Pura Banua

Pura Banua merupakan pura yang terletak pada kawasan Pura Besakih. Pura ini terletak bersebelahan dengan Pura Basukian di kanan jalan menuju Pura Penataran Agung Besakih. Pura Banua terletak di sebelah timur jalan raya yaitu di timur parkir kendaraan menghadap ke selatan. Di sini diistanakan Bhatari Sri dan hari piodalannya jatuh pada hari Sukra Umanis Kelawu. Dahulunya di sebelah timur pura ini agak ke selatan terdapat sebuah lumbung padi untuk tempat menyimpan sebagian dari padi hasil sawah druwe Pura Besakih. Adanya lumbung ini diharapkan sebagai sarana permohonan untuk penginih-inih, artinya segala yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dapatlah dipenuhi, meskipun sederhana tetapi cukup.


Makna di Balik Simbol Pura Banua

Pura Banua merupakan salah satu kompleks Pura Besakih yang berisi simbol-simbol sakral yang dapat kita gali nilai-nilai simbolisnya. Ada nilai-nilai penuh makna di balik simbol yang berada di Pura Banua tersebut. Secara umum Pura Banua ini adalah sebagai media pemujaan pada Tuhan untuk memohon kekuatan spiritual agar umat mampu mengelola kekayaan alam ciptaan Tuhan itu secara produktif dan efisien.

Sesungguhnya manusia lahir ke bumi ini telah dibekali kekayaan berupa naluri untuk mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. Dalam Atharvaveda dinyatakan bahwa sesungguhnya manusia lahir dengan bekal kekayaan yang ada dalam dirinya. Kekayaan itu berupa naluri untuk hidup dan berkembang. Hal itu tergantung pada manusia itu sendiri. Manusia hendaknya berusaha untuk mengelola hidupnya dan menyingkirkan naluri yang buruk dan mengembangkan naluri yang baik. Maksudnya upaya mencari kekayaan itu hendaknya dibatasi untuk mengembangkan jati diri sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan.

Sebagai ciptaan Tuhan manusia memiliki kemampuan untuk menguasai dirinya agar tidak terjebak oleh gejolak indrianya. Indria yang dapat dikuasai akan dapat menjadi kekuatan untuk menguatkan eksistensi diri konsisten berjalan di atas jalan dharma.

Upaya untuk mengembangkan naluri hidup yang positif dan mencegah naluri yang negatif tidak mudah dilakukan tanpa tuntutan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi mengelola sumber daya alam yang tergantung pada hukum Rta. Untuk melindungi naluri yang positif itu Tuhan dipuja sebagai Bhatari Sri sebagai Sakti Dewa Wisnu, pelindung kekayaan. Adanya Pelinggih Gedong sebagai sarana pemujaan Bhatari Sri sebagai media untuk mengembangkan spirit dalam bentuk berbagai ide dan gagasan-gagasan untuk membangun kemakmuran bersama.

Ide maupun gagasan-gagasan tersebut bersumber dari pengembangan spiritual dari proses pemujaan pada Bhatara Sri sebagai manifestasi Tuhan. Dengan demikian ide maupun gagasan tersebut bersifat strategis jangka panjang. Artinya ide dan gagasan tersebut tidak akan sampai merusak alam itu sendiri sebagai sumber mengembangkan kemakmuran. Kalau dari awal pengembangan kemakmuran itu dengan pendekatan spiritual maka upaya mencari kemakmuran itu tidak akan bergeser dari kemakmuran untuk hidup bukan kemakmuran untuk mengembangkan keserakahan.

Karena kalau rakus dasarnya maka kemakmuran itu akan membawa malapetaka bagi manusia. Akan muncul ketidakadilan. Dari ketidakadilan itu akan muncul permusuhan di antara sesama manusia. Karena keserakahan itu muncul dari pengembangan naluri yang tidak baik. Atharvaveda tersebut menyatakan agar manusia berusaha untuk membuang naluri-naluri kotor. Dengan berkonsentrasi pada pemujaan pada Bhatari Sri itu sebagai media religius untuk membendung dan membuang naluri kotor tersebut.

Pemujaan Bhatari Sri disamping dengan media Pelinggih Gedong juga dengan media Dewa Nini yang disimbolkan dengan seikat padi terpilih dengan hiasan ritual khas Hindu di Bali. Simbol Dewa Nini ini mengandung makna agar ide-ide dan gagasan-gagasan tersebut diwujudkan dalam tataran fragmatis, sehingga tidak mengawang-awang tanpa wujud. Simbol Dewa Nini ini diambil dari padi terpilih agar menjadi contoh untuk terus dikembangkan secara produktif dengan tetap memperhatikan aspek-aspek strategis jangka panjang.

Simbol stana Dewa Nini ini menggunakan padi sebagai simbolnya mengandung makna bahwa ide dan gagasan kemakmuran itu benar-benar nyata wujudnya seperti padi dengan kualitas terpilih itu. Kemakmuran itu hanya angan-angan saja. Dewa Nini ini di stanakan di bagian hulu dari Jineng sebagai media penghormatan kepada Dewa Nini simbol Pradana dari Bhatara Sri tersebut. Pradana adalah lambang wujud meterial sebagai wadah Purusa.

