Terjemahan Babad Arya Kenceng – 5

Sambungan Bagian 4

Ya Tuhan, semoga hamba tidak mendapat halangan. Hormat hamba kepada para dewa, yang menciptakan kebahagiaan lahir bathin, yang berwujud hakekat kebijaksanaan, yang menurunkan wangsa Ksatria, hakekatnbya menjadi tujuan sembah hamba, sembah hamba pada kaki Mu, beliau yang menganugrahi kebahagiaan lahir bathin, semoga berhasil segala tujuan, tidak menjumpai halangan, sebelum hamba menguraikan ceritra tentang keturunan Ksatria. Serta permohonan maaf hamba, kehadapan Mu kawitanku, yang berwujud Omkara Mantra, semoga sempurna, mencapai keselamatan dan panjang umur, sampai kepada seluruh keturunanku, berhasil segala yang menjadi tujuan, tidak menjumpai halangan, hamba membicarakan ceritra ini, menyebut-nyebut nama beliau yang telah mencapai nirwana.

011914_1138_BabadMunang1.jpg

Marilah kita berceritra kembali, seperti apa yang telah terurai di depan, beliau yang bergelar Sirarya Kenceng, karena beliaulah yang paling disegani, menjadi patih Sri Aji Bali, yang dapat memerintahkan para punggawa semuanya, beliau bertempat tinggal di desa Pucangan, yakni desa Bwahan, di wilayah Tabanan, di sanalah beliau mendirikan Puri, diberi abdi yang terpilih, entah berapa lama beliau berada di Pucangan, beliau mempunyai banyak putra, yaitu : I Dewa Raka, bergelar Sri Magada Prabhu; I Dewa Made, bergelar Sri Magada Natha; Kyayi Tegeh, bergelar Kyayi Tegehkori, beliau pindah menetap di Badung dan I Gusti Ayu Tegehkori, kawin dengan Kyayi Asak dari Kapal.

Adapun beliau Dewa Made, yang bergelar Sri Magada Natha dan juga disebut Sirarya Ngurah Tabanan, berputra tujuh orang, perincian namanya, yaitu : I Gusti Made Kaler, beliau menurunkan Subamia dan Pamregan; I Gusti Nyoman Dawuh,; I Gusti Ktut Dangin Pangkung, beliau menurunkan Pragusti Lod Rurung, Kasimpar dan Srampingan; Sirarya Ngurah Langwang, Sirarya Ngurah Tabanan nama lainnya, karena bersinggasana di Linggasana, Silasana atau Tabanan; I Gusti Nengah Sampingboni, beliau menurunkan Pragusti Samping; I Gusti Batanancak, mendirikan rumah di Nambangan, lalu pindah dari Nambangan dan membangun rumah di Pandak, wilayah Tabanan, beliau menurunkan Pragusti Batanancak dan Angligan dan yang paling bungsu I Gusti Ktut Lebah.

Tersebutlah Sirarya Ngurah Langwang, berputra empat orang, yaitu : Sirarya Ngurah Tabanan, yang disebut Bhatara Makules, membangun Puri di Bontingguh; I Gusti Lod Carik, I Gusti Dangin Pasar, karena beliau bertempat tinggal di sebelah timur pasar Linggasana dan akhirnya beliau bergelar I Gusti Resi Suna Sakti, yang terkecil bernama I Gusti Dangin Margi, yang menurunkan Pragusti Dangin.

Sekarang marilah kita ceritrakan kembali, tersebutlah I Gusti Wetaning Pasar, yang bergelar I Gusti Resi Suna Sakti, karena beliau telah ditasbihkan dengan upacara dwijati, seorang sastrawan, berpengetahuan sempurna, berpikiran jernih, danawan, karena itu banyak mempunyai sisya, beliau meninggalkan Puri, pergi ke desa Pucuk, di sanalah beliau membangun rumah, entah berapa lamanya di Pucuk, beliau pindah lagi dari Pucuk menuju suatu tempat di tengah-tengah sungai, di tempat itu ada aliran sungai, luas dan rata, di tempat itulah beliau mendirikan rumah, yang diberi nama Hyang Soka, di sanalah beliau berdiam, bersama-sama istri dan putra-putranya. Mengapa beliau pindah dari sebelah timur pasar Linggasana (?), karena dikira angkuh oleh penguasa Tabanan, sebabnya beliau mempersembahkan makanan (hidangan), ditengah malam, pada saat beliau melaksanakan upacara Manusa Yadnya tiga bulanan (nri sasihin), itulah yang menyebabkan salah paham penguasa Tabanan, lalu diusir dari rumahnya, sehingga akhirnya menetap di Hyang Soka.

