Pariwisata Dalam Kehidupan Beragama Hindu di Bali

Hubungan Agama dan Kebudayaan dengan Pariwisata

Merupakan suatu keajaiban, agama Hindu bisa bertahan di Pulau Bali yang kecil ini pada hal hampir di seluruh Indonesia telah menganut agama lain. Keajaiban lagi justru pulau Bali dijadikan pusat Pariwisata Indonesia bagian tengah, yang sering disebut dengan Pariwisata Budaya. Dengan keindahan alamnya, keramahan penduduknya, mengundang datangnya wisatawan dari segala pelosok dunia untuk menikmati keindahan dan keunikannya.

Agama Hindu mempunyai andil yang besar di bidang ini. Seni budaya yang bercorakkan Agama Hindu, keindahan yang dijiwai oleh kebaktian terhadap Ida Sanghyang Widhi Wasa, telah melahirkan seni budaya Kedewaan. Agama memberikan dorongan dan ilham untuk berkembangnya seni dan budaya.


Perpaduan Pura dengan keindahan alam

Alam pulau Bali yang bergunung-gunung di tengah-tengah di mana umat Hindu menengadahkan kepalanya mengagumi kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa dan di sana pula berdiri pura-pura besar baik merupakan Pura Sad Kahyangan maupun Dang Kahyangan dan pura-pura yang lain baik merupakan Kahyangan Jagat, Kahyangan Fungsional dan lain-lainnya.

Perpaduan dengan keindahan alam dengan keagungan pura-pura yang indah dan megah, di sanalah umat Hindu mengatupkan tangannya, menundukkan kepala mengakui kebesaran Ida Sanghyang Widhi. Hati menjadi kecil melihat gunung yang menjulang tinggi dan laut yang membentang luas. Demikian pula pantai-pantai yang dihiasi oleh pura-pura, seperti : Tanah Lot, Uluwatu, Sakenan, Silayukti, Petitenget dan sebagainya. Di tempat-tempat tersebut orang-orang akan merasa kagum karena ketenangan dan keindahan pura-pura besar didirikan.

Bentuk-bentuk dan hiasan pura-pura di Bali yang berbeda sekali dengan bentuk-bentuk rumah dan bentuk-bentuk kantor, karena memakai bahan-bahan dari batu bata, batu padas dan batu-batu alam lainnya, dengan Meru atau Gedong beratapkan ijuk yang menjulang tinggi, berlomba-lomba dengan pohon cemara, memberikan suasana, seakan-akan kita memasuki alam kahyangan.

Belum lagi pada waktu upacara dengan gambelan lelambatan yang bernada agung, serta semar pagulingan melankolik dan bau dupa yang khas yang berbeda dengan bau wanginya para ibu-ibu, serta sajen-sajen, dengan bunganya yang beraneka warna akan membangkitkan suasana keindahan , keagungan dan kesucian.

Semua kesedihan dan kesusahan akan terlupa sejenak. Suasana semacam inilah yang tidak dapat terlihat di luar pulau Bali. Bali yang unik karena mempunyai keindahan yang lain dari pada yang lain.

Perpaduan pura-pura dengan keindahan alamnya, merupakan modal utama yang menyebabkan tertariknya wisatawan datang ke Bali


Perpaduan Agama dengan Desa Adat

Sebagaimana diketahui di pulau Bali ada 2 jenis Desa, yaitu Desa Administratif, sebagai aparat pemerintah dan Desa Adat yang merupakan desa tradional yang mengurus soal-soal adat dan agama.

Adat di pulau Bali adalah merupakan alat pelaksanaan upacara-upacara keagamaan, sebab itulah hubungan antara agama Hindu dengan Desa Adat sangat erat sekali. Desa Adat dengan Kahyangan Tiganya, Desa Adat dengan pasuka-dukaannya yang bercorak agama Hindu, merupakan wadah di mana seni budaya agama dilahirkan dan dibesarkan.

Karena kebutuhan adat dan agama, maka tiap-tiap Desa, bahkan tiap-tiap banjar wajib memiliki gong lengkap dengan penabuh dan penarinya, yang selalu siap sedia “ngaturang ayah“, menabuh, menari pada waktu upacara, sehingga lahirlah tari-tari wali, yang diabdikan untuk agama, dari tari bebali serta balih-balihan untuk masyarakat.

Kalau tidak bukan kepentingan agama, barangkali saja tidak akan setiap desa memiliki gong. Demikian juga kewajiban Desa Adat untuk memelihara Kahyangan-Kahyangan, menyebabkan lahir dan terpeliharanya undagi-undagi bagi prianya dan ahli banten jarit-menjarit, anyam-menganyam janur bagi wanitanya, yang kesemuanya diabdikan untuk adat dan agama

Kini dengan adanya Pariwisata maka para ahli-ahli bangunan dan penabuh-penabuh dapat memafaatkan keahliannya untuk wisatawan.

Dengan menyadari hubungan agama, desa adat, keindahan alam dan Pariwisata marilah kita tidak menjadi penghianat kepada asal dan sumber datangnya kebahagiaan. Kalau Desa Adat diumpamakan sebagai taman, di mana tempat tumbuhnya pepohonan, utamanya pohon bunga yang indah, akar, batang daun, pohon bunga itu yang memberikan makan dan hidupnya agama, di mana daun dan bunganya yang indah seumpama seni dan budaya, sedangkan para guide, travel biro adalah pedagang bunga, serta para wisatawan seumpama pembeli bunga.

Bijaksanalah para guide, travel biro, didalam memetik bunga itu jangan sampai mematahkan ranting-rantingnya dan batangnya, demikian pula tamannya harus dipelihara agar bisa memberikan hasil yang lestari.

