Terjemahan Babad Arya Kenceng – 3

Sambungan Bagian 2

Dikisahkan pada waktu Ki Gusti Ngurah Made Pamedekan, melarikan diri yang selalu dibuntuti oleh musuh, dengan cepat lalu beliau bersembunyi dibawah pohon godem dan jamawut, kebetulan ada burung perkutut bersuara bersiul-siul di atasnya, akhirnya kecewa yang mengejar, sebab tidak disangka beliau berada di sana. Setelah beliau mendapatkan kesempatan yang baik, dengan cepat beliau pergi ke arah timur, menuju Brangbangan dengan laskarnya, langsung naik ke perahunya menyeberang ke Bali Tabanan. Tak terbayangkan betapa sedih dan tangis rakyat, setelah mengetahui prihal tersebut dan setelah dilaporkan kepada dalem.

011914_1138_BabadMunang1.jpg

Setelah tidak ada lagi De Ngurah Wayahan Pamedekan, maka digantikan oleh De Ngurah Made Pamedekan, sebagai penguasa daerah Tabanan, lalu bergelar Da Angrurah Tabanan, raja Singasana.

Di sana beliau menyampaikan wejangan kepada sanak keluarganya di daerah Tabanan, bahwasanya mulai saat ini sampai dikemuadian hari, turun temurun dilarang menyiksa atau memelihara dan memakan daging burung perkutut segala jenis. Semua yang mendengar tak ada membantah bahkan bersumpah, sangat mentaati segala perintah raja, dengan demikian permusyawaratan pun berakhir, sebagai awal keturnan raja Tabanan, tidak boleh memelihara dan memakan daging perkutut dari segala jenis, yang diwariskan hingga sekarang, demikian riwayat di jaman dahulu.

Tidak lama pula beliau memimpin rakyat, maka beliaupun wafat berpulang ke alam baka, tak terlukiskan duka cita rakyat, demikian upacaranya berakhir dengan sempurna.

Demikian setelah wafat Angrurah Made Pamedekan, kembali baginda raja Winalwan memegang tapuk pemerintahan, karena cucu beliau belum dewasa. Kala itu kembali tercipta kesempurnaan negara sebagai sedia kala, bahkan untuk selanjutnya baginda raja, memikirkan agar negaranya kuat dengan jalan menghadiahkan ke lima putrinya, yaitu : I Gusti Luh Kukuh, diberikan kepada Brahmana Mpu; Gusti Luh Kukub, diberikan kepada Brahmana di Wanasari, Gusti Luh Dawuh Tanjung, diberikan kepada familinya di Batuaji Kawan, Gusti Luh Tangkas, diberikan kepada seorang ksatria Pagedangan di Batuaji Kanginan dan Gusti Luh Ktut, diberikan kepada seorang penguasa di Seseh, penuturannya terhenti sebentar.

Ada suatu ceritra tambahan, penguasa di daerah Pacung dua orang bersaudara laki-laki, yang sulung bernma Kyayi Ngurah Tamu dan adiknya Ki Gusti Ngurah Ayunan, putra Sirarya putu adalah keturunan dari Sirarya Sentong yang pertama kali bermukim di Pacung, beliau menguasai daerah di sebelah utara daerah kekuasaan Kapal sampai di pegunungan di sebelah utara.

Adapun Kyayi Ngurah Tamu dan Kyayi Ngurah Ayunan, rupa-rupanya beliau tidak cocok bersaudara, saling berebut kewibawaan, maka I Gusti Ngurah Ayunan pindah menuju desa Perean, dari sana beliau meminta bantuan kepada raja Tabanan, dengan perjanjian jika sampai kalah kakaknya di Pacung, ia berjanji akan mengabdi turun-temurun sampai dikemuadian hari, kepada baginda raja Singasana.