Tersebutlah Ki Pasek Tangguntiti, yang menjadi sisyanya I Gusti Resi Suna Sakti, pada suatu hari yang baik, Ki Pasek Tangguntiti akan melaksanakan upacara atiwa-tiwa, dua kali mereka datang ke Hyang Soka, untuk bertemu dengan sang pendeta, tetapi beliau tidak ada di tempat, dengan tujuan agar beliau I Gusti Resi Suna Sakti memimpin upacaranya. Demikian juga untuk memohon tirtha dalan apadang (tirtha pangentas) , untuk meruat leluhurnya , tetapi tidak berjumpa dengan Sang Resi, karena saat itu beliau memasuki hutan dan gunung, dengan tujuan matirtayatra. Itulah sebabnya Ki Pasek merasa sedih, upacaranya tidak mulus ,karena tidak ada pendeta yang akan memimpin upacaranya.Oleh karena semakin dekat pelaksanaan upacaranya, maka Ki Pasek bersama-sama dengan saudara-saudaranya mencari sang pendeta yang menjelajahi laut, hutan dan gunung; tetapi berkat titah Hyang, berjumpalah Ki Pasek dengan Sang Resi, yang sedang duduk ditengah-tengah sawah. Ki Pasek merasa bahagia hatinya, sembari berkata, “menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya’. Sang Resi berkata :” Om kamu Pasek, janganlah engkau salah paham terhadap diriku, karena saya sedang melaksanakan tirthayatra, saya tidak dapat memimpin upacaramu, pulanglah kamu ke rumahmu, tetapi saya akan memberikan tirtha dalan apadang (tirtha pangentas), yang meruat dosa leluhurmu”. Demikianlah sabda beliau, lalu mengambil air dikubangan kerbau, tidak jauh dari tempat duduknya, air itu ditempatkan pada sebuah periuk, yang telah dipuja oleh sang Resi. Setelah melakukan pemujaan, tirtha tersebut diserahkan kepada Ki Pasek, Ki Pasek menerimanya dengan senang hati lalu kembali pulang.

Tersebutlah Ki Pasek dalam perjalanan, karena kepayahan, sebab dari tiga harinya sudah berangkat meninggalkan rumah, lalu mereka istirahat dibawah pohon ‘wunut bulu’ dan tirtha tersebut diletakkan pada cabang pohon tersebut, di atas tempatnya istirahat, pada saat itu timbul pikiran-pikiran dwapara, sepertinya tidak percaya dengan keutamaan tirtha itu, karena airnya diambil dari kubangan kerbau. Terkejutlah mereka, melihat tirtha itu jatuh dari tempatnya dan mengeluarkan api berkobar-kobar, membakar pohon wunut itu, sehingga keheran-herananlah mereka menyaksikan kejadian itu yakni keutamaan tirtha tersebut. Sedihlah hatinya Ki Pasek, karena tirtha habis tanpa sisa. Lalu mereka memutuskan untuk kembali menghadap Sang Resi, untuk memohon ampun, agar beliau perkenan untuk memaafkan. Setibanya Ki Pasek dihadapan Sang Resi, dengan menyampaikan semua kejadian yang sangat menyedihkan itu. Lalu Sang Resi berkata : “Ai kamu Pasek, aku telah memaklumi, karena engkau tidak yakin akan keutamaan tirtha tersebut, karena aku mengambilnya dari kubangan kerbau, janganlah kamu bersedih, sekarang akan kuberikan tirtha dalan apadang (tirtha pangentas), untuk meruat dosa-dosa leluhurmu, tetapi dengan penuh keyakinan dan jaga dengan baik, jika tidak demikian tidak berhasil tujuanmu”. Demikianlah pesan Sang Resi, kepada Ki Pasek, lalu mereka pulang sembari menyembah Sang Resi. Setelah tiba di rumahnya, disambut gembira oleh sanak keluarganya, karena telah berhasil membawa tirtha dalan apadang. Tak terceritrakan upacaranya Ki Pasek, berhasil berkat keutamaan tirtha tersebut.

