Siwa Upakarana Mpu Sedah di Puri Pinatih

OM Suastiastu

OM Awighnamastu

Rasa bakti dan kepatuhan mendalam pada pitutur leluhur bisa menjadikan tradisi dan warisan leluhur ajeg menembus batas jaman. Di Puri Pinatih, Denpasar, contohnya. Harta warisan berupa Siwa Upakarana (peralatan pemujaan bagi pendeta Hindu berpaham Siwa) dan Pustaka Weda dalam bentuk lontar, tetap tersimpan utuh, hingga awal abad ke-21 sekaligus milenium ketiga ini. Padahal harta warisan itu merupakan harta warisan pendeta linuwih di tanah Jawa, bernama Mpu Sedah, dari abad ke-12. Itu berarti sepanjang 10 abad harta warisan itu diselamatkan, dirawat dan dilestarikan.

rsi agung pinatih

Begitu juga dengan tradisi kependetaan (kawikon) yang diajarkan oleh Mpu Sedah pada abad ke-12, tetap mengalir bening, dijalankan di Puri Agung Pinatih yang terakhir oleh Ida Padanda Rsi Agung Pinatih. Menjadi pendeta sejak usia belia, berumur 34 tahun (tahun 1940). Ida Rsi Agung tetap setia, menjalankan kewajiban sebagai sulinggih, menjaga alir bening tugas kerohanian yang diajarkan Mpu Sedah. Rsi Agung Pinatih mengabdikan diri sebagai sulinggih, menjadi pelayan umat, bahkan jauh sebelum lembaga Parisada sebagai Majelis Umat tertinggi di Indonesia terbentuk, boleh dikatakan sebagai penghidup kembali tradisi kawikon yang diamanatkan Mpu Sedah itu bagi keluarga besar Arya Wang Bang Pinatih. Karena tradisi kawikon itu sempat cukup lama tidak ada yang meneruskan di Bali, sampai akhirnya I Gusti Ngurah Gede pada abad ke-20 itu menyambung kembali aliran tradisi itu, hingga kemudian ber-abhiseka Rsi Agung Pinatih, sesuai dengan bhisama yang diamanatkan Mpu Sedah, kepada warga keturunan Arya Wang Bang Pinatih. Tapi, apa kaitan antara Pinatih dengan Mpu Sedah dan bagaimana kaitan itu terjalin ?

Jejak kisah itu terjalin amat panjang, nun 10 abad lampau, bahkan mungkin saja lebih hingga kini belum ditemukan catatan angka pasti, kapan mulainya. Bermula dari putra sulung Ida Bang Manik Angkeran, bernama Ida Bang Banyak Wide, berniat hendak pergi ke Jawa (Majalangu), menemui sang kakek (kakiang), Ida Danghyang Siddhimantra. Dua saudara lain ibu yang lainnya, masing-masing Ida Bang Tulusdewa dan Ida Bang Kajakawuh (Wayabhya), setelah diajak berembug, tiada ada yang bersedia ikut serta meninggalkan Bali untuk menemui sang kakek di Majalangu. Karena itu jadilah Ida Bang Banyak Wide sendirian pergi meninggalkan Bali.

Setibanya di Jawa Timur, dalam suatu istirahat, Ida Bang Banyak Wide dikisahkan bertemu dengan Mpu Sedah. Di sini Banyak Wide mengisahkan kepada Mpu Sedah, hendak melanjutkan perjalanan menemui Danghyang Siddhimantra di Majalangu. Namun, niat itu diurungkan oleh Mpu Sedah, karena Danghyang Siddhimantra, disebutkan telah lama berpulang ke Sunya Loka, menghadap Sang Maha Kuasa. Karena itu Ida Bang Banyak Wide, diminta agar berkenan tinggal bersama Mpu Sedah, yang terhitung masih satu garis keturunan dengan Danghyang Siddhimantra. Kebetulan pula Mpu Sedah saat itu telah ditinggal wafat oleh putranya yang bernama Ida Bang Guwi, sehingga Ida Bang Banyak Wide “diperas” (diadopsi) dijadikan putra angkat beliau. Ida Bang Banyak Wide tidak menolak. Mpu Sedah menekankan bahwa dirinya adalah mengikuti paham Siwa dan Danghyang Siddhimantra (Ida Bang Banyak Wide), penganut paham Buddha, agar mulai saat itu Ida Bang Banyak Wide perkenan melanjutkan paham ayah angkatnya (paham Siwa).

