma tanpa yajna dan tiada yajna tanpa pahala dan tiada pahala tanpa karma.

Hubungan manusia dengan alam semesta dilandasi dengan falsafah Makrokosmos dan Mikrokosmos. Manusia disebut dengan  mikrokosmos dan jagat raya disebut dengan makrokosmos. Karena hal ini berdasarkan tattwa agama Hindu  unsur mikrokosmos (bhuwana alit) adalah sama dengan unsur makrokosmos (bhuwana agung).

Konsepsi keserasian dan keselarasan antara bhuwana agung dengan bhuwana alit, dalam hal unsur, hakekat dan tingkat, maka dalam penataan desa dan pola menetap masyarakat Bali, akan tercermin dengan adanya tiga keselarasan, yaitu : keselarasan manusia dengan Tuhan, keselarasan manusia dengan alam dan keselarasan manusia dengan manusia itu sendiri. Ketiga hal itu bersumber pada konsepsi Tri Hita Karana, yang berarti tiga sebab yang membawa kebahagiaan, yakni : Parhyangan, Pawongan dan Palemahan.

Untuk menjaga keharmonisan bhuwana agung dan bhuwana alit dalam konsepsi Hindu tercermin dalam Bhuta Yajna, yakni Caru. Kata caru artinya manis, enak atau menarik. Dalam istilah manis enak tercantum pengertian harmonis, dalam artian  terjadinya perpaduan unsur-unsur yang sesuai. Demikian pula tercermin dalam upacara Mapekelem.

Untuk melestarikan lingkungan, masyarakat Bali mempergunakan bentuk upacara, seperti : upacara Tumpek Uduh/Pengarah/Pengatag. Pada hari ini pujawali untuk Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Dewa Sangkara. Upacara lain yang juga mengandung makna pelestarian lingkungan, yaitu Upacara Tumpek Kandang.

Sikap hidup yang berorientasi pada klassifikasi dualistik

Yang dimaksud dengan klassifikasi dualistik, yakni adanya katagori yang berlawanan, yakni : adanya dunia atas berlawanan dengan dunia bawah; sakral berlawanan dengan profan, luanan (hulu) berlawanan dengan teben (hilir), gunung berlawanan dengan laut dan seterusnya.

Setelah masuknya agama Hindu konsep ini dikenal dengan konsepsi Rwa Bhineda, yakni adanya dua unsur yang berbeda, seperti : Baik dengan buruk, laki dengan perempuan dan sebagainya.

Dalam penerapan konsep tersebut, seperti luan-teben, adalah dalam mengatur tata denah Pura, rumah, desa, dimana ketentuan hulu-teben itu dipedomani dengan sebaik-baiknya. Di arah hulu akan diletakkan yang dipandang utama dan di teben akan diletakkan yang dirasakan bernilai nista. Termasuk pula posisi tidur, yakni kepala mengarah timur ataupun utara, karena arah utara dan timur dipandang sebagai luanan atau utama.

Sikap hidup yang berorientasi kepada kebenaran

Dalam lubuk hati umat Hindu (Bali)  telah tertanam, suatu keyakinan yang tinggi, yakni : “satyam ewa jayate”artinya hanya kebenaran yang pada akhirnya akan unggul. Kebenaran yang diyakini selalu dipertahankan dari segala rintangan dan tantangan dari siapun datangnya dan dalam bentuk serta dalam manifestasi apapun juga tampaknya. Hal ini dipertegas lagi dengan slogan “dharma raksatah raksitah” artinya siapun yang membela dan melindungi dharma ia akan dibela dan dilindungi oleh dharma itu sendiri.

Didalam menegakkan dharma (kebenaran) itu  walaupun apa yang terjadi mesti kita hadapi dengan ketabahan dan kesucian hati, sebab pada hakekatnya tidak ada perjuangan tanpa godaan. Makin besar dan hebat perjuangan maka makin kuat dan hebat pula godaan yang menantangnya. Ingatlah Panca Pandhawa yang menuntut tegaknya dharma dan keadilan kendatipun harus mengalami penderitaan yang belasan tahun, yang akhirnya diselesaikan dengan perang Bharata Yuddha, yang menelan ribuan jiwa dan harta benda, dimana akhirnya kemenangan ada dipihak Pandhawa.

Sikap tenggang rasa, tolong-menolong

Masyarakat Hindu (Bali) secara umum dikenal sebagai masyarakat yang ramah, suka menolong antara sesamanya, sehingga kehidupannya diwarnai dengan sifat salih asih (cinta), saling asah (bantu) dan saling asuh (saling bantu). Bali terkenal di seluruh dunia karena kebudayaannya yang unik, pemandangan alam yang indah dan keramahan penduduknya.

Dalam konsep Hindu dikenal dengan adanya ajaran Tat Twam Asi, artinya  itu adalah kamu, saya adalah kamu atau saya adalah dia. Ajaran ini mengandung makna yang luhur, seperti menolong orang lain berarti juga menolong diri sendiri. Tat Twam Asi, merupakan falsafah kesusilaan Hindu, yang mengajarkan adanya tenggang rasa, tolong-menolong dan dalam praktik kehidupan akan lebih berpedoman pada Tri Kaya Parisuddha, yakni : berpikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik.

Tat Twam Asi mengajarkan orang untuk saling mengasihi satu dengan yang lainnya, karena hakekatnya atma ini berasal dari Paramatma. Konsepsi ini tercermin dalam sifat yang polos, ramah tamah, rendah hati dan tolong menolong satu dengan yang lainnya.

Dalam konsep ajaran Buddha ada disebut dengan Catur Paramita, yakni empat sifat manusia yang timbul karena sifat cinta kasih. Adapun pembagiannya, yaitu :

Maitri, yaitu kasih sayang terhadap sesama makhluk, lebih-lebih terhadap manusia.

Karuna, yaitu rasa saling tolong menolong antara sesama, sehingga mengakibatkan adanya ketentraman, yang akan menimbulkan masyarakat yang rukun dan damai.

Upeksa, yaitu keinginan untuk mewujudkan keselarasan, walaupun sifat-sifat manusia itu berbeda-beda, namun dipandang sebagai suatu kodrat untuk mencapai tujuan hidup.

Mudhita, yaitu rasa saling simpati antara sesama, yang timbul dari rasa saling cinta mencintai, tolong menolong, keselarasan hidup, maka akan timbul usaha untuk membuat kesenangan orang lain

Demikianlah dapat kami sampaikan tentang sikap manusia dalam mencapai tujuan hidup, yakni kertha sakala dan kertha niskala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s