Setelah sama-sama setuju dengan perjanjian itu maka baginda raja Singasana, berangkat menyerang I Gusti Ngurah Tamu yang berkuasa di Pacung.Tidak diceritrakan dalam pertempuran, akhirnya gugurlah I Gusti Ngurah Tamu. Adapun segala kekayaan di Pacung, seperti keris dan tombak, semua dibawa ke Perean oleh Kyayi Ngurah Ayunan. Sedangkan rakyatnya berhasil direbut oleh Kyayi Pupuan, mulai saat itu daerah Pacung Perean sampai dengan Beratan dikuasai oleh Tabanan. Setelah itu semakin besar pulalah kerajaan Singasana.

Lama-kelamaan, cucu-cucu beliau, telah meningkat dewasa, maka diatur oleh baginda raja. Kyayi Nengah Mal Kangin, putra Kyayi Ngurah Wayahan Pamedekan, disuruh bermukim di Mal Kangin, didampingi oleh Ki Gusti Bola, Gusti Made, Gusti Kajyanan. Cucu yang lain yaitu putra Kyayi Ngurah Made Pamedekan, yang sulung dan yang kedua, sama-sama menetap di istana. Yang wanita bernama Ni Gusti Luh Tabanan, menikah dengan Ki Gusti Agung Badeng di Kapal.

Karena beliau Sang Natheng Winalwan telah lanjut usia, tiba saatnya beliau wafat bersatu dengan penciptanya, tak terlukiskan kesedihan masyarakat, juga tentang kesempurnaan upacara atiwa-tiwanya. Selesai.

Setelah wafat Bhatara Makules, digantikan oleh cucu beliau, putra Ki Gusti Made Pamedekan, yang sulung, beliau sebagai pelindung rakyat seluruh Tabanan, selanjutnya bergelar Sirarya Ngurah Tabanan, prabhu Singasana.

Selanjutnya diuraikan kembali semua pesan baginda raja yang lahir dari penawing, yaitu : Ki Gusti Bola, berputra Ki Gusti Tambuku; Ki Gusti Made, menurunkan Para Gusti Punahan; Ki Gusti Wangaya, menurunkan Para Gusti Wangasya; Ki Gusti Kukuh, berputra Para Gusti Kukuh; Ki Gusti Kajyanan berputra Ki Gusti Ombak, Ki Gusti Pringga, keduanya disebut Para Gusti Kajyanan. Ki Gusti Barengos, tidak memproleh keturunan.

Konon pada masa pemerintahan raja (cucu Bhatara makules), mungkin beliau pernah memindahkan I Gusti Suna dari ibu kota Tabanan, beginilah sebabnya : Ada bernama I Gusti Suna, keturunan dari I Gusti Dangin Pasar, yang melaksanakan upacara penyucian diri (diksa), karena ketinggian ilmu kerokhaniannya, beliau pernah mengutus untuk mempersembahkan santapan kepada raja pada pagi hari, tetapi tiba di istana pada pagi-pagi buta (parak siang). Baginda raja tersinggung dan memerintahkan agar pindah tempat ke desa Pucuk. Entah berapa lama berselang, maka Ki Gusti Suna mempersembahkan lagi santapan (panyambrama) kepada baginda raja, sehari setelah upacara (manising swakarya), baginda raja amat marah, diduga mempersembahkan bekas upacara (layudan), itulah sebabnya dialihkan, disuruh bertempat tinggal di Alanglinggah (akan diuraikan di bawah). Dalam perjalanannya sampai di sungai Otan, pengiring-pengiring yang mengusungnya berhenti karena hendak mandi. Setelah selesai mandi maka usungan itu hendak dipikulnya kembali, tetapi tidak kuasa karena terlalu berat, selanjutnya dilaporkan kepada baginda raja, beliau terdiam mengenang keutamaan dan ketinggian ilmunya Sang Resi Suna. Selanjutnya Sang Resi Suna, membangun rumah dan asrama yang nantinya dikenal dengan Hyang Soka.

