Pura Merajan Selonding

Pura Merajan Selonding tergolong salah satu dari kompleks Pura Besakih yang memiliki kedudukan yang cukup penting. Pura ini terletak di sebelah utara Pura Ulun Kulkul atau masyarakat menyebutnya di sebelah barat Pura Ulun Kulkul. Pura ini tergolong Pura Soring Ambal-ambal. Pura Merajan Selonding adalah bagian dari Merajannya Raja Kesari Warma Dewa.

selonding

Meskipun seorang raja yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas di dalam rumah tempat tinggalnya yang disebut istana atau puri selalu ada juga tempat pemujaan leluhur sang raja sebagai hulu dari pekarangan purinya. Seorang raja sebagai kesatria memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang amat berat.

Dalam Manawa Dharmasastra I.89 dinyatakan kewajiban raja sebagai kesatria adalah mengupayakan rasa aman (Raksanam) dan kesejahteraan (Danam) untuk rakyatnya. Karena itu sebagai kesatria diwajibkan untuk setiap hari mengupayakan melakukan pemujaan kepada leluhur dan kepada Tuhan, mempelajari Weda, melakukan upacara yadnya dan mengusahakan pengekangan hawa nafsu (wisayeswaprasaktatih).

Karena demikian beratnya tugas-tugas seorang raja, Merajan bagi seorang raja tentunya amat dibutuhkan untuk melakukan kotemplasi spiritual untuk menguatkan diri bagi seorang raja. Di areal Pura Merajan Selonding inilah tempat Merajan Raja Kesari Warma Dewa.

Mengapa pura ini disebut Merajan Selonding? Karena di pura ini sebagai tempat menyimpan suatu alat musik tradisional yang disebut Selonding. Selonding ini adalah sejenis gamelan Bali yang digunakan saat ada upacara keagamaan yang penting di pura ini.

Gamelan Slonding ini disimpan di sebuah Pelinggih Gedong Penyimpenan bertiang enam beratap ijuk. Di Gedong inilah disimpan Gamelan Selonding, lontar serta semua pratima dari semua pura yang tergolong Soring Ambal-ambal. Di gedong ini juga disimpan Prasasti Bradah. Sedangkan berbagai busana sakral dengan perlengkapan pura di Soring Ambal-ambal disimpan di Bale Pengangge.

Di samping itu ada juga Pelinggih Gedong Saraswati bertiang empat beratap ijuk. Di Pura Merajan Selonding ini disebutkan sebagai Linggih Ida Ratu Bagus Selonding. Ada juga Balai Piyasan sebagai tempat mengaturkan sesajen kalau ada upacara besar.

Yang cukup menarik perhatian kita adalah mengapa pratima dan berbagai perlengkapan sakral dari Pura Soring Ambal-ambal disimpan di Pura Merajan Selonding. Dari segi praktisnya sepertinya agak janggal. Karena cukup merepotkan. Mengapa tidak cukup disimpan di masing-masing pelinggih dari Pura Soring Ambal-ambal tersebut. Pura Soring Ambal-ambal ini adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan yang memberikan jiwa alam bawah.

Disatukannya pratima dan berbagai sarana sakral tersebut sebagai suatu simbol bahwa di alam bawah tersebut meskipun Tuhan diberikan berbagai sebutan yang berbeda-beda namun sumbernya satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Berstana Ida Batara Ratu Mas Malilit di Pura Manik Mas, Ida Batara Ananta Bhoga di Pura Bangun Sakti, Ida Batara Basukian di Pura Basukian, Ida Batara Naga Raja atau Naga Tiga di Pura Goa Raja dan seterusnya.

Sebutan Tuhan sebagai jiwa alam itu hanya untuk mudah membeda-bedakan fungsi dari sumber alam yang dijiwai oleh Tuhan Yang Maha Esa tersebut. Karena semua sumber alam tersebut tidak mungkin dapat berfungsi sebagaimana mestinya tanpa ada kekuatan Tuhan yang memberikan makna.

Ditempatkannya dalam satu tempat semua pratima dan simbol-simbol sakral tersebut di Pura Merajan Selonding nampaknya bukan semata untuk lebih mudah mengamankannya. Tetapi ada makna lain untuk memberikan motivasi pada sang raja agar dalam membangun kemakmuran rakyatnya dengan memberikan perhatian pada unsur-unsur alam yang disimbolkan oleh semua pura di Soring Ambal-ambal.

Setiap ada upacara di masing-masing Pura Soring Ambal-ambal, pratima dan simbol-simbol sakral itu pasti diambil melalui prosesi ritual tertentu dari Pura Merajan Selonding. Hal ini akan mengingatkan raja dan rakyat apa makna dari masing-masing pemujaan di setiap pura di Soring Ambal-ambal tersebut.

Demikian juga saat mengembalikan tersebut sebagai suatu proses untuk mengingatkan raja dan rakyat secara berulang-ulang apa makna dari pemujaan tersebut. Dengan cara berulang-ulang itu seyogianya pemaknaan pemujaan itu lebih dapat diwujudkan dengan lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh sang raja maupun dari rakyat sendiri.

Demikian juga adanya Gedong Saraswati sebagai suatu sarana untuk mengingatkan raja dan rakyatnya agar dalam mengelola kehidupan bersama dalam wadah negara kerajaan senantiasa menggunakan ilmu pengetahuan suci yang berasal dari ciptaan Tuhan. Weda tersebut juga ibu atau Weda Mata. Karena dari Weda-lah lahirnya dua macam ilmu yaitu Para Widya dan Apara Widya.

Para Widya adalah ilmu pengetahuan rohani dan Apara Widya adalah ilmu pengetahuan duniawi. Dua ilmu atau kalau diterapkan secara seimbang dan terpadu akan dapat membangun kehidupan yang seimbang antara kehidupan rohani dan kehidupan duniawi. Seimbangnya kehidupan rohani dan duniawi itulah yang akan membawa masyarakat bahagia lahir batin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s