Tri Kaya Parisudha

Tri Kaya Parisudha, artinya tiga prilaku yang harus disucikan, yang terdiri dari :

  1. Kayika, prilaku yang berhubungan dengan badan atau perbuatan.
  2. Wacika, prilaku yang berhubungan dengan kata-kata.
  3. Manacika, prilaku yang berhubungan dengan pikiran.


Kayika Parisudha

Kayika adalah segala prilaku yang berhubungan dengan badan. Bilamana perbuatan itu perbuatan yang benar dan baik maka disebut orang perbuatan itu Kayika Parisudha.

Telek

Setiap orang, selama hayat dikandung badan, selama itu ia harus berbuat sesuatu. Hidup adalah untuk berbuat. Tanpa berbuat sesuatu hidup di dunia ini akan sia-sia belaka. Dengan berbuat, kita akan membuat suatu karma, yang akan menentukan kehidupan kita pada masa yang akan datang. Karena kita mengharapkan hidup yang lebih baik pada masa-masa yang akan datang, haruslah pada waktu sekarang ini kita berbuat baik dan benar, karena hanya dengan perbuatan yang demikianlah akan mengantar kita kepada keselamatan masa datang.

Banyaklah ada tindakan-tindakan yang berhubungan dengan badan yang patuit kita cegah adanya. Kitab Sarasamuscaya, antara lain menyebutkan hal yang berikut :

Pranatipatam stainyam ca, Paradaranathapi wa, Trini papani kayena, Sarwatah pariwarjawet.

Nihan yan tan ulahakena, syamati-mati, mangahal-ahal, si paradara, nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribhasa, ring apatkala, ring pangipyan tuwi singgahakena juga (Sarasamuscaya : 76)

Terjemahan :

Inilah yang tidak patut dilaksanakan/dilakukan, membunuh, mencuri, berbuat zina, ketiganya itu janganlah hendaknya dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok-olok, dalam keadaan dirundung malang, dalam khayalan sekalipun, hendaklah dihindari semuanya itu.

Tentu saja tidak hanya disebut di atas itu saja, yang harus tidak dikerjakan, tetapi banyak lagi macamnya.


Wacika Parisudha

Wacika adalah segala prilaku yang berhubungan dengan kata-kata. Wacika Parisudha, berarti berkata yang benar dan baik. Perkataan itu merupakan alat yang amat penting bagi kita, guna menyampaikan isi hati kita kepada orang lain. Dari kata-kata itu kita dapat menduga dan mengetahui isi hati seseorang, pun pula dengan kata-kata kita mendapatkan bermacam-macam pengetahuan.

Dengan kata-kata orang memberikan orang lain hiburan, namun karena kata-kata pula orang dapat menyusahkan dirinya sendiri dan orang lain. Kata-kata itu memegang peranan penting dalam menentukan selamat dan celakanya kehidupan orang.

Wasita nimittanta manemu laksmi, Wasita nimittanta manemu duhka, Wasita nimittanta pati kapangguh, Wasita nimittanta manemu mitra (Niti Sastra. V.3)

Terjemahan :

Karena perkataan engkau akan mendapatkan bahagia, Karena perkataan engkau akan menemui kesusahan, Karena perkataan engkau akan menemui ajal, Karena perkataan engkau akan mendapatkan sahabat.

Demikian pentingnya kedudukan perkataan itu dalam kehidupan kita, maka kita harus dapat mengendalikan diri pada waktu berkata-kata agar supaya kata-kata kita itu adalah kata-kata yang benar dan berguna untuk kehidupan kita. Seringkali orang-orang tidak sadar akan dirinya, sehingga terhamburlah dari mulutnya kata-kata yang tidak patut diucapkannya yang membawa kerugian kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Oleh karena itu kesadaran akan diri dan ketenangan hati adalah faktor yang penting benar pada waktu kita berbicara, lebih-lebih pula dalam membicarakan hal-hal yang penting-penting.

