Terjemahan Babad Arya Kenceng – 1

Ya Tuhan, semoga hamba tidak mendapat halangan.

Sembah sujud hamba kehadapan Bhatara Hyang Suksma Wisesa, yang menciptakan baik buruknya menjadi manusia, semoga tak terhalang dalam menyusun riwayat ini, terhindar hamba dari kutukan dan dosa, bukan karena mahir tentang isi Sanghyang Purana Tattwa, sebenarnya tidak hendak durhaka untuk menyusun ceritra lama, terutama sebagai peringatan untuk keluarga besar yang seketurunan, semoga berhasil dengan sempurna.

Lontar

Marilah sekarang kita ceritrakan, sebagai kata pembukaan, pada jaman dulu diantara tahun Saka Bhasmi Bhuta rwaning wulan, 1250 sampai dengan tahun Saka Rasa Gati Tanganing Ratu, 1256, bertahtalah ratu Brha Kahuripan yang bergelar Jaya Wisnu Wardhani, raja Majapahit yang ketiga, adik dari Sri Kalagemet, raja Majapahit yang kedua, putra dari Sri Jaya Wardhana raja Majapahit yang pertama, lahir dari permaisuri putri raja Siwa Budha (raja Kerthanegara), yaitu di Singhasari, yakni keturunan Prabhu Tunggul Ametung di Tumapel dari pihak ibu dan keturunan Prabhu Ken Arok, dari pihak ayah.

Baginda raja putri adalah pengayom kerajaan Majapahit di tanah Jawa, baginda mendapatkan seorang suami, melalui sayembara, terpilih olehnya Raden Cakradhara, dari keluarga ksatria Kahuripan, dinobatkan dengan gelar Sri Kertha Wardhana, beliau diberikan kekuasaan penuh oleh Sri Mahadewi, karena amat bijaksana, terpuji tingkah lakunya, muda serta tampan dan dibantu oleh Kryan Mada, yang menjabat Patih Amengkubhumi, terkenal pintar dalam ilmu politik, pemberani dan menguasai ilmu peperangan. Beliau berhasil mempertahankan pulau Jawa, demikian ceritranya di jaman dahulu.

Tersebutkah dikerajaan Kahuripan, ada enam orang bersaudara laki-laki, yang tertua benama Rahaden Cakradhara, yang kedua Sira Arya Damar, adik beliau Sira Arya Kenceng, Sira Arya Kutawandira, Sira Arya Sentong dan yang paling bungsu Sira Arya Tan Wikan, cikal bakalnya adalah Sri Airlanggha raja Kediri.

Kembali diceritrakan, tentang ksatria enam bersaudara, yang sulung bernama Rahaden Cakradhara, amat tampan, tinggi ilmunya cerdas dan bijaksana, beliaulah yang terpilih menjadi suami oleh raja putri Bhra Kahuripan, setelah menikah beliau bergelar Sri Kertha Wardhana.

Adapun yang kedua banyak panggilan beliau, Sira Arya Damar, Sira Arya Teja, Raden Dilah dan Kyai Nala, demikian jumlah namanya. Jabatannya dyaksa, perintahnya selalu ditaati, bagaikan singa keberanian beliau.

Yang ketiga bernama Sira Arya Kenceng, terkenal tentang keganasannya, bagaikan harimau. Yang keempat Sira Arya Kuta Wandira, yang ke lima Sira Arya Sentong dan yang ke enam Sira Arya Tan Wikan, semuanya itu pandai bersilat lidah, bagaikan kelompok gandarwa prilaku mereka. Ke lima Arya itu menjadi pejabat penting, mengabdikan diri dibawah kepemimpinan Sri Maharajadewi.

Pada tahun Saka Sad Bhuta Angapit Sasangka, 1256 hancurnya raja Bedahulu di Bali yang bernama Sri Gajahwahana, hancurnya Kebo Iwa, semua terperangkap oleh siasat Ki Patih Gajah Mada, namun pulau Bali belum tunduk, karena kesaktian Krian Pasung Grigis.

Ketika itu berundinglah para pemuka Majapahit dengan pimpinan Patih Gajah Mada, merundingkan tentang penaklukan pulau Bali. Setelah matang perundingan itu maka bergegaslah mereka berangkat dengan perahu, untuk menyerbu pulau Bali, para prajurit itu dibagi tiga perjalanan.