Sekarang marilah kita ceritrakan putra I Gusti Resi Suna Sakti, yang paling bungsu bernama Kryan Munang; disebut dengan Munang, karena kemampuan I Gusti Resi Suna Sakti, yakni tirthanya berubah menjadi api dan membakar pohon wunut bulu. Adapun beliau Kryan Munang, berpindah tempat yaitu di Nambangan Badung, dekat dengan I Gusti Tegehkori. Kryan Munang berputra delapan orang, perincian namanya, yaitu : I Gusti Munang, seperti nama ayahnya, disebut juga I Gusti Tegeh; I Gusti Made Munang, I Gusti Nyoman Purwa; I Gusti Ktut Tilar, I Gusti Ktut Namlang nama lainnya; I Gusti Putu Lungguh; I Gusti Made Kulon; I Gusti Nyoman Pascima; I Gusti Alit Babrasan.

Tersebutlah I Gusti Ktut Namlang, yang menyertai perjalanan I Gusti Agung Di Made, beliau itu berasal dari keturunan Sira Arya Kresna Kepakisan, yang bersahabat dengan Pangeran Kapal, beginilah jalan ceritranya.

Marilah kita ceritrakan tentang I Gusti Agung Di Made, perasaannya kurang berbahagia, karena daerah kekuasaannya dikalahkan oleh I Gusti Kaler, itulah sebabnya berkeinginan untuk mohon bantuan kepada I Gusti Tegehkori, penguasa di Nambangan. Tetapi I Gusti Tegehkori tidak bisa menerimanya, disuruhlah beliau agar mengadakan persahabatan dengan Pangeran Kapal, dengan menyerahkan seorang sanaknya putra Kryan Munang, yang bernama I Gusti Ktut Namlang, itulah sebabnya I Gusti Agung Di Made pindah dari Nambangan, bersama ketiga putranya. Pangeran Kapal dengan senang hati menerima I Gusti Ktut Namlang dan melakukan perjanjian dengan Pangeran Kapal. Karena pengaruh jaman kali, muncullah permusuhan antara Pangeran Kapal dengan Pangeran Buringkit, yang menjadi alasan, karena putri Pangeran Buringkit yang amat cantik, diambil oleh Pangeran Kapal dan dijodohkan dengan kuda peliharaannya, itulah yang menyebabkan terjadinya perang hebat. Pangeran Buringkit merasa takut berperang menghadapi I Gusti Agung Di Made, itulah sebabnya Pangeran Buringkit minta bantuan kepada I Gusti Kaler, yang berada di Jimbaran, dengan perjanjian membagi keberhasilan, maka I Gusti Kaler dapat menerima dengan baik. Esok paginya berangkat dari Jimbaran menuju medan perang, bertemu dengan I Gusti Agung Di Made, terjadilah perang tanding yang hebat, dalam peperangan itu I Gusti Agung Di Made merasa kewalahan, karena menghadapi keris Si Panglipur, sehingga I Gusti Agung Di Made, kepayahan dalam peperangan. Mundurlah beliau dan pergi ke hutan Rangkan, diikuti oleh ketiga putranya dan bersama I Gusti Ktut Namlang, oleh karena itu tidak dijumpai oleh I Gusti Kaler. Disebutkan Pangeran Kapal dengan Pangeran Buringkit, bersama-sama mati di medan perang, akhirnya I Gusti Kaler , pindah ke Buringkit dan sebagai penguasa Kapal dan Buringkit.

