Pura Gunung Kawi

Sejarah Pura Gunung Kawi

Sumber yang menyatakan kapan Pura Gunung Kawi di Desa Keliki dibangun tidak dapat diketahui secara pasti, karena tidak ada sumber tertulis yang menyebutkan secara jelas mengenai kapan didirikannya pura ini. Namun menurut cerita dari Jero Mangku Gusti Putu Karya dan dari I Ketut Sudarsana, pura ini dibangun pada era Maha Rsi Markandhya yang mengembangkan konsep ajaran Agama Siwa (Tripaksa Sakthi). Hal ini dapat dilihat dari Pura Gunung Kawi merupakan Perhyangan Dewa Siwa dan ditunjukan sebuah benda pusaka berupa Siwakrana, dimana Siwakrana merupakan benda kebesaran yang dimiliki oleh pendeta atau pedanda yang merupakan penganut aliran Siwa Sidanta (Wiratmadja dan Ngurah Nala, 2012: 33).

Selain itu letak Pura Gunung Kawi ini terletak pada kawasan Munduk Gunung Lebah yang merupakan rute perjalanan suci Darmayatra dan Tirtayatra Maha Rsi Markandhya dengan pengiring Wong Aganya.

Dengan demikian sangat besar kemungkinan Pura Gunung Kawi di Desa Keliki diperkirakan telah ada sejak abad ke 8 Masehi pada era Maha Rsi Markandhya yang mengembangkan konsep ajaran Agama Siwa (Tripaksa Sakthi). Kawasan Munduk Gunung Lebah atau Munduk Taro yang merupakan rute perjalanan suci Rsi Markandhya menuju Gunung Raung.


Struktur Pura Gunung Kawi

Struktur Pura Gunung Kawi terdiri dari tiga halaman. Halaman pertama disebut nista mandala atau sering disebut jaba sisi (halaman luar). Mandala ini merupakan lambang alam bawah (bhur loka) dan bagian yang paling tidak suci (profan) (Suyasa, 1996:10). Di dalam areal nista mandala terdapat bangunan Bale Wantilan. Bangunan wantilan ini diperuntukkan sebagai tempat mengadakan hiburan bagi masyarakat yang tangkil ke Pura Gunung Kawi pada waktu dilangsungkan upacara piodalan seperti tempat tarian-tarian, tempat pementasan drama, tempat pementasan gong, tempat para pemedek beristirahat dan lain-lain.

Mandala kedua disebut madya mandala atau sering disebut jaba tengah. Bagian ini memisahkan antara nista mandala dengan utama mandala (Suyasa, 1996:11). Di dalam areal madya mandala terdapat beberapa bangunan pelinggih (bangunan suci) yakni sebagai berikut : Bale Kulkul berada di pojok sebelah barat daya madya mandala, dengan bentuknya menyerupai menara, berfungsi sebagai sarana komunikasi masyarakat Bali dan terdapat dua pelinggih yang disebut dengan Sedan Apit Lawang. Kata Apit Lawang berasal dari dua kata yaitu “apit” dan “lawang“. Apit berarti kembar/double sedangkan lawang berarti pintu, jadi Apit Lawang adalah pelinggih kembar sebagai penjaga pintu masuk.

Mandala ketiga disebut utama mandala atau sering disebut jeroan. Bagian ini merupakan areal paling suci (sakral). Bangunan pelinggih (bangunan suci) yang terdapat di areal utama mandala yakni :

