Pura Taman Sari

Sepintas Pura Taman Sari tampak sama seperti pura-pura lainnya yang banyak ditemukan di Bali. Pohon beringin di halaman depan dengan latar belakang deretan pohon-pohon kelapa dan bukit menghijau merupakan pemandangan yang banyak dijumpai di Bali. Akan tetapi, Pura Taman Sari memiliki nilai-nilai historis di samping mempunyai bentuk yang unik.

Pura Taman Sari terletak di Desa Sangguan, termasuk dalam Kecamatan dan Kabupaten Klungkung (± 38 km sebelah timur Denpasar), tepatnya di sudut timur laut Kota Klungkung. Sebuah kota kecil yang bersuasana tenang.

Memasuki Kota Klungkung akan dapat dijumpai Puri Klungkung, yang merupakan istana raja-raja Klungkung yang pernah jaya di masa lampau. Tidak jauh dari Puri Klungkung dapat pula dijumpai bangunan bersejarah yang diberi nama Kertha Gosa dan Taman Giri. Yang khas dari bangunan ini pada langit-langitnya terdapat wayang tradisional gaya Kamasan yang memuat cerita Dyah Tantri, Bhima Swarga, Adi Parwa, Sutasoma, dan sebagainya.


Bali – Jawa Timur

Menyaksikan Pura Taman Sari akan ditemukan kekunoan-kekunoan yang beraneka ragam. Dalam badan meru (bangunan pemujaan dengan atap bertingkat) tumpang sebelas dihiasi dengan relief wayang maupun binatang. Diperoleh pula petunjuk bahwa meru pernah dihiasi dengan piring-piring porselin.

Seekor naga melilit badan meru dan pada pertemuan kepala dan ekor ditemukan bentuk seekor penyu atau empas. Sebuah kolam yang jernih mengelilingi meru tumpang sebelas ini. Ditemukan juga lima arca penjaga selama penelitian. Dari ciri-ciri yang ditemukan di atas, Pura Taman Sari memperlihatkan adanya hubungan budaya dengan Jawa Timur, terutama dengan Kerajaan Majapahit. Ciri-ciri di atas ditemukan pula pada beberapa candi di Jawa Timur, seperti Candi Jago, Candi Tiga Wangi dan Candi Penataran. Hubungan sejarah Jawa-Bali sudah dimulai sejak abad XI ketika raja Airlangga memerintah di Jawa Timur dan Bali diperintah oleh adiknya sendiri, yaiut Mahendradatta dan Udayana.

Pembangunan Pura Taman Sari diperkirakan berkaitan dengan sejarah Kerajaan Klungkung. Semula berpusat di Gelgel (3 km di sbeelah selatan Klungkung) yang dikenal dengan nama Swecapura atau Lingharsapura, kemudian dipindahkan ke Klungkung dan dikenal dengan nama Smarapura. Diperkirakan Pura Taman Sari dibangun setelah kerajaan pindah dari Gelgel ke Klungkung, kurang lebih pada abad XVI atau awal abad XVII. Kerusakan terbesar diperkirakan terjadi pada tahun 1908 ketika terjadi Puputan Klungkung, yaiut perlawanan habis-habisan ketika menghadapi serbuan Belanda.


Pura Kuno

Kompleks tempat Pura Taman Sari berada, terdiri dari tiga pura; Pura Segening, Pura Taman Sari dan Pura Penataran, berjejer dari utara ke selatan. Dari pola bangunan pura dan data arkeologi yang ditemukan, disimpulkan bahwa Pura Taman Sari merupakan pura yang dapat digolongkan kuno.

Laporan yang pertama mengenai Pura Taman Sari ditulis oleh P.A.J. Mooejen, dalam bukunya Kumst op Bali, Inleidende Studie tot de Bouwkunst, yang diterbitkan pada tahun 1926. Buku ini dilengkapi pula dengan foto-foto, yang dapat membantu dalam pemugaran.

Tahun 1970 Pura Taman Sari ditemukan dalam keadaan rusak berat. Bangunan kuno yang masih dapat dikenal berdasarkan sisa-sisa yang ditemukan adalah meru bertumpung sebelas dan bertumpang Sembilan. Itu pun hanya tinggal sebagian dari badannya saja. Piyasan (bangunan kecil berbentuk rumah) yang terdapat di depan meru yang hanya tampak sebagian kecil dari dasarnya. Demikian juga kolam yang mengelilingi meru tumpang sebelas rusak sama sekali.

Kerusakan tersebut diperkirakan terjadi karena ulah manusia ataupun bencana alam. Seperti diketahui, di Bali pernah tejadi gempa bumi yang amat dahsyat pada tahun 1917. Dari penduduk diperoleh pula keterangan bahwa Belanda telah merusak Pura Taman Sari waktu itu untuk melumpuhkan pertahanan Raja Klungkung. Hal ini mungkin dilakukan Belanda karena mengetahui bahwa Pura Taman Sari merupakan tempat pemasupatian (memberi kekuatan magis atau sakti bagi senjata-senjata kerajaan). Dalam perang puputan yang terjadi tahun 1908 ternyata Belanda dapat mengalahkan Kerajaan Klungkung.


Pelestarian

Pemugaran dilakukan oleh Pemerintah selama lima tahun melalui Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali. Upacara penyucian kembali diselenggarakan pada tanggal 23 Maret 1984. Sejak saat itu Pura Taman Sari dapat dinikmati kembali seperti dulu. Dengan berdirinya kembali Pura Taman Sari secara utuh banyak manfaat yang dapat diperoleh, antara lain dapat dinikmati bukti sejarah yang memberi gambaran tentang kemampuan masyarakat jaman dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s