Babad Aryeng Kaderi – Terjemahan

Ya Tuhan, semoga hamba tidak mendapatkan halangan dan semoga berhasil.

Maafkanlah hamba kehadapan Paduka Bhatara jungjungan hamba, yang telah bersemayam dalam intisarinya Om-kara Mantra, beliaulah yang memberi anugrah, adanya ceritra lama yang menceritrakan orang-orang yang telah wafat, agar supaya hamba terbebas dari kualat dan terbebas dari segala kutukan oleh beliau Paduka Bhatara jungjungan hamba, semoga sempurna, mendapatkan keselamatan dan umur panjang, beserta keluarga besar dan keturunan hamba semuanya dan semoga dunia menjadi sejahtra.

011914_1138_BabadMunang1.jpg

Setelah berakhirnya ceritra Purwa Kandha, yakni tatkala datangnya Narayra Kresna Kapakisan dan para Arya dari pulau Jawa, yang telah berhasil menguasai pulau Bali, semuanya itu telah bersemayam dalam Prasasti demikian juga pada Babad.

Pada jaman dulu, menjelmalah beliau Sanghyang Hari, yang memerintah dunia ini, yang bersinghasana di Medang Kahyangan, berputra Hyang Manu Manasa, berliau amat tampan. Beliau tak ada bedanya dengan Sanghyang Kamajaya, beliau berputra Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikramatunggadewa. Beliau inilah yang menurunkan Sri Kameswara yang berwujudkan Hyang, sama sekali tiada cacat dalam tubuhnya, karena merupakan penjelmaan Sanghyang Smara.

Sri Kameswara berputra Sri Airlangghya, yang memerintah di pulau Jawa, yang menjadi Purohitanya bergelar Sri Mpu Pradah, beliaulah yang membunuh Si Calon Arang.

Sri Airlangghya berputra 2 (dua) orang, yang sulung bernama Sri Jayabhaya dan adiknya Sri Jayasabha yang menguasai Kaderi. Sri Jayabhaya menurunkan Sri Jayakatong, Sri Dangdang Gendis nama lainnya, yang telah wafat dalam pertempuran dan dipenjara, beliau tidak mengadakan putra. Sri Jayasabha berputra Aryeng Kaderi, beliau adalah ayah dari Arya Kresna Kapakisan, yang diperintahkan datang ke Bali oleh Kriyan Mada, menjadi patih dari Sri Wawudateng, yang memerintah di Samprangan.

Adapun Arya Kresna Kapakisan, berstana di Nyuhaya, berputra I Gusti Madhe Asak, I Gusti Wayahan Patandakan, beribu Ni Ayu Dalancang. I Gusti Madhe Asak datang pada kakaknya di desa Kaphal. Beliau menjadi mantu oleh Ki Patih Tuha, berputra seorang diri bernama I Gusti Nginte, yang menjadi patih Dalem Bekung di Swecapura, setelah meninggalnya I Gusti Batanjeruk, yang telah kualat dengan Dalem. Demikianlah ceritranya.

Adapun di Nyuhaya Ki Gusti Wayahan Patandakan, menjadi patih Dalem Ketut di Gelgel. Adik beliau dari lain ibu, yaitu : Ki Gusti Satra, Ki Gusti Pelangan, Ki Gusti Akah, Ki Gusti Kloping, Ki Gusti Cacaran dan Ki Gusti Anggan.

Ki Gusti Wayahan Patandakan, berputra Ki Gusti Batanjeruk, Ki Gusti Bebengan, Ki Gusti Tusan, Ki Gusti Gunung Nangka. Ki Gusti Batanjeruk, adalah patih dari dalem Waturenggong di Swecapura.

Adapun beliau Kryan Dawuh atau I Gusti Agung Nginte nama lain beliau, berputra 2 orang, yang sulung bernama Kryan Widhya, lebih dikenal dengan nama I Gusti Agung dan adik beliau bernama Kryan Pranawa atau disebut juga I Gusti Di Ler oleh masyarakat.

I Gusti Agung menjadi patih menggantikan ayahnya, menjadi patih Sri Agung Sagening, pada tahun Saka Eka Windhu Panca Bhumi, tahun 1501 Saka, saat itu juga matinya Kryan Pande. I Gusti Di Ler menjadi Demung, sabda Dalem : Si Widhya menjadi Agung dan Si Pranawa menjadi Di Ler.

