Tirthayatra Pinatih

Tersebutlah pada masa kekuasaan Sira Arya Wang Bang Resi, bersama adiknya Sira Arya Wang Bang Bija, berpuri di Kerthalangu Badung. Dari perkawinan Sira Arya Wang Bang Resi dengan Ida Ayu Punyawati (warih Sidemen), menurunkan Kiyai Anglurah Agung Mantra, Kiyai Anglurah Made Sakti dan I Gusti Ayu Nilawati. Pada masa pemerintahan beliau, negeri aman, tenang atas kerjasama yang baik dengan sanak keluarga dan para abdi yang setia.

122913_1214_SlokaRajaPu1.jpg

Kiyai Anglurah Agung Mantra kawin dengan putrid Dukuh Pahang, cucu dari Dukuh Suladri, berputra 3 orang : I Gusti Ngurah Tembahu, I Gusti Ngurah Kapandyan dan I Gusti Ayu Tembahu. Yang beribu dari Arya Patandakan, berputra I Gusti Ngurah Gede, I Gusti Bedulu, I Gusti Ngenjung, I Gusti Batan, I Gusti Abianangka, I Gusti Mranggi, I Gusti Celuk dan I Gusti Arakapi dan banyak lagi putra beliau yang lahir dari istri panawing.

Demikian juga I Gusti Anglurah Madhe Sakti, banyak mempunyai istri, ada dari Arya Kenceng, Arya Patandakan, Ni Brit dan Ni Jro Meliling.

Setelah lama berkuasa di Kerthalangu, lalu ada permasalahan dengan mertuanya Sira Ki Dukuh Pahang. Yang menjadi pokok permasalahan adalah : Dukuh Pahang, menyampaikan bahwa dirinya akan segera pulang ke alam nirbhana moksa. Saat itulah beliau salah paham dan menganggap hal yang tidak mungkin, sehingga terjadi salah ucap/bhisama jika betul demikian kami akan berhenti berkuasa di Badung. Ketika itu pula sang mertua, memberi ingat agar menarik ucapan itu, agar selamat memegang kekuasaan di Badung. Namun sebagai seorang ksatria dan harus satya wacana dan memerintahkan sanak saudara dan baladiwarga untuk menyaksikan prilaku Ki Dukuh.

Ketika Ki Dukuh angranasika, saat itulah Ki Dukuh mengeluarkan sapa : “Jhah Tasmat Kyayi Anglurah Pinatih karusak dening bekis“. Setelah 42 hari moksanya Ki Dukuh Pahang, ada suatu pertanda Puri dan rumah sanak saudara dan warga, didatangi oleh semut yang berkelompok-kelompok. Oleh karena itu beliau pindah dari Kerthalangu, menuju pinggir pantai, membuat pondok-pondok, namun diganggu oleh ikan-ikan aju, yang menggelepar-gelepar memasuki pondok-pondok dan dibarengi oleh semut yang luar biasa banyaknya. Lalu beliau membuat telaga, untuk mengelilingi tempat tinggalnya, semutpun datang dari atas, yang merebut bangkai ikan, sehingga tempat itu nantinya diberi nama Ajumenang.

Dari Ajumenang pindah ke Pura Dalem Pinatih, yang ada di Peninjoan, juga dengan membuat telaga mengelilingi Pura, dan kejadiannyapun hampir sama, yakni didatangi oleh semut yang memenuhi makanannya.

Pindah dari Pura Dalem Pinatih, lalu menuju ke Padanggalak, menuju pangasraman Ida Padanda Gde Bandesa, Ida Padanda Madhe Bandesa dan Padanda Wayahan Abian, serta putra beliau Padanda Madhe Rai (angalih ke Sukawati ring Banjar Bedil), Padanda Anom ke Pagehan (Pagan) ring Gunung Kelandis, Padanda Nyoman Abian, Ida Ktut Ngurah, semuanya berkumpul di Padanggalak.

Pada saat itu Kiyai Anglurah Agung Pinatih, mengumpulkan sanak keluarganya dan baladi warga, guna menentukan tindakan selanjutnya. Kiyai Anglurah Agung Pinatih menyerahkan 40 warga Pinatih, yang telah merupakan orang-orang pilihan, ada yang berasal dari Bendesa Kayuputih, Kayuselem, Macan Gadhing, semuanya itu menetap di Tantu. Beliau Anglurah Pinatih mendirikan Pangastulan di Cocoring Byahung, bernama Pura Dalem Bangun Sakti, yang pangemponnya adalah warga yang tinggal di Byahung. Ida Padanda mendirikan Pangastulan Dalem Kadewatan, Puser Tasik Batur, Kentel Gumi, semuanya berada di wilayah Padanggalak dan sawah Sanur.

