Terjemahan Babad Arya Kenceng – 4

Sambungan Bagian 3

Lain lagi Ki Gusti Nyoman Kelod Kawuh di Bandhana (Badung), anak Ki Gusti Upastha, sanak dari Ki Gusti Batan Ancak, tetapi tidak memproleh kedudukan di Badung, sehingga ia kembali ke Singasana. Mereka juga dititahkan oleh Sri Baginda Magada Sakti, bermukim di Pandak sebagai penguasa daerah pantai batas kerajaan.

Lontar

Dalam jangka waktu yang tidak lama, bahwa Ki Gusti Agung Made Agung, cucunda I Gusti Agung Badeng di Kramas, ia berperang dengan Ki Gusti Batu Tumpeng di Kekeran Nyuh Gading. Namun Ki Gusti Putu di Kapal, kalah dalam peperangan itu, tetapi tidak luka karena kebalnya. Oleh karena direbut musuh yang terlalu banyak akhirnya beliau tertangkap, seraya dihadapkan kepada Sri Magada Sakti di Singasana, lalu diperlakukan sangat baik I Gusti Agung Putu oleh baginda raja Tabanan, tidak berbeda dengan memperlakukan keluarga, sebab hati baginda raja Singasana, merasa seolah-olah itu adalah putra baginda.

Entah berapa bulan lamanya Ki Gusti Agung Putu menghamba di Tabanan, maka ada permohonan Kyayi Putu Balangan di Marga kepada Sri Magada Sakti, sembahnya : “Apabila diperkenankan oleh tuan hamba, maka I Gusti Agung Putu saya mohon untuk mengajak dan menjamunya di rumah saya”. Jawab baginda raja :”Saya berkenan, tetapi jangan ceroboh mengajaknya agar seperti menghormati diri saya”.

Lalu Ki Gusti Agung Putu, diajak oleh Kyayi Putu Balangan ke rumahnya di Marga, kemudian Ki Gusti Agung Putu pindah ke desa Belayu, didampingi oleh adik Kyayi Putu Balangan, bernama Kyayi Ktut Celuk, di sana Ki Gusti Agung Putu, berkemas-kemas untuk memproleh keunggulan dalam menyerang lagi desa-desa dan kelompok-kelompok, seperti : Kyayi Batu Tumpeng musuh utamanya, semua takluk setiap yang diserangnya, akhirnya Ki Gusti Agung Putu pindah rumah ke desa Mengwi, semakin besar pula kekuasaannya dan tak henti-hentinya bekerjasama dengan Sri Magada Sakti di Singasana, sebagai titik awal berdirinya kerajaan Mengwi atau Mengapura, juga disebut Kawyapura.

Kembali diceritrakan lagi baginda raja Singasana selama bertahta Sri Magada Sakti, negara aman dan sentausa tidak terdapat halangan dan hambatan, tanaman dan bahan-bahan pangan tumbuh subur dan berhasil baik, tidak ada hama penyakit, harga barang-barang murah, berkat kebijakan kepemimpinan baginda raja.

Banyak istri dan putra-putra baginda. Adapun jumlah putranya dan putri baginda raja, enam orang pria, yang terutama, bernama Ida Gusti Ngurah yang telah meninggal, kedua Arya Ida Ngurah Dawuh dan Ida Gusti Nyoman Telabah.

Sedangkan yang lahir dari panawing Kyayi Jegu, Kyayi Krasan, selanjut Kyayi Oka, lahir dari Gusti Ktut Dawuh Jalan, semua berjiwa berani dan pandai bersilat lidah, mahir dalam ilmu sastra, politik dan kerokhanian, semuanya tidak durhaka pada perintah baginda raja. Demikian perintah dan tauladan Magadaputra diikuti dengan baik.

Dan para putri baginda tujuh orang jumlahnya, yang terkemuka bernama Ida I Gusti Ayu Muter, lahir dari permaisuri dari Lod Rurung, yang diserahkan kepada sang brahmana di Pasamwan Pasekan, Ida Gusti Ayu Subamia, lahir dari permaisuri, berasal dari Jero Subamia, yang menikah dengan I Gusti Ngurah Mecutan Sakti di Badung. Dan Gusti Luh Dangin diserahkan kepada Ngakan Nyoman di Kekeran Kediri. Ni Gusti Luh Abiantubuh yang rencananya bersuamikan seorang brahmana di Dangin Carik dan Gusti Luh Puseh serta Ni Gusti Luh Bakas, diserahkan kepada Ki Gusti Nyoman Lod Rurung.