Selain memperdalam sastra agama, ajaran kerohanian dan kawikon, di Jawa Timur itulah Ida Bang Banyak Wide, kemudian terpincut hatinya dengan Ni Gusti Ayu Pinatih, hingga akhirnya kawin “Nyentana” dengan Ni Gusti Ayu Pinatih ini. Kata pinatih berarti keturunan Patih. Kenyataannya memang Ni Gusti Ayu Pinatih ini merupakan putri tunggal Arya Buleteng (I Gusti Agung Pinatih), yang menjadi mahapatih di Jawa Timur. Dari sinilah kisah keterkaitan antara warga Arya Wang Bang Pinatih dengan Mpu Sedah bermula dan darah keturunan itu terus mengalir hingga kini.

Merujuk pada Pustaka Raja Pinatih yang nantinya digubah dalam bentuk Geguritan, yakni Geguritan Babad Arya Wang Bang Pinatih, digubah oleh Ida Padanda Rsi Agung Pinatih, perkawinan nyentana Ida Bang Banyak Wide dengan Ni Gusti Ayu Pinatih berlangsung, Mpu Sedah yang telah menjadi ayah angkat Ida Bang Banyak Wide, berpesan : agar Banyak Wide tidak melupakan kewajiban kebrahmanaan, terkhusus sebagai penganut ajaran Siwaisme. Ada dua pesan sekaligus anugrah Mpu Sedah. Pertama berupa kawirbhujan atau jagadhitam, dalam arti mencakup keagungan kekuasaan (lahiriah). Ke-dua berupa kawikon atau purohitam, yakni kesucian kerohanian, kewajiban kependetaan (rokhaniah). Pesan atau anugrah itu, dilukiskan dengan 3 bait sloka:

Wredhanam kretanugraham, Jagadhitam purohitam, Wawanam wara widyanam, Brahmanawangsa atitah.

Siwatwam pujatityasam, Tri kayam parisuddhanam, Kayiko waciko suklam, Manaciko suddha purnam.

Puranam tatwam tuhunam, Silakramam wisuddhanam, Siraryam pinatyam maho, Witing kunam wilwatiktam.

Harta warisan dalam bentuk kawikon itu berupa Siwa Upakarana, yakni sarana pemujaan bagi pendeta Siwa, selain itu juga ada berupa Pustaka Weda. Sedangkan harta warisan berupa kawirbhujan yang dianugrahkan Mpu Sedah kepada Ida Bang Banyak Wide, masing-masing berupa sebilah keris Ki Brahmana dan sebatang tombak Ki Barugudug.

Saat itulah Mpu Sedah berpesan agar keturunan Banyak Wide nantinya yang mahir dalam susastra agama, tangguh dalam yoga samadhi, patut “madwijati” atau “madiksa” menjadi sulinggih dengan gelar Rsi. Ditegaskan pula bahwa segenap warga keturunan Arya Wang Bang Pinatih boleh saling masurudayu. Bila nanti sang Rsi dari warga Arya Wang Bang Pinatih ini meninggal, patut diupacarai, di-pelebonkan dengan menggunakan sarana palinggihan Padmasana dan patulangannya patut menggunakan lembu putih (lembu petak), termasuk berwewenang pula menggunakan segala sarana upacara lengkap lainnya, layaknya pendeta pada umumnya. Setelah disucikan maka roh suci sang Rsi ini patut disembah oleh segenap warga keturunan Arya Wang Bang.

