Tata Susila

Agama Hindu dapat dipelajari di dalam tiga bagian, yaitu bagian Tattwa, Tata Susila dan Upakara. Ketiga bagian ini tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lainnya. Ketiga ini saling mengisi kesempurnaan pelaksanaan hidup sehari-hari.

012914_0301_IDurma1.jpg

Dalam kesempatan ini akan bicarakan tentang Tata Susila yang berdasarkan ajaran agama Hindu. Tata Susila yang berdasarkan dharma/agama mempunyai dasar yang kuat, laksana rumah dengan dasar beton, tidak mudah dapat ditumbangkan, meskipun dengan tiupan angin yang keras.

Tata Susila berarti peraturan tingkah laku yang baik dan mulia, yang harus menjadi pedoman hidup manusia. Tujuan Tata Susila yaitu untuk membina hubungan yang selaras atau hubungan yang rukun antara seseorang dengan mahluk yang hidup di sekitarnya, hubungan yang selaras antara keluarga yang membentuk masyarakat dengan masyarakat itu sendiri, antara satu bangsa dengan bangsa yang lainnya dan antara manusia dengan alam sekitarnya.

Sudah merupakan suatu kenyataan bahwa hubungan yang selaras atau rukun antara seseorang dengan makhluk sesamanya, antara anggota-anggota suatu masyarakat dan selanjutnya, yang menyebabkan hidup yang aman dan damai. Suatu keluarga atau masyarakat yang anggota-anggotanya hidup tidak rukun atau tidak selaras pasti akan runtuh dan hancur. Jadi hubungan yang selaras atau rukun mengantarkan kepada kebahagiaan dan hubungan yang tidak selaras atau rukun, akan membawa mala petaka.

Apa saja yang dilakukan oleh umat Hindu, tidak dapat terlepas dari tujuan agama Hindu itu sendiri, yakni : Jagadhita dan Moksa. Jagadhita adalah kesejahtraan atau kebahagiaan hidup di dunia ini, dengan cara mengadakan hubungan yang harmonis dengan sesama hidup. Sedangkan Moksa adalah kebahagiaan yang mutlak dan abadi, hanya dapat dinikmati bilamana roh (jiwa) seseorang dapat mencapai kesatuan dengan Hyang Widhi itu saja yang dapat memberikan kebahagiaan yang diliputi oleh perasaan tenang dan tentram karena sucinya roh (jiwa) yang disebut dengan Anandam.

Demikian juga Tata Susila itu bertujuan untuk membina hubungan yang selaras, harmonis dengan sesama atau setara, hubungan yang harmonis dengan yang lebih rendah dan hubungan yang harmonis dengan yang lebih tinggi.


Dalam hubungan yang harmonis dengan yang lebih rendah

Maksudnya adalah hubungan dengan orang-orang yang lebih rendah kedudukannya atau derajatnya, yang ditentukan oleh perasaan yang kasih sayang. Kebajikan yang merupakan kasih sayang dan murah hati hendaknya dilakukan kepada orang yang lebih rendah kedudukannya dan derajatnya. Bagaikan orang tua harus menuntun putra-putrinya dengan rasa kasih sayang. Tuntunan itu hendaknya dilakukan dari semenjak anak itu masih kecil, dengan contoh-contoh atau tauladan perbuatan yang baik. Sebab anak kecil akan mudah meniru perbuatan-perbuatan yang dicontohkan oleh orang tua atau yang lebih tua. Jika dimulai ketika anak itu lebih besar atau dewasa akan lebih menyulitkan, karena telah mempunyai dasar-dasar atau pengaruh-pengaruh lingkungan yang lain. Maka orang tua berkewajiban sebagai “swadharma kaliliran” mendidik putra-putrinya.

Demikian pula bagi orang yang kuat harus bersedia memberi perlindungan kepada yang lemah atau menderita. Kemurahan hati dan rasa kasih sayang yang mendalam, adalah kebajikan yang utama.


Hubungan yang harmonis dengan yang sederajat

Yang dimaksud hubungan dengan yang sederajat, adalah hubungan antara anggota keluarga dan antara anggota masyarakat. Misalnya hubungan suami istri, saudara-saudara, dengan keluarga yang sebaya, dengan kawan-kawan yang sebaya. Kebajikan yang dimiliki oleh suatu keluarga, yang anggota-anggotanya sebaya, akan menuntun mereka untuk insyaf akan diri dan akhirnya mereka akan merasa bahwa dirinya adalah sama atau bersaudara (ingat saudara, berarti satu perut).

Untuk hal ini dapat kita mencari contoh atau tauladan dalam Itihasa Ramayana. Bagaimana harmonisnya Rama dengan Dewi Sita, harmonisnya Rama, Laksmana, Bhrata dan Satrughena dan Sang Dasaratha dengan putra-putranya.


Hubungan yang haronis dengan yang lebih tinggi

Maksudnya adalah hubungan manusia dengan sang Catur Guru, yaitu : hubungan dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Guru Swadhyaya), hubungan dengan pemerintah/negara (Guru Wisesa), hubungan dengan yang mengajar kita (Guru Pangajyan) dan hubungan dengan orang tua yang melahirkan kita (Guru Rupaka).

Untuk melakukan hubungan yang harmonis dengan Guru Swadhyaya, dapat ditempuh dengan jalan : Penyembahan kepada sanghyang Widhi, mempelajari dengan sungguh-sungguh ajaran-ajaran yang mengenai Ketuhanan dan berziarah ke tempat-tempat suci.

Kita menyembah dan berbakti kepada Hyang Widhi disebabkan oleh sifat-sifat mulia yang dimiliki Nya. Rasa bakti dan sujud manusia kehadapan Ida Sanghyang Widhi, karena Sanghyang Widhi Wasa telah melimpahkan rasa kasih sayang dan kebijakan yang tak ternilai terhadap umat Nya. Rasa sujud bakti manusia kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, dapat diwujudkan berupa : sembah, pujiann-pujian, penyerahan diri, rasa rendah hati, rasa berkorban untuk kebajikan.

Sikap umat manusia terhadap Sanghyang Widhi, hendaklah sebagai sifat anak terhadap orang tuanya. Anak harus mencurahkan rasa kasih dan baktinya kepada orang tua. Rasa kasih yang sedemikian rupa itu hendaknya juga dipersembahkan kepada Tuhan.

Kita harus hormat kepada Guru Wisesa, karena pemerintah adalah suatu badan yang memelihara keadilan, melindungi dan mengadakan usaha untuk mencapai kesejahtraan masyarakat dan berusaha menyampingkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan umum. Dengan selalu membiasakan diri mengabdi kepada kepentingan umum, akan mendorong pikiran kita untuk tidak mementingkan diri sendiri dan akan memupuk sifat-sifat yang utama, untuk mengabdi bagi kepentingan masyarakat luas.

Hubungan yang harmonis dengan Guru Pengajyan. Kewajiban suci yang harus kita lakukan terhadap Guru Pengajyan, antara lain : Samatitah, taat dan patuh kepada nasehat-nasehatnya. Aguru Susrusa, hormat bakti kepadanya, dengan jalan mempelajari apa-apa yang telah diajarkan kepada kita.

Demikian pula kewajiban suci yang harus kita lakukan kepada Guru Rupaka, adalah hampir sama dengan apa yang harus kita lakukan kepada Guru Pengajyan. Karena Guru Rupaka, melahirkan badan kita dengan nafsunya dan Guru Pengajyan melahirkan kita melalui kebijakannya.

Demikianlah hakekat tujuan Tata Susila Hindu yang berlandaskan Agama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s