Museum Subak – Melihat Sejarah Irigasi Bali

Para generasi muda saat ini yang cenderung berkutat dengan berbagai teknologi terkini mungkin jarang sekali yang tahu dan paham mengenai Subak atau irigasi. Karena itulah perlu adanya usaha untuk melestarikan teknologi dan budaya lokal tersebut, apalagi jika hal tersebut bermanfaat untuk memajukan perekonomian lokal. Sepertinya itulah yang menjadi tujuan didirikannya Museum Subak di Bali yang diresmikan pada 1981 oleh Gubernur Bali di era itu, Ida Bagus Mantra.

Subak adalah sistem pengelolaan pendistribusian aliran irigasi pertanian khas masyarakat Bali. Sistem ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat Bali. Melalui sistem subak, para petani mendapatkan jatah air sesuai ketentuan yang diputuskan dalam musyawarah warga.

Secara filosofis, keberadaan subak merupakan implementasi dari konsep “Tri Hita Karana“, yang bila diartikan adalah tiga penyebab kebahagiaan (Tuhan, manusia dan alam). Tri Hita Karana merupakan konsep mengenai hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan antar manusia. Jadi dengan kata lain, kegiatan di dalam subak tidak selalu mengenai pertanian, tapi juga mencakup interaksi sosial antar warga dan ritual keagamaan untuk kesuksesan dalam bertani.

Bila kita meniti sejarahnya, museum ini digagas oleh seorang pakar adat dan agama yang begitu dihormati dan disegani oleh masyarakat sekitar bernama I Gusti Ketut Kaler. Alasan ia menggagas pendirian Museum Subak ialah supaya warisan leluhur budaya sejak abad ke-11 ini tetap terpelihara. Akhirnya upaya kerasnya itu terwujud dengan diberi nama Cagar Budaya Museum Subak.

Museum Subak merupakan satu-satunya museum yang mengetengahkan hal-ihwal pertanian di Bali. Di museum ini dipamerkan miniatur subak lengkap dengan gambar-gambar proses pembuatannya, seperti tahapan menemukan sumber mata air, proses pembuatan terowongan air, pembangunan bendungan, dan pembuatan saluran penghubung yang akan digunakan mengalirkan air ke sawah-sawah penduduk. Museum Subak juga memiliki data audio visual mengenai proses budidaya padi mulai dari musyawarah anggota subak, kesepakatan pengaturan air, hingga ritual keagamaan untuk memohon kesuksesan panen.

Museum ini terdiri dari bangunan terbuka dan tertutup. Bangunan tertutup museum terdiri dari stand pameran yang menampilkan benda-benda yang berhubungan dengan pekerjaan petani serta audio visual yang memperlihatkan aktivitas-aktivitas Subak dalam menangani manajemen irigasi. Sementara itu, bangunan terbuka museum merupakan visualisasi dari penggambaran Subak dalam bentuk miniatur. Miniatur tersebut terdiri dari sebuah kolam sebagai tempat relokasi irigasi, sebuah saluran untuk mengalirkan air dari kolam ke relokasi air. Benda-benda atau peralatan petani juga dipajang di dalam gedung pameran tersebut, di antaranya alat-alat kegiatan pertanian.

Di sini pengunjung dapat melihat alat-alat pertanian tradisional Bali, seperti alat pemotong dan penumbuk padi, alat pembajak sawah, serta alat untuk membetulkan saluran irigasi. Selain itu miniatur dapur tradisional dilengkapi dengan tata ruang serta perabot untuk memasak nasi. Pengunjung juga dapat menambah pengetahuan atau wawasan mengenai pertanian dengan mengunjungi fasilitas perpustakaannya. Koleksi di perpustakaan ini cukup lengkap, mulai dari berbagai kajian lintas disiplin mengenai sistem subak sampai masalah-masalah pertanian secara umum.

Museum Subak memang sudah sepatutnya dilestarikan karena menyimpan banyak aset budaya yang sungguh tak ternilai harganya. Karena itulah, sudah sewajarnya pula jika eksistensi dan keberadaan museum ini dijaga dan dilestarikan dengan segenap kemampuan supaya tak mengalami kepunahan sebab bisa dikatakan bahwa museum ini merupakan representasi sistem pertanian masyarakat Bali.

Penting untuk dicatat bahwa kekhususan dari subak adalah kegiatan ritualnya dan itulah yang membedakannya dengan sistem irigasi lain di Indonesia bahkan dunia. Beberapa upacara dilaksanakan oleh subak, mulai dari persiapan lahan sampai panen. Subak yang merupakan organisasi otonom yang mengelola daerah irigasi atau sawah tertentu, mendapatkan air irigasi dari sumber tertentu, dan bertanggung jawab untuk satu areal subak. Sampai sekarang, subak digunakan oleh pemerintah untuk kegiatan pembangunan pertanian, yaitu pada intensifikasi padi serta pengembangan koperasi.

Museum Subak berada di Desa Sanggulan, Tabanan yang berjarak sekitar 20 kilometer sebelah barat Kota Denpasar. Lokasi museum ini sangat strategis dan dekat dengan tempat-tempat wisata lainnya di wilayah tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s