Ethika Yadnya – 4

C. Ethika Yadnya Menurut Lontar Indik Panca Walikrama.

Dalam lontar Indik Panca Walikrama, disebutkan :

“Kayatnakna haywa saulah-ulah lumaku, ngulah subal, yan tan hana bener anut lining haji, nirgawe pwaranya, kawalik purihnya ika, amrih hayu byakta atemahan hala. Mangkana wenang ika kaparatyaksa de sang adruwe karya, sang anukangi, sang andiksani, ika katiga wenang atunggalan panglaksana nira among saraja karya. Haywa kasingsal, apan ring yadnya tan wenang kacacaban, kacampuhan manah weci, ambek bhranta, sabda parusya. Ikang manah sthiti jati nirmala juga maka sidhaning karya, margining amanggih sadhya rahayu, kasidhaning panuju, mangkana kengetakna, estu phalanya”.

sidhakarya5

Artinya :

Hendaknya berhati-hati dan waspadalah, jangan sembarang berbuat dalam melaksanakan yadnya, jangan asal selesai, hendaknya mengikuti petunjuk sastra yang benar, tidak baik hasilnya, terbaliklah tujuannya, mengharap keselamatan menjumpai hal yang membahayakan. Itulah hendaknya diperhatikan bagi orang-orang yang melakukan yadnya, para tukang banten, sang Sulinggih. Ketiga-tiganya hendaknya menyatukan langkah, dalam melaksanakan setiap yadnya. Janganlah berselisih, karena dalam beryadnya tidak boleh dinodai oleh pikiran yang kotor, sikap yang ragu-ragu, kata-kata kasar. Hanya pikiran yang tenang, tidak kotor, sebagai sarana berhasilnya yadnya, sebagai jalan untuk mencapai keselamatan, berhasil segala yang dicita-citakan, semoga berpahala baik.

Dari kutipan di atas, dapatlah diambil beberapa pokok pikiran, yaitu :

  1. Yadnya yang baik adalah yadnya yang berdasarkan petunjuk sastra, jangan melaksanakan yadnya asal-asalan, asal jalan atau asal ikut saja.
  2. Perlu adanya Tri Manggalaning Yadnya, yakni : Sang Adruwe Karya, Sang Tukang Banten dan Sang Sulinggih.
  3. Yadnya hendaknya berlandaskan pikiran yang suci dan tulus ikhlas, tidak boleh dinodai dengan pikiran kotor, pikiran ragu-ragu, kata-kata kasar yang mengumpat.
  4. Perlu adanya konsentrasi dalam beryadnya, rasa bhakti yang tulus, untuk mencapi tujuan yadnya tersebut.

Dalam yadnya yang besar perlu adanya lima unsureyang dilibatkan untuk mendukung pelaksanaan yadnya, ke lima unsure itu disebut dengan Pancagra, yaitu :

  1. Tukang Banten yang mengamalkan ajaran Tapini Yadnya, yang bertugas menyiapkan bahan upakara, jejahitan, tetandingan dan sejenisnya.
  2. Tukang Bangunan yang mengamalkan ajaran Wiswakarma, yang bertugas untuk menyiapkan berjenis-jenis bangunan untuk perlengkapan upacara, seperti : Sanggar Surya, Sanggar Tawang, Bale Padanan dan sejenisnya.
  3. Tukang Olah/tukang sate, yang mengamalkan ajaran Dharma Caruban, menyiapkan jenis olahan daging, bermacam-macam sate yang diperlukan dan sejenisnya.
  4. Tukang Rerajahan, yang mengamalkan ajaran Sanghyang Aji Saraswati, bertugas untuk menyiapkan rerajahan atau gambar-gambar, tulisan-tulisan (aksara), yang patut dibuat dalam berbagai peralatan upacara, seperti : rerajahan pada periuk, paso, nyiru, tempeh dan sebagainya.
  5. Sekaa Gegitan/Kidung/Kekawin dan sejenisnya, Tukang Sesolahan (pragina), Tukang Tabuh, yang mengamalkan ajaran Aji Ghurnita. Mereka ini bertugas untuk menyiapkan berbagai macam gambelan, tari, yang disesuaikan dengan yadnya yang dilaksanakan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s