Ethika Yadnya – 1

Arti dan Pengertian Yadnya

Kata yadnya (yajna), adalah bahasa Sansekerta, yang berasal dari urat kata “yaj” yang berarti memuja, menyembah, menghormat, mendoa, berupacara, berselamatan, berkorban, memberi dan beramal.

022214_1355_HakekatPage1.jpg

Yang dalam bentuk perubahannya, menjadi kata :

  1. Yajna (h), berarti pujaan, persembahan, penghormatan, doa, upacara dan korban suci.
  2. Yajana, berarti pelaksanaan dari yajna, sering diartikan Yajna Karma.
  3. Yajus, berarti aturan tentang yajna.
  4. Yajamana, berarti orang yang memimpin yajna.
  5. Yajamani, berarti para pendeta yang mengurus atau mengatur perlengkapan dan jalannya yajna.

Dengan memperhatikan pengertian etymologi kata yajna tersebut di atas, maka jelaslah bahwa yajna itu merupakan suatu tatanan hidup lahir bathin bagi manusia, guna menyatakan rasa setia bakti dan pengabdian yang suci, sebagai umat beragama, yang diwujudkan dalam bentuk bermacam-macam dana punya atau amal kebaktian/kebajikan, yang tulus ikhlas dan suci murni, baik dengan pikiran, perkataan dan perbuatan maupun dengan selamatan dan pujaan.

Oleh karena demikian maka yajna itu mempunyai ruang lingkup yang luas dan juga memberikan pengaruh yang amat besar terhadap prikehidupan manusia baik jasmani maupun rohani.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa kata “yajna” bukanlah berarti sempit semata-mata, sebagaimana halnya sering dimaksudkan dalam tanggapan masyarakat pada umumnya, yaitu dalam arti persembahan sesajen atau upakara ritual saja. Akan tetapi setiap amal kebajikan atau “dana punya” yang dilaksanakan dengan penuh keyakinan dan pengabdian yang suci murni dan tulus ikhlas dan tanpa ikatan pamrih tertentu, itulah sebenarnya yang disebut dengan Yajna.

Sarana yang melengkapi pelaksanaan suatu yajna, diistilahkan dengan “upakara” atau “sajen”. Secara etymologi upakara mengandung pengertian pelayanan yang ramah tamah atau kebaikan hati. Bertolak dari pengertian itu maka setiap upakara yang akan dipersembahkan patut didasari dengan ketulusan, kemantapan dan kesucian hati, yang ditampilkan dalam sikap dan prilaku yang merefleksikan keramah tamahan serta penghormatan yang tulus dilandasi dengan kesucian hati.

Demikian juga tata pelaksanaan suatu yajna, disebut dengan “upacara”. Kata “upacara” dalam bahasa Sansekerta, berarti mendekati atau datang mendekat. Dalam kegiatan upacara agama, diharapkan terjadinya suatu upaya untuk mendekatkan diri dengan Hyang Widhi dengan manifestasi-Nya, sesama manusia, kepada alam lingkungan, Pitara maupun Rsi. Pendekatan itu diwujudkan dengan berbagai bentuk persembahan lahir bathin maupun tata pelaksanaan sebagaimana yang telah diatur dalam ajaran agama Hindu. Kesucian adalah sifat Tuhan, untuk keharmonisan orang harus suci lahir bathin, bila ingin memanjatkan doa dan mendekatkan diri dengan Hyang Widhi atau manifestasi-Nya.

