Pura Ulunswi Seseh

Kata “Ulunswi” berasal dari kata “ulun” dan “swi”. Kata “ulun” berasal dari kata ulu, yang artinya atas, kepala, pusat atau sumber, sedangkan kata “swi” artinya sawah. Lebih jelas disebutkan dalam lontar Kutara Kandha Dewa Purana Bangsul (lp 18a), kata swi diartikan air. Jadi Pura Ulunswi artinya Pura Ulun Sawah atau Ulun Carik, atau Pura sebagai pusat kemakmuran sawah. Dengan demikian Pura Ulunswi berarti Pura pusat kemakmuran sawah.

???????????????????????????????????????????????????????????????????

Mengenai keberadaan Pura Ulunswi di Desa Seseh, Kecamatan Mengwi, jika ditinjau dari Purana, tidak lepas dari peranan penguasa pada waktu itu. Pura ini sudah lama keberadaannya, dari raja I di Mengwi, yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan, dilanjutkan oleh I Gusti Agung Madhe Alangkajeng raja II, yang bergelar Cokorda Banya, dilanjutkan oleh raja III I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, yang bergelar Cokorda Nyoman Munggu, dilanjutkan oleh I Gusti Agung Putu Mbahyun yang merupakan raja IV, sedangkan yang menjadi raja V adalah I Gusti Agung Madhe Munggu.

Tersebutlah beliau Cokorda Nyoman Munggu, tatkala beliau dinobatkan menjadi raja, pusat kerajaan ada dua, yakni di Mengwi dan di Munggu. Pada masa pemerintahan beliau kerajaan Mengwi mencapai jaman keemasannya, dicintai oleh rakyat dan mempunyai kemampuan karena kebijaksanaannya. Pada masa pemerintahan beliau, beliau memperbaiki bangunan-bangunan Pura yang telah dibangun oleh raja-raja sebelumnya.

Demikian juga tatkala pemerintahan raja V (lima) I Gusti Agung Madhe Munggu/Cokorda Madhe Munggu, beliau senang andewasraya dan melakukan yoga samadhi dan memperhatikan, memperbaiki Pura-Pura yang rusak, seperti : Pura Pucak Bon, Pura Bratan, Pura Pucak Mangu, Pura Pucak Pagametan, Pura Pucak Tedung, Pura Payogan Agung, Pura Gagelang, Pura Arantaja, Pura Bukitsari, Pura Giri Kusuma, Pura Sakenan, Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot, Pura Batungaus, dan banyak lagi Pura-Pura yang diperbaiki dalam wilayah kekuasaan beliau. Disamping itu beliau juga memperbaiki Pura Taro, sebagai rasa persahabatan dengan Sri Dalem Sirikan, adik dari Dalem Samperangan yang pindah ke Sukawati.

Dalam masa pemerintahan selanjutnya, Pura Ulunswi Seseh diserahkan kepada “Kramaning Seseh” pakramaning amacul dan para bandega. Pura ini telah mendapatkan perbaikan dan diupacarai pada hari Anggara Kliwon, wuku Medangsya, sasih Kapat, Pancadasi Sulapaksa, rah 1, tenggek 3, warsaning loka Eka Bhuwana Patala Tunggal (1731 Saka)

Sedangkan dalam Pustaka Lontar, ada disebutkan sebagai berikut :

  1. Lontar Kutara Dewa Purana Bangsul (lp.28b), disebutkan : “Ikang haneng nagara krama, ikang Sad Kahyangan pupulnya mulih maring Ulunswi, rumaksa uriping sawah kabeh, ikang pwa dharma Ulunswi, dadi bandanganing wong Bali …..“. (Adapun yang berada di masyarakat , Sad Kahyangan itu kumpulnya kembali di Ulunswi, menjaga jiwanya sawah semua, adapun Pura Ulunswi itu adalah pengikatnya orang Bali ….)”
  2. Lontar Usana Dewa (lp.17a), disebutkan sebagai berikut : “…….Sang Bhakabhumi anyeneng ring Ulunswi ika maka uriping sawah, pakenanya, kebo cemeng pamapage nuju sasih kapat bandangan wong Bali ika …..” (Sang Bhakabhumi berstana di Ulunswi, itu menjadi jiwanya sawah, upakaranya, kerbau hitam, upacaranya ketika sasih kapat, merupakan pengikat orang Bali…….)”.
  3. Lontar Sri Purana/Glagahpuhun (lp.38a), disebutkan sebagai berikut : “Malih ring Bali wenten bhatarane ngamong bhaga sawah, ika Bhatara Urubinggeni parabe, alingga ring Badugul, Gunung Pangelengan, Bratan, Indrabhumi malinggih ring Ulunswi, gunung idane gunung Tulukbiyu ring Trunyan ……” ( ……..Lagi di Bali, ada Bhatara yang menguasai ladang sawah, Ida Bhatara Urubinggeni namanya, berstana di Bedugul, gunung Pangelengan, gunung Bratan, Bhatara Indrabhumi berstana di Ulunswi, gunung beliau gunung Tulukbiyu di Trunyan.
  4. Lontar Glagahpuhun (lp. 1b), disebutkan sebagai berikut : “………sapungkure Sang Bhakabhumi, manyeneng ring Ulunswi, ika mangraksa uriping sarining sawah………..” ( …… kemudian Sang Bhakabhumi, berstana di Ulunswi, menguasai jiwanya sawah….).

Berdasarkan Purana dan lontar-lontar seperti tersebut di atas, bahwa Pura Ulunswi adalah “Bandangan Wong Bali” atau pengikat orang Bali, yang berfungsi khusus di bidang persawahan, perladangan dan termasuk juga para bendega. Pada jaman kebesaran raja di Kerajaan Mengwi, perkembangan jaman dan perubahan-perubahan sistem pemerintahan di Bali, lalu kenyataan sekarang Pura Ulunswi di Seseh, diempon, diemong oleh krama Desa Adat Seseh dan beberapa Pasubakan.

Jadi fungsi Pura Ulunswi adalah untuk pemujaan Bhatara Bhakabhumi, dewa kemakmuran. Penyungsung atau penyiwinya berasal dari beberapa desa atau umat Hindu, yang tidak terikat klen/warga/soroh. Maka Pura Ulunswi adalah Pura Swagina berstatus Umum.

Palinggih-palinggih yang ada di Pura Ulunswi :

  • Padmasana, stana Sanghyang Widhi/Sadasiwa.
  • Meru Tumpang 3, stana Hyang Sri Sadhana.
  • Gedong, stana Ida Bhatara Segara.
  • Peliksari, pasamuhan Ida Bhatara Segara.
  • Gedong, stana Bhatara Tegalwangi.
  • Peliksari, pasamuhan Ida Bhatara Tegalwangi.
  • Peliksari, pasamuhan Ida Bhatara Sri Sadhana.
  • Meru Tumpang 11, stana sanghyang Bhakabhumi, Ida Bhatara Ulunswi.
  • Peliksari, pasamuhan Ida Bhatara Bhakabhumi, Ida Bhatara Ulunswi.
  • Gedong Simpen, stana Ida Bhatara Dalem Panataran.
  • Padma Capah, linggih Bhatara ratu Nyoman.
  • Bale Gong, genah Gong lan Bhusana.
  • Bale Kulkul.
  • Bale Sambiyangan Dalem Panataran
  • Bale Gede, pasambiyangan Ida Bhatara Ulunswi.
  • Sumur, linggih Bhatara Wisnu.
  • Pamedal Agung.
  • Apitsurang.
  • Padma Capah, palinggih Pamekel Sakti.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s