Marilah kita ceritrakan putra-putranya I Gusti Agung, laki-laki 5 orang, yaitu : Kyayi Kedung, Kyayi Kalanganyar, Kyayi Batulepang, Kyayi Basangtamiang dan Kyayi Karangasem bukan Batanjeruk.. Tiga orang perempua, yaitu : I Gusti Stri Bakas, I Gusti Stri Mimba dan I Gusti Stri Kacangpawos. Adapun I Gusti Stri Bakas, I Gusti Stri Mimba, ke-duanya diambil oleh Sri Agung Pamadhe.

Setelah ayahnya meninggal, yang menggantikan adalah Kryan Kedung, yang menjadi patihnya Sri Agung Pamadhe, yang lebih dikenal dengan sebutan I Gusti Agung Bekung, karena tidak memiliki putra. Lalu beliau mengangkat anak, yakni putra Kryan Batulepang, bernama Kryan Buringkit, lalu diganti namanya dengan sebutan Anak Agung Di Badung, bertempat tinggal di Mimba (Intaran). Dan beliau mengangkat seorang anak lagi, yakni putra dari Kryan Kalanganyar, yang diberi nama I Gusti Agung Di Madhe, keduanya itu adalah keponakan beliau.

Tersebutlah setelah meninggal ayahnya, yang menggantikan kedudukannya adalah I Gusti Agung Di Madhe, dijadikan patih oleh Sri Aji Pamadhe. Setelah beberapa lama, berpindahlah I Gusti Agung Di Madhe ke daerah Jimbaran, setelah lama kembali ke Kuramas, beliau berputra 3 orang, yaitu : I Gusti Agung Putu, I Gusti Istri Ayu Madhe dan yang paling bungsu I Gusti Agung Anom. I Gusti Istri Ayu Madhe diambil oleh Sang Pandhya Wanasara, itulah yang menyebabkan kematian Sang Maha Pandita.

I Gusti Agung Putu, mengadakan I Gusti Agung Cawu, yang tetap tinggal di Kuramas, adapun I Gusti Agung Anom, pindah ke Phalwadesa (Kapal), I Gusti Ayu Madhe putus keturunan, karena beliau ikut satya (mati) dalam pembakaran jenazah Sang Pendeta. Marilah kita tinggalkan ceritra itu sebentar.

Tersebutlah sekarang I Gusti Agung Anom, yang disebut juga I Gusti Agung Madhe Agung, setelah beliau menetap doi Phalwadesa (Kapal), maka keris kerajaan Ki Panglipur dibuatkan tangkainya, sebagai penjaga wilayah dan duhung Ki Baru Pasawahan, waris dari Pangeran Kaphal dahulu, tak ketinggalan juga keris Ki Pancar Utah, yang merupakan keris dari Pangeran Buringkit, demikian disebut dalam Usana. Semuanya telah dikumpulkan oleh I Gusti Agung Madhe Agung, termasuk bhajra Ki Brahmara, pemberian pendeta Wanasara, beliau yang telah wafat dan sebuah bhajra Ki Kembang Lengong, demikian juga Siwopakara (alat-alat pemujaan), Pangeran Kaphal yang dahulu. Semuanya itu dipegang oleh I Gusti Agung Madhe Agung, sehingga semuanya tunduk dan hormat seluruh rakyat Kaphal dan Buringkit. Hal itu disebabkan oleh kebijaksanaan dan kemampuan hukum serta sistim kepemerintahan, tidak ragu-ragu beliau memegang tapuk pemerintahan. Itulah yang menyebabkan bertambah hormat seluruh rakyat kepada beliau, demikian juga beliau tidak ingkar dengan ucapan. Adapun yang memjadi permaisuri adalah putrinya Kryan Bebengan yang bernama Ni Gusti Luh Bengkel.

Entah berapa lama beliau bersuami istri, setelah beliau puas menjalankan kepuasan indria, namun beliau tidak mendapatkan keturunan. Hal itu yang menyebabkan sedih dalam hati. Timbul dalam pemikiran beliau, apakah gunanya hidup ini, telah tua dan tidak berputra, siapakah yang akan menggantikan memegang pemerintahan. Dan nantinya setelah aku kembali ke alam sunia. Oleh karena itu tidak ada lain pemikiran beliau, hanya memohon anugrah pada setiap tempat suci, demikianlah yang menjadi angan-angan beliau.

Adapun pada suatu saat, pada hari yang baik, saat itulah beliau memohon anugrah pada sebuah Parhyangan bersama permaisurinya, setiap hari beliau menyucikan diri, untuk mencari hakekat kegaiban. Entah berapa bulan beliau melakukan hal itu, tetapi belum juga ada anugrah Tuhan, sehingga bertambah sedih hati beliau, memikirkan keadaan diri beliau.