  1. Balai Paruman, bangunan ini berfungsi sebagai tempat melinggih semua sesuhunan ketika piodalan;
  2. Balai Patok atau Balai Pesandekan yang biasanya difungsikan sebagai tempat untuk menerima tamu saat piodalan;
  3. Bale Gong, bangunan ini berfungsi untuk tempat memainkan peralatan gong pada saat piodalan berlangsung;
  4. Pelinggih Siwakrana, bangunan suci ini merupakan tempat berstananya sebuah Siwakrana (benda kebesaran kaum Brahmana) dipercaya peninggalan Maha Rsi Markandya yang dikeramatkan oleh krama Desa Pakraman Keliki;
  5. Pelinggih Gunung Agung, bangunan ini berfungsi sebagai tempat atau berstananya Ida Bhatara Gunung Agung;
  6. Pelinggih Besakih-Batur, pelinggih ini berfungsi sebagai pengastawa ke Pura Besakih dan Pura Batur;
  7. Padmasana;
  8. Balai Pelik, pada saat piodalan pelinggih ini berfungsi sebagai tempat pelinggih Ida Batara Sami yang melinggih atau berstana di Pura Gunung Kawi;
  9. Meru Tumpang Tiga, di Meru Tumpang Tiga ini berstana Dewa Siwa dengan perwujudan sebuah pratima berwujud batu;
  10. Pelinggih Ulun Danu, bangunan ini dibuat berfungsi sebagai pengastawa ke Ulun Danu;
  11. Pelinggih Ratu Arak Api, pelinggih ini berfungsi untuk memohon terang. Apabila terjadi hujan secara terus menerus, pada pelinggih inilah masyarakat Keliki memohon agar hujan berhenti atau disebut nunas endang;
  12. Pelinggih Pangastawan Segara, pelinggih ini dibuat dengan tujuan sebagai pengastawa ke segara atau laut.
  13. Pelinggih Ratu Ngurah, pelinggih ini sebagai stana dari Ratu Ngurah yang memiliki fungsi sebagai sekretaris sesuhunan yang berstana di Pura Gunung Kawi.
  14. Balai Pasucian atau Balai Paselang, pelinggih ini difungsikan sebagai tempat melinggih Ida Bhatara yang rauh ke Pura Gunung Kawi saat piodalan.
  15. Balai Pangubengan, biasanya bangunan ini difungsikan sebagai tempat memuja Ida Bhatara secara keseluruhan di Pura Gunung Kawi.
  16. Prantenan, bangunan ini berfungsi sebagai mempersiapkan segala sajian upacara atau banten ketika piodalan berlangsung serta mempersiapkan makanan bagi para penangkil, serta pengayah yang nagturang ayah.
  17. Pelinggih Sarkofagus, konon pelinggih ini merupakan sebuah telaga yang tidak pernah kurang airnya yang disebut dengan Telaga Waja. Disinilah tempat masyarakat Desa Pakraman Keliki nunas hujan dengan menghaturkan atau menuangkan air ke dalam sarkofagus yang dipercaya akan mendatangkan hujan. Nunas Hujan ini masih tetap dilakukan sampai sekarang oleh krama subak apabila lahannya kekeringan.


Fungsi Pura Gunung Kawi

Fungsi Religius

Pura Gunung Kawi berfungsi sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu. Sebagaimana halnya dengan pura lain yang ada di Bali, Pura Gunung Kawi juga memiliki hari-hari tertentu yang disucikan yang disebut piodalan. Piodalan di Pura Gunung Kawi jatuh pada Purnamaning Kapat. Fungsi religius yang terdapat di Pura Gunung Kawi adalah terkait dengan Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya yang merupakan bagian dari Panca Yadnya

Fungsi Sosial

Pura sebagai tempat sosial yaitu hubungan antara umat dan lingkungan yang ada di sekitarnya (fungsi horisontal). Pura juga sebagai tempat melakukan hubungan komunikasi yang bisa dilihat seperti pada pelaksanaan rapat, interaksi saat menjelang dan saat piodalan.

Fungsi Pendidikan

Pura merupakan tempat untuk melaksanakan kegiatan terutama dalam pendidikan di bidang keagamaan dan juga tempat untuk melangsungkan kegiatan pendidikan non formal. Pendidikan ini dapat dilihat dalam kegiatan dharma wacana juga sebagai tempat belajar membuat upakara seperti membuat banten, penjor, dan perlengkapan lainnya.

Fungsi Budaya

Dapat dilihat dari berbagai atraksi pertunjukan kesenian yang ditampilkan pada saat penyelenggaraan upacara piodalan. Adapun kesenian-kesenian yang dipentaskan di Pura Gunung Kawi, yaitu seni suara (kidung) saat berlangsungnya piodalan, seni tari yang biasanya dipentaskan saat piodalan berlangsung adalah Tari Topeng Sidakarya, Tari Rejang, dan Tari Baris, serta seni tabuh.

Fungsi Ekonomi

Pungutan suka rela berupa sesari (punia) dari pemedek yang datang untuk bersembahyang di Pura Gunung Kawi diberikan kepada pemangku pura.


Keunikan Pura Gunung Kawi

Berbeda dengan pura-pura lain pada umumnya, di Pura Gunung Kawi terdapat beberapa artefak yang bisa dijadikan sebagai sumber pembelajaran dari aspek sejarah. Dengan adanya situs peninggalan berupa sarkofagus di Pura Gunung Kawi maka dapat dimanfaatkan oleh berbagai institusi sebagai sumber pembelajaran/penelitian khususnya dilihat dari aspek sejarah mengenai peninggalan megalitikum atau batu besar.

Disamping itu di dalam Pura Gunung Kawi terdapat benda kebesaran yang menjadi barang pusaka di Desa Pakraman Keliki, benda ini berupa sebuah Siwakrana yang dipercaya oleh krama Desa Keliki peninggalan Rsi Markandya. Benda kebesaran ini digunakan untuk pengastawa atau memuja kebesaran Siwa setiap ada upacara di Pura Kahyangan Tiga dan Dang Kahyangan di wilayah Desa Pakraman Keliki.

Selain Siwakrana juga terdapat sebuah pelinggih yaitu Pelinggih Ratu Arak Api yang memiliki fungsi tempat memuja Dewa Brahma. Pelinggih ini terletak di sebelah selatan dari Pelinggih Ulun Danu, pelinggih ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bawah terbuat dari batu bata, bagian badan terbuat dari kayu dan atapnya terbuat dari ijuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s