Selanjutnya diuraikan tentang tata cara baginda raja mengendalikan tapuk pemerintahan, tidak seperti masa-masa terdahulu, keutuhan keamanan negaranya, bagaikan kemasukan pengaruh kehancuran, demikian niat sanak keluarga beliau. Ternyata kacau balau hati ki Gusti Ngurah Mal Kangin, berniat angkara murka, hendak merebut kekuasaan dibantu oleh para familinya dan bekerjasama dengan Ki Gusti Kaler penguasa di Penida, keturunan Kyayi Asak Kepakisan.

Entah berselang berapa bulan, baginda raja Singasana, disuruh menghadap ke istana Sukasada, atas perintah baginda Dalem. Baginda raja Singasana, lalu pergi dengan segera, diiringi oleh para sanak famili. Sedangkan kedua putra baginda masih berada di istana, dikawal oleh warga petani.

Tidak tersebut dalam perjalanan, lalu tiba di Sukasada, maka famili beliau segera menghadap kepada Dalem, mempermaklumkan bahwa raja Singasana telah datang, seraya memfitnah, terutama memohonkan hukuman kepada baginda dalem, tindakan untuk menghancurkan raja Singasana. Dalem bersabda :”Tidak berhak saya menjatuhkan hukuman kepada dinda Singasana, sebab kamu masing-masing berkeluarga, terserah kehendakmu untuk mencari jalan kematiannya dinda Tabanan, saya merestui”.

Demikian sabda baginda dalem, maka famili raja Tabanan mohon diri dan mempermaklumkan kepada raja Singasana bahwasanya dititahkan agar kembali pulang. Maka raja Singasanapun kembali dengan para pengiringnya.

Sampai di Penida, segera disergap oleh Ki Gusti Nengah Mal kangin dan pengikut-pengikutnya, berkat tipu muslihat Ki Gusti Kaler di Panida, sebab baginda raja Singasana tidak mengerti akan tipu daya yang licik, baginda kehilangan akal mengakibatkan kemangkatannya. Kala itu sebuah tombak beliau hilang tanpa sebab, karena itu prabu Singasana disebut Bhatara Nisweng Panida. Demikian akhir riwayatnya.

Dikisahkan setelah wafat Sang Ratu Nisweng panida, tak terbilang segala upacaranya. Tinggallah dua orang putra baginda yang belum dewasa, yaitu Ki Gusti Luh Kapohan terutama Ni Gusti Ayu Rai yang lahir dari permaisuri sepupu almarhum, adiknya ki Gusti Nengah Mal Kangin, yang dibawa ke Puri Mal Kangin karena kemenakannya sendiri. Ada lagi istri almarhum yang berasal dari Dawuh Pala sedang hamil. Setelah tiba waktunya lahir, seorang putra bernama Ki Gusti Alit Dawuh.

Adapun yang menggantikan kedudukan menjadi penguasa di Tabanan Kyayi Made Dalang, menguasai sebelah barat sungai Dikis dan disebelah timur sungai Dikis, dapat dikuasai oleh Kyayi Nengah Mal Kangin. Pada waktu pemerintahan kedua itu keamanan belum baik, karena hati rakyat tetap bingung, melihat situasi peraturan yang hancur lebur. Tidak lama berselang Ki Gusti Made dalang, meninggal dunia tanpa keturunan, tidak dituturkan tentang akhir upacaranya.

Diceritrakan setelah Kyayi Made Dalang meninggal dunia, seluruh wilayah Tabanan dapat dipersatukan kembali oleh Kyayi Nengah Mal Kangin.

Adapun putra raja Nisweng Panida, yang laki-laki pergi meninggalkan istana, menyelinap masuk kepelosok-pelosok desa, karena direncanakan untuk dibunuh oleh I Gusti Nengah Mal Kangin, bersama ki Gusti Kaler Panida, selalu dicari-cari oleh utusan I Gusti Kaler, tetap tidak dijumpai karena masyarakat di pedesaan semua setia bakti kepada beliau sang raja putra, semua mayarakat pedesaan melindunginya, sehingga ketika beliau berlindung di rumah Bandesa Slingsing, beliau disembunyikan digulung dengan tikar. Datang yang mencari dan bertanya, seraya dijawab dengan : “tidak ada di sini, mungkin di tempat lain”. Yang membuntuti lalu pergi.