Setelah beberapa lama, pada hari pertengahan malam, datanglah beliau ke Parhyangan Bhatara Purasada bersama dengan permaisuri beliau, di sana beliau melakukan meditasi, mengheningkan citta, dengan mengutarakan Weda. Setelah masak samadhi beliau, diterimalah permohonan beliau oleh Hyang Andharu, sebutir telur yang bersinar dari langit (angkasa) jatuh dihadapan beliau, sadarlah I Gusti Agung Madhe Agung, sehingga bertambahlah rasa cintanya kepada sang permaisuri, disebabkan oleh anugrah Hyang.

Pada pagi hari dengan warna merah di timur, lalu beliau pulang bersama dengan permaisurinya, tak terceritrakan siang berganti malam, hamillah sang permaisuri, I Gusti Agung Madhe Agung menjadi amat gembira dan bertambah rasa cintanya kepada sang permaisuri, dipenuhi segala keinginannya. Setelah cukup umur, maka lahirlah seorang anak laki, amat tampan dan sempurna, dipenuhi segala kehendaknya, lalu diberi nama I Gusti Agung Putu, amat disayangi oleh kedua orang tuanya, segala permintaannya dipenuhi.

Setelah beliau menginjak remaja (raja putra), ditinggal wafat menuju nirwana oleh ayahnya, dan setelah selesai dibakar dan diupacarai selengkapnya.

Sekarang marilah ceritrakan I Gusti Agung Putu menggantikan menjadi raja, yakni menggantikan sang ayah, tetapi beliau tidak mengetahui tentang Catur Naya Upaya, hanya selalu memenuhi hawa nafsu, tidak menghiraukan nasehat orang lain, hanya mengikuti kehendak hatinya dan tidak mau tahu terhadap penderitaan rakyat, seperti para manca, hal itulah yang menyebabkan kacaunya negara (pemerintahan), sehingga banyak yang menentang.

Yang pertama menentang adalah I Gusti Ngurah Batutumpeng atau I Gusti Selapenek nama lainnya, yang bertempat tinggal di desa Kekeran. Adapun I Gusti Ngurah Batutumpeng adalah saudara misan dari pradhana. Setelah I Gusti Agung Putu tahu prihal itu beliau marah ingin mengadu kesaktian dan berangkat bersama rakyatnya, dengan tujuan menghancurkan I Gusti Ngurah Batutumpeng.

Dengan cepat terjadilah perang di sebelah utara desa Kekeran, perang itu amat dashyat, saling serang, banyak yang mati dan banyak yang luka, oleh karena banyak musuh, dikelilingi oleh musuh, takutlah rakyatnya I Gusti Agung Putu. Sisa yang mati semuanya menyerahkan diri, hanya beliau seorang diri tak mau tunduk, sehingga beliau direbut oleh musuh, ada yang menombak, ada yang menembak, dipukul dengan batu, tak terbilang senjata yang menimpa badannya. Lalu pingsan, lemahlah beliau jatuh ke tanah, dikira beliau telah meninggal.

Adapun keris Ki Panglipur, tak terlihat oleh musuh, sehingga tidak diambil, dan pulang ke rumahnya masing-masing. Tiada berselang lama datanglah Ki Kadwa yang berasal dari Kaphal, mendatangi I Gusti Agung Putu yang saat itu ada di medan pertempuran, lalu dicari-cari I Gusti Agung Putu, lalu dilihatnya beliau masih hidup. Segera dipetiknya daun liligundi lalu dikerubungi badan beliau. Sehingga bertambah sehatlah I Gusti Agung Putu, lalu beliau menjadi sadar, tetapi belum bisa bergerak, lalu beliau berkata : ” Hai paman Ki Kadwa, amat sayangnya paman mendatangi saya di sini, tetapi ada pesanku terhadap paman, jika paman betul-betul kasihan pada diriku, sembunyikanlah keris ini bawah ke rumah paman, nanti jika tidak tanganku yang mengambil Si Panglipur, janganlah paman berikan kepada orang lain yang meminta keris ini “, demikianlah sabda I Gusti Agung Putu, dengan suara yang parau dan putus-putus. Ditangisi oleh Ki Kadwa, sembari berkata, ya Tuanku hamba mematuhi segala perintah Tuanku. Lalu Ki Panglipur diambilnya dan disimpan di rumahnya.

