Sikap Hidup Orang Bali (1)

Pendahuluan

Kebudayaan Bali dikenal dunia luar karena keunikannya. Unik bukan berarti lebih dari yang lain. Dalam pengertian unik terkandung maksud bahwa Bali lain dari pada yang lain. Bali mempunyai suatu nilai yang khusus, di mana di daerah lain tidak dijumpai lagi, di mana agama, kebudayaan dan kehidupan sehari-hari terpadu menjadi satu. Sedangkan di daerah lain antara agama dan kebudayaan terpisah satu dengan yang lainnya. Keunikan inilah merupakan daya tarik tersendiri bagi orang luar untuk berkunjung ke Bali, baik itu para wisatawan dan para peneliti tentang budaya Bali.

083014_1518_NgabenTikus1.jpg

Kekaguman orang luar tentang keunikan kebudayaan Bali, dicerminkan oleh pendapat seorang sejarawan Fritz A Wagner : on Bali aculture developed of a unique character, Hindu, Buddhist, Hindu Javanese and ancient Balinese elements to from a unity and diversity. Maksudnya : Kebudayaan Bali berkembang dari karakter unik yaitu perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan Hindu, Buddha, Hindu Jawa, dan Bali kuno yang berbentuk Bhinneka Tunggal Ika.

Secara historis proses sinkretisme antar agama sebenarnya sudah lama sekali berjalan, sudah belasan abad yang lalu. Dimulai dari adanya sinkretisme antara agama Hindu dan Buddha, yang terwujud dalam candi-candi Siwa Buddha, seperti Candi Jawi di Tretes. Sinkretisme dapat juga kita lihat dalam Kekawin Sutasoma, buah karya Mpu Tantular, dengan konsepsi Bhinneka Tunggal Ika. Sinkretisme Hindu dan Islam, nampak pada bangunan mesjid Demak di Kudus.

Masyarakat Bali dengan ciri khas Desa Adat, mencerminkan suatu kesatuan yang utuh antara  keyakinan terhadap Tuhan, hubungan antar manusia dan tempat tinggalnya, konsep ini lebih dikenal dengan Konsepsi Tri Hita Karana.

Demikian juga tentang arsitektur tradisional, salah satu hasil budi daya masyarakat Bali, di dalam perwujudannya seperti : tata ruang, tata letak, struktur tidak dapat dipisahkan dengan konsep ajaran agama Hindu yang mereka anut.

Masyarakat Bali memandang bahwa  Desa Adat dan Bangunan Rumah yang mereka buat adalah merupakan  wadah tiruan dari dari Bhuwana Agung atau Bhuwana Alit atau manusia itu sendiri, sehingga diharapkan terjadi keselarasan antara wadah dan penghuninya, sehingga terciptalah suasana tentram dan damai bagi penghuninya.

Merupakan suatu kenyataan bahwa hampir seluruh aspek kebudayaan Bali itu adalah merupakan suatu pancaran dari keyakinan agamanya, karena itulah kelihatan hubungan yang erat  antara kebudayaan dan agama, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain Desa Adat pada hakekatnya mencari dasarnya pada agama Hindu, sehingga dapat berkembang dan ajeg, karena tujuannya untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian.

Tujuan hidup

Manusia sebagai mahluk individu dan sebagai mahluk sosial, dalam hidupnya mempunyai tujuan. Didalam mencapai tujuan hidup itu mereka dipengaruhi oleh lingkungan alam, latar belakang kebudayaan dan kepercayaan. Dari dunia pengetahuan dikenal adanya dunia timur dan dunia barat. Dalam mencapai tujuan hidup ada suatu perbedaan, di mana di dunia timur lebih ditekankan pada pada spiritual dan di dunia barat lebih ditekankan pada material. Tekanan pada nilai-nilai hidup ini membawa perbedaan pula dalam pandangan hidup sehari-hari. Perkembangan di barat lebih mengarah pada hidup individualistis, sedangkan di timur atau Indonesia perkembangan dasarnya mengarah pada kekeluargaan atau gotong royong.

Cara hidup rukun kekeluargaan, gotong royong menimbulkan sifat-sifat dimana kepentingan masyarakat adalah diatas kepentingan individu dan sebaliknya masyarakat melindungi individu. Pimpinan dalam masyarakat dipilih yang tua dan pimpinan lalu dianggap sebagai sesepuh. Kewibawaannya bukan saja ditentukan oleh pengetahuannya tetapi juga menunggal dalam lapangan spiritual dan disinilah letak kewibawaannya yang besar sekali.

Masyarakat Bali tergolong masyarakat yang kuat rasa keagamaannya. Agama Hindu memberi tuntunan dalam menempuh kehidupan dan mendidik masyarakat bagaimana hendaknya berpendirian, berkarya, bersikap, berbuat dan bertingkah laku, supaya tidak bertentangan dengan dharma, ethika dan moral. Demikian juga dalam mencapai tujuan hidup di dunia selalu dipedomani oleh ajaran-ajaran agama Hindu

Dalam pustaka suci Hindu, disebutkan dengan jelas, bahwa tujuan hidup yang ingin dicapai adalah :

Moksartham jagathitaya ca iti dharmah.