Entah berapa lama sang raja putra disembunyikan oleh Ki Bandesa Slingsing di rumahnya, demikian juga beliau disembunyikan oleh Bandesa Pelem, kebetulan istri de Bandesa menumbuk padi dengan anaknya, di sana beliau sang raja putra menyamar bergabung dengan orang-orang menumbuk padi, seraya ditaburi dedak. Ketika datang orang yang mengejarnya, maka jawaban penduduk desa :’ kami tidak hirau, karena sedang menumbuk padi”. Yang mencaripun pergi.

Entah berapa malam lamanya bersembunyi dan dijamu di rumah Bandesa Pelem, tak terperikan betapa duka cita sang raja putra, kemudian beliau ingat, mempunyai seorang bibi di Kapal, yang menikah dengan Ki Gusti Agung Badeng, maka sang raja putra pindah dari Pelem, menuju rumah Ki Gusti Agung Badeng di Kapal, langsung menyerahkan diri kepada bibinya.

Sungguh terperanjat Ki Gusti Luh Tabanan dan Ki Gusti Agung Badeng, mendengar hal demikian, timbul rasa kecewa di hati Ni Gusti Luh Tabanan, merasakan penderitaan sang raja putra Tabanan, lebih-lebih atas wafatnya Sang Ratu Nisweng Panida. Selanjutnya lalu menyesali diri yang tak terhiburkan, akhirnya masygul hati Ki Gusti Agung Badeng dan sangat marah, karena beliau amat cinta kepada istrinya Ni Gusti Luh Tabanan, segera I Gusti Agung Badeng berangkat dengan pasukan untuk menyerang Ki Gusti Nengah Mal kangin dan Ki Gusti Panida, mendaki di Braban.

Tidak diceritrakan ramainya pertempuran, banyak jatuh korban, banyak yang menderita dan ada juga yang lari sampai ke Panida, amat hebat peperangan itu. Pada waktu itu Ki Gusti Kaler di Panida dan Ki Gusti Nengah Mal Kangin, meninggal dunia, pengikutnya banyak korban, kecuali yang lari dan menyelamatkan diri, namun ada juga yang terkejar. Setelah itu datang I Gusti Agung Badeng bersama Ni Gusti Luh Tabanan, diam di Jero Mal Kangin, mengawal baginda raja putra Ki Gusti Alit Dawuh. Adapun para pengikut yang masih hidup, yang membantu pertempuran di Panida, semuanya diborgol atas perintah Ni Gusti Luh Tabanan.

Setelah Ki Gusti Nengah Mal Kangin meninggal, beliau meninggalkan seorang putra, namun tidak ikut dikenakan hukuman, karena menanggung cacat badan, bernama Ki Gusti Perot, yang menurunkan Para Gusti Kamasan.

Sekarang diceritrakan tentang Ki Gusti Agung Badeng, ketika mengawal di Jro Mal Kangin, bersama istrinya Ni Gusti Luh Tabanan, serta mengasuh sang raja putra di Singasana, sebab belum dewasa, belum mampu mengendalikan pemerintahan. Adapun para putri baginda raja Singasana Ni Gusti Luh Kapahon diserahkan kepada Ki Gusti Babadan di Lod Rurung dan Ni Gusti Luh Rai diserahkan kepada I Gusti Bija di Bun.

Setelah itu tidak lama berselang, maka Ki Gusti Agung Badeng jatuh sakit, lalu beliau kembali pulang ke Kapal, akhirnya beliaupun meninggal dunia. Istri beliau Ni Gusti Luh Tabanan, ikut meninggal dengan jalan Satya. Tinggal seorang putri beliau bernama Ni Gusti Ayu Alit Tabanan, yang diserahkan kepada Ida Padanda Wanasara. Demikian selesai.

