Ritual Agung Briyang

Ritual Agung Briyang di rayakan setiap 3 tahun sekali pada Purnamaning Sasih Kedasa kalender Hindu Bali. Perayaan ini hanya ada di desa tua Sidetapa, Kabupaten Buleleng. Lokasi desa ini sekitar 40 km barat laut kota Singaraja.

Tujuan mengadakan Upacara Agung Briyang adalah untuk melawan dan mengusir roh-roh jahat. Peserta ritual ini adalah laki-laki warga Sidetapa yang menggunakan busana khas tradisional Bali terbaik. Tradisi unik ini masih turun-temurun dilaksanakan oleh warga setempat. Pernah suatu saat semestinya ritual ini harus dirayakan, tidak dilakukan, maka terjadi banyak bencana yang terjadi.

Ritual Agung Briyang dilakukan di tengah halaman Pura Agung Candi. Laki-laki berdiri di depan api, dan membersihkan aneka senjata yang mereka bawa seperti : keris, pedang, tombak dan lain-lain. Tujuan dari pembersihan aneka senjata tersebut adalah untuk mengusir dan melawan roh-roh jahat.

Untuk penduduk Sidetapa, ritual ini juga sebagai menghormati leluhur mereka yang dulu kebanyakan sebagai prajurit. Berdasarkan cerita rakyat, Desa Sidetapa merupakan rumah bagi prajurit kerajaan dari Kerajaan Buleleng dulu. Senjata-senjata suci diyakini memiliki kekuatan magis. Nenek moyang mereka menggunakan senjata untuk melawan musuh-musuh Kerajaan, termasuk pasukan kolonial Belanda di awal abad ke-19.

Antusiasme warga sangat tinggi dalam mengikuti upacara ini yang tergolong langka. Perempuan membawa persembahan yang warna-warni di atas kepala. Ayah dan anak-anak membawa perlengkapan lain dalam prosesi ini. Perayaan Agung Briyang atau juga disebut Karya Odalan Ngerebeg Candi tujuannya untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, menyambut para dewa, dan melawan roh-roh jahat.

Sebelum puncak Agung Briyang dilaksanakan, warga desa melakukan prosesi melasti ke sungai yang ada di Desa Sidetapa. Melibatkan ratusan masyarakat, peserta menari dan ada sampai kerauhan (trance). Dilanjutkan dengan ritual sesayutan untuk menyambut para Dewa.

Puncak peringatan disebut Briyang Agung. Keluarga membawa senjata tajam mereka, keris (belati), pedang, tombak, tombak, dan lain-lain ke dalam Candi Pura Agung. Sejumlah orang menyalakan api di tengah halaman candi. Penduduk desa kemudian membawa senjata mereka di dalam pura, dengan suara musik gamelan. Banyak perempuan juga dilakukan tarian ritual untuk menemani senjata suci. Ritual pembersihan senjata dimaksudkan untuk menangkal roh jahat apapun. Upacara Briyang adalah sarana untuk memperbaharui hubungan mereka dengan para dewa dan untuk memperkuat ikatan komunal dengan satu sama lain selama persiapan ritual rumit.

Dan sehari setelah ritual puncak dilaksanakan, warga laki-laki berburu kijang/rusa untuk keperluan upacara berikutnya. Berburu kijang di kawasan ini tidaklah mudah, karena semakin sempitnya lahan hutan yang sudah dijadikan lahan pemukiman penduduk, namun setiap akan diadakan ritual ini, pasti bisa ada saja rusa yang bisa ditemukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s