Dari catatan Babad itu tampak jelas betapa alir kawikon (kependetaan) dan kawirbhujan (keagungan, kekuasaan) menyatu bening sejak perkawinan Ida Bang Banyak Wide dengan Ni Gusti Ayu Pinatih. Aliran darah kawikon itu mengalir kuat pada diri Ida Sang Bang Banyak Wide dari Danghyang Siddhimantra, lalu Ida Bang Manik Angkeran, hingga akhirnya Mpu Sedah. Sedangkan aliran darah keagungan-kekuasaan mengalir dari Ni Gusti Ayu Pinatih yang merupakan putri tunggal Mahapatih Arya Buleteng alias I Gusti Agung Pinatih. Karena perkawinan itu merupakan perkawinan “nyentana” maka sangat logis bila keturunan dari perkawinan Banyak Wide dengan Ni Gusti Ayu Pinatih ini kemudian menggunakan pula garis nama Pinatih sebagai pertanda keturunan pengagung kerajaan (ksatria), selain itu juga menggunakan identitas Wang Bang sebagai pertanda keturunan rokhaniwan (brahmana).

Begitulah, dari perkawinan Ida Bang Banyak Wide dengan Ni Gusti Ayu Pinatih, kemudian lahir putra laki-laki yang diberi nama Ida Bang Bagus Pinatih, yang lalu berputra Ida Bagus Pinatih dengan abhiseka Arya Bang Pinatih Mantra, yang datang di Bali dan ber-Puri di Kerthalangu. Dari sini turun-temurun menjadi Arya Wang Bang Pinatih, yang menandakan adanya percampuran aliran darah antara keturunan ksatria (Arya) dengan Wang Bang (Brahmana). Kedua hal ini juga, yakni kawikon (purohita) dan kawirbhujan (jagadhitam), menjadi amanat tugas yang seyogyanya diemban sebagai kewajiban oleh para keturunan Arya Wang Bang Pinatih dimanapun berada. Dan, adalah Mpu Sedah-lah yang mempertegas dan memperpadukan kedua tugas kewajiban itu kepada segenap warga keturunan Arya Wang Bang Pinatih. Siapakah Mpu Sedah yang dimaksud ?

Dalam khasanah sastra Jawa Kuna hingga kini hanya dikenal satu nama Mpu Sedah. Mpu Sedah ini dikenal sebagai penggubah bagian pertama (awal) Kekawin Bharatayuddha yang tetap dilestarikan, dinyanyikan, dikupas maknanya dalam berbagai kegiatan “mabebasan” di Bali, hingga kini. Para ahli sastra Jawa Kuna, telah bersepakat menyimpulkan, bahwa Mpu Sedah menggubah karya Kekawin Bharatayuddha tersebut pada jaman raja Jayabhaya. Raja Jayabhaya yang dimaksudkan ini dikalangan sejarawan, arkeolog, maupun ahli sastra Jawa Kuna, disepakati memerintah pada kurun waktu tahun 1135 – 1157 Masehi, atau pada abad ke-12. Kesimpulan ini disepakati oleh ahli sastra Jawa Kuna Prof. Dr. P.J. Zoetmoulder dalam bukunya : Kalangwan; A Survey of Javanese Literature, terbitan KITI.V, Den Haag (1974), yang menjadi rujukan terpenting bagi setiap penelitian sastra Jawa Kuna di seluruh dunia. Kesimpulan itu juga diajukan oleh arkeolog Belanda L.C. Damais dalam tulisannya : Epigraphisce Aantekeningen, yang dipublikasikan dalam TBG 83, halaman 1-26 (1949).