Setelah I Gusti Agung Badeng meninggalkan puri di Mal Kangin, famili mereka yang tertawan berusaha melepaskan diri dari ikatan itu, serta pergi ke luar daerah, ada yang kembali ke tempatnya semula. Karena dipengaruhi oleh jaman kali, negara kacau balau, rakyat saling memfitnah sesamanya, saling mementingkan diri sendiri, tidak memperhatikan penderitaan orang lain, benci kepada orang-orang baik dan jujur, irihati melihat kebesaran orang lain, para penjahat dan pengacau berkeliaran, tidak lanjut dibicarakan.

Bahwa setelah Ki Gusti Agung Badeng tidak berkedudukan di Mal Kangin, digantikan oleh Gusti Bola, memegang kekuasaan di Mal kangin, namun keamanan negara tetap belum terjamin, karena Kyayi Bola tidak mempunyai pengethuan apapun dalam upaya memimpin negara hanya terdorong oleh nafsu berkuasa dan berwibawa, ia lupa kepada sang raja putra I Gusti Alit Dawuh, diperlakukan seperti layaknya abdi saja, sebab tidak hilang kebenciaannya kepada cucunya itu hingga sangat berduka ci ta I Gusti Alit Dawuh, merasakan keadaannya sendiri, sangat kecewa melihat aturan yang hancur lebur, tetapi beliau tidak jemu-jemu berusaha untuk berbuat baik dan benar, dan juga bersiap-siap mempelajari ilmu kerokhanian.

Kemudian beliau mencapai usia dewasa, semakin tampak kebesaran jiwanya, sebab beliau seolah-olah penjelmaan Wisnu, berbudi pekerti luhur, bagaikan cahaya mentari tanpa mega, tidak pernah culas dan ingkar, beliau mencintai sesama manusia, selalu hormat manis budi bahasanya, tidak pernah menyimpang dari kebenaran.

Tidak lama antaranya maka tercurah cinta kasih para pejabat serta rakyat amat setia kepada sang raja putra Ki Gusti Alit Dawuh.

Setelah tiba saatnya timbullah suatu kesadaran akan kewajiban seorang pemimpin, mengingat pula keturunan ksatria, maka beliau bersiap-siap hendak menyerang Ki Gusti Bola, seraya berunding dengan Ki Gusti Subamia, Ki Gusti Jambe Dawuh, Ki Gusti Lod Rurung dan Ki Gusti Kukuh, yang ke-empat orang itu bersedia untuk membelanya. Demikian pula baginda raja putra, mengumpulkan rakyat dari warga pedesaan, jumlah sawidak, merupakan prajurit-prajurit terdepan. Kemudian pada suatu saat, bergerak mereka berangkat ke Mal Kangin, dengan laskar rakyat serta pemimpin-pemimpinnya, maka berhamburan rakyat Ki Gusti Bola, menghadapi serangan itu, pertempuranpun sengit, korban berjatuhan dan banyak pula yang menderita.

Ternyata kalahlah pasukan Mal kangin. Tinggal pertarungan Ki Gusti Bola, direbut, ditombaki, namun tidak luka, timbul kemarahan sang raja putra Ki Gusti Alit Dawuh, seraya mengambil sebilah tombak prajuritnya, serta menikam Ki Gusti Bola, sekaligus hingga meninggal.Turut pula putranya bernama Ki Gusti Tambuku menjadi korban.Demikian pula sanak famili dan pemuka-pemuka desa yang durhaka kepada sang raja putra semua dibunuh, kecuali yang mati dalam pertempuran, yang masih hidup semua tunduk dan takluk, mohon agar tidak dibunuh.