Kembali diceritrakan baginda raja Singasana, Sri Magada Sakti, suatu kebetulan menghadapi permusyawaratan di balairung, baginda duduk di atas Singasana, bertilam halus, lengkap dengan upacara kebesaran seorang raja, selalu didampingi oleh putra-putra beliau, tidak luput pula Ida Padanda Purohita, dihadap oleh para pejabat antara lain : Kryan Patih I Gusti Kukuh dan para punggawa, Kyayi Wiryeng Subamia, Kyayi Babadan Lod Rurung, serta pejabat-pejabat dari Wratmara, Kyayi Wayahan Perean, Kyayi Padangaling, serempak dengan rakyat yang dikepalai oleh Prebekel dan pemuka desa, tak terlukiskan keramah-tamahan baginda raja, tidak lain yang dimusyawarahkan hanya yang bertujuan untuk keamanan dan ketertiban negara.

Tiba-tiba datang seorang abdi, tergesa-gesa mempermaklumkan kepada baginda raja, bahwa I Gusti Agung Sakti Brambangan raja Mengwi, datang beranjangsana sedang dalam perjalanan. Kala itu baginda raja agak heran mendengar, yang semula beliau memerintahkan untuk membunuh tahanan, akhirnya tertunda pelaksanaannya. Adapun mereka yang hadir dalam permusyawaratan itu semua bersiap mengatur tata cara yang menarik, banyaknya pengiring kira-kira enam puluh orang.

Segera disapa oleh Sri Baginda raja Singasana, seraya duduk bersama-sama teratur, tidak kurang pula jamuan, sesuai jamuan tamu agung, dibarengi dengan senda gurau, sama-sama saling memuji atas kebesaran dan kekuasaan baginda masing-masing. Disana Ki Gusti Agung Brambangan memulai percakapan, katanya :’Ampun tuanku raja, apabila tuanku berkenan mengasihi ananda, awasilah keraton ananda yaitu Menghapura, sebab ananda berasrat untuk beranjangsana ke negeri Brangbangan, mungkin lama tidak akan kembali “. Demikian kata baginda raja Mengwi.

Maka dijawab oleh Sri Magada Sakti : “Janganlah sakwasangka anakku prabhu, segala permintaan anakku prabhu dapat bapa penuhi”. Demikian jawaban baginda raja Singasana, yang telah disetujui.

Tak disangka-sangka datang pula pejabat-pejabat Gusti Agung, serta rakyat berjumlah enam puluh orang, mengikuti jejak rajanya, seraya menghormat kepada kedua baginda raja, selanjutnya duduk dengan tertur. Setelah itu datanglah sajian santapan dari istana karena kebijaksanaan Ni Gusti Luh Nyoman Pasaren, bersama Ni Gusti Luh Ktut Dawuh Jalan, yang menyelenggarakan di istana, mengatur upacara selengkap-lengkapnya, dipersembahkan kepada baginda raja berdua dan kepada pejabat bawahannya, sampai dengan rakyat seluruhnya.Disana baginda raja keduanya bersantap dengan sempurna termasuk para pendeta dan pejabat-pejabat Singasana menemani pejabat-pejabat Mengwi, serta segenap hadirin. Tak terlukiskan suasana baginda bersantap dengan sempurna. Setelah itu baginda raja Mengwi kembali pulang, bersama pengiringnya. Sedangkan baginda raja Singasana, mengakhiri permusyawaratan, tidak diceritrakan kembali.

Tak disebutkan berapa lamanya, kini hampir tiba saatnya perjanjian I Gusti Agung Mengwi dengan baginda raja Singasana. Saat itulah Sri Magada Sakti memanggil rakyat untuk berangkat berjaga-jaga di keraton Mengwi sampai dengan Kaba-Kaba.

Tidak diuraikan dalam perjalanan semua telah tiba di tempat tujuan untuk berjaga-jaga, setelah baginda raja Mengwi diiringi oleh para menteri dan pasukannya, untuk beranjangsana ke Brangbangan Jawa. Demikianlah saat-saat Sri baginda Magada Prabhu, membangunpagar istana (ancaksaji) di Kaba-Kaba.