Tak terceritrakan setelah Ki Kadwa meninggalkan tempat peperangan, lalu ada orang yang menyampaikan kepada I Gusti Ngurah Batutumpeng, bahwa I Gusti Agung Putu masih hidup. I Gusti Ngurah Batutumpeng, berpesan : “Jangan engkau membunuhnya, karena ia telah kalah, lebih baik serahkanlah ke Tabanan, supaya dipenjara di sana”, demikianlah pesan I Gusti Ngurah Batutumpeng. Itulah sebabnya I Gusti Agung Putu diserahkan oleh rakyat Kekeran ke Linggasana, maka diterimalah oleh I Gusti Ngurah Tabanan. Hendaknya didiamkan sebentar.

Sekarang marilah kita ceritrakan I Gusti Gde Babalang, penguasa di Wratmaradesa (Marga), bawahan dari I Gusti Ngurah Tabanan, menuju tempat pelataran (balairung), saat itu kebetulan I Gusti Ngurah Tabanan didampingi oleh para tanda (patih). Setibanya I Gusti Gde Babalang, hormat, tunduk sembari menyembah. Sabda I Gusti Ngurah Tabanan :”Marilah paman menghadap, mendekat pada diriku”, I Gusti Gde Babalang mendekat. Tak diketahui apa yang menjadi pembicaraan beliau berdua, setelah lama I Gusti Gde Babalang menghadap, lalu terlihatlah I Gusti Agung Putu berbeda tempat, ditanyakan oleh I Gusti Gde Babalang. I Gusti Ngurah Tabanan, menjawab :” Itu I Gusti Agung Putu namanya, yang memerintah di desa Kaphal, tetapi telah kalah dalam peperangan, berperang dengan I Gusti Ngurah Batutumpeng, diserahkan kemari”.

Adapun I Gusti Gde Babalang, segera melirik I Gusti Agung Putu, kelihatan beliau amat sempurna dan tampan, lalu timbullah niatnya I Gusti Gde Babalang, kasihan kepada I Gusti Agung Putu. Lalu I Gusti Gde Babalang memohon kepada I Gusti Ngurah Tabanan, meminta I Gusti Agung Putu, untuk dibawa ke Marga. I Gusti Ngurah Tabanan, berkata : “Apa kepentingan paman untuk membawanya ke Marga, bagaikan memelihara anak harimau, nanti kalau ia telah besar, pamanlah yang akan diterkamnya”.

I Gusti Gde Babalang, berkata : “Apakah salahnya menolong seseorang yang sedang bersedih hati, tetapi jika ada anugrah Tuhan kepadanya, sepatutnyalah ia membalas kasih kepada yang mengasihi”, demikianlah sembah I Gusti Gde Babalang.

Dipenuhilah permohonannya oleh I Gusti Ngurah Tabanan, lalu I Gusti Agung Putu dibawa ke Marga dan disayangi oleh I Gusti Gde Babalang. Demikianlah ceritranya.

Setelah beberapa bulan lamanya I Gusti Agung Putu berada di Marga, berubahlah prilakunya, menjadi orang berethika, merendahkan diri dan mengikuti segala petunjuk I Gusti Gde Babalang. Itulah sebabnya bertambah-tambahlah kecintaan penguasa Marga, demikian juga I Gusti Agung Putu bersahabat baik dengan adik I Gusti Gde Babalang yang bernama I Gusti Celuk, tak pernah berpisah siang malam.

Marilah ceritrakan I Gusti Agung Putu, tak henti-hentinya beliau memikirkan dirinya sendiri, yakni bagaimana caranya membalas kudukaannya terhadap I Gusti Ngurah Batutumpeng penguasa Kekeran. Timbullah asratnya bagaikan telah diberi petunjuk oleh Hyang, pada suatu malam, pergilah beliau dari desa Marga, memasuki hutan belantara, yakni menuju pucak Gunung Mangu.