Dalam keadaan yang demikian ternyata telah kalah desa Mal Kangin, maka sang raja putra hendak menyerahkan kembali tombak itu kepada pemiliknya, namun seorangpun tidak ada yang mengakuinya.Tombak itu diperhatikan, jelas tombak I Sandang Lawe yang lenyap dahulu, ketika gugurnya baginda Sang Nisweng panida, selanjutnya tombak itu langsung dibawa pulang ke Singasana Tabanan, selesai.

Diceritrakan bahwa setelah meninggalnya Ki Gusti Bola di Mal kangin, tetap sang raja putra Ki Gusti Alit Dawuh, sebagai penguasa daerah Tabanan sampai dengan Mal kangin dan Marga (Wratmara), berkemas beliau untuk membuat upacara pelantikan raja serta upacara Panca Walikrama, dipuja oleh para pendeta lima orang jumlahnya, beliau yang telah berjiwa suci, mereka itu orang-orang yang disucikan di pulau Bali, tak terlukiskan kemeriahan dan kesempurnaan upacara yadnya itu.

Setelah usai yadnya itu dengan sempurna, sebagai awal mula Ki Gusti Alit Dawuh, bergelar Sri Magada Sakti, raja Singasana. Adapun yang menjabat bahudanda, Ki Nyoman Kukuh dengan pangkat patih. Sebagai punggawa Ki Gusti Subamia dan Ki Gusti Lod Rurung, dan banyak pejabat-pejabat yang lain.

Adapun istri baginda raja, seperti : Ni Gusti Luh Subamia, Gusti Luh Babadan Lod Rurung, Gusti Luh Batuaji dan Ki Gusti Luh Marga, tak terhitung lagi istri baginda raja.

Demikianlah selama Sri Magada sakti bertahta, amat aman dan tertib, seperti dahulu ketika bertahta Prabhu Winalwan adalah kompiangnya sendiri, semua tunduk mereka yang berniat jahat dan angkara, bahkan kembali berbudi pekerti yang luhur, karena khawatir melihat kesaktian baginda raja yang bersusila dan bijaksana memerintah negara, seorang yang berusia muda pemberani dan ahli peperangan, tak kurang dalam bidang ilmu kerokhanian, sampai dengan para punggawa dan pejabat lainnya, sama-sama membulatkan tekad setia bakti dan taat.

Dikisahkan pada suatu saat yang baik, baginda raja berada di ruang pertemuan, duduk di atas tilam yang indah, dihadap oleh para Punggawa, para pejabat lain terutama patih, tidak jauh adalah pendeta kerajaan dari Wanasari dan para pendeta yang lain di dalam pertemuan, sampai dengan pemuka desa dan rakyat, penuh sesak di balairung, semua hormat menghadap baginda raja. Baginda raja, bersabda : “Sekarang dengarkanlah olehmu, semua wejanganku, terutama paman patih dan punggawa, manca, sebagai saksi pendeta purohita, bahwa mulai saat ini saya tidak lagi mengabdi kepada Ksatria Dalem, karena saya menyadari bahwa kehancuran almarhum maharaja dewata yang wafat di Panida, karena tipu muslihat famili sendiri, selanjutnya direstui oleh Dalem tidak sudi menghalanginya, menurut perkiraan saya, beliau ingkar dan tidak taat menepati sabda wasiat Sri Kresna Kepakisan almarhum di Samprangan dahulu, kepada almarhum leluhur saya, yang pertama-tama sebagai penguasa daerah Tabanan”.

Wahai apakah saya bukan keturunannya, oleh almarhum yang berhasil menundukkan pulau Bali ? Untuk seterusnya semoga Ksatria itu tidak berhasil memegang tali pemerintahan negeri, para pejabat tinggi berkelompok-kelompok, bercekcok sesama pejabat. Demikian sabda baginda raja

Serempak menjawab, para pejabat terkemuka sang patih, terutama lagi sang pendeta keraton, semua mendukung titah baginda raja. Tidak terbilang keramah-tamahan baginda, semua bersuka ria, bercakap-cakap, itulah pertanda kepemimpinan yang besar dan berwibawa. Setelah itu permusyawaratanpun selesai.