Jineng atau lumbung itu adalah sebagai tempat menyimpan padi bukan beras dan juga menyimpan sumber bahan makanan yang lainnya seperti jagung dan padi-padian lainnya. Hal ini melambangkan agar penggunaan hasil kekayaan yang diusahakan dari bumi ini digunakan secara hemat dan tepat. Menyimpan dalam bentuk padi itu bertujuan untuk menghemat secara tepat. Agar jangan menggunakan hasil kekayaan bumi ini dengan cara yang tidak benar.

Dalam Atharvaveda juga dinyatakan ada kekayaan yang menguntungkan dan ada kekayaan yang tidak menguntungkan. Dalam Mantra Veda tersebut disertai dengan suatu doa semoga kekayaan yang menguntungkan selalu menyertai dan kekayaan yang tidak menguntungkan menjauh. Hal ini bermaksud agar manusia dalam menggunakan kekayaan itu tidak hanya menggunakan pendekatan hawa nafsu semata.

Kekayaan itu merugikan karena cara penggunaannya yang tidak menggunakan nilai-nilai kerohanian. Kekayaan tersebut akan senantiasa menguntungkan kalau penggunaannya menggunakan pendekatan daya spiritual dan kecerdasan intelektual. Agar daya spiritual itu berkembang maka dalam mengelola kekayaan itu dilakukan pemujaan pada Dewi Sri Sakti Dewa Wisnu. Lumbung itu simbol untuk memotivasi umat agar bisa hidup yang hemat dengan tepat.

Agar pengelolaan kekayaan hasil bumi ini ditiru oleh umat seluruhnya maka Jineng di Pura Banua ini adalah sebagai induknya Jineng di seluruh Bali. Dalam Regveda ada suatu doa sebagai berikut : Ya Tuhan Yang Maha Esa, semoga melimpahkan kekayaan yang patut kami ditiru yang tersimpan di pegunungan atau di bawah tanah atau yang terbenam di samudera yang jumlahnya tak terhingga.

Mantra Regveda ini dapat kita pahami sebagai suatu doa agar dalam mengelola kekayaan bumi ini senantiasa mendapat tuntunan Tuhan, sehingga pengelolaan kekayaan di bumi ini menjadi contoh bagi masyarakat luas. Dewasa ini bumi sudah semakin rusak karena pengelolaan kekayaan yang tersimpan di dalam bumi ini menggunakan pendekatan hedonistis. Artinya bumi diolah untuk memenuhi kenikmatan inderawi tanpa kendali.

Adanya Balai Pesamuan dengan delapan tiang itu sebagai simbol bahwa dalam mengelola bumi ini dengan hasil-hasilnya hendaknya dilakukan dengan memperhatikan aspirasi masyarakat luas. Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan bersama harus dipikirkan bersama dengan semangat musyawarah, sehingga tidak ada yang merasa ditinggalkan. Kekayaan alam yang dikandung bumi ini bukan untuk suatu golongan tertentu saja. Kekayaan tersebut untuk semua umat manusia, termasuk makhluk hidup lainnya. Demikianlah nampaknya nilai-nilai yang tersembunyi di balik simbol sakral di Pura Banua Besakih.


Pura Banua Hulunya Lumbung di Bali

Vaisyah krsivalah karyo, gopah sasya bhrtvratah, vartayukto grhopatah, ksetra palo tha Vaisyah. (Slokantara, 37)

Maksudnya:

Swakarma vaisya varna adalah bertani, mengembala ternak mengumpulkan padi-padian, berdagang, mengusahakan rumah penginapan dan menjadi pelindung ladang.

Bertani dan beternak merupakan mata pencaharian awal dari manusia sebelum adanya perkembangan industri barang maupun industri jasa. Dari bertani dan beternak itulah munculnya usaha dagang sebagai lapangan pekerjaan untuk melangsungkan kehidupan. Orang yang bekerja di sektor ekonomi ini disebut Vaisya Varna dalam sistem profesi untuk mendapatkan mata pencaharian berdasarkan Weda.

Tugas petani sebagai Vaisya Varna di samping memproduksi hasil-hasil tersebut agar dapat digunakan sehemat mungkin. Tentunya tidak sampai mengurangi fungsinya untuk membangun hidup sehat sejahtera lahir batin. Memproduksi sumber-sumber kebutuhan hidup sehari-hari itu dan juga menggunakannya agar hemat dan tepat guna bukan pekerjaan yang dapat dilakukan begitu saja.

Pekerjaan itu harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan dan juga ketenangan hati. Membina sikap hidup produktif yang hemat tepat guna dapat dilakukan dengan memulainya dari pemujaan pada Tuhan. Pemujaan ini untuk menumbuhkan bahwa pemahaman bahwa Tuhan menghendaki agar semua ciptaan-Nya ini tidak ada yang tersia-siakan. Swami Satya Narayana menyatakan bahwa ada empat hal yang tidak boleh diboroskan. Empat hal ini adalah rezeki, makanan, tenaga, dan waktu.