Patih Gajah Mada, menuju ke sebelah timur pulau Bali, dibantu oleh patih keturunan Mpu Witadharma, berlabuh di Toya Anyar (Tianyar).

Adapun yang dari Bali sebelah utara Sira Arya Damar, dibantu oleh Sira Arya Sentong dan Kutawaringin, berlabuh di pantai Ularan. Sira Arya Kenceng, bersama dengan Arya Belog, Pangalasan, Kanuruhan, menuju Bali bagian selatan berlabuh di Kuta.

Saat itu rakyat Bali menjadi panik, terburu-buru para punggawa Bali berangkat berbondong-bondong ke arah tujuan, lengkap dengan senjata, ada ke timur, ke utara, ke selatan, menghadapi para prajurit dari Jawa.

Tersebutlah penyerangan Gajah Mada dari sebelah timur, seraya membakar semak belukar pegunungan, sehingga apinya berkobar-kobar, asap mengepul menjulang tinggi ke langit, tiba-tiba terlihat oleh para arya dari sebelah utara dan selatan, maka serempak para prajurit Majapahit itu mengamuk habis-habisan dengan gagah berani, sebab demikian perjanjian mereka dahulu.

Tak terkatakan betapa hebatnya pertempuran di ketiga penjuru itutikamenikam,akhirnya rakyat Bali mengalami kekalahan. Yang di sebelah timur, gugur pemuka orang Bali yang bernama Ki Tunjung Tutur, bermukim di Toya Anyar, Si Kopang yang berkuasa di Seraya, semuanya dikalahkan oleh prajurit Jawa. Lalu rakyat Bali yang masih hidup lari berhamburan, akhirnya Bali sebelah timur Tohlangkir, mengalami kekalahan.

Adapun yang berperang di pantai utara, dapat dikalahkan Si Girikmana yang bermukim di Ularan oleh Sira Arya Damar, Ki Buwan yang berkedudukan di Batur, dibunuh oleh Sira Arya Kutawandhira. Setelah gugur kedua pejabat itu, maka pasukan Balipun berlarian akhirnya kalah daerah sebelah utara gunung.

Diceritrakan mereka yang menyerang Bali dari selatan, dihadang oleh prajurit-prajurit Bali, antara lain Ki Gudug Basur, dengan jabatan Demung, serta Ki Tambyak yang bermukim di Jimbaran, bersama pasukan rakyat bersorak gumuruh. Amat hebat pertempuran itu diiringi suara gambelan gegap gempita yang bercapur dengan suara gentingan tombak, banyak rakyat yang gugur dan menderita luka-luka, rakyat Bali mengalami kekalahan, lalu mundur.

Ki Tambyak dan Ki Gudug Basur bertahan, direbut oleh para arya dan pejabat-pejabat Jawa, tak terperikan betapa hebatnya pertempuran itu sama-sama cerdik mengatur siasat, ternyata Ki Tambyak terbunuh dipenggal kepalanya oleh Sira Arya Kenceng.

Tinggal Ki Gudug Basur direbut oleh prajurit Jawa, ia kebal dan teguh tidak terlukai oleh senjata. Semakin payah ia berperang karena direbut, kemudian badannyapun lemah, akhirnya iapun gugur tanpa siksaan, disoraki oleh prajurit Jawa, mataharipun terbenam, bagaikan melerai pertempuran itu. Peperangan itu telah seminggu berjalan, ketika gugurnya Ki Gudug Basur.

Diceritrakan bahwa setelah daerah pesisir pulau Bali telah ditaklukan, tinggallah Ki Pasung Gerigis, di desa Tengkulak, bertahan di bali tengah, tidak susut kesaktiannya, pemberani dan ahli perang, cerdik mengatur siasat, mempunyai magis, hingga patih Gajah Mada menjadi bingung, tujuan Gajah Mada untuk menangkapnya hidup-hidup, atas perintah raja Majapahit.

Ketika pertempuran berhenti dimalam hari, Patih Gajah Mada berunding dengan para pemuka pasukan Jawa, terutama Sira Arya Damar, berada disebelah utara gunung (Buleleng), dimufakatkan tentang keberhasilan permintaan baginda raja Majapahit, ialah takluknya Ki Pasung Gerigis. Setelah tersusun suatu siasat yang licin, para arya seluruhnya menyetujui janji yang ditetapkan oleh patih Gajah Mada.