Tak terceritrakan perjalanan beliau, sampailah di puncak gunung, lalu beliau memusatkan pikiran kehadapan Hyang- ning Parwata, mengheningkan citta, ditutup semua panca indria. Setelah menyatu dengan alam kesucian, lalu menampakkan diri Hyang Parwata, menyambut kedatangan I Gusti Agung Putu. Sabda Ida Bhatara : ” Segera keluarkanlah ujung lidahmu”. Tidak menolak I Gusti Agung Putu, lalu ditulis ujung lidahnya. Lagi bersabda Hyang Parwata :” Hai alihkanlah penglihatanmu ke timur”. I Gusti Agung Putu menurutinya. Lalu ditanya apa yang engkau lihat ? Menjawab I Gusti Agung Putu :” Terang hamba lihat Paduka Bhatara”. Sebelumnya amat gelap, tidak kelihatan apa-apa. Arahkan penglihatanmu ke selatan, tak menolak I Gusti Agung Putu, lalu ditanyai, apa yang kamu lihat ? Menjawablah beliau :” Terang sampai samudra selatan”. Dan lagi lihatlah ke barat, menuruti juga I Gusti Agung Putu. Bhatara bersabda : “Apa yang kamu lihat ?” Menjawablah dengan menghaturkan sembah : “Amat gelap tak kelihatan apa-apa”. Sebelumnya amat jelas sampai samudranya”. Lihatlah ke utara”. I Gusti Agung Putu, tidak menolaknya. Sabda Bhatara :”Apa yang kamu lihat?” Menjawab dengan sembari menghaturkan sembah :”Terang dan bersinar yang hamba lihat”. Bersabda Ida Bhatara :”Segala yang terang yang dapat kamu lihat, semuanya itu adalah kekuasaanmu, semoga berhasil segala ucapanku”. Demikianlah sabda Bhatara dan lalu menggaib.

Setelah kejadian itu beliau sangan bahagia, jelas matilah penguasa Kekeran, demikian angan-angannya. Lalu meninggalkan pucak Gunung Mangu.

Tak terceritrakan dalam perjalanan, sampailah beliau di Wratmaradesa, bertambah-tambahlah sayangnya penguasa Marga, lebih-lebih adiknya (I Gusti Celuk), demikian juga semua abdinya. Demikian juga I Gusti Agung Putu menjadi lebih bersusila.

Tak terceritrakan siang dan malam, kebetulan I Gusti Agung Putu, bercakap-cakap dengan penguasa Marga, saat itulah I Gusti Agung Putu, memohon untuk mendirikan Puri, dengan jalan merabas hutan di selatan desa Marga. Hal itu dikabulkan oleh penguasa Marga. Diberikan 200 orang abdi pilihan, terutama I Gusti Celuk tak pernah berpisah dalam setiap perjalanan. Lalu merabas hutan ke arah selatan, terkejut I Gusti Agung Putu, karena melihat semut yang amat banyaknya, di bawah dan di atas. Terbakar oleh api yang berkobar-kobar, lalu bergulung-gulung, bagaikan jatuh pada musim hujan, diterjang oleh angin kencang, demikianlah prihal binatang itu.

Hampir-hampir I Gusti Agung Putu bersedih hati, rasa-rasanya tidak benar anugrah Hyang Parwata, karena banyak rakyatnya meninggal dimangsa oleh semut. Lalu beliau segera menghening citta, memuja Hyang Giri Parwata, ada sabda angkasa :”Ai anakku, janganlah engkau takebur, karena engkau sama sekali lupa dari asalmu, yakni tentang janjimu kepada Hyang Parwata, yang muncul di Pangelengan, pada saat engkau melihat sinar cemerlang, api yang berwarna hijau yang engkau lihat, tatkala engkau melihat ke Jambhu Dwipa, inilah yang menjaga dan membatasi kerajaanmu, ingatlah asalnya ini tiada lain akulah yang berstana di timur laut Palinggih Hyang Lingga Petak Hyang Manik Kumawang, demikianlah anakku”. Sinar ini hendaknya tempatkan pada ubun-ubunmu, ingat dengan anugrah yang lalu sampai keturunanmu dan termasuk abdimu, karena Lingga (Palinggih) ini pertemuan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, jangan disebar luaskan, amat rahasia ini “.

Pada saat itulah I Gusti Agung Putu sadar akan diri, lalu berjanji, selama hidup sampai akhir jaman disucikan oleh Jangan Sapa, jangan artinya isi dari sebuah selanggi; sapa artinya alat penyucian.

Di sanalah I Gusti Agung Putu bersama-sama abdinya, dengan hati gembira mendirikan Lingga ( Palinggih) Bhatara Bukit Sangkur, pada hari Anggara Kliwon sasih Kesanga. Setelah berdirinya Palinggih Hyang Bhatara Bukit Sangkur, hormatlah I Gusti Celuk. Merekalah yang bertugas menjaga Lingga Hyang Bukit Sangkur, di sana juga didirikan Lingga (Palinggih) sebagai tanda kemenangan, keberhasilan dan penyatuan I Gusti Agung Putu dengan I Gusti Celuk. Beliau mendapatkan keselamatan, saling mengasihi. Lingga Hyang Bukit Sangkur disebut Pura Pucak Luhur Bantas.