Pada suatu ketika, sebuah berita sampai kepada baginda raja Singasana, bahwasanya Ida Padanda Sakti Wanasara, hendak dihancurkan oleh Kyayi Agung Putu Agung dari Keramas, diduga berbuat salah dengan paksa mengawini adiknya yang bernama Ni Gusti Ayu Alit Tabanan, tidak diketahui bahwa telah diserahkan oleh adiknya yang bernama I Gusti Agung Made Agung di Kapal. Dengan segera baginda raja Singasana mengirim utusan kepada Kyayi Subamia, serta pasukan rakyat diperintahkan untuk membela Ida Padanda Wanasara, karena baginda bersepupu dari pihak ibu dengan Ki Gusti Alit Made tabanan istri Ida Padanda Wanasara. Setelah Kyayi Subamia tiba di Wanasara serta mempermaklumkan untuk memberikan pembelaan. Namun tidak diijinkan oleh Ida Padanda, karena beliau merasa bahwa tidak berdosa, sabdanya :”Jangan demikian Kyayi, saya tidak diperkenankan, sebab saya menegakkan kebenaran, tidak lain alam Sanghyang Siwa akan saya tuju, lebih baik Kyayi kembali, permaklumkan demikian kepada yang dipertuan baginda raja Singasana dan ini sebilah keris pusaka, bernama I Tangkeb Kele, persembahkan kepada baginda raja, sebagai cendramata, tanda setia dari Brahmana Keniten ” (?).

Demikianlah kata Ida Padanda, segera terdiam Kyayi Subamia, karena tidak kesampaian niatnya untuk bertanding ketangkasan, kemudian menjawab dan tidak membantah segala sabda Ida Padanda yang mulia, selanjutnya kembali ke Singasana, mempermaklumakan kepada baginda raja, beliau termenung memikirkan kemuliaan dan keluhuran budi Ida Padanda Wanasara. Adapun keris itu langsung diserahkan kepada Kyayi Subamia, itu awal mula para Brahmana Keniten di Tabanan, berhubungan baik dengan sebilah keris I Tingkeb Kele, yang berada di Jero Subamia. Sedangkan Ida Padanda Wanasara tanpa perlawanan dibunuh oleh pasukan dari Kramas.

Diceritrakan pula baginda Sri Magada Sakti di Singasana, hendak menyerang para penguasa desa-desa yang diwilayahkan oleh Ki Gusti Kaler di Panida, karena beliau teringat akan masalah almarhum yang wafat di Panida, kemudian baginda berangkat dengan pasukan dan pemimpin rakyat menyerang desa-desa, termasuk desa Pandak, Kekeran, Kediri dan Nyitdah. Adapun sebagai penguasa desa-desa itu Ki Pungakan Wayahan di Nyitdah; Ki Pungakan Nyoman di Pandak; dan Ki Pungakan Ktut di Kekeran Kediri, mereka adalah tiga bersaudara. Anak dari Bandesa Braban, cucu dari Bandesa Braban, yang pernah mengalahkan Bhuta Gajah, di Den Bukit, yang menyakiti I Dewa Ngurah penguasa di Buleleng, itulah sebabnya I Dewa Ngurah menghadiahkan sebilah keris bernama Ki Baru Gajah dan seorang istri sedang hamil kepada Ki Bandesa. Demikian ceritranya sehingga disebut warga Pungakan.

Ada pula yang lain yang berkedudukan di desa pandak, yang bernama Sang Bagus Kasiman, semuanya itu takluk kepada sang baginda raja. Beliau Ki Pungakan Ktut di Kediri, ditetapkan sebagai pejabat. Sang Bagus Kasiman di tempatkan di Kulating, mulai saat itu semua desa-desa yang semula menjadi bawahan I Gusti Kaler Panida, takluk dan menghamba kepada baginda raja Singasana.

bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s