Entah berapa lama mereka berjaga-jaga di keraton Mengwi, bersama pengiringnya. Di sana laskar Tabanan terutama para punggawa juga bersama-sama pulang menuju rumahnya masing-masing. Tidak lanjut diceritrakan.

Dikisahkan pula entah berapa tahun berselang maka negara Tabanan diserang oleh I Gusti Panji Sakti dari Den Bukit, baru tiba di Wangaya, ternyata desa Wangaya itu ditaklukan dan dirusak Pura beserta Candi di Pura Luhur Wangaya oleh Ki Gusti Panji Sakti, maka dengan segera dilaporkan kepada baginda Sri Magada Sakti tentang perbuatannya, lalu beliau terkejut serta menyuruh memukul kentongan, bersuara disana-sini, gegap gempita hingga kentongan di Bale Agung yang terkenal bernama Ki Tan Kober, sambut-menyambut bantu membantu bersuara seperti bukan karena dipukul, sebab kentongan itu memang kramat, dibuat dari batang pohon ‘silaguri’ dari gunung Seloka. Demikian riwayatnya.

Serta ada keluar dari alam gaib, yakni lebah yang amat berbisa, beterbangan memenuhi angkasa, terbang menuju arah utara, segera direbut laskar Ki Panji Sakti, hingga banyak kesakitan, karena sengatan lebah berbisa, sampai kebingungan laskar Den Bukit, menghadapi serangan lebah itu. Karena tidak putus-putusnya lebah berdatangan, maka Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, merasa perbuatannya salah, merusak Pura dan menyadari pula, bahwa baginda raja Singasana dilindungi oleh Tuhan, dengan segera beliau menunggangi gajahnya mundur bersama laskarnya.

Adapun setelah laskar Tabanan tiba di Wongaya, tidak berjumpa lagi dengan musuh, karena telah mengundurkan diri, akhirnya baginda Sri Magada Saktipun kembali bersama para pejabat bawahan serta laskar rakyat, sama-sama kembali ke rumahnya masing-masing. Itulah sebanya Candi dan bangunan suci di Pura Luhur Wongaya rusak hingga sekarang.

Setelah demikian, maka berundinglah Ki Gusti Panji Sakti dengan Sri Magada Sakti Singasana, mengakui atas kesalahan perbuatannya dan berjanji bahwa sampai dengan dikemudian hari, beliau tidak akan berani dan tidak akan menyerang negara Singasana Tabanan. Maka amat gembira hati baginda Sri Magada Sakti, itulah sebanya beliau menyerahkan seorang putrinya yang bernama Ni Gusti Luh Abiantubuh, dijadikan istri oleh Ki Gusti Padang di Den Bukit, putra Ki Gusti Panji Sakti. Tidak lanjut diceritrakan.

Marilah kembali diceritrakan, raja yang memerintah di negara Badung, berputra pria dan wanita, yang wanita Ratu Ayu Pamedekan, kawin dengan putra raja Tabanan, yakni Sri Magada Sakti. Adapun yang laki bernama Sang Arya Anglurah Papak, pemberani dan amat bijaksana, beliau ini lama tinggal di Puri, setelah beliau wafat, diganti oleh putra beliau, yaitu Kyayi Tegeh dan Kyayi Bebed. Kyayi Tegeh, menggantikan menjadi penguasa. Sedangkan Kyayi Bebed, mempunyai kesenangan andewa sraya ( bertapa, bersamadhi), untuk memohon kewibawaan dan kemenangan. Pada suatu hari yang baik, beliau berangkat menuju pucak gunung Bratan, yakni di Kahyangan Batukaru.

Tatkala beliau sedang beryoga, maka datanglah Dewa yang dipuja dan menyuruhnya agar datang mohon anugrah, kepada Bhatari Danu, untuk memohon kewibawaan dan penguasa dunia. Kyayi Bebed, lalu menyembah dan mencium kaki Bhatara. Setelah itu Bhatara hilang dari hadapannya. Dengan pikiran yang suci Kyayi Bebed pulang, tak terceritrakan telah sampai di rumahnya.

Setelah berselang beberapa lama, datang hari baik, Kyayi Arya Bebed, mengikuti petunjuk Bhatara yang lalu, yakni datang ke pucak gunung Batur, bersama Kyandagala, Ki Tambyak nama lainnya. Kian kemari perjalanan beliau, melewati jurang dalam, hutan yang lebat dan menakutkan, tiada lama datanglah beliau di Panarajon.