Pura artinya Lingga; Pucak artinya Tungtung; Luhur artinya Suci; Bantas artinya Wit. Mari tinggalkan sebentar!

Tak diceritrakan prihal merabas hutan, semuanya berlalu dengan baik, tempat itu nantinya disebut Bala-Hayu, di tempat itulah beliau mendirikan Puri, setelah selesai diupacarai sepatutnya.

Setelah beberapa tahun lamanya memerintah di Bala-Hayu, lalu berpindah di sebelah barat daya Sungai Penet, yang selalu bersama-sama dengan i Gusti Celuk dan i Gusti Gde Babalang, yang berasal dari Marga. Negara dan rakyatnya aman dan makmur, orang-orang yang dari luar desa banyak yang menyerahkan diri. Lalu I Gusti Agung Putu, melaksanakan yadnya di tempat itu, segala macam bentuk yadnya harus disucikan oleh Jangan Sapa, karena dari sanalah asal adanya penyatuan adanya Palinggih juga lambang penyatuan.

Tersebutlah I Gusti Agung Putu, telah berhasil menjadi raja besar. Kerajaan Balahayu dibelah dua oleh sungai Penet. Tetapi ada juga yang menyebabkan sedih hati beliau, karena adanya Ki Pasek Badak dan Arya Kaba-Kaba, yang belum dapat dikuasai, rakyat dan abdi selalu diganggu olehnya.

Pada hari Wrespati Pahing Prangbakat, datanglah I Gusti Ngurah Tangeb, menghadap sang raja di Puri Balahayu. Setelah sampai di dalam Puri, lalu I Gusti Ngurah Tangeb berkata : “Daulat Tuanku Gusti Agung, yang telah mendapatkan anugrah Dewa Gunung, jika Tuanku masih sayang terhadap hamba, hamba tetap bersama-sama menjalankan perintah, agar supaya berhasil menguasai Ki Pasek Badak dan Arya Kaba-Kaba”, demikianlah sembah I Gusti Tangeb.

Marilah kita ceritrakan perjalanan I Gusti Agung Putu, berpindah dari Balahayu, menuju Bekak dan mendirikan Ganter, pindah dari Bekak ke selatan, lalu mendirikan Puri. Setelah kalah Ki Pasek Badak dan menyerahnya Arya Kaba-Kaba, kemashyuran I Gusti Agung Putu telah tersebar, orang-orang luar desa datang mengabdikan diri. Puri itu disebut Kerajaan Menghapura, lalu disebut Mengwi, karena berasal dari kemenangan I Gusti Agung Putu yang maha dashyat (mangweng), demikian juga beliau mendirikan Parhyangan Taman Ayu, yang nantinya disebut Taman Ayun. I Gusti Agung Putu berganti nama I Gusti Agung Madhe Agung.

Segala perintah I Gusti Agung Madhe Agung Mengwi, memerintah dan melaksanakan yadnya pada jaman dulu, tak pernah lupa terhadap Balahayu. Itulah Puri Balahayu dan Jangan Sapa, sebagai pamarisuda yadnya. Demikianlah disebutkan oleh Bhagawan Bala Hayu Rajya.

Ada perjanjian beliau I Gusti Agung Putu yang bergelar I Gusti Agung Madhe Agung, terhadap I Gusti Babalang dan I Gusti Celuk, semua keturunannya sampai kelak kemudian hari, tidak boleh lupa bersaudara terhadap keturunan beliau keduanya, jika ada yang melanggar, semoga tidak mendapatkan kebahagiaan, tidak mendapatkan kedudukan. Demikian juga I Gusti Babalang dan I Gusti Celuk berjanji kehadapan I Gusti Agung Putu, seluruh keturunannya sepanjang jaman, tidak boleh lupa bhakti (hormat) kepada keturunan I Gusti Agung Putu, jika ada yang melanggar, semoga tidak mendapatkan kebahagiaan, menjelma menjadi orang kualat dan berdosa, demikianlah perjanjian mereka bertiga, ingatlah !.

Demikianlah yang tersurat dalam ucapan Hyang Saraswati dan Pujangga Agung, yang dipadukan dari Para Arya Tattwa, semoga mendapatkan kebahagiaan, menyucikan mendapatkan keselamatan dan semuanya berakhir dengan kebahagiaan. OM sukham bhawantu, purnam bhawantu, ksama swamam ya nama swaha. Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s