Keesokan harinya para prajurit Jawa serempak membalik senjata (buka sikap tempur) serta membawa bendera putih suatu tanda tidak mengadakan perlawanan, sebab demikian aturan yang ditetapkan dalam peperangan.

Setelah demikian Pasung Gerigis pun mengetahui prilaku prajurit Jawa yang hendak menyerah, beliau Ki Pasung Gerigis menjadi gembira.

Terdorong oleh takdir Yang Maha Kuasa, maka lenyap kecerdasan akalnya, tak terpikirkan dirinya didaya upayakan, tidak sadar bagaikan tidur nyenyak., hatinya seolah-olah diselubungi oleh rajah tamah, timbul kebanggaan dan tekebur dihatinya, tidak waspada dengan tipu muslihat, sebab mengandalkan kesaktiaannya yang tinggi, akhirnya prajurit Jawa disuruh agar menghadap.

Setiba para menteri Jawa itu semuanya menunduk, laksana tidak memiliki suatu keberanian, menghadap Kryan Pasung Gerigis, dengan mencakupkan tangan, serta mempermaklumkan kekalahannya, disambut dengan ucapan terimakasih oleh Pasung Gerigis.

Tidak diuraikan bagaimana akhir percakapan mereka, Pasung Gerigis kembali ke istananya di Tengkulak, bergandengan tangan dengan Patih Gajah Mada, diikuti oleh seluruh pemuka rakyat. Setelah tiba di istana tak terkatakan penyambutan mereka disertai senda gurau yang menyenangkan hati mereka masing-masing.

Di sanalah Patih Gajah Mada memasang muslihat yang licin, katanya : “Saya minta maaf kehadapan Gusti, karena mentakjubkan tersiar sampai kemana-mana konon Ki Gusti, mempunyai anjing peliharaan berwarna hitam yang dinyatakan paham pada sifat-sifat manusia, apabila Ki Gusti berkenan memanggil anjing itu dengan menjanjikan untuk diberi makan”. Demikian permintaan Patih Gajah Mada, hati Ki Pasung Gerigis menjadi senang, tidak menduga daya upaya yang mencelakakan, katanya : “Jangan bimbang dan ragu sekehendak adinda patih”.

Dengan tersenyum Ki Pasung Gerigis memanggil anjing itu. Dengan segera datang serta membawa tempurung kelapa yang bundar, namun tidak benar diberikan makanan oleh Ki Pasung Gerigis. Jelas terlihat oleh patih Gajah Mada dan segenap para arya tentang prilakunya demikian. Segera berdiri Ki Patih Gajah Mada maju dan menuding muka Ki Pasung Gerigis dengan suara yang dashyat : “Hai engkau Pasung Gerigis, jelas musnah keutamaanmu karena engkau berbuat kasar, ingkar akan kata-katamu, engkau tidak menepati janji. Semoga untuk selanjutnya hilang lenyap kesaktianmu melayang-layang, karena telah disaksikan oleh tiga belas dewata saksi dunia (Sanghyang Trayodasa saksi).

Kini bagaimana kehendakmu ? Inginkah mengadu ketangkasan padaku ? Ayo siapkan senjatamu !

Lalu terdiam kebingungan Ki Pasung Gerigis, segera hatinya menjadi lemah, ibarat disapukan seluruh kesigapannya, ditikam hatinya oleh Ki Patih Gajah Mada. Kemudian ia menjawab lemah lembut, serta menyerahkan diri dan seluruh pulau Bali, menyatakan kekalahan pulau Bali oleh kerajaan Jawa. Demikian konon, sehingga tertawannya Ki Pasung Gerigis di Tengkulak. Setelah tertawan Ki Pasung Gerigis, seluruh pemuka masyarakat Bali, serta rakyat yang masih hidup tunduk kepada Majapahit.

Diceritrakan bahwa para pemuka pasukan Jawa terutama Patih Gajah Mada dan sekalian anggauta pasukannya, bersuka ria bersama-sama memuaskan diri, sebab memang demikian suatu hadiah bagi mereka yang unggul dalam peperangan. Tak tersangka-sangka datang utusan baginda raja Majapahit putra sang Patih Tuwa, bernama Ki Kuda Pangasih adik dari Ken Bebed istri Patih Gajah Mada, dititahkan untuk melawat serta menyaksikan keadaan mereka yang berperang. Setelah tiba di Tengkulak diterima oleh Patih Gajah Mada, diuraikan dari awal peperangan, maka mereka semua bersenang hati.

