Semarak Galungan

Hari Raya Galungan merupakan hari raya untuk memperingati kemenangan dharma melawan adharma. Hari Raya Galungan diperingati setiap 210 hari sekali, jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan dan akan diperingati pada tanggal 17 Desember 2014. Rangkaian peringatan Hari Raya Galungan telah diperingati mulai sejak Tumpek Wariga sampai dengan Budha Kliwon Pahang.

Salah satu yang menjadi ciri khas dalam perayaan Hari Raya Galungan ini adalah pembuatan Penjor. Penjor melambangkan rasa terimakasih umat kepada Tuhan karena sudah diberkati dan dicukupinya kebutuhan, terutama pangan. Di penjor akan digantungkan hasil pertanian baik itu padi, jagung, ketela, kelapa sebagai wujud terimakasih untuk hasil panen yang baik.

Sejak beberapa tahun belakangan, masyarakat dalam pembuatan penjor sudah semakin praktis, dengan mulai dijualnya pernak-pernik penjor mulai yang standar sampai yang penuh dengan variasi. Tentunya hal tersebut berpengaruh juga terhadap harga masing-masingnya. Bahkan sekarang, sudah mulai banyak dijual penjor yang telah jadi, sehingga masyarakat semakin praktis.

Hal ini bisa dilihat di seputaran Jalan Raya Kapal, yang sebulan sebelum Hari Raya Galungan mulai menjajakan pernak-pernik yang diperlukan dalam pembuatan penjor tersebut. Momen Hari Raya Galungan membawa berkah tersendiri bagi masyarakat Desa Kapal, Mengwi, Badung yang menjual berbagai keperluan upacara khususnya penjor dan hiasannya. Jika pada hari biasa, orderan penjor sedikit, maka jelang Galungan para penjual banjir orderan.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya meningkatkan usaha ekonomi kreatif yang dilakoni masyarakat selain meningkatan perekonomian, juga mampu menjadikan Desa Kapal sebagai sebuah ikon pusat perlengkapan upacara dan penjor.

Tak hanya masyarakat Kapal, momen Galungan selalu membawa berkah bagi para pedagang penjor di kota Tabanan. Seiring bertambahnya warga, permintaan penjor selalu meningkat setiap musim Galungan. Rata-rata warga lebih memilih penjor instan alias langsung jadi. Tingginya permintaan, membuat harga sarana upacara ini meroket.

Meski penjor instan diburu, warga yang masih bertahan dengan penjor buatan sendiri juga masih banyak. Mereka hanya mencari bahan penjor, lalu dirakit sendiri. Sekarang saja bambunya terus diburu. Banyak juga warga yang tetap bertahan dengan penjor rakitan sendiri.

Namun dibalik fenomena yang terjadi sekarang ini, kita berharap dengan semakin instannya proses pembuatan penjor, tidak akan mengurangi makna dan filosofis dari penjor itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s