Artinya :

Tujuan agama (dharma) adalah untuk mencapai kesejahtraan jasmani dan kebahagiaan hidup rokhani.

Terbebasnya jiwa dari ikatan karma serta kelahiran kembali pada akhirnya bersatu dengan pencipta Nya. Karena itu agama Hindu mempunyai tujuan yang kongkrit dalam arti tidak mengajarkan hal-hal spiritual saja, tetapi juga menuntun umat untuk mendapatkan kesejahtraan hidup di dunia ini. Hal ini jelas disebutkan dalam konsep ajaran Catur Purusa Artha. Catur Purusa Artha artinya empat tujuan hidup manusia, yaitu : Dharma , Artha, Kama dan Moksa.

Di dalam manusia mencari artha dan kama, hendaknya selalu berpedoman kepada dharma demikian juga dalam mencapai moksa. Tanpa dilandasi dengan dharma, maka semua usaha itu akan sia-sia, yang akan menimbulkan kesengsaraan belaka. Dalam Sarasamuscaya disebutkan :

“Yan paramarthanya, yan artha kama sadhyan, dharma juga lekasakena rumuhun, niyata katemwaning artha kama mene tan paramartha wi katemwaning artha kama dening anasar sakeng dharma”.

 Artinya :

Pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan terlebih dahulu, tak tersangsikan lagi akan diperoleh artha dan kama itu nanti, tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.

Manusia hendaknya mencari keseimbangan antara  kebahagiaan materi dan rohani, antara kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat dengan berpegang teguh pada ajaran agama Hindu. Demikian juga agama Hindu menegaskan dalam ajarannya, dalam melaksanakan dharma, mempergunakan kesempatan hidup ini dengan sebaik-baiknya, sebab diantara mahluk hidup ini hanya manusialah yang dapat menolong dirinya dengan jalan bekerja dan berbuat baik. Disini pula ditekankan selagi badan masih muda dan kuat, hendaknya dimanfaatkan untuk belajar dan berbuat untuk mencapai tujuan hidup ini.

Sudah tentu untuk dapat tercapainya kedua tingkatan tujuan hidup itu manusia tidak dapat dengan hanya berpangku tangan saja, tetapi manusia harus mengabdikan dirinya dalam bidang tertentu menurut kemampuannya secara tulus ikhlas, untuk melenyapkan kesengsaraan dan penderitaan masyarakat dalam segala bentuknya baik lahir maupun bathin.

Dalam Kekawin Ramayana, disebutkan : “ksaya nikang papa nahan prayojana”, artinya lenyapnya kesengsaraan atau penderitaan, itulah tekad dan cita-cita seorang pemimpin. Dalam Kekawin Arjuna Wiwaha, disebutkan : “siddhaning yasa wirya donira sukhaning rat kininkinira”. Artinya :  cita-cita mulia untuk kesejahtraan masyarakat itulah hendaknya diusahakan beliau. Dalam Wrehaspati Tattwa, disebutkan : “anresamsya mukhyaning dharma”. Artinya : tiada mementingkan diri sendiri dasar dari dharma.

Selain  itu untuk mewujudkan tujuan agama, yaitu jagathita dan moksa, maka perlu diadakan pembinaan dan pembangunan yang mengarah kepada tujuan agama itu sendiri. Untuk mencapai kesejahtraan atau kesentausaan masyarakat, haruslah dilakukan pembinaan dan pembangunan terhadap tata hidup kemasyarakatan itu sendiri, baik yang menyangkut sosial ekonomi maupun tata keagamaan.

Sebagai landasan pembinaan dan pembangunan didapatkan dalam ajaran Yajna. Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya, demikian juga ketika memelihara dan memralina ciptaan itu melalui yajna (pengorbanan). Jadi ketiga karya agung itu Utpeti, Sthiti dan Pralina disebut Tri Kona. Tuhan dalam fungsinya sebagai Utpeti disebut Brahma, dalam fungsinya sebagai Sthiti disebut Wisnu dan dalam fungsinya sebagai Pamralina disebut dengan Siwa (Iswara). Tiga karya agung inilah yang kita pakai landasan dalam pembinaan dan pembangunan untuk mewujudkan masyarakat aman dan sentausa.

Demikian hakekat Tri Kona (segi tiga) dalam usaha dan perjuangan hidup ini merupakan siklus (lingkaran) Utpeti, Sthiti dan Pralina yang tiada putus-putusnya sepanjang jaman, karena itu merupakan kodrat alam dan hukum Tuhan. Seluruh alam semesta beserta isinya mesti tunduk pada Tri Kona.

bersambung….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s