Hidup produktif dan hemat itu ditanamkan juga dalam sistem pemujaan pada Tuhan oleh umat Hindu di Bali. Karena hidup produktif dan hemat itu salah satu cara untuk membangun hidup yang sejahtera. Hal itu dikembangkan di salah satu kompleks Pura Besakih yang disebut Pura Banua. Di pura ini Tuhan dipuja sebagai Dewa Sri, Sakti Dewa Wisnu sebagai Dewi Kemakmuran.

Pura Banua ini salah satu kompleks Pura Besakih yang juga berkedudukan sebagai hulunya lumbung di Bali. Kata “banua” dalam bahasa Bali kuno artinya desa menurut pengertian sekarang. Banua dalam pengertian yang lebih luas adalah suatu wilayah pemukiman untuk membina kerja sama membangun dan memelihara kesejahteraan hidup bersama yang produktif dan hemat. Pelinggih atau bangunan suci yang paling utama di pura ini adalah sebuah pelinggih berbentuk Gedong sebagai stana pemujaan Batari Sri sebagai sakti atau power-nya Dewa Wisnu sebagai Dewa Kemakmuran.

Di pura ini ada sebuah jineng dalam ukuran besar yaitu lumbung padi menurut tradisi umat Hindu di Bali. Sayang lumbung yang disebut jineng itu setelah rusak tidak diperbaiki lagi sehingga bangunan tersebut terhapus. Di lumbung besar itulah hasil-hasil tanah laba Pura Besakih disimpan. Mungkin karena kurang paham akan makna jineng atau lumbung itu maka saat rusak tidak lagi diperbaiki karena saat ini tidak ada lagi orang menyimpan padi dengan cara tradisi seperti dahulu.

Sesungguhnya adanya jineng itu jangan dilihat dari fungsi nyata (sekala) dewasa ini. Jineng di Pura Banua itu hendaknya dilihat dari sudut niskala sebagai simbol sakral. Simbol sakral berupa jineng itu sebagai media untuk menanamkan sikap hidup produktif dan hemat kepada umat. Ke depan ada baiknya jineng itu dibangun kembali untuk dijadikan media menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi penerus agar ia bisa hidup produktif dan hemat sebagai cara membangun hidup yang makmur secara berkelanjutan.

Untuk masyarakat awam ajaran agama yang abstrak itu divisualisasikan dalam bentuk simbol. Dengan simbol itulah berbagai hal bisa dijelaskan secara lebih mudah kepada umat kebanyakan. Apa lagi simbol tersebut terkait dengan pemujaan pada Dewi Sri, Sakti Dewa Wisnu manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kemakmuran. Kehadiran Tuhan sebagai Dewa Kemakmuran diwujudkan sebagai Dewi Sri di pelinggih Gedong dan sebagai Dewa Nini di lumbung pura.

Dewi Sri lambang Tuhan dalam spirit kemakmuran, sedangkan Dewa Nini dalam wujud kongkretnya. Dewi Sri ibarat jiwa atau Purusa-nya, sedangkan Arca Dewa Nini sebagai wujud fisik atau Pradana-nya. Karena itu Dewa Nini itu disimbolkan dengan seikat padi. Padi yang dijadikan simbol Dewa Nini itu tentunya padi dari pilihan yang terbaik sehingga menjadi contoh produksi untuk diupayakan oleh masyarakat petani mempertahankan kualitas produknya.

Ini artinya seikat padi terpilih sebagai simbol arca itu, di samping bermakna sebagai simbol sakral ia juga memiliki nilai sebagai simbol material untuk dijadikan contoh oleh pada petani dalam mempertahankan dan mengembangkan kualitas produknya.

Di Pura Banua ini di samping ada Gedong dan Jineng stana Dewi Sri dan Dewa Nini ada juga Balai Pesamuan yang terletak di sebelah kiri Gedong Dewi Sri. Balai Pesamuan ini bertiang delapan dan dibagi menjadi dua bagian yang disekat dengan sebilah papan. Balai Pesamuan ini sebagai tempat bertemunya para pemimpin masyarakat Desa Besakih dengan telah ditentukan tempat duduknya masing-masing.

Balai Pesamuan ini sebagai simbol bahwa dalam membangun kehidupan ekonomi agraris itu tidak bisa para petani berjalan sendiri-sendiri. Apa lagi kehidupan petani sangat tergantung pada iklim dan musim yang ditentukan oleh dinamika alam. Para petani harus mendapat tuntunan dari para ahli dan praktisi astronomi yang dalam ajaran Weda disebut Jyothisa.

Di samping ditentukan oleh musim bertani itu juga ditentukan oleh hari baik atau dewasa menanam padi. Yang juga amat menentukan adalah manajemen irigasi. Hal-hal inilah yang akan menjadi pembahasan umat petani dalam mengembangkan kemakmuran bersama. Hidup bersama itu harus dikembangkan berbagai kebijakan melalui suatu musyawarah agar semua informasi yang ada dapat ditata sesuai dengan fungsi dan profesi yang dimiliki oleh masyarakat bersangkutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s