Sejauh ini belum ditemukan alasan pasti kenapa Mpu Sedah digantikan oleh Mpu Panuluh dalam menyelesaikan Kekawin Bharatayuddha, sehingga secara keseluruhan kekawin ini disebutkan sebagai buah cipta berdua, Mpu Sedah bersama Mpu Panuluh. Mpu Sedah menggubah bagian awal sedangkan bagian akhir digubah oleh Mpu Panuluh. Adakah karena Mpu Sedah sakit berat sehingga tidak dapat melanjutkan tugas yang diberikan oleh raja Jayabhaya itu ? Atau malah Mpu Sedah meninggal (atau terbunuh) sebelum kekawin itu tuntas digubah ? Tidak ada jawaban pasti. Sedangkan spekulasi pendapat yang menyebutkan bahwa Mpu Sedah tidak disukai raja Jayabhaya, jelas-jelas ditampik Prof Zoetmoulder, karena ketika melanjutkan penulisan Kekawin Bharatayuddha tersebut Mpu Panuluh justru memuji-muji keunggulan Mpu Sedah. Tentu amat sangat tidak logis Mpu Panuluh berani secara terbuka memuji-muji Mpu Sedah dihadapan raja Jayabhaya bila Mpu Sedah memang tidak disukai sang raja. Sampai di sini teka-teki perihal Mpu Sedah belum terjawab, oleh kalangan ilmuwan, namun buah cipta Mpu Sedah itu tetap saja ajeg dan hidup di Bali sampai awal abad ke-21 sekaligus millenium ketiga ini.


Alir Tradisi Kawikon Dari Abad Ke-12

Merujuk pada hasil penelitian ilmiah para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Mpu Sedah itu hidup pada abad ke-12. Dengan demikian dapat disimpulkan bila Mpu Sedah inilah yang dimaksudkan sebagai ayah angkat Ida Bang Banyak Wide, maka itu berarti, bahwa Siwa Upakarana dan Pustaka Weda yang diwariskan oleh Mpu Sedah, kepada Ida Bang Banyak Wide sebagai cikal bakal kelahiran warga Arya Wang Bang Pinatih itu berasal dari abad ke-12- atau bahkan lebih, bila itu juga merupakan harta warisan yang didapat Mpu Sedah dari leluhurnya terdahulu. Kedua warisan kuna itulah yang hingga kini masih tersimpan, dirawat dan disucikan di Puri Pinatih, Denpasar, hingga kini. Sedangkan dua harta warisan Mpu Sedah lainnya, masing-masing berupa keris Ki Brahmana dan sebatang tombak Ki Barugudug, tersimpan di Puri Sulang, Klungkung.

Dengan demikian Puri Pinatih dan Puri Sulang adalah merupakan dua saudara kandung yang sama-sama mewarisi tugas kewajiban yang di-bhisama-kan oleh Mpu Sedah, sebagaimana dipaparkan terdahulu. Puri Sulang mewarisi tugas dan kewajiban kawirbhujan atau jagadhitam, sedangkan Puri Pinatih mewarisi tugas dan kewajiban kawikon atau purohitam. Keduanya satu warga, satu keturunan, tiada dapat dipisahkan. Di Pinatih nyatanya hingga kini tradisi kawikon itu terus mengalir bening, jernih, dianut dan dijalankan oleh Ida Rsi Agung Pinatih sebagai Panglingsir. Rsi Agung bahkan menjadi satu-satunya keturunan warga Arya Wang Bang Pinatih yang berketetapan hati memilih mengabdikan diri pada jalan kawikon itu dan menjadi “wiku”, seperti di-bhisama-kan Mpu Sedah.

Karena itu tiada berlebihanlah apabila di Pinatih, tepatnya di Pura Ayun dan Pamrajan Agung Puri Pinatih, telah digelar Karya Mamungkah, Tawur Gentuh, Ngenteg Linggih sekaligus Padudusan Agung yang akan berpuncak nanti pada Soma Kliwon wuku Wariga (21 Oktober 2002) adalah upacara Tawur Gentuh dan Mapadanan, serta Buda Pahing Wariga (23 Oktober 2002) Puncak Karya, Mapadudusan Agung dan Mapaselang dan seluruh rangkaian upacara akan berakhir Redite Kliwon Sungsang (10 Nopember 2002) dengan acara Nyegara Gunung ke Pura Goalawah dan Pura Besakih. Paling sedikit ada 15 orang Sulinggih atau pendeta yang memimpin tahapan dan prosesi upacara yang panjang ini.