Bersyukurlah agama Hindu dan Desa Adat di Bali, kalau mempunyai guide-guide dan travel biro yang mampu mengekang diri dari keserakahan, apalagi kalau bisa merawat Desa Adat dan Agama Hindu, dengan penuh cinta kasih, seperti halnya dengan taman dan batang bunga yang selalu dirabuki dan disiram, akan mempersembahkan bunga yang semakin semerbak.

Akan tetapi agar jangan seperti sesonggan di Bali, Agama Desa Adat dan Pariwisata, bagaikan : “cepaka di teba, bungane suwuna, punyanne kiladina“.

Demikianlah Desa Adat dan agama, akan menjadi rusak karena warga Desa Adat menaruh curiga bahwa tempat ibadahnya diexplotir sehingga ikut-ikutan pula merusaknya atau paling sedikit bersifat apatis, masa bodoh.


Pengaruh Pariwisata terhadap Agama dan Kebudayaan

Pengaruh Positif

Merupakan suatu kenyataan akibat Pariwisata di Bali banyak melahirkan perubahan, baik perubahan yang menuju ke arah kebaikan maupun perubahan yang bersifat merusak.

Hotel-hotel, home stay, bermunculan seperti jamur di musim hujan, memberikan lapangan kerja yang cukup banyak pada pemuda-pemuda Bali, bahkan home stay-home stay di Kuta, bisa menaikkan taraf hidup secara maksimal rakyat Kuta, sehingga rata-rata penghasilan meningkat.

Pengrajin-pengrajin yang semula mereka mengukir dan memahat kalau ada perbaikan Pura, Sanggah Pamrajan, Puri dan Geria yang diperbaharui, kini keahlian mereka bisa dimanfaatkan.

Kayu-kayu, seperti bungkal buaya, bentawas, kwanditan dan sejenisnya, dulu tidak ada orang memperhatikan, namun sekarang sampai akarnyapun dimanfaatkan dan menjadi incaran para pemahat serta menghasilkan uang.

Kayu eben dari Sulawesi, berubah menjadi patung-patung yang mungil; kayu cendana dari Kupang, mendapatkan penghormatan dielus-elus oleh kaum ibu, sebagai kipas penghalau panas.

Ratusan bahkan mungkin ribuan rakyat Bali di desa-desa telah mengecap bagaimana nikmatnya dolar yang mereka tidak perkirakan sebelumnya.

Bar dan restaurant bermunculan dimana-mana. Petani tradisonal berpartisipasi menanam buah-buahan dan sayur-sayuran utntuk mengisi dapur-dapur hotel dan restaurant.

Penganyam-penganyam, seperti di Bona, Goa Gajah dan sekitarnya jumlah secara gratis dan bertambah, sampai anak-anak sekolahpun waktu senggangnya dipergunakan untuk menganyam dan hasilnya lumayan untuk membeli buku dan jajan.

Penenun-penenun kain Bali yang menghiasi Art Shop, seperti berdemontrasi menunjukkan hasil karyanya untuk menarik para wisatawan.

Para seniman-seniman, baik perorangan maupun kelompok, menunjukkan kreatifitasnya untuk membuat pertunjukkan guna menghibur para wisatawan.

Pariwisata telah menyentuh hampir seluruh lapisan penghidupan, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup orang banyak.

Demikian juga pemerintah dapat menarik pajak hotel, restaurant dan sejenisnya, sehingga pendapatan daerah meningkat. Khususnya Kabupaten Badung penghasilan dari pajak hotel restaurant sangat tinggi, yang nantinya dikembalikan pada kesejahtraan masyarakat.

Para guide mulai mau belajar agama Hindu, Sejarah Pura-pura yang dikunjungi wisatawan dan selalu memasang telinga, untuk mengetahui di mana ada Upacara Ngaben, Potong Gigi dan bahkan Sabungan Ayam cukup menarik bagi wisatawan.


Pengaruh Negatif

Terjadinya salah penggunaan dan penempatan dari benda-benda yang suci yang dihormati oleh umat Hindu, sering dijadikan suatu hiasan guna menarik perhatian wisatawan. Seperti : Candi Bentar, Meru, Palinggih Tunggun Karang, Patung-Patung, Arca-Arca, Pratima, seringkali penempatan dan penggunaannya tidak memperhatikan tata cara pemasangannya. Mengerti atau tidak mau mengerti yang penting dapat mendatangkan uang.

Demikian juga peralatan-peralatan atau uparengga yang sering dipergunakan di Pura, dewasa ini telah dipajangkan, seperti : Umbul-Umbul, Penjor, Canangsari, Kawangen dan sejenisnya.

Demikian juga pementasan seni tari, yang sakral, seperti : Baris Gede, Rejang, Tari Telek, dan sejenisnya, sering pula dipentaskan dalam penyambutan tamu kenegaraan, lebih-lebih bagi wisatawan.


Penutup

Dari fakta yang telah diuraikan di depan, maka secara material Pariwisata membawa keuntungan kepada rakyat Bali.

Suatu kenyataan pula, Bali harus maju dan berlomba-lomba dengan daerah lainnya di Indonesia, untuk bisa meningkatkan penghasilan daerah dan penghasilan rakyatnya. Daerah Bali yang sempit ini tidak akan mampu mengembangkan diri dalam arti memperluas daerah pertaniannya lagi, tidak mungkin membangun industri-industri besar, karena bahan bakunya tidak ada.

Untuk bisa maju, kita harus memanfaatkan kelebihan kita dengan prinsip tidak merugi. Pintar-pintarlah mengambil sikap yang tepat dan langkah yang seimbang, antara kepentingan materi dan kepentingan rohani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s