Ceritrakan I Gusti Agung Di Made, setelah lama beliau berada di hutan Rangkan, bersiap-siap mendirikan Puri, oleh karena besarnya pembangunan, itulah sebabnya I Gusti Ktut Namlang diutus dengan sembunyi-sembunyi ke Jimbaran, Bwalu, Serangan, untuk memohon bantuan merabas hutan untuk mendirikan pondok-pondok; rakyat Jimbaran dengan sigap memenuhi permintaan I Gusti Ktut Namlang, sebagai pertanda bakti kehadapan I Gusti Agung Di Made, seperti yang sediakala. Tersebutlah orang-orang Jimbaran berangkat bersama-sama, dengan tujuan merabas hutan, lalu kelihatanlah api berkobar-kobar, ditengah-tengah hutan bagaikan warna emas. Oleh karena demikian perabasan hutan ditujukan pada cahaya tersebut, di sana dijumpailah sebuah Parhyangan, yakni Parhyangan Masceti, di sekitar itulah mereka membangun desa dan pondok-pondik peristirahatan, yang disebut desa Kuramas.

I Gusti Agung Di Made, siang malam berada di Parhyangan Masceti, dengan tujuan untuk memohon anugrah, untuk dapat mengalahkan musuh, lalu ada anugrah Hyang-Hyangning Dalem Tawangalum kepada I Gusti Agung Di Made, menganugrahi sebuah senjata, yang mampu mengeluarkan asap dan api, lalu keris itu diberi nama I Bintang Kukus.

Berganti ceritra, yakni I Gusti Kaler yang menguasai Kapal dan Buringkit, beliau merasa tersinggung kepada I Gusti Agung Di Made, karena beliau dinyatakan membujuk rakyatnya yang berada di Jimbaran, Bwalu dan Serangan dan kembali memihak I Gusti Agung Di Made, itulah sebabnya I Gusti Kaler berasrat untuk menyerang I Gusti Agung Di Made.

Tersebutlah ada berita yang sampai kepada I Gusti Agung Di Made, telah bersiap-siap untuk menghadapi kedatangan musuh. Esok paginya datanglah I Gusti Kaler lengkap dengan senjata menyerang desa Kuramas, tak terceritrakan ramainya perang, saling pukul, saling tendang, saling tombak, berakhir dengan kekalahan pasukan dipihak I Gusti Agung Di Made, karena kebanyakan musuh yang dihadapi.

Ketika itulah I Gusti Agung Di Made, maju dalam perang dengan menghunus keris Ki Bintang Kukus, seperti namanya, mengeluarkan asap yang mengepul, kepenuhan di medan perang, hingga tidak dapat melihat lawan dan kawan, sehingga ketakutanlah para bala wadwa I Gusti Kaler, saat itu I Gusti Kaler telah merasa kalah menghadapi kesaktian I Gusti Agung Di Made. Mundurlah I Gusti Kaler bersama bala wadwanya yang setia dan dibuntuti oleh musuh dan terbunuh di Pangkung Pegat dan keris andalannya diambil oleh I Gusti Agung Di Made. Setelah I Gusti Kaler meninggal, I Gusti Agung Di Made kembali ke Kapal, menguasai Kapal dan Buringkit, bersama putranya, yakni I Gusti Agung Anom dan I Gusti Ktut Namlang yang setia menemaninya.

Adapun putra beliau I Gusti Agung Di Made, yang bergelar I Gusti Agung Putu dan I Gusti Agung Ayu Made, tetap tinggal di Kuramas. Marilah diceritrakan setelah wafatnya I Gusti Agung Di Made, I Gusti Agung Anomlah yang menggantikan kedudukannya. Beliau memiliki seorang putra, bernama I Gusti Agung Putu Agung. Adapun I Gusti Ktut Namlang, berputra dua orang, laki dan wanita, yang beribu dari Istri Serangan, putranya yang perempuan bernama I Gusti Putu Alangkajeng, juga disebut dengan julukan Ni Gusti Putu Munang dan yang laki bernama I Gusti Made Kadwa, I Gusti Made Serangan nama lainnya, beliau inilah yang selalu setia bakti dalam seperjalan menyertai jungjungannya, maupun dalam keadaan suka dan duka, selalu bersama-sama.