Yajna dalam agama Hindu merupakan bagian yang utuh dari seluruh ajaran dan aktifitas agama. Bahkan yajna merupakan unsur yang sangat penting, bagaikan kulit telor yang membungkus serta melindungi sarinya yang merupakan inti dari telor itu sendiri. Seperti itulah yajna dengan upacara dan upakaranya yang merupakan kulit luar yang tampak dan dilaksanakan dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. Melalui yajna direfleksikan ajaran Tattwa dan Susila Agama secara utuh dan terpadu. Untuk itu dalam pelaksanaan suatu yajna, betapun kecilnya diperlukan landasan tattwa dan susila, untuk keutuhan dan kesempurnaannya. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa ethika atau kesusilaan merupakan unsur yang banyak menentukan kwalitas suatu yajna yang dilaksanakan. Berbeda dengan tattwa yang tergolong dalam Jnana Kandha, Ethika/Susila dan Yajna, dikelompokkan dalan Karma Kandha, yang merupakan bagian ajaran yang tampil dalam bentuk pelaksanaan kegiatan (karma) yang menonjol dalam kehidupan agama Hindu di Bali.

Dilihat dari ajaran Catur Marga, yajna yang dipersembahkan dalam bentuk upakara tertentu, lebih menonjol unsur Bhakti dan Karma Marga dibandingkan dengan Jnana dan Yoga Marga. Walaupun pada hakekatnya ke-empat Marga tidaklah mungkin dilaksanakan salah satu saja secara murni, tanpa disertai yang lainnya. Oleh karena dalam pelaksanaan suatu yajna, disamping unsur karma dan bhakti yang tampak menonjol, unsur jnana yang menyangkut pengetahuan makna simbolis, tentang aturan yajna, tetandingan serta yang lainnya juga sangat diperlukan. Demikian juga tatkala mempersembahkannya, melaksanakan pemujaan dan persembahyangan, unsur yoga dalam arti menghubungkan diri dengan Tuhan yang dipuja diperlukan kemantapan dan konsentrasi. Bahkan juga dalam mempersiapkan upakara yang suci harus disertai dengan konsentrasi dengan dukungan beberapa pantangan untuk pengendaliannya. Misalnya dalam mempersiapkan dan mengerjakan suatu jenis upakara yang utama, ditetapkan aturannya harus dikerjakan oleh Sulinggih, dengan melakukan brata tertentu, hal ini jelaslah untuk mendukung landasan yoga, yang harus dilaksanakan saat itu.

Selama ini tampaknya ada kecendrungan orang lebih memberikan perhatian pada wujud suatu upakara yang akan dipersembahkan. Sehingga sering berfokus pada materi yang akan dipersembahkan, sehingga kurang adanya perhatian tenteng tata cara atau sikap prilaku yang sesuai yang patut dilaksanakan untuk mendukung kesucian nilai suatu persembahan, yang sepatutnya dilaksanakan sejak persiapan sampai pelaksanaannya.

Oleh karena itu materi tentang Ethika Yajna ini dimaksudkan untuk membantu mengingatkan kembali, tentang hal-hal yang sangat perlu dilaksanakan oleh semua orang, yang terkait dalam kegiatan pelaksanaan yajna, sejak persiapan hingga pelaksanaannya.

Landasan ethika atau kesusilaan dalam melaksanakan yadnya, sesungguhnya telah banyak diungkapkan dalam sastra-sastra agama Hindu. Seperti : Bhagawad Gita, demikian juga dalam beberapa lontar, seperti : Dewa Tattwa, Yadnya Prakerti, Indik Panca Walikrama, Lebur Gangsa, dan sebagainya. Karena keberadaannya terselip dan tersebar dalam berbagai sumber menjadikan ajaran atau petunjuk itu kurang mendapat perhatian oleh para pelaksana yadnya.

Pamangku dan tukang banten adalah merupakan unsur pelaksana yadnya yang memiliki peranan penting dan sangat menentukan. Oleh karena itu Pamangku dan para tukang banten sangat diharapkan untuk dapat memberikan tuntunan dan bimbingan kepada umat di lingkungannya masing-masing. Melalui tuntunan dan bimbingan tersebut diharapkan umat Hindu dapat melaksanakan yadnya sesuai dengan tata aturannya, termasuk juga aturan yang berhubungan dengan Ethika Yadnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s