Sepanjang ingatan Ida Rsi Agung Pinatih, upacara besar semacam ini belum pernah dilakukan dalam kurun 100 tahun atau satu abad lebih. Karena itu Ida Rsi Agung Pinatih yang sekaligus juga menjadi Panyejeg Karya ini bertekad agar karya ini berlangsung sukses, sekaligus mengharap dukungan segenap warga keturunan Arya Wang Bang Pinatih untuk bersatu padu, topang-menopang, mendukung perwujudan kesuksesan Karya ini sebagai wujud bakti kepada Ida Bhatara Leluhur atau Lelangit.

Upacara yang lebih besar, bertingkat Tawur Agung, sebelumnya sudah dilakukan di Pamrajan Puri Sulang, Klungkung, pada tahun 2001. Kini menyusul di Pinatih setingkat lebih kecil, karena secara historis babad-babad maupun pamancangah yang ada menyuratkan bahwa dari dua bersaudara keturunan Arya Wang Bang Pinatih yang datang ke Bali dari Jawa, saudaranya yang sulung menetap di Sulang (Klungkung), sedangkan adiknya menetap di Pinatih (Denpasar). Bagaimana kisahnya sehingga kakak beradik ini bisa saling berpisah ?


Menghindari Kejaran Semut

Dalam suatu kurun di masa lampau (tiada catatan angka tahun yang pasti, entah kapan), Babad Arya Wang Bang Pinatih, sebagaimana juga kemudian digubah kedalam Geguritan, keturunan Ida Bang Banyak Wide hasil perkawinan dengan Ni Gusti Ayu Pinatih di Jawa Timur, yakni Ida Bang Bagus Pinatih, beliaupun berputra yakni Ida Bagus Pinatih dengan abhiseka Arya Bang Pinatih Mantra, yang membangun Puri di Kerthalangu. Arya Bang Pinatih Mantra berputra Arya Bang Pinatih Kejot abhiseka Kyayi Anglurah Agung Pinatih Kertha beliau kawin dengan Ida Ayu Puniawati, putri Ida Bang Penataran atau Ida Bang Tulusdewa (saudara Ida Bang Banyak Wide), sehingga masih terhitung sepupu. Dari perkawinan ini melahirkan Arya Bang Pinatih Rsi. Kemudian menurunkan Kiyayi Anglurah Agung Pinatih Mantra, Kiyayi Ngurah Made Sakti atau I Gusti Ngurah Made Bija dan Ni Gusti Ayu Nilawati.

Kiyayi Anglurah Agung Pinatih Mantra kemudian kawin dengan putri Dukuh Suladri (Dukuh Pahang) yang dikenal berilmu kerohanian tinggi. Pada suatu hari, Dukuh Suladri memberitahu sang menantu akan moksa. Sang menantu tidak percaya, bahkan sesumbar, bila benar sang Dukuh bisa moksa, maka sang menantu akan meninggalkan Badung, hidup mengembara, agar tiada bertempat tinggal tetap (mangda tan jenek alinggih). Sebaliknya bila tiada terbukti, maka sang menantu akan berjanji, menghajar habis sang Dukuh.Tahu ucapan sang menantu amat tidak patut, si Dukuh mencoba menangkal tuah sumpah itu. Sang menantu diberikan cincin penolak tuah sumpah, namun ditolak. Sang Dukuhpun membuktikan dirinya memang bisa moksa dan memastu menantunya agar direbut semut, di manapun tinggal.

