Bali Aga – Keunikan Desa Tenganan Pegringsingan

Bali Aga sangat menarik untuk dibicarakan, orang biasanya tak akan lupa menengok sebuah desa kuno di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem ini. Di antara sejumlah desa-desa Bali Aga yang masih bertahan, Tenganan Pegringsingan memang tergolong masih cukup berhasil menjaga keasliannya. Karenanya, Tenganan Pegringsingan pun kerap menjadi ikon dalam perbincangan mengenai kebudayaan masyarakat Bali Aga.

Orang yang hendak mengunjungi desa ini dari Denpasar mesti menempuh perjalanan sekitar 65 kilometer ke arah timur. Tiba di Candi Dasa, Anda belok menuju ke utara sekitar 3 kilometer. Setelah melewati Desa Pesedahan, anda akan melihat papan ucapan selamat datang di Desa Tenganan.

Keunikan desa ini adalah tidak mengenal istilah kasta alias masyarakat tanpa kelas. Nenek moyang mereka menganut kepercayaan Dewa Indra yang dipengaruhi oleh Majapahit dan Hindu. Setiap jengkal tanah di desa ini adalah tanah milik desa, mulai dari pemukiman, hutan, kebun dan sawah. Status kepemilikan tanah adalah milik bersama (komunal). Kepemilikan pribadi dilarang di desa ini. Semua lahan yang ada digunakan untuk kepentingan bersama dan dikelola masyarakat. Masyarakat hidup dalam suasana egaliter. Dan juga hukum adat yang masih kental. Merekapun hanya menikah dengan satu desa mereka, karena kalau mereka menikah dengan orang di luar desa mereka maka akan dikenakan sangsi berupa hukum adat.

Rumah sudah disediakan bagi para pasangan yang baru saja menikah. Mereka diberi tenggat tiga bulan untuk hidup mandiri dan lepas dari orang tuanya. Kemudian mereka memilih lahan untuk dibangun rumah dengan memberitahukan ke kepala desa. Saat itu juga lahan pilihan mereka secara sah sudah menjadi sebuah tempat tinggal keluarga baru di desa adat.

Ada beberapa cerita yang akan memberikan kita informasi tentang sejarah dari Desa Tenganan Pegringsingan. Beberapa mengatakan jika kata Tenganan berasal dari kata “tengah” atau “ngetengahang” yang berarti “bergerak ke daerah tengah“. Asal mula kata ini ada kaitannya dengan perpindahan penduduk pesisir pantai ke areal pedesaan. Yang mana daerah ini terletak di tengah-tengah bukit yaitu antara bukit kauh dan bukit kangin.

Versi lainnya mengatakan jika penduduk Tenganan sebenarnya berasal dari Desa Peneges, yaitu sebuah tempat yang berada di Gianyar, dekat dengan Desa Bedahulu. Dan jika berdasarkan dari cerita rakyat, pada jaman dahulu ketika Raja Bedahulu kehilangan salah satu kudanya. Orang-orang melihatnya bergerak ke timur. Dan pada akhirnya kuda itu ditemukan telah mati oleh Ki Patih Tunjung Biru, tangan kanan dari Raja. Sebagai upahnya raja akan menganugrahinya tanah sepanjang bau bangkai kuda tersebut dapat tercium. Jadi Ki Patih Tunjung Biru akhirnya memotong-motong bangkai kuda tersebut menjadi potongan yang kecil-kecil menyebarkannya sejauh yang ia bisa. Dengan demikian akhirnya Ki Patih Tunjung Biru mendapat tanah yang cukup luas.

Ciri khas Desa Tenganan saja kain tenun ikat yang disebut Kain Gringsing. Karena itu pula, nama desa ini lebih dikenal dengan Desa Tenganan Pegringsingan. Ini untuk membedakannya dengan Desa Tenganan Dauh Tukad atau pun Tenganan sebagai desa dinas.

Tidak diketahui secara pasti kapan kain gringsing mulai muncul di Tenganan Pegringsingan. Tiada diketahui pula siapa yang pertama kali memperkenalkan kerajinan menenun kain ini di Tenganan Pegringsingan.

Selain itu juga tiap setahun sekali diadakan perang pandang yang bertujuan untuk mempererat persaudaraan di antara mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s