Tersebutlah I Gusti Agung Putu Agung telah meningkat remaja, beliau ditinggal wafat oleh ayahnya. Itulah sebabnya I Gusti Agung Putu Agung yang menggantikan kedudukannya, tetapi beliau kurang dalam hal tata kepemerintahan (catur naya upaya), beliau selalu memenuhi kepuasan indria, sama sekali tidak menghiraukan nasehat orang lain, hanya mementingkan kesenangan pribadi, tidak mau melihat kesengsaraan rakyat, seperti manca, itulah yang menyebabkan kacaunya pemerintahan. Atas dasar itu banyak para pejabat yang menentangnya, terutama I Gusti Ngurah Batutumpeng, yang berada di Kekeran. Dengan mengetahui hal itu I Gusti Agung Putu Agung, menyerang I Gusti Ngurah Batutumpeng, bersama-sama dengan rakyat yang masih setia, tak terceritrakan tentang hebatnya peperangan di sebelah utara desa Kekeran, banyak yang mati dan luka-luka. Bala wadwa I Gusti Agung Putu Agung banyak yang mati dan sisanya yang masih hidup menyerahkan diri, saat itulah I Gusti Agung Putu Agung mengamuk seorang diri dan tidak merasa takut, direbut oleh musuh, ada yang menombaki, ada yang menembak, ada juga yang memukul dengan batu, tak terbilang banyaknya senjata yang menimpa badannya, akhirnya I Gusti Agung Putu Agung pingsan, menelentang di tanah, sudah dikira wafat. Tetapi Ki Panglipur tidak diketahui oleh musuh dan ditinggal pulang ke rumahnya masing-masing, sehingga menjadi sepilah medan pertempuran itu.

Saat itulah datang I Gusti Made Kadwa dengan penuh rasa hormat, karena setia baktinya, sama sekali tidak merasa takut, walaupun dalam suasana yang amat mengerikan, maka dijumpailah I Gusti Agung Putu Agung, pingsan dan menelentang di tanah, tidak bernafas bagaikan orang sudah mati. I Gusti Made Kadwa, merasa kasihan dan menangis melihat hal yang demikian itu atas dasar kasihan kepada jungjungannya, lalu mengambil daun liligundi, untuk menutupi badan I Gusti Agung Putu Agung, sehingga mulailah beliau sadar akan dirinya, hal itu seakan-akan anugrah Tuhan. Ketika beliau sudah sadar, dilihatlah I Gusti Made Kadwa menangis disampingnya, lalu beliau mulai berkata-kata, walaupun dalam keadaan masih putus-putus : “Ai paman Kadwa, datang paman menjumpai diriku, amat bahagia hatiku, ini ada sebilah kerisku, hendaknya paman menjaganya dengan baik, supaya jangan diambil oleh musuh dan kelak dikemudian hari, janganlah keris ini diserahkan kepada orang lain, hanya kepadaku “. Demikianlah pesan I Gusti Agung Putu Agung, lalu keris itu diambil oleh I Gusti Made Kadwa dan disuruh agar segera kembali pulang, supaya tidak diketahui oleh musuh, mohon diri dengan penuh hormat I Gusti Made Kadwa, lalu kembali pulang ke rumahnya.

Marilah kita lanjutkan ceritra tadi. Setelah I Gusti Made Kadwa pulang, datanglah bala wadwa I Gusti Ngurah Batutumpeng, menawan I Gusti Agung Putu Agung, lalu diantar diserahkan di Linggasana, yakni kepada penguasa Tabanan, atas perintah I Gusti Ngurah Batutumpeng. Itulah sebanya beliau ada di sana (Tabanan).

Sekarang tersebutlah I Gusti Gde Bebalang, penguasa di daerah Marga (Wratmara), datang menghadap kepada I Gusti Ngurah Tabanan, langsung menuju balairung (tempat rapat), kebetulan saat itu I Gusti Ngurah Tabanan, berkumpul dengan para pejabat istana. Kedatangan I Gusti Gde Bebalang, lalu dilihatnya I Gusti Agung Putu Agung, berlainan tempat duduk, hal itulah yang ditanyakan oleh I Gusti Gde Bebalang. Lalu dijawab oleh I Gusti Ngurah Tabanan :” Nah itu I Gusti Agung Putu Agung namanya, penguasa daerah Kapal, tetapi telah kalah dalam peperangan, berperang dengan I Gusti Ngurah Batutumpeng dan diserahkan ke mari”.