Berjumpalah beliau Parhyangan yang suci, masuklah Kyayi Bebed, di sanalah beliau beryoga, memusatkan pikiran, mengheningkan cipta, terpusat kepada Beliau Yang Maha Suci. Lalu Beliau menampakkan diri dan bersabda :” Ai anakku Arya, aku telah mengetahui apa tujuanmu, tapi aku tidak bisa memberikan anugrah, sebaiknya engkau datang ke pucak gunung Batur, mohonlah di sana kehadapan Beliau Dewi Danu dan aku akan mengantarkanmu ke sana”. Lalu Kyayi Bebed berangkat menuju Batur, hanya dalam waktu yang sekejap dan segera sampai di pucak gunung Batur, dengan mengheningkan cipta, Dewi Danu menampakkan diri, serta memohon kepadanya, agar turun ke danau Batur. Kyayi Bebed sama sekali tidak merasa takut, akhirnya bersama-sama berjalan di atas danau Batur, sedikitpun kakinya tidak tenggelam. Saat itulah Dewi Batur bersabda :” Ai anakku, inilah pertanda engkau mendapatkan kewibawaan, dengan ketabahan hatimu, datanglah ke negeri Badung (Bandhana), di sanalah engkau akan mendapatkan kekuasaan, penguasa negeri Badung”.

Akhirnya Ida Bhatari moksa, hilang tanpa bekas,, setelah disembah oleh Kyayi Bebed. Setelah mendapatkan anugrah, lalu pulang, melewati jurang yang dalam, lereng gunung dilewatinya, hanya diterangi oleh sinarnya bulan. Ki Andagala yang selalu menyertai kemanapun mereka pergi. Tak diceritrakan dalam perjalan, sampailah mereka di rumahnya.

Tiada berselang lama, telah terbukti mereka mendapatkan kemenangan dan hidup yang bahagia, karena dasar keberaniannya, pandai berdiplomat, ahli dalam berbagai pengetahuan, dapat mengalahkan beberapa daerah, rakyatnya menjadi takluk, itulah sebagai dasar untuk berkuasa di negara Badung. Beliau berperang dengan Kyayi Arya Made Janggaran, penguasa daerah Karangasem, pertempuran amat hebat, tiada yang kalah, karena sama-sama kebal, akhirnya berpisah pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi rakyatnya banyak yang mati, terluka, adapun Kyayi Bebed, luka teriris badannya, sehingga berbekas, itulah sebanya beliau diberi julukan Kyayi Jambepule.

Adapun setelah lama, beliau mempunyai istri tiga orang, yaitu : putra Kyayi Arya Pucangan, Grama Tumbakbayuh dan putri Kyayi Panatarana dari Bebandem, semuanya berputra. Adapun istri dari Tumbakbayuh, putranya yang sulung bernama Kyayi Ngurah Glogor, yang berstana di Puri Glogor dan menurunkan Para Gusti di Glogor. Adapun yang berasal dari Pucangan, berputra Kyayi Anglurah Jambemerik, yang berstana di Alang Badung, beliau inilah menurunkan para Arya Jero Kuta dan Puri Ksatria. Sedangkan yang beribu dari Panataran, dinamai Kyayi Macan Gading, tinggal di Pamecutan, tetapi masih bayi sudah ditinggal mati oleh ibunya, sehingga dipelihara oleh Kyayi Wasitunjung Gunung dan Ki Andagala, yang menjaganya.

Ada tiga orang yang wanita, amat cantik, rupanya menawan hati, bagaikan bunga mekar, demikianlah indah warnanya. Setelah dewasa semuanya kawin, yang tertua dengan Kyayi Agung Badeng, yang menurunkan Kyayi Agung, yang menguasai daerah Kapal, seorang lagi diambil ke Puri Kesiman dan seorang lagi kawin dengan Dalem, penguasa pulau Bali, menurunkan Ksatria Klungkung kelak.

