Pura Kiduling Kreteg

Pura Kiduling Kreteg – Memuja Batara Brahma

Idam varco agnina dattam, agan bhargo yasah ojo vayo balam. (Atharvaveda XIX.37.2).

Maksudnya:

Agni telah memberikan kami kemuliaan ini, kecemerlangan ini, kemasyuran, tenaga yang kuat, semangat, usia panjang dan ketangguhan lahir batin.


Pura Kiduling Kreteg sebagai salah satu pura di kompleks Pura Besakih berada di arah selatan dari Pura Penataran Agung Besakih. Kiduling Kreteg artinya di sebelah selatan jembatan. Memang pura ini terletak di sebelah selatan jembatan dari Pura Penataran Agung Besakih.

Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusat dari seluruh kompleks Pura Besakih. Pura Kiduling Kreteg ini tergolong Pura Catur Dala sebagai media memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma. Dewa Iswara adalah manifestasi Tuhan sebagai dewanya sinar yang dari atas menyinari alam semesta di bawah. Sedangkan Dewa Brahma adalah manifestasi Tuhan sebagai dewanya api yang selalu berkobar dari bawah menuju ke atas. Ini kenyataan alam ciptaan Tuhan yang memberi kekuatan daya cipta kepada umat manusia untuk terus-menerus berkreasi.

Hidup yang baik adalah hidup yang terus berkreasi melakukan inovasi yang berfungsi mengembangkan strategi membangun tradisi mengaplikasikan isi kitab suci. Salah satu kekuatan Citta disebut Aiswarya. Kekuatan inilah yang senantiasa mendorong manusia untuk terus-menerus berusaha meningkatkan diri menuju yang lebih baik dengan cara-cara yang benar dan suci. Aiswarya ini mendorong manusia untuk kreatif melakukan sesuatu yang baik berdasarkan kebenaran dan kesucian.

Kalau kekuatan Aiswarya ini dapat mengatasi kekuatan Klesa, maka manusia itu akan senantiasa dapat menunjukkan perilaku Dharma. Klesa itu adalah unsur yang menghalangi dorongan untuk melakukan Dharma. Klesa itu yang mengotori diri manusia karena menghalangi Atman memancarkan sinar sucinya. Klesa yang kuat menyebabkan manusia dinamika hidupnya menuju papa neraka.

Menyelenggarakan kehidupan yang baik, benar dan suci membutuhkan kreasi yang terus-menerus sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk menguatkan daya kreativitas diri itu di samping dengan kekuatan daya nalar sendiri juga dibutuhkan kekuatan spiritual melalui pemujaan Tuhan. Dalam hal inilah Tuhan dipuja sebagai Bhatara Brahma untuk memohon tuntunan agar tetap memiliki semangat untuk terus berkreasi mewujudkan kebenaran, kesucian dan keharmonisan. Karena kehidupan yang bahagia lahir batin akan terwujud kalau dasarnya kebenaran, kesucian dan keharmonisan atau Satyam, Siwam dan Sundharam.

Salah satu tujuan pemujaan Tuhan sebagai Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg itu adalah untuk menuntun umat Hindu agar senantiasa mengembangkan daya kreativitasnya dalam mewujudkan kebenaran Weda dalam kehidupan individual dan sosial. Di samping itu, memuja Tuhan sebagai Dewa Brahma untuk memelihara semangat hidup agar tetap dapat hidup di jalan Dharma.

Pemujaan Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg itu disimbolkan dalam Pelinggih Meru Tumpang Sebelas. Meru ini terletak paling sudut di timur laut dari areal Pura Kiduling Kreteg. Pelinggih Meru Tumpang Sebelas ini masyarakat umum menyatakan sebagai stana Ratu Cili.

Jaman dahulu di Bali ada tradisi pantang menyebut nama yang dihormati, apalagi yang dipuja seperti Dewi Saraswati. Karena itu namanya disebut Ratu Cili. Kata Cili dalam Bahasa Bali simbol kecantikan atau keindahan wanita. Sebutan Ratu Cili di Meru Tumpang Sebelas di Pura Kiduling Kreteg untuk menyebutkan pemujaan Dewi Saraswati, Sakti Dewa Brahma.

Memasuki areal utama mandala atau jeroan dari Pura Kiduling Kreteg ini kita akan menjumpai palinggih yang disebut Bale Pegat. Di Bale Pegat ini, ada dua balai atau sejenis dipan beratap satu. Fungsi pelinggih yang disebut Bale Pegat ini adalah untuk nyiratan atau memercikan Tirtha Pengelukatan.

Fungsi Tirtha ini adalah untuk melepaskan berbagai kekotoran rohani yang mungkin masih melekat pada diri umat yang akan memuja di Pura Kiduling Kreteg itu. Kekotoran itu adalah kemelekatan jiwa pada nafsu keduniawian yang disebut Panca Klesa. Adanya Pelinggih Bale Pegat itu sebagai visualisasi simbolistis untuk menanamkan nilai spiritual kepada umat agar meninggalkan kelekatan pada nafsu duniawi sebagai syarat utama menuju jalan spiritual membangun landasan hidup yang baik.

