Puputan Membela Kepatutan

Puputan adalah berperang sampai akhir, yang mana pemimpin beserta seluruh anak buahnya yang ikut perang, tewas bersama-sama dalam menghadapi musuh di medan perang. Dalam masyarakat Bali ada suatu istilah “matelasan tan kayun dados bebandan” artinya puputan, karena tidak ingin menjadi orang yang terjajah. Dalam hal ini jelaslah bahwa puputan itu mengandung suatu nilai yang sangat utama, yang merupakan sikap hidup orang Bali, yang pada hakekatnya merupakan pencerminan dari penghayatan agama yang dianutnya (Hindu).

Sikap hidup yang dimaksud adalah sikap mental. Suatu sikap yang pada hakekatnya adalah potensi pendorong yang ada dalam jiwa individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya, beserta yang ada dalam lingkungan itu. Suatu sikap biasanya ditentukan oleh unsur-unsur, seperti : keadaan fisik individu, situasi dan kondisi, keadaan jiwa dan norma-norma yang dianutnya.

Ajaran agama Hindu membentuk tatanan sikap dan tingkah laku masyarakat Bali, tercermin dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, mulai dari kegiatan kehidupan yang bernilai ritual, sampai kepada yang bernilai materi dan jasmani, serta sikap meletakkan diri selaku alam mikro di dalam alam makro. Karena itulah semua proses dan produk budaya merupakan pencerminan sikap hidup masyarakat Bali.

Sikap hidup atau sikap mental orang Bali (Hundu) dalam kaitannya dengan “jiwa puputan” yakni sikap hidup yang berorientasi kepada kebenaran. Dalam lubuk hati umat Hindu (Bali) telah tertanam, suatu keyakinan yang tinggi, yakni “satyam ewa jayate“, artinya hanya kebenaran yang pada akhirnya akan unggul. Kebenaran yang diyakini selalu dipertahankan dari segala rintangan dan tantangan dari manapun dan dari siapun datangnya dan dalam bentuk serta dalam manifestasi apapun tampaknya. Hal itu dipertegas lagi dengan slogan “dharma raksatah raksitah” artinya siapun yang membela dan melindungi kebenaran (dharma) ia akan dibela dan dilindungi oleh dharma itu sendiri.

Konsep ajaran Hindu yang menjadi landasan dasar berpijak, sebagai wujud terjadinya jiwa puputan itu, telah tercermin dalam kitab-kitab suci Hindu. Dalam Bhagawadgita, disebutkan :

swadharmam api cha weksya, na wikampitum archasi, dharmyad dhi yuddhach chreyo ayat, ksatriyasya na widyate. (Bhagawadgita, II,31)

Apalagi sadar akan kewajibanmu, engkau tidak boleh gentar, bagi ksatria tiada kebahagiaan lebih besar, dari pada bertempur menegakkan kebenaran.

Jelaslah di sini bahwa tugas dan kewajiban seorang ksatria, adalah melaksanakan swadharmanya, yakni budi pekerti seseorang yang tepat menurut kewajiban hidupnya sendiri. Yang mana Arjuna sebagai Ksatria, mempunyai tugas dan kewajiban untuk bertempur demi kebenaran, yaitu membela tanah air, bangsa dan agama. Yang penting diingat melaksanakan swadharma, adalah amat mulia, walaupun belum sempurna dan amat lebih utama dari melaksanakan paradharma yang penuh mengandung bahaya.

yadrich chaya cho `papanam, swargadwaram apawritam, sukhinah ksatriyah partha, labhante yuddham idrisam. (Bhagawadgita, II,32)

Berbahagialah para ksatria, Oh Partha, dapat kesempatan untuk bertempur, tanpa dicari-cari baginya, pintu sorga telah terbuka.

Swadharma bagi ksatria adalah bertempur membela kebenaran yang juga dianggap merupakan suatu kesempatan untuk mengabdikan dirinya, untuk berkorban demi bangsa, negara dan agamanya.

Yang mana dalam Kekawin Bharatayudha, dalam manggalanya disebutkan :

Sang suramriha yajna ring samara mahyunilanganikang parangmuka, Lila kambangura sekar taji ni kesaning ari pejahing rananggana,

Urnaning ratu mati wijanira kundanira nagaraning musuh geseng, Sahitya huti tendasing ripu kapekani rathanika susrameng laga.

“Sang pahlawan ingin bersaji di medan perang dan bertujuan untuk membinasakan musuhnya. Yang merupakan taburan bunga yang indah adalah untaian bunga di atas rambut yang gugur di medan perang. Urna hiasan manikam didahi raja yang telah meninggal merupakan (taburan) beras persajian; negara musuh yang terbakar adalah tempat api persajian. Yang disajikan adalah kepala musuh yang telah terpenggal di atas keretanya, setelah bertempur tidak mengenal mundur di medan peperangan”

Atha chet twam imam dharmyam, samgramam na karisyasi, tatah swadharmam kirtim cha, hitwa papam awapsyasi. (Bhagawadgita II,33)

Tetapi jika engkau tiada melakukan, perang menegakkan kebenaran ini, meninggalkan kewajiban dan kehormatanmu, maka dosa papalah bagimu.