Pastu sang Dukuh sangat ampuh, hanya berselang 42 hari (abulan pitung dina) setelah dia moksa, Kiyayi Anglurah Agung Mantra, selalu dikejar oleh gerombolan semut. Rakyat lalu diperintahkan agar membuat bangunan tinggi dengan dikelilingi telaga luas dan dalam agar semut-semut tidak bisa mencarinya. Toh, suratan karma tak dapat terelakkan. Semut tetap saja mengejar, bergulung-gulung jatuh ke kolam sambung-menyambung, sehingga tergapai juga tempat Kiyayi Agung itu. Tiada pilihan lain, Kiyayi Ngurah Agung, beserta segenap sahabat, keluarga dan rakyat pun pergi meninggalkan Puri. Dari sinilah mulai babakan pengembaraan warga Pinatih ini di Bali, gara-gara dikepung semut. Tidak terkecuali ikut pula mengembara sang adik, yaitu Kiyayi Ngurah Made Sakti atau I Gusti Ngurah Made Sakti Bija.

Semula pindah ke desa Paninjoan lalu ke Padanggalak, lanjut ke hutan Mimba (Intaran, Sanur). Rupa-rupanya di Paninjoan, menetap agak lama karena sampai dapat membangun Pura Dalem Paninjoan yang disebut juga Pura Dalem Pinatih. Oleh karena selalu dikejar oleh semut, barulah beliau pindah ke Padanggalak, Pura tersebut pemeliharaannya diserahkan kepada warga Ki Bali Hamed.

Di Padanggalak, beliau mendapat perlindungan dari Ida Padanda Gde Bendesa dan Ida Padanda Wayahan Abian. Atas persetujuan sang pendeta, lalu di Padanggalak mendirikan Pura Dalem Bangun Sakti, serta pemeliharaannya diserahkan kepada 40 orang panjak pepilihan, yakni Ki Bendesa Kayu Putih, Ki Bendesa Kayu Selem dan Ki Macan Gading. Di sinipun gerombolan semut tetap mengepungnya. Dari Sanur menyeberang ke arah timur hingga di Blahbatuh. Toh, semut-semut tidak berhenti mengejarnya. Hingga akhirnya sampai di suatu tempat yang diberi nama Suruk Mangandang. Di sini menjadi tempat yang bagus, aman, bagi para warga dan rakyat (panjak, wadua) pengikut Arya Wang Bang Pinatih. Di tempat ini beliau merasa aman, sehingga menetap cukup lama, sampai dapat membangun Puri dan Parhyangan. Suruk Mangandang inilah kelak dikenal dengan nama Tulikup, kini termasuk Kebupaten Gianyar.

Hingga akhirnya datang utusan yang mengaku sebagai utusan Dalem raja Gelgel, penguasa Bali. Sang utusan mengabarkan agar Gusti Ngurah Agung datang menghadap ke Gelgel, bersama segenap keluarga dan rakyat, serta Puri Tulikup agar dikosongkan, ditinggalkan. Alasannya, raja Gelgel berkenan agar Gusti Ngurah Agung (Pinatih) dekat dengan kerajaan dan hendak dijadikan “tabeng dada” (pelindung utama kerajaan). Setelah melewati suatu pembahasan dengan sang adik, segenap keluarga dan rakyat, perbedaan sikappun melentik antara kakak dan adik.

Sang kakak I Gusti Ngurah Agung Mantra, bersikeras ingin memenuhi permintaan Dalem, sebaliknya sang adik I Gusti Ngurah Made Sakti, yang dikenal gemar mendalami ilmu kawisesan “Aji Kabregolan”, sehingga dikenal sakti, justru bersikukuh tidak mau datang ke Gelgel. Akhirnya, dicapai kata sepakat, masing-masing menempuh pilihan sendiri-sendiri, termasuk pembagian harta warisan anugrah Mpu Sedah, berupa Siwa Upakarana, Pustaka Weda, keris Ki Brahmana dan tombak Ki Barugudug, demikian juga para “pengiring” pun ikut dibagi.