Yang berhasil menggantikan menjadi raja di Badung, adalah Kyayi Anglurah Jambemerik, yang menjadi cikal bakal di Puri Badung dan berstana di Alang Badung. Adapun setelah beliau wafat., diganti oleh putranya, yang bernama Kyayi Anglurah Jambe Ketewel, setelah lama beliau menjadi raja, akhirnya pergi ke alam baka (amoringcintya), lalu diganti oleh putranya yang bergelar Kyayi Anglurah Tangkeban. Saat beliau memerintah negara aman sentausa, karena sangat sayang pada rakyat sehingga dicintai oleh rakyat, setelah berselang lama dinobatkannya putra yang tertua, dengan gelar Kyayi Anglurah Jambe Aji. Beliau amat banyak mempunyai keturunan, menurunkan para Arya Jero Kuta, merupakan ksatria yang utama. Beliau bagaikan titisan dewa Wisnu (Narayana), karena kehalusan budinya, Puri beliau dikelilingi oleh telaga yang luas, bagaikan permata (nawa ratna) kelihatannya. Adapun gopuranya amat tinggi, bagaikan menuju antariksa, bersinar disinari oleh sinarnya matahari, demikianlah indahnya. Itulah sebabnya tersohor ke seluruh dunia, yakni Puri Satria namanya (Ksatriya Puri).

Adapun setelah lama beliau berkuasa, wafatlah beliau, lalu diganti oleh putranya yang tertua, yang menjadi penguasa di Badung, dengan gelar Kyayi Anglurah Jambe. Didampingi oleh permaisuri, yang dihormati dan disegani karena ketampanannya, beliau inilah dikenal dengan Bongso Jambe, penguasa di negeri Badung. Setelah wafat, diberi gelar Bhatara Maharaja Dewata, yang wafat di Jero Kuta.

Adapun yang tinggal di Pamecutan Kyayi Macan Gading, itulah sekarang kita bicarakan, beliau bergelar Kyayi Anglurah Pamecutan, beliau lebih dikenal dengan sebutan Bhatara yang wafat di Klotok, beristrikan wangsa Panataran, hubungan misan dari ibu, berputra tiga orang, yaitu : Kyayi Made Tegal, Kyayi Ktut Lebah, dan Kyayi Anglurah Pamecutan, beliau lebih dikenal dengan sebutan Maharaja Dewata Sakti, ada seorang saudaranya yang perempuan diserahkan kepada brahmana, berputra Ida Ngenjung di Sanur.

Marilah kita ceritrakan ceritra lama, yang bernama Sri Bandhana, yang telah berhasil memerintah negara Badung. Tersebutlah putra beliau Sri Maharaja Dewata yang wafat di Jero Kuta, yang bungsu bernama Kyayi Anglurah Jambe, karena beliau semasih kanak-kanak dipelihara oleh Kyayi Anglurah Pamecutan di Puri Agung Pamecutan, beliau itulah yang bergelar Sri Bandhana, lalu beliau membangun sebuah Pamrajan lengkap, pasimpangan gunung Batur, Jambe, Pucangan, ada di Celagi Gendong, dijaga oleh Ki Tegehan. Ki Tegehan membangun Pamrajan Kamimitan dan Kahyangan Paibon, menjadi satu di tempat itu juga, sampai saat ini.

Entah berapa lamanya Kyayi Anglurah Jambe, keturunan Sri Jambemerik, yang dijaga oleh Sri Bandhana 2. Setelah beliau dewasa dibuatkan Puri di Celagi Gendong, di luar Pamrajan, yang dijaga oleh Ki Tegehan, diberi nama Puri Anom Jambemerik, setelah beliau tinggal disana, lagi membuat Pamrajan lengkap, dilengkapi dengan Pasimpangan Uluwatu, disebelah utara Pamrajan tadi. Setelah lama, oleh karena banyak mempunyai keturunan, ada yang pindah tempat, ada di Lelangon, berada disebelah barat Lebuh Agung, membuat Puri di sebelah timur Puri sebelah selatan jalan, dan diberi nama Puri Anom Jambe. Ada saudara dari Ki Tegehan, yang menjadi Perbekel di Tainsiat, karena ia tidak mempunyai anak laki, hanya perempuan saja, itulah yang diambilnya dan tinggal di tempat itu. Ada yang tinggal di Titih, karena mengikuti keturunan Kyayi Anglurah Jambemerik, yang tinggal di Alang Badung, beliau itulah yang mendampingi Puri.