Yang dimaksud dengan perang dan ksatriya adalah mempunyai pengertian yang mendalam dan bersifat spiritual, yaitu perang menegakkan kebenaran, mempunyai arti lebih dari sekedar membela tanah air, bangsa dan agama. Ia juga mengandung pergulatan bathin antara yang benar dan yang salah dan mereka yang menghindar dari tugas dan kewajiban, karena perasaan lemah dan takut adalah sama dengan berbuat dosa. Sedangkan yang dimaksud dengan ksatriya bukanlah merupakan asal kelahiran atau keturunan, melainkan seseorang yang memiliki sifat dan kemampuan sebagai seseorang yang mempunyai swadharma menegakkan kebenaran dalam membela tanah air, bangsa dan agama.

Hato wa prapsyasi swargam, jitwa wa bhoksyase mahim, tasmad uttistha kaunteya, yuddhaya kritanischayah. (Bhagawadgita II,37)

Andaikata tewas, engkau akan pergi ke sorga, atau kalau menang, engkau akan nikmati dunia, maka itu bangkitlah, Kuntiputra bulatkan tekad, bertempur maju

Setelah mengungkapkan kebenaran yang tertinggi, yaitu jiwa atau atma dan ketidak kekalan badan jasmani, Sri Kresna dengan tegas menjelaskan tugas dan kewajiban seorang ksatriya, baik dilihat dari segi kebenaran methaphisika ataupun kewajiban sosial pada umumnya. Jelaslah bahwa untuk mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi, dengan jalan melakukan tugas dan kewajiban atas dasar semangat kebenaran.

Hal yang serupa dengan ini dilukiskan dalam Kekawin Sutasoma, buah karya Mpu Tantular;

“Pireka sakitning pejah pira ta ramyaning ahuripa yan kaduryasan,

(Seberapakah sakitnya orang mati dan seberapakah senangnya orang yang hidup, tetapi tanpa menunaikan tugas dengan baik).

Haneka mahurip paratra sama mati kahidepika jiwasatmaka;

(Ada orang yang masih hidup tetapi sama dengan orang mati).

Ikang mati matinggaling rana uripnika kahidepanganti ring kawah;

(Orang yang mati karena lari dari medan perang, jiwanya akan mendapatkan neraka).

Ikang bhimukeng rananggana paratra kahidepika jiwaning jagat”.

(Mereka yang mengamuk di medan perang, jika meninggal, merekalah yang disebut dengan pahlawan).

Lebih lanjut dijelaskan dalam Bhagawadgita II,38. :

Sukha duhkhe same kritwa, labhalabhau jayajayau, tato yuddhaya yujyaswa, nai `wam papam awapsyasi.

Dengan menganggap suka dan duka, laba dan rugi, menang dan kalah, sama, kemudian terus maju bertempur, engkau tiada melakukan dosa.

Di sini dijelaskan bahwa dalam menjalankan tugas kewajiban (swadharma), bukanlah masalah kemenangan, kesenangan duniawi dan kekuasaan yang tiada terbatas yang dicari, melainkan suatu metoda yang menjelaskan bahwa melaksanakan dharma itu bukan menginginkan sorga dan kebahagiaan duniawi. Namun lebih ditekankan bahwa berdasarkan semangat dan keyakinan mengenai suka dan duka, menang dan kalah itu adalah sama dan dengan semangat dan keyakinan yang demikian memberikan pengertian bahwa melakukan dharma itu dalam situasi dengan tanpa suatu ikatan. Yang dimaksud dengan ikatan di sini ialah mengenai ikatan pada dharma itu dan juga ikatan yang menyangkut masalah keinginan untuk mendapatkan hasil.. Dengan jalan yang demikian karma dapat dilaksanakan dengan tanpa menambah beban, sehingga jalan menuju kelepasan dapat ditempuh.

Demikianlah beberapa sloka, yang menjelaskan peranan dharma dalam kehidupan, yakni dengan sungguh sadar bahwa kehidupan ini harus menjalankan swadharma kita masing-masing.

Rupa-rupanya konsep ajaran inilah yang memberikan ilham kepada Ida Cokorda Badung, disamping berbagai alasan dan pertimbangan yang dianggap lebih menguntungkan dalam menghadapi Belanda, demi dharma, kebenaran dan kemerdekaan serta nama baik leluhur, keluarga dan kerajaan Badung. Dari sikap yang demikian Raja Badung tampil dan maju ke medan laga, walaupun akhirnya beliau gugur sebagai kusuma bangsa dalam pertempuran habis-habisan, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Puputan Badung” yang terjadi pada hari Kemis Keliwon Wara Wukir, tanggal 20 September 1906, yang merupakan Puputan Untuk Membela Kepatutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s