Lalu berkatalah Ki Kuda Pangasih kepada Patih Gajah Mada, “Paduka Gusti, karena telah memproleh kemenangan, paduka Gusti dititahkan agar segera kembali ke pulau Jawa, sebab lama kiranya Ki Gusti meninggalkan keraton”.

Patih Gajah Mada menjawab , “saya tidak membantah segala titah baginda raja, hanya sedang mengatur para arya yang mampu mempertahankan pulau Bali ini “.

Setelah itu para arya selain Arya Damar dikumpulkan, seraya diperintahkan agar berkelompok-kelompok mempertahankan daerah tempat masing-masing, diantaranya : Sira Arya Kenceng menguasai daerah Tabanan dengan rakyat 40.000 orang. Sira Arya Kutawaringin bertahan di Gelgel dengan rakyat 5.000 orang. Sira Arya Sentong bertahan di Pacung dengan rakyat 10.000 orang. Sira Arya belog bertahan di Kaba-Kaba dengan rakyat 5.000 orang, sebab mereka adalah adik-adik dari suami Sri Maharajadewi Majapahit. Adapun para Arya yang lain, yang lain dari tiu diatur penempatannya oleh Patih Gajah Mada untuk mempertahankan pulau Bali dengan rakyat beribu-ribu, semua telah dididik oleh Patih Gajah Mada, tentang cara mengatur pemerintahan serta ilmu kepemimpinan sampai dengan ilmu politik.

Di sana para arya serempak menjawab, semua mendukung perintah patih Gajah Mada dan merekapun mensiagan dirinya dimasing-masing penjuru..

Tinggalkan sebentar para arya yang tinggal di pulau Bali, lalu diceritrakan Mahapatih Gajah Mada dan Sira Arya Damar, Ki Kuda Pangasih dengan seluruh pasukannya, semua telah siap untuk kembali ke Jawa, disertai pula oleh Ki Pasung Gerigis. Tak diceritrakan perjalanan mereka, semua telah berada di atas perahu, tak terkatakan dalam pelayaran. Berlabuh di pantai utara Jawa, langsung menuju ibu kota Majapahit, menghadap di bawah duli Sri Maharajadewi. Setelah dipermaklumkan riwayat perjalanan mereka, dari awal sampai akhir, sang raja sangat bersuka cita.

Dikemudian hari Ki Pasung Gerigis dikirim untuk menggempur pulau Sumbawa, yang selalu dibantu oleh laskar Majapahit, menyerang seorang raja tua yang berkuasa di Sumbawa, baginda bernama Didelanatha, berwajah dashyat bertaring yang kukuh dan tajam, giginya bagaikan taji, mata terbelalak seperti mata barong, mulut bergerak seperti suara guntur, tidak terceritrakan pertarungannya akhirnya keduanya gugur. Setelah gugur raja Didelanatha, sampai dengan rakyat sampai kepleosok-pelosok mengabdi kepada raja Majapahit.

Setelah pulau disebelah timur takluk kepada raja jawa, kuatlah kedudukan Sri Jayawisnu Wardhani. Tidak seorangpun berani menentang baginda. Kemudian baginda menghadiahkan kebesaran antara lain Sira Arya Damar, diangkat menjadi adipati Palembang di pulau Sumatra, Ki Kuda Pangasih diangkat menjadi adipati di Sumenep di pulau Madhura.

Adapun baginda adipati Bali kini diuraikan, begini penjelasannya, ini sebagai penyimpangan ceritra secara singkat..

Permohonan ampun saya kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, sembah sujud saya kehadapan para Dewata, yang menganugrahkan hidup dan penghidupan, semoga tercapai tujuan saya, tanpa halangan, sebelum lanjut saya menceritrakan riwayat keturunan Brahmana.

Adapun seorang Brahmana bernama Mpu Bhajrasatwa, Mpu Wiradharma, putra Mpu Paanuhun, Mpu Witadharma, Danghyang Mahadewa nama beliau yang lain, keturunan Brahma, beliau penganut Budha, dengan kepintaran yang sempurna, keutamaan Mpu Bhajrasatwa, beliau mempunyai tiga orang putra, Mpu Tanuhun, Mpu Lampita dan Mpu Adnyana.