Lalu muncullah niatnya I Gusti Gde Bebalang, kasihan kepada I Gusti Agung Putu Agung, dengan segera menyampaikan kepada I Gusti Ngurah Tabanan, untuk memohon I Gusti Agung Putu Agung, dibawa ke desa Wratmara (Marga).

Sabda I Gusti Ngurah Tabanan : “Kita Gde Marga, apa tujuanmu membawa ke Marga, karena ia bagaikan anak singa yang engkau pelihara, jika ia telah besar, engkau yang akan dimangsanya”. Menyembahlah I Gusti Gde Bebalang :”Apakah salahnya menolong orang yang sedang ditimpa kesedihan, jika ada anugrah Tuhan kepadanya, jelaslah akan membalas orang yang pernah mengasihinya”. Demikianlah atur I Gusti Gde Bebalang, penguasa wilayah Marga. Dikabulkanlah permohonan I Gusti Gde Bebalang oleh I Gusti Ngurah Tabanan, dengan segara I Gusti Agung Putu Agung diantar ke Marga, disayangi oleh I Gusti Gde Bebalang, selalu diberitahu tentang prihal japa mantra dan yoga samadhi. Setelah lama I Gusti Agung Putu Agung ada di desa marga, berubahlah prilakunya, pikirannya halus, merendahkan diri dan selalu mengikuti nasehat I Gusti Gde Bebalang, atas dasar itulah bertambah-tambah baktinya I Gusti Gde Bebalang, demikian juga adiknya I Gusti Gde Bebalang, yaitu I Gusti Celuk, saling menyayangi kedua-duanya, siang malam bersama-sama. Adapun I Gusti Agung Putu Agung, selalu berpikir, yakni supaya dapat membalas kekalahannya dengan I Gusti Ngurah Batutumpeng, lalu timbullah niatnya, bagaikan anugrah Tuhan, yakni memasuki hutan menuju pucak gunung Mangu, dengan tujuan andewasraya (perlindungan Tuhan), oleh karena keteguhan jiwanya, lalu beliau mendapatkan anugrah kewibawaan, kadigjayan, oleh Ida Bhatara Hyangning Pucak Mangu.

Marilah kita ceritrakan, setelah I Gusti Agung Putu Agung, memproleh waranugraha, lalu beliau pindah dari Marga dan menetap di Balahayu, diemban oleh I Gusti Celuk, dengan wadwa bala pepilihan 200 orang. Setelah lama menetap di Balahayu, lalu meimlih wadwa (abdi) lagi 40 orang, yang disebut pasukan “truna”, semuanya berkumis, berjiwa pemberani, semuanya mengikuti perintahnya, karena sudah kodrat Hyang, I Gusti Agung Putu Agung menjadi orang yang berwibawa, tidak ada orang yang berani menentangnya dan banyaklah para Anglurah menyerahkan diri dibawah perintahnya.

Saat itu teringatlah I Gusti Agung Putu Agung prihal keris kalilirannya, yang diberikannya kepada I Gusti Made Kadwa di Kapal, disuruh I Gusti Tangeb untuk meminta keris itu, tetapi tidak diberi oleh I Gusti Made Kadwa; kembalilah I Gusti Tangeb dengan tangan hampa, maka I Gusti Agung Putu Agung salah paham dan ingin menyerang I Gusti Made Kadwa, karena dikira tidak setia bakti seperti dahulu, lalu beliau mempersiapkan pasukan lengkap dengan senjata, terus berjalan untuk menyerang I Gusti Made Kadwa, sampailah di sebelah barat sungai Sungi, datanglah I Gusti Made Kadwa, dengan membawa keris Ki Panglipur, langsung menghadap kepada I Gusti Agung Putu Agung, tetapi tak ada orang yang mengetahuinya dalam perjalanan I Gusti Made Kadwa, karena berbeda jalan yang dilaluinya.