Di sebelah kiri dari Meru Tumpang Sebelas stana Bhatara Brahma ada pelinggih yang disebut Bale Pesamuan Agung. Di Bale Pesamuan Agung inilah dilukiskan kegiatan Ida Bhatara baik saat tedun, nyejer maupun masineb. Di Pelinggih Bale Pesamuan Agung ini Ida Batara dipuja dengan konsep Wahya atau secara lahiriah, sedangkan di Meru Tumpang Sebelas Ida Bhatara dipuja secara Dyatmika atau batiniah.

Dalam RgVeda ada dinyatakan bahwa Tuhan hadir memenuhi alam semesta ini hanya seperempatnya. Sebagian besar Tuhan berada di luar alam semesta ini. Artinya Tuhan berada memenuhi alam ini dan juga berada di luar alam semesta ini. Karena itu dalam Kidung Om Sembah yang diambil dari Kekawin Arjuna Wiwaha ada dinyatakan: ”wahyadyatmika sembah ingulunta tan hana waneh”. Maksudnya: lahir batin sembah hamba hanya kepada-Mu ya Tuhan tiada yang lain.

Para Dewa manifestasi Tuhan dilukiskan oleh umat dalam upacara yadnya. Di Pelinggih Pesamuan Agung inilah dilukiskan para Dewa berkumpul bagaikan raja dengan petinggi kerajaan rapat menentukan anugerah kepada rakyat berupa keamanan dan kesejahteraan. Di Pelinggih Pesamuan Agung ini dilukiskan Tuhan mendunia atau merakyat memberikan anugerah kepada umatnya yang melakukan Dharma. Bale Pesamuan ini ada di pura-pura besar pada umumnya.

Yang cukup menarik di deretan pelinggih di selatan ada dua Meru berjejer. Ada yang Tumpang Lima dan Meru Tumpang Tiga. Meru Tumpang Lima sebagai pelinggih Ida Ratu Bagus Seha dan Meru Tumpang Tiga sebagai stana Ida Ratu Sihi. Istilah Seha dan Sihi sepertinya melukiskan keseimbangan antara Purusa dan Predana. Ini artinya idealisme pemujaan pada Dewa Brahma akan terwujud kalau dilakukan secara Sekala dan Niskala atau lahir batin.

Di timur Pelinggih Ida Ratu Bagus Seha terdapat Meru Tumpang Sebelas merupakan Meru terbesar di Pura Kiduling Kreteg. Meru ini stana Ida Batara Agung Sakti sebagai manifestasi dari Bhatara Brahma. Pengertian Sakti menurut Wrehaspati Tattwa adalah banyak ilmu dan banyak kerja. Maksudnya tujuan memuja Batara Brahma agar diwujudkan dengan ilmu dan kerja.


Aci Panyeeb Brahma

Setiap Purnama Sasih Keenam, di Pura ini diselenggarakan ritual Aci Panyeeb Brahma. Apa maknanya?

Menurut agamawan, Drs. I Ketut Wiana, M.Ag., dalam bukunya “Pura Besakih, Hulunya Pulau Bali”, umat memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa atau Bhatara Brahma, untuk memohon tuntunan agar tetap memiliki semangat untuk terus berkreasi mewujudkan kebenaran, kesucian, dan keharmonisan. Sebab, kehidupan yang bahagia lahir-batin akan terwujud, manakala dilandasi atau didasari kebenaran, kesucian dan keharmonisan (satyam, siwam, dan sundaram).

Lanjut Wiana, salah satu tujuan pemujaan Tuhan sebagai Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg adalah untuk menuntun umat Hindu agar senantiasa mengembangkan daya kreativitasnya dalam mewujudkan kebenaran Weda dalam kehidupan individual dan sosial. Di samping memelihara semangat hidup agar tetap berada di jalan dharma.

Dewa Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg melalui pelinggih meru tumpang sebelas. Pujawali di Pura Kiduling Kreteg jatuh pada setiap Anggara Wage Wuku Dungulan atau Penampahan Galungan. Sedangkan upacara Aci Panyeeb Brahma di Pura Kiduling Kreteg dilangsungkan setiap Purnama Sasih Kaenem. Piodalan-nya menggunakan sistem wuku, sedangkan Aci Panyeeb Brahma menggunakan sistem sasih atau Chandra Premana.

Upacara Panyeeb Brahma ini dilangsungkan, menurut Wiana, bertujuan untuk memohon agar api yang berada di perut bumi agar benar-benar memberi energi seimbang dan sesuai dengan kebutuhan makhluk hidup penghuni bumi. Aci Penyeeb Brahma sebagai permohonan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma agar panas yang ada di perut bumi yang disebut Kurma Agni itu bereksistensi secara teratur sesuai dengan kebutuhan hidup tumbuh-tumbuhan. Kurma Agni atau Bedawang Nala adalah api magma yang memiliki berbagai kekuatan energi. Dengan adanya keseimbangan atau keteraturan kuatan energi api dan air, diharapkan dapat menjadikan bumi ini sebagai Ananta Bhoga yakni sumber makanan yang tak habis-habisnya.

Demikian pula Aci Panyeeb Brahma, umat memohon agar panas bumi yang berada di perut bumi dapat terserap secara terukur sesuai dengan hukum alam (rta). Dengan demikian maka tanah bumi pun menjadi subur. Di balik ritual ini, ada suatu dorongan spiritual, memotivasi umat untuk selalu menjaga alam agar tetap lestari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s