Mpu Tanuhun berputra dua orang bernama Mpu Kuturan dan Mpu Pradah yang mengalahkan janda raja Jirah (Walu Natheng Jirah). Beliau Mpu Pradah berputra Mpu Bahula Candra, menikah dengan putri Rangdeng Jirah, bernama Dyah Ratna Manggali. Kemudian berputra laki-laki, bernama Mpu Tantular, yang mengarang Sutasoma. Mpu Tantular berputra empat orang laki-laki, bernama Danghyang Asmaranatha, Danghyang Sidhimantra, Danghyang Panawasikan, bungsu Danghyang Kresna Kepakisan, beliau dijadikan guru jungjungan oleh patih Gajah Mada. Danghyang Kresna Kepakisan, berputra empat orang, tiga orang pria dan seorang wanita, semua itu dimohon oleh patih Gajah Mada untuk menjadi raja. Yang tertua bertahta di Brangbangan, adiknya bertahta di Pasuruhan, yang ketiga putri dinobatkan di Sumbawa dan yang bungsu dinobatkan di Bali.

Tidak diceritrakan mereka yang berkedudukan di Jawa dan Sumbawa, kini diuraikan baginda raja yang berkedudukan di bali, beristana di Samprangan di sebut Bhatara Wawu Rawuh. Sri Kresna Kepakisan, Dalem Samprangan gelar beliau yang lain, diberikan kemuliaan karena prilakunya yang baik oleh patih Gajah Mada, serta keraton selengkapnya sampai dengan pakaian kebesaran, sebilah keris Ki Ganja Dungkul, lengkap selengkap-lengkapnya, selalu didampingi oleh para ksatria dan para wesia yang berasal dari Majapahit, termasuk pula para pejabat Baliaga yang masih hidup. Baginda bertahta di bali dengan sentausa, selalu bekerja sama dengan para pejabat-pejabat bawahannya, tidak kurang rasa tenggang-menenggang, amatlah tentram ketika Sri Aji Kepakisan bertahta, tidak ada percekcokan, tak ada yang berani durhaka, semua tunduk memandang kesaktian baginda raja. Demikian keadaan baginda yang berkuasa di pulau Bali.

Kini diceritrakan kembali sebagai lanjutan riwayat lama terdahulu, tentang beliau yang berhasil memerintah di daerah Tabanan.

Semoga tidak terhalang, Dengan sangat hormat saya memohon ampun kehadapan Bhatara Hyang Murti, yang saya puja dengan sari-sari aksara suci OM-kara, beliau yang telah suci, menyatu dengan para dewata, tidak henti-hentinya saya bersujud, menghormat, memohon kesucian lahir bathin, agar dianugrahkan kepada saya, restu untuk menceritrakan riwayat beliau, bila ternyata kurang atau lebih, semoga tidak menimbulkan kutuk dan dosa dari leluhur yang tertinggi terdahulu, yang telah berhasil memproleh kebaikan abadi dan terpuji. Demikianlah permohonan saya, serta terakhir semoga panjang umur.

Kembali diceritrakan riwayat di depan, kelanjutan riwayat jaman bahari, beliau yang pertama kali tiba di Bali bernama Bhatara Arya Kenceng, yang berkuasa didaerah Tabanan, beristana di sebuah desa bernama Pucangan atau Buwahan di sebelah selatan baleagung, batas daerah kekuasaan beliau : sebelah timur sungai Panahan, sebelah barat sungai Sapwan, sebelah utara gunung Bratan atau Batukaru, sebelah selatan daerah-daerah di utara desa Sanda, Kurambitan, Blungbang, Tangguntiti dan Bajra, sama-sama daerah kekuasaan Kaba-Kaba, mulai tahun Saka Sad = 6; bhuta = 5; manon = 2; jadma = 1; 1256 Saka, serta membuat sebuah taman, di sebelah tenggara istana bernama Tamansari, istana selengkapnya sampai dengan pakaian kebesaran seorang menteri. Amat tertib jalan pemerintahannya, tidak seorangpun berani durhaka atas kebesaran wibawa Bhatara Arya Kenceng, sebab beliau menerapkan disiplin yang membaja, tidak ketinggalan sifat ramah tamah dan manis dalam kepemimpinannya, beliau menguasai berbagai ilmu pengetahuan, juga seorang yang gagah perkasa unggul dalam peperangan.