Setelah I Gusti Made Kadwa ada dihadapan I Gusti Agung Putu Agung, dengan penuh hormat dan menyembah, diserahkanlah keris itu, terkejutlah I Gusti Agung Putu Agung dan berkata :”Apa sebabnya paman tidak menyerahkan kepada paman Tangeb, keris yang aku minta ?” Lalu bersembahlah I Gusti Made Kadwa :”Ya, daulat Tuanku, karena hamba abdi tuan, ingat dengan pesan yang terdahulu, jika tidak tangan Tuanku yang mengambik keris ini, hamba tidak akan memberikannya”. Demikianlah atur I Gusti Made Kadwa. Maka terhenyaklah I Gusti Agung Putu Agung, dengan memukul paha, duh barulah aku teringat akan perjanjian yang lalu, lalu berkata :”Ah, amat teguh hatimu Kadwa, seperti namamu dan mulai saat ini aku dan engkau, ada bisama (perjanjian penting), sama-sama tidak boleh memutus hubungan bakti dan asih sampai kelak kemudian hari, pada hakekatnya aku dan keturunanku tidak boleh melupakan dirimu, demikian juga seketurunanmu tidak boleh lupa terhadapku dan ada anugrahku padamu, tatkala kematianmu demikian juga seketurunanmu sampai kelak, boleh menggunakan perlengkapan bhusana ksatria, seperti perlengkapan bhusanangku”. Demikianlah anugrah I Gusti Agung Putu Agung, kepada Ki Kadwa, Ki Gusti Made Kadwa menerima bisama itu dengan sembari menyembah dengan ketulusan hati. ( “Ah, pageh kita Kadwa, kadi namanta, mangke witaning hulun lawan kita, hana ubhaya hita, padha tan yogya megat bhakti asih, katekeng dlaha, kalinganya nghulun sapratisantana tan wenang lupa ri kita, mangkana juga kita sapratisantananta, juga tan wenang lupa ring hulun; mwah hana panugrahangku ri kita, ri kalaning patinta mwang sapratisantananta katekeng dlaha, wenang angrangsuk bhusana ksatriya kadi bhusanangku”).

Setelah berselang lama I Gusti Agung Putu Agung, bertempat tinggal di Balahayu, lalu pindah bertempat tinggal di Kaleran Bekak, Mengwi, lalu berganti bhiseka, dengan gelar Cokorda Ngurah Made Agung atau Cokorda Sakti Blambangan, karena telah dapat menguasai Jembrana dan Blambangan.

Adapun I Gusti Made Kadwa, disuruh membuat rumah dekat dengan beliau, yakni disebut Jeroan Munang dan saudaranya yang perempuan I Gusti Putu Alangkajeng, diambil dijadikan istri oleh Cokorda Ngurah Made Agung, berputra tiga orang, yang tertua nama beliau I Gusti Agung Made Alangkajeng, yang menengah I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng dan yang bungsu bernama I Gusti Agung Istri Alangkajeng, kawin dengan seorang Brahmana dari Geria Taman Intaran , menurunkan seorang putra setelah dwijati, bergelar Ida Padanda Made Alangkajeng.

Setelah wafatnya Ida Cokorda Sakti Blambangan, istri beliau yang bernama I Gusti Putu Alangkajeng, melakukan parama satya malabuh geni, lalu dibuatkan bangunan berupa Tugu, yang disebut Ibu dan disiwi oleh keturunan I Gusti Made Kadwa.

Tersebutlah I Gusti Made Kadwa, berpindah tempat tinggal ke Jero Serangan, berputra empat orang, perincian namanya, yaitu : Ni Gusti Putu Munang, tinggal di Jeroan Munang; I Gusti Made Jayeng, mendirikan rumah di Alangkajeng; I Gusti Ktut Nurida, mati tatkala berperang melawan I Gusti Ngurah Ayunan; I Gusti Putu Serangan, tetap di Jeroan Serangan.

Tersebutlah I Gusti Putu Serangan, setelah lama tinggal di Jeroan Serangan, berputra dua orang, perincian namanya : I Gusti Putu Tagtag, pindah dan tinggal di desa Bindu, wilayah Mengwi; I Gusti Made Mintar juga disebut I Gusti Made Serangan, tetap tinggal di Jeroan Serangan.

Ceritrakan I Gusti Made Mintar, berputra tiga orang, perincian namanya : I Gusti Putu Kukuh, tetap tinggal di Jeroan Serangan; I Gusti Made Munang, pindah ke desa Sedang, wilayah Mengwi; pada akhirnya I Gusti Made Munang berganti nama, bernama I Gusti Made Cepuk; I Gusti Nyoman Serangan, pindah ke Buduk, wilayah Mengwi.