Yang menjadi penyiwi Pamrajan tersebut adalah : dari Gemeh, Krobokan, Banjar Moning, Grenceng, Panjer dan ada juga yang berasal dari tempat yang lain. Marilah kita ceritrakan tentang putra-putra angkat yang telah pernah kita sebutkan, banyak mempunyai keturunan, tempat tinggalnya, yakni : di sebelah barat Yasa Dawa ( Bale Panjang); di sebelah barat jalan, di sebelah selatan jalan Batur Gunung Jambe. Yang tinggal di sebelah barat Yasa Agung, ada juga pindah tempat, bertempat di sebelah selatan jalan ke Tamansari, sebelah timur jalan besar, dan ada pula di tepi Desa Bwahan, sebelah timur jalan. Yang menjadi Pamangku Pamrajan tersebut, bertempat tinggal di sebelah timur pohon beringin, utara jalan. Yang ke dua, ada yang pindah ke Banjar Sakenan, Tabanan, ada di Kutul, Buleleng, ada di Kulating, tetapi baru dua turunan, putuslah keturunannya. Demikianlah riwayat Ki Tegehan dari dahulu sampai sekarang, jangan lupa.

Marilah ceritrakan Ki Nyoman Tegehan yang tinggal di Kulating, setelah tinggal di sana, di sana mereka mendirikan Kahyangan Puseh, maka itu merekalah sebagai penyiwi Pura Puseh tersebut dan menjadi Pamangku di sana. Lalu Gurun Gde Raka, sampai saat ini. Adanya mereka di sana, adalah karena perintah dari Cokorda Gde Banjar, sabdanya : “Dianugrahi menjaga wilayah pantai selatan Krambitan, ada juga bisama beliau Cokorda Gde kepada Ki Nyoman Tegehan, jika nanti melakukan upacara Atiwa-tiwa, boleh menggunakan trajangan dan bade tumpang tujuh, tetapi salah satu diantara dua, jika menggunakan trajangan, jangan menggunakan bade matumpang, jangan menyamai Puri”, demikianlah bisama Cokorda Gde, yang menguasai Kurambitan. Semuanya itu telah disetujui oleh Ki Nyoman Tegehan, demikian juga mereka boleh menggunakan Bale Kembar. Demikianlah ceritranya yang tinggal di desa Kulating. Mereka banyak mempunyai keturunan. Setelah berselang lama, ada keturunannya pindah tempat, ada ke Jembrana, di desa Pendem, sampai saat ini, namanya : Ki Gurun Gadung, Ki Gurun Gde Koder, Ki Gurun Gde Raka, semuanya banyak mempunyai keturunan. Ada juga cabang yang lain, bertempat tinggal di Penyaringan, ada juga yang di Yeh Sumbul.

Kembali kita ceritrakan, tentang kedudukan Sira Arya Notor Waringin, pada saat beliau masih berada di Puri Pucangan, Bwahan, beliau berkeinginan kawin, salah seorang istrinya Rara Pucangan namanya, putra dari Kyayi Arya Pucangan yang sayang dengan Siraya Wuruju Waringin. Setelah lama bersuami istri, hamillah Si Rara Pucangan, setelah cukup umur, berputra seorang anak laki, amat tampan rupanya, yang bernama Kyayi Gde Raka, amat bahagia Sang Wuruju Notor Wandira, tatkala melihat putranya. Tiada berselang lama hamil lagi Sang Rara Pucangan, melahirkan seorang anak laki, rupanya tampan, bagaikan bunga tunjung dan memenuhi unsur sad rasa, amat bahagia menjadi orang tuanya, dinamai Sira Arya Gde Rai. Entah berapa lamanya, bagaikan tidur rasanya, anak itu sudah menginjak remaja, sudah pantas “nyungklit keris” yang selalu diemban oleh Ki Bandesa Kulating, yang bernama Ki Nyoman Tegehan. Tersebutlah Sira Arya Gde Rai, sudah dewasa, berkeinginan untuk kawin, ada gadis dari Kurambitan, itulah yang diambil dijadikan istrinya, berputra pria dan wanita, menggantikan di Puri Kurambitan, adanya sampai sekarang.