Sang kakak sebagai saudara tua dipersilahkan memilih duluan. Oleh sang kakak dipilihlah keris Ki Brahmana dan tombak Ki Barugudug beserta rakyat sebagian. Sedangkan sang adik menerima Siwa Upakarana dan Pustaka Weda, ditambah rakyat sebagian. Dari pembagian tersebut tampak jelas bahwa sang kakak cendrung memilih menjalankan tugas dan kewajiban ksatria, sedangkan sang adik menerima sisa dari pilihan sang kakak untuk menjalankan tugas dan kewajiban kependetaan.

Dari sana persimpangan jalan antara dua saudara kandung, kakak beradik, itupun tiada terhindarkan. Sang kakak melanjutkan perjalanan menuju ke arah timur, menghadap ke Puri Gelgel, namun kecele. Raja Gelgel, malah tiada pernah mengirim utusan, untuk meminta Gusti Ngurah Agung Mantra untuk menghadap, apalagi dengan mengosongkan Puri Tulikup. Namun, karena Puri Tulikup sudah dikuasai orang lain, maka raja Gelgelpun memberikan tempat tinggal bagi I Gusti Ngurah Agung Mantra, bersama sanak keluarganya dan para pengiring yang dekat dengan Puri Gelgel. Tempat itu namanya bukit Mekar, kini dikenal dengan nama Sulang, di Klungkung. Tempat tinggal leluhur Pinatih di sini disebut dengan Puri Sulang.

Adapun I Gusti Ngurah Made Sakti, meninggalkan Tulikup menuju arah barat, yakni menuju daerah Badung, yakni menuju Janggala Bija. Kata Janggala Bija berarti hutan lebat atau hutan yang tidak pernah dikunjungi orang. Rupa-rupanya tempat ini nantinya dikenal dengan nama Desa Bun. Dari tempat ini setelah mendapat anugrah dari hutan tepatnya dari sinar yang keluar dari “lata mahaghora” (bun besar dan panjang), nantinya beliau lebih dikenal dengan sebutan I Gusti Ngurah Bun. Akhirnya menetap di Puri Pinatih sekarang.

Dengan demikian pusat tempat tinggal warga keturunan Arya Wang Bang Pinatih di Bali, setelah pindah dari Tulikup, ada dua, yakni : di Puri Sulang dengan Mrajan Agung Sulang dan di Puri Pinatih dengan Pura Ayun dan Mrajan Agung Pinatih. Di kedua tempat itulah tersimpan harta pusaka warisan Mpu Sedah, ayah angkat Ida Bang Banyak Wide, pemula warga keturunan Arya Wang Bang Pinatih.

Demikianlah sekilas perjalanan leluhur Sira Arya Wang Bang Pinatih. Maka, sungguh amat mulialah apabila kini segenap warga keturunan Arya Wang Bang Pinatih, di manapun berada, dapat tetap ajeg menunjukkan rasa bakti, lebih-lebih lagi menjalankan amanat leluhur yang telah di-bhisama-kan oleh beliau Ida Bhatara Leluhur. Rasa bakti itu dalam wujud paling sederhana, kiranya dapat pedek tangkil ngayah dan ngaturang bakti, baik di Sulang maupun di Pinatih. Tentu akan bertambah mulia pula bila disertai dengan maturan sakasidan, maturan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan demikian semoga kita bersama senantiasa dituntun ke jalan dharma, serta dengan senantiasa pula dikaruniai kerahajengan

Sebagai akhir dari penulisan ini kami sangat mengharapkan tegur sapa dan saran-saran dari para warga dan pembaca yang budiman, demi lebih sempurnanya dalam penerbitan yang akan datang. Oleh karena itu tiada lupa kami memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam penulisan ini dan disamping itu kami ucapkan terimakasih yang tiada hingganya, kepada semua pihak yang telah rela membantu, sehingga tulisan ini dapat terwujud, meskipun jauh dari pada apa yang diharapkan.

OM Santih Santih Santih OM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s