Adapun beliau Bhatara Arya Kenceng, menikah dengan seorang keturunan brahmana di Ketepengreges wilayah Majapahit, sang putri tiga bersaudara. Yang tertua menikah dengan Dalem Sri Kresna Kepakisan, yang ketiga menikah dengan Arya Sentong dan yang ke dua menikah dengan Bhatara Arya Kenceng.

Lagi pula Bhatara Arya Kenceng, setiap saat sebagai pucuk pimpinan menghadap ke Samprangan, sebab beliau menjabat Menteri Utama disamping raja. Beliau pandai membesarkan semangat raja, maka amatlah gembira baginda raja, karena tulus ikhl;as pengabdiannya, hingga turun titah Bhatara dalem kepada Bhatara Arya Kenceng, demikian :”Wahai dinda Arya Kenceng, karena saya telah yakin akan pengabdian dinda yang tulus ikhlas, kini saya menyampaikan wasiat utama kepada dinda, terus-menerus sampai anak cucu dan puyut dinda dengan saya turun-temurun, agar tetap saling mencintai, dinda berhak mengatur tinggi rendah kedudukan derajat kebangsawanan dan menjatuhkan hukuman atau denda yang berat dan ringan dan juga dinda berhak mengatur seluruh para arya, sedangkan para arya itu dilarang membantah adinda”.

Tentang tata cara pembakaran jenazah (atiwa-tiwa), dua hal jangan dipergunakan, satu boleh, sebab tiga hal dianggap utama, yaitu : Bandhusa, nagabandha dan usungan bertingkat sebelas. Lain dari pada itu, sebanyak-banyaknya adinda dapat memakainya, sebab dinda adalah keturunan ksatria, bagaikan para dewata di bawah pengaturan Hyang Paramestiguru. Demikian dinda menjadi pejabat pendamping saya. Setelah itu permusyawaratan itupun ditutup, mereka yang menghadap sama-sama pulang menuju rumahnya masing-masing.

Diceritrakan beliau Bhatara Arya Kenceng, entah berapa tahun berselang, beliau berputra laki-laki lahir dari ibu Brahmani. Kemudian setelah dewasa, putra beliau itu selalu bersahabat dengan putra baginda raja (Dalem) dan putra Arya Sentong, yang sama-sama lahir dari wanita brahmani.

Lama kelamaan setelah tiba saatnya, wafat beliau Bhatara Arya Kenceng, tak terkatakan betapa sedihnya rakyat. Pada hari yang baik dilaksanakan upacara pembakaran jenazah, sesuai dengan anugrah Dalem, menggunakan bade tingkat sebelas, hal mana diwariskan sampai sekarang. Adapun roh sucinya (dewa Pitara), dibuatkan tugu penghormatan (Padharman) disebut Batur, yang selanjutnya disungsung oleh keturunan beliau hingga sekarang dan selanjutnya.

Demikian riwayat Bhatara Arya Kenceng dulu, dari awal sampai akhir, semoga saya tidak terkutuk, karena menceritrakan sejarah jaman masa silam hingga sekarang, panjang umur dan sempurna hendaknya.

Pada saat-saat memuncak kerajaan Bhatara Arya Kenceng, sebagai perintis di bali, mengendalikan pemerintahan di negara Tabanan, beliau meninggalkan empat orang putra, tiga orang pria dan seorang wanita. Yang sulung pria bernama Dewa Raka, dengan gelar Sri Magadaprabhu, yang ke dua juga pria bernama Dewa Made, bergelar Sri Magadanatha, Sira Arya Ngurah Tabanan nama lainnya, mungkin ke duanya itu beribu brahmani. Yang lahir dari lain ibu, putra ketiga pria bernama Kyayi Tegeh atau Tegehkori, lalu adiknya yang bungsu seorang wanita, mungkin beribu wanita Tegeh Kori.

Beginilah keadaan ke empat putra Sira Arya Kenceng itu Sri Magadaprabhu tidak tertarik hatinya pada kebesaran dan kekuasaan, maka tahta kedudukan ayahnya, diserahkan kepada putra kedua, yang menggantikan kedudukan ayahnya, sehingga bergelar Sira Arya Ngurah Tabanan.

Adapun Kyayi Tegehkori, beliau berpindah tempat berkedudukan di Badung, di sebelah selatan kuburan Badung, beliau memerintah wilayah negara badung, beliau mendirikan bendungan di Pegat, beliau juga menurunkan warga besar yang disebut warga Para Gusti Tegeh. Yang bungsu seorang wanita, menetap tinggal di istana.

bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s