Sila Sasananing Wiku dan Sisya

Kehidupan masyarakat Hindu di Bali, menghadapi berbagai macam tantangan, karena semakin meningkatnya pengaruh budaya luar dan asing. Dengan adanya pengaruh-pengaruh itu akan memberikan dampak kehidupan yang bersifat materialistis, individualistis, serta tata pergaulan yang mengesampingkan moralitas.

Oleh karena itu dipandang perlu untuk meningkatkan rasa kebersamaan dengan menjunjung dan mengedepankan kehidupan keagamaan dan ethika moral. Sehingga untuk memantapkan hal itu maka amat dipandang perlu menekankan pada Śāsana, khususnya Śāsana Wiku dan Śisya. Karena prilaku Wiku dan Sisya Kerokhanian, dalam kehidupannya sehari-hari, menjadi pola panutan bagi masyarakat Hindu.

Orang suci dalam agama Hindu disebut dengan Wiku atau Sulinggih. Untuk menjadi Wiku, Sadhaka atau Sulinggih adalah melalui upacara Diksa atau Padiksan, yang dilakukan oleh Nabe. Dalam proses upacara Diksa, ada upacara Amati Raga,yakni upacara seperti orang mati. Amari Aran, yakni mengganti nama walaka dengan nama abhiseka. Amari Wesa, yakni mengganti pakaian walaka dengan pakaian Kasulinggihan. Amari Sasana, yakni menanggalkan kebiasaan saat walaka dan mematuhi Sasana Kasulinggihan. Keempat hal itu disebut dengan Catur Bandhana Dharma.

Nabe adalah Guru Kerokhanian, yang secara khusus digunakan untuk guru kependetaan saja. Nabe itu adalah seorang pendeta yang telah tergolong tua, baik tentang usia, tentang pengetahuan agama, terutama kematangan pribadi. Beliaulah yang mendidik, menuntun dan pada saatnya melantik sang calon menjadi pendeta. Maka dengan demikian pendeta yang dilantik, disebut juga dengan istilah Śisya, Pranakan atau murid kerokhanian. Setelah dilantik menjadi Wiku, Nabe tetap mengawasi prilaku (śāsana) sisyanya.

Atas dasar itulah seorang Wiku, harus berpegang teguh pada Śāsana Kawikon untuk menjaga kesucian pribadinya. Dalam pustaka suci tentang kawikon disebutkan, bahwa : jika seorang Wiku berpegang teguh kepada Śāsana, akan dapat umur panjang (dîrghayusa), disenangi oleh masyarakat, dapat meruat segala mala petaka umat dan jika meninggal akan mendapatkan sorga di Siwapada.

Untuk itu seorang Śisya, hendaknya cukup hati-hati dan waspada dalam mencari dan menentukan Nabe, yang akan menjadi Guru Kerokhanian. Dalam pustaka suci Śiwa Śāsana, Wratti Śāsana dan naskah Śîlakrama, ada disebutkan syarat-syarat Wiku yang wajar menjadi Guru Kerokhanian (Nabe). Wiku yang wajar menjadi Guru Kerokhanian, yaitu : pendeta guru yang tua, tua dalam usia dan tua dalam ilmu pengetahuan, yang menguasai ilmu bahasa, menguasai bermacam-macam ilmu pengetahuan, ilmu logika, tata bahasa dan lain-lainnya, ahli weda, menguasai bagian-bagian Catur Weda, dapat menghafalkan Sang Hyang Śruti dan Smreti, berpegang teguh pada dharma, mampu melaksanakan yaśa, dāna dan kirti,suci dan berketetapan hati, bertingkah laku yang baik, mampu mengendalikan hawa nafsu, dapat mengatur makanan, tabah teguh tetap hati dalam tapa brata.

Adapun Guru Kerokhanian (Nabe), yang tidak wajar dijadikan Nabe, adalah : Wiku Wimudha, yaitu wiku yang bodoh, Wiku Cedāngga/Cuntakāngga, yaitu yang tidak sempurna rokhani dan jasmaninya, Wiku Duryasa/Durlaksana, yaitu wiku yang menyimpang dari tugas dan kewajibannya.

Syarat-syarat yang ditujukan kepada Śisya, yang wajar diterima sebagai sisya atau yang ditolak sebagai sisya. Yang dapat diterima menjadi Śisya, yaitu : orang-orang keturunan suci dan mulia, setia pada perkataan dan tidak bohong, orang-orang baik dan senantiasa tenang, orang yang bijaksana, senang belajar, orang yang berbudi sattwam, orang yang tahan menghadapi suka duka, orang yang setia pada pemimpinnya, orang yang teguh menjalankan dharma, disiplin melakukan tapa, itulah orang-orang yang patut dijadikan Sisya.

Demikian juga seseorang yang tidak wajar diterima sebagai Sisya, yaitu :

  1. Wang Cuntaka Janma, seperti : orang yang pernah didenda, orang yang pernah dipenjara, orang yang telah mencoba bunuh diri, orang yang pernah dipukuli kepalanya oleh orang lain.
  2. Wang Kuciangga, orang yang cacat jasmaninya.
  3. Wang Mahāduhkha, orang yang kelahrannya tidak sempurna, seperti : gila, borok, buta, tuli, bisu, parau, sumbing, pincang dan sejenisnya.
  4. Wang Sadhigawe, adalah seseorang yang melakukan pekerjaan yang bukan tugasnya.
  5. Wang Duryasa/Durlaksana, yaitu orang yang tidak berbudi luhur, tidak baik tingkah laku dan perbuatannya, melakukan perbuatan yang terkutuk dari segi agama.

Ajaran Sasana yang harus dipegang teguh oleh Wiku yang yang termasuk dalam Wiku Sasana, yaitu : Pañca Yama, Pañca Niyama, Daśa Yama, Daśa Niyama, Dasa Paramārtha dan Rwa Welas Brataning Brahmana.

Sedangkan Śāsananing Śisya, aturan-aturan atau kewajiban-kewajiban Śisya, dalam menuntut ilmu, adalah sebagai berikut : Aguru Bhakti, Pariwadanindawapi, Talpaka Guru, Upasita, Manowākayakarmabhih, Aguruyaga, Aguru Śusrusa, dan Aguru Artha,

Dengan demikian Wiku dan Sisya harus berpegang teguh pada Śāsana, yakni Śîla Śāsananing Wiku, bagi para Wiku dan Śîla Śāsananing Śisya, bagi para Śisya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s