Ada disebutkan I Gusti Made Serangan, kawin lagi dengan putri Celuk dari Kapal (Phalwa desa), berputra dua orang laki dan perempuan, yang laki bernama I Gusti Alit Munang, lebih dikenal dengan nama I Gusti Alit Serangan. I Gusti Alit Serangan, pindah dari Jeroan Serangan ke sebelah selatan Puri, dekat dengan Geria (tempat tinggal pendeta). Setelah lama tinggal di sana, lalu meninggalkan tempat itu pergi dan tinggal di desa Samuan. Saudaranya yang perempuan kawin ke Puri Carangsari (Pang Santun), keturunan Pacung, tetapi tidak berputra dan kembali pulang ke Samuan, yakni ke rumah saudaranya. I Gusti Made Serangan kawin lagi dengan seorang putri dari Tumbakbayuh, tetapi tidak berputra.

Disebutkan pula keturunan I Gusti Nyoman Serangan, yang tinggal di Jeroan Buduk, di wilayah Mengwi, yang bernama Ni Gusti Putu Kantha, seorang perempuan, meninggalkan Jeroan, karena senang dengan keindahan, lalu tinggal di desa Sampidi (Sempidi), di daerah kekuasaan Pangeran Kerthajiwa. Setelah lama tinggal di Sampidi, kawin dengan seseorang yang berasal dari Jeroan Samuan, wilayah Carangsari, dari perkawinan ini melahirkan I Gusti Gde Sempidi dan tetap tinggal di Sempidi sampai saat ini. Demikianlah disebutkan dalam Candi Padma Purana.

Tersebutlah tatkala I Gusti Agung Made Raka, menjadi Iwa Raja (raja muda), dengan gelar Anak Agung Gde Alangkajeng, lalu Puri Mbahyun di bagi dua, sebagian bagian utara, tetap bernama Puri Mbahyun, stana dari I Gusti Agung Gde Mbahyun, Anak Agung Gde Mbahyun nama lainnya. Adapun sebagian lagi di bagian selatan, disebut Puri Anyar, adalah stana dari Anak Agung Alangkajeng. Tatkala itu beliau mendirikan Pamrajan, dilengkapi dengan Paibon dan Tugu. Yang distanakan (didewatakan) pada Paibon adalah I Gusti Putu Alangkajeng istri beliau Cokorda Sakti Blangbangan, merupakan bibi dari Ida Bhatara Soring Blingbing, yang mengadakan 4 Puri , yaitu : Puri Gde, Puri Mbahyun, Puri Anyar dan Puri Grana Selat. Adapun yang distanakan (didewatakan) pada Palinggih Tugu, adalah adik dari I Gusti Putu Alangkajeng, yang disebutkan di atas, bernama Ki Kadwa (I Gusti Made Kadwa), yang disembah atau disiwi oleh seketurunan I Gusti Made Kadwa.

Pada Palinggih Paibon, disiwi dan disembah oleh keturunan Catur Puri, yang disebut di atas. Apakah sebabnya beliau Anak Agung Gde Alangkajeng mendirikan Paibon dan Tugu pada Pamrajan beliau ? Karena beliau ingat dengan bhisama leluhur beliau, yakni : yang bergelar Cokorda Sakti Blangbangan, mengadakan perjanjian dengan Ki Kadwa (I Gusti Made Kadwa), hanya satu bhisama yang harus diingat, agar supaya putra-putri keturunan Puri Mengwi dengan seluruh keturunan Ki Kadwa, sampai akhir masa, tidak boleh lupa dan selalu taat terhadap bhisama tersebut. Demikian pula seluruh keturunan Ki Kadwa patut menjaga, bakti dan membela (menghormati) Puri, hal itu disebut “anyarik” di Puri, seperti prilaku leluhurnya dahulu. Pamrajan dan Puri Anyar, selesai dibangun pada tahun Saka 1782 ( tahun 1860 Masehi).

Demikianlah yang tersurat dalam Babad Arya Kenceng dan Pamancangah Munang. Maafkanlah hamba jika ada kesalahan aksara, sebutan nama dan tutur kata yang kurang pantas.


Samapta (Tamat)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s