Tersebutlah kakaknya Sirarya Gde Raka, setelah dewasa, berkeinginan untuk kawin, ada gadis dari desa Bwahan, bagaikan daun muda yang menawan, namanya gadis itu Stri Miyik (Merik = harum). Gadis itulah dikawini oleh Sirarya Gde Raka. Entah berapa lamanya bersuami istri, menikmati rasa peraduan, lalu istrinya hamil, pada suatu saat lahir seorang laki, yang amat tampan, bagaikan Sanghyang Kusumastra rupanya, ada lagi istri beliau dari Tumbakbayuh, karena menyerahkan diri kepada sang baginda raja, amat senang hati baginda, lalu dikawini gadis Tumbakbayuh itu, lalu hamil dan berputra yang tampan, amat bahagia hatinya Sirarya Gde Raka, melihat ketampanan putranya, pandai dalam berbagai ilmu, tidak diceritrakan lagi tentang putra-putranya. Adapun beliau Sri Notor Wandira, diceritrakan kembali, tatkala sudah menjadi raja di Badung, dengan gelar Sira Prabhu Bandhana. Entah berapa lamanya beliau memerintah di Badung, rakyat hidup makmur, bagaikan tidak pernah ada bahaya yang melanda, oleh karena keutamaan sang raja Badung, disebabkan karena kesaktiannya, keutamaannya, dicintai rakyat, tiada lain Sang Sri Notor Wandira.

Ada sekarang titahnya, membuat Parhyangan Agung, yang disebut Panataran Panembahan Badung, yang ada sampai saat ini, sama sekali tidak hilang keutamaannya. Tersebut ada abdinya yang berasal dari Bwahan, yang menjadi pangemong putranya yang bernama Ki Gde Nyoman Tegehan, juga ikut membangun Ibu pada Parhyangan tersebut, disebut Ibu Kulating, karena Ki Nyoman Tegehan pindah ke Kulating. Ada yang menunggu Kahyangan Ibu itu, bertempat tinggal di sebelah selatan Parhyangan itu, sampai saat ini bernama Banjar Krandan.Ada dua orang keturunannya, bernama Ki Gde Seplegan dan Ki Gde Grendeng, dan keduanya banyak mempunyai keturunan. Oleh karena banyak anak cucunya, hana yang pindah ke desa Penebel, yang tetap tinggal di rumah Ki Gde Nyoman Tegal. Ada juga di Bwalu dan banyak keturunannya, ada sampai saat ini. Yang berada di Bwalu Ki Gde Sukarya, berputra dua orang Ki Gde Durya dan Ki Gde Darya, serta banyak mempunyai keturunan. Ki Gde Nyoman Tegal yang berada di Penebel, berputra tiga orang Ki Pan Rastha, Ki Gde Ganya, Ki Gde Nyoman Pari. Demikianlah kawitanmu, jangan lupa.

Kembali diceritrakan Kahyangan Kawitan di Kulating, demikian juga Pasimpangan Kahyangan Batur Pucangan Gunung Jambe, semuanya itu disungsung oleh keturunan dari putra angkat yang bernama Ki Tegehan. Ada juga penyiwinya dari Busungbiyu, karena Ki Tegehan menguasai sebelah selatan Kurambitan, seperti tersebut di depan. Karena tidak bisa sering menghadap ke Puri, demikian juga sembahyang ke Kahyangan, yang juga dihalangi oleh air, lalu Ki Tegehan di Kulating, membuat Bendesa di Tibubiyu, yang menguasai atau mewilayahi Tibubiyu. Setelah lama lalu membuat Kahyangan Tiga di sana. Mereka juga sebagai penyiwi dan langsung menjadi Pamangku, sampai saat ini. Setelah berselang beberapa lama, oleh karena banyak anak dan cucunya, ada yang pindah ke desa Tangguntiti, ada yang ke Surabrata. Yang tinggal di Surabrata, Ki Wayahan Artha, Ki Wayahan Gunas, Ki Made Myasna, Ki Wayahan Bun. Yang tinggal di Tangguntiti, Ki Wayahan Miarja, Ki Made Jaya, Yang masih tinggal ring Tibubiyu, Ki Wayahan Raguna, Ki Wayahan Miyatna. Setelah berselang lama lalu pada Kawitannya, dibangun Kawitan Pasimpangan Kahyangan Batur Pucangan Gunung Jambe, lalu mereka langsung sebagai penyiwi Kahyangan tersebut, termasuk seluruh keluarganya yang di Tangguntiti dan di Surabrata. Demikian juga yang berada di Surabrata, pertama-tama mendirikan Kahyangan Tiga , mereka langsung menjadi penyiwi dan sebagai Pamangkunya, sampai saat ini.

bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s