Hendaknya orang sadar, bahwa kata-kata itu mempunyai kekuatan yang luar biasa hebatnya yang dapat mempengaruhi, merusak, meresap ke dalam hati sanubari orang. Kata-kata itu dapat merupakan tirtha amertha yang sejuk nyaman, namun ia dapat pula merupakan racun yang menghancurkan, merusak jiwa dan raga manusia.

Waksayaka wadanan nispatanti yairahatah, ocati ratryahani, parasya wa marmasu te patanti tasmad dhiro nawasrjet paresu.

Ikang ujar ahala tan pahi lawan hru, songkabnya sakatempuhan denya juga alara, resep ri hati, tatan keneng pangan turu ring rahina wengi ikang wwang denya, matangnyan tan inujaraken ika de sang dhira purusa, sang ahning maneb manahnira (Sarasamuscaya : 120)

Perkataan yang mengandung maksud jahat tiada beda dengan anak panah, yang dilepaskan, setiap orang ditempuhnya merasa sakit, perkataan itu meresap ke dalam hati, sehingga menyebabkan tidak bisa makan dan tidur pada siang dan malam hari, oleh sebab itu tidak diucapkan perkataan itu oleh orang yang budiman dan wira perkasa, pun oleh orang yang tetap suci hatinya.


Manacika Parisudha

Manacika artinya, segala prilaku yang berhubungan dengan pikiran. Manacika Parisudha, adalah berpikir yang benar dan suci. Diantara Tri Kaya Parisudha itu pikiranlah yang memegang peranan yang terpenting. Apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan orang, semuanya berasal dari pikirannya.

Pikiran menjadi sumber segala apa yang dilakukan orang dan oleh karena itu apabila pikirannya itu baik maka segala perbuatannya akan baik pula. Ajaran agama akan senantiasa memberikan nasehat agar supaya kita dapat mengendalikan pikiran kita. Lebih-lebih ajaran yoga amat mengutamakan pengendalian pikiran itu. Namun mengendalikan pikiran itu tidaklah mudah, sebab ia amat lincah, suka bertamasya ke sana ke mari dan amat cepat pula perginya.

Duragam bahudhagami prarthanasamsayatmakam, manah suniyatam yasya sa sukhi pretya weha ca.

Nihan ta kramanikang manah, bhranta lungha swabhawanya, akweh inangen-angennya, dadi prarthana, dadi sangsaya, pinakawaknya, hana pwa wwang ikang wenang humeret manah, sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh (Sarasamuscaya : 81).

Terjemahan :

Keadaan pikiran itu demikianlah, tidak berketentuan jalannya, banyak yang dicita-citakan, terkadang berkeinginan, terkadang penuh kesangsian, demikianlah kenyataannya, jika ada orang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan, baik sekarang maupun di dunia lain.

Dengan kemauan yang tetap dan usaha yang terus dan teratur, besar kemungkinannya kita akan dapat mengendalikan pikiran kita. Demikian pula pengendalian indria, bersumber pada pengendalian pikiran, karena lam pikiranlah asalnya indria itu.

Mano hi mulam sarwesamindrayanam prawartate, subhasubhaswawastasu karyam tat suwyawasthitam,

Apan ikang manah ngarannya, ya ika witning indriya, maprawretti ta ya ring subhasubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihen kahretannya sakareng (Sarasamuscaya :80)

Terjemahan :

Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya nafsu, ialah yang mengerakkan perbuatan yang baik ataupun yang buruk, oleh karena itu, pikiranlah yang segera patut diusahakan pengendaliannya.

Supaya kita dapat berpikir yang benar dan suci, maka :

  • Jangan iri hati akan milik dan keberuntungan orang lain.
  • Jangan marah atau benci kepada semua mahluk.
  • Tidak mengingkari akan kebenaran hukum karmaphala.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s