Entah berapa lama tinggal di Padanggalak, lalu pindah ke Wana Wimba (Intaran), juga direbut dan dikejar oleh semut, akhirnya terpencar para putra dan warga, ada yang menuju Sawah Paga, putranya ada yang mengungsi ke Kepisah, Pedungan, Panjer, Tegal, Glogor Carik, ke Sawangan, ke Betngandang. Kyai Agung mohon diri kepada Sang Pendeta, untuk melanjutkan perjalanan menuju Blahbatuh. Pada saat itu I Gusti Ngurah Anom tidak ikut dengan sang ayah, lalu tinggal di Sumerta. I Gusti Belangsingha dengan kawula ngungsi pesisir selatan, membawa kaliliran.

Di Blahbatuh I Gusti Ngurah Bang, dijadikan menantu oleh Arya Karangbuncing. Setelah di Blahbatuh, menuju desa Kaphal, karena tempat sempit, putra dan warga banyak, maka diutuslah I Gusti Temuku, I Gusti Pahang, I Gusti Jempahi, untuk mencari tempat yang lebih luas, pergi ke timur di sebelah timur Tukad Melangit, yang bernama hutan Uruk Mangandang. Wilayah hutannya bernama Pucung Bolong, berbataskan dengan Tamanbali, di tempat inilah beliau mendirikan Puri, dikelilingi oleh para putra dan warga yang setia. Puri yang dibangun di sebelah barat Talikup, yang disebut Tamesi. Di sinilah beliau lama tinggal dan membuat Pangastulan.

Tersebutlah I Gusti Ngurah Bang yang ada di Blahbatuh, berputra 3 orang : I Gusti Ngurah Bang pindah ke Batubulan. I Gusti Ngurah Bang berputra 2 orang : I Gusti Putu Bun, tetap tinggal di Batubulan, I Gusti Madhe Bun, pindah ke Lodtunduh. Ayahnya tetap tinggal di Batubulan, bersama putranya : I Gusti Putu Bija Karang, I Gusti Bija Kareng, beliau pindah ke Peliatan Krobokan, 2 orang adiknya tinggal di Dawuh Yeh dan Dangin Yeh. Putranya ada yang kembali ke Kertalangu, yang bernama I Gusti Ketut Bija Natih, menjadi Pamangku di Pura Dalem Kerthalangu. Saudara-saudaranya ada yang pindah ke seberang selatan laut, yakni ada di Bukit Ungasan, Bualu, Jimbaran dan ada juga yang di Umadwi.

Marilah ceritrakan setelah lama tinggal di Talikup, maka ada utusan Dalem, agar pindah dari Talikup, menuju ke timur agar supaya dekat dengan Dalem. Maka beliau kakak beradik rapat, untuk menentukan sikap, dari hasil rapat, maka I Gusti Anglurah Mantra, mengikuti petunjuk Dalem, sedangkan I Gusti Agung Madhe Pinatih tidak mengikuti perjalanan kakaknya. Walaupun demikian ada Smretya : “yan sira yayi tan tumut ring kakanta, kakanta bhipraya parek ring sirang Dalem, yeki hana pakirim kakanta ri kita, yadyastu kita yayi, amwiti kakanta mene, yadyan kita mintar angdoh, nghing yayi haywa lupa asanak wekasan, mangkana pakirimku ri kita yayi“.

Lalu dijawab oleh I Gusti Madhe Pinatih : “Uduh kakangkwa sang apanghulu sira, nuhun kami sapakirim sirang kaka“.

Setelah mengadakan perjanjian, terjadilah pembagian Pusaka warisan ; I Ratu Brahmana, yang berupa keris dan tombak Ki Baru Gudug dibawa oleh I Gusti Agung Anglurah Mantra dan bala sebagian. Sedangkan Siwopakarana, alat-alat pemujaan dan Pustakaraja, serta warga sebagian, dibawa oleh I Gusti Ngurah Madhe Pinatih.

I Gusti Agung Anglurah Mantra, pergi ke timur menuju Dalem, bertempat tinggal di Sulang, sedangkan I Gusti Ngurah Madhe Pinatih, menuju ke arah barat dan tinggal di Janggala Bija.

Demikianlah sekilas perjalanan beliau yang merupakan jungjungan, kurang lebihnya mohon dimaafkan. Jika ada kesempatan dan diberikan umur panjang dapat dilanjutkan lagi, sebagai kesempatan mengingat kembali kenangan masa lampau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s