Ngereh ….???

Kita sering mendengar kata “ngereh” pada masyarakat Hindu di Bali. Apa sebenarnya pengertian dari kata ngereh tersebut? Setelah dicari-cari pada beberapa kamus Bahasa Bali ternyata tidak mencantumkan kata ngereh. Begitu juga pada Kamus Bahasa Bali karangan Simpen AB juga tidak ditemukan kata ngereh.

Namun beberapa lontar memang ada memberi petunjuk mengenai ngereh, antara lain Lontar Canting Mas, Widhi Sastra dan Ganapati Tatwa dan Lontar Pengerehan. Lontar-lontar tersebut ternyata memberikan penjelasan mengenai ngereh atau kerauhan dalam perspektif yang luas, sehingga menimbulkan kesan bahwa ngereh hanyalah prosesi mistik yang sangat rahasia. Disebut rahasia sebab dilakukan di kuburan tengah malam, hal ini merupakan pengertian ngereh yang sempit yang hidup dan berkembang dalam benak masyarakat Hindu Bali.

Jadi pengertian “ngereh” dalam arti sempit merupakan suatu prosesi ritual mistik yang dilakukan di kuburan pada tengah malam dan merupakan tahapan akhir dari proses sakralisasi petapakan Ida Bhatara Rangda atau Barong. Atau tahapan akhir dari proses sakralisasi setelah memperbaiki petapakan yang lama atau rusak.

Namun ada juga yang menyebutkan bahwa ngereh merupakan simbolis kumpulan aksara-aksara suci yang terdapat dalam swalalita dan mudra yang dirangkum menjadi satu sehingga menjadi kalimusada dan kalimusali yang biasanya dipakai untuk surya sewana. Dari kalimusada dan kalimusali ini muncul dwijaksara diakulturasikan menjadi Dasa Aksara, terus menjadi Panca Aksara kemudian menjadi Tri Aksara, Dwi Aksara dan akhirnya menjadi Eka Aksara.

Kaitannya dengan ngereh adalah menghidupkan kekuatan Ista Dewata atau lingga beliau yang sesuai dengan fungsinya, khususnya menghidupkan benda-benda yang dibuat oleh manusia.

Dalam beberapa lontar yang ada yang memuat tentang ngereh yakni Lontar Canting Mas dan Siwer Mas peninggalan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh/Dang Hyang Dwijendra, ngereh mempunyai arti yakni menghidupkan organ inti manusia yang berupa cakra-cakra dalam tubuh manusia.

Di dalam tubuh manusia terdapat tujuh cakra yang harus dihidupkan menjadi kundalini yang menjadi rah atau ngereh. Dengan kata lain, kita harus menyatukan ongkara ngadeg dan ongkara sungsang dalam tubuh. Ini berfungsi untuk mengaktifkan kekuatan diri sendiri untuk mencapai kesadaran diri dan dapat menyatu dengan sifat-sifat beliau (ketuhanan). Dengan sifat-sifat ketuhanan yang lebih mantap akan memudahkan kita berbuat baik dalam menjalani hidup. Di masyarakat dikenal dengan membangkitkan aura (taksu) yang berdasarkan kekuatan batin.

Jadi tidak selalu ngerehang itu bersifat menyeramkan. Kalaupun itu bersifat menyeramkan berarti merupakan spesifikasi dari ngerehang. Khusus terhadap ngerehang Rangda dan Barong haruslah mengacu pada dresta yang berlaku setempat.

Menurut Drs. I Made Karda, M.Si yang juga sebagai tukang saluk rangda pada tulisannya di majalah Taksu 169 Tahun 2007 menjelaskan bahwa Ngereh lebih dekat dengan kata kerauhan atau kesurupan, yang artinya kemasukan roh manifestasi Tuhan. Mereka akan menggerakkan tubuhnya sesuai dengan kekuatan yang menempatinya.

Ditambahkan bahwa kerauhan di Bali ada 2 (dua) konsep, yaitu :

  1. Kerauhan yang biasanya terjadi ketika piodalan di pura, sanggah kemimitan ataupun di rumah yang memberi isyarat bahwa yadnya telah berhasil dengan baik atau sebaliknya tidak berhasil dengan alasan ada kesalahan.
  2. Kerauhan untuk menghadirkan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada saat mengangkat seorang pemangku secara niskala pada suatu pura atau sanggah kemimitan. Ini disebut dengan ketapak ditunjuk secara niskala oleh Ida Bhatara.

Kerauhan yang lain adalah untuk pasupati tapel rangda yang terbuat dari kayu Pule setelah dipasupati tidak lagi disebut Tapel Rangda tetapi disebut dengan Ratu Ayu sebutan lain yang disepakati oleh masyarakat penyungsungnya.

Ida Bagus Sudiksa seorang tokoh spiritual, dalang dan pembuatan pratima, barong dan rangda dari Desa Adat Kerobokan Kabupaten Badung menyatakan bahwa setelah selesai pembuatan tapakan Ida Bhatara kemudian dilakukan pengatepan, melaspas, nueden, pasupati oleh Sang Sulinggih dan terakhir barulah dilaksanakan pengerehan.

Disebutkan bahwa ngereh adalah pesucian dari tapakan Ida Bhatara yang ada di Pura. Adapun makna dari pengerehan adalah pengijakan pertama pada Ibu Pertiwi untuk menghidupkan kekuatan magis barong atau rangda yang dilakukan di setra atau sering disebut dengan Napak Pertiwi. Ritual di setra ini berhubungan dengan kekuatan magis dan alam gaib dan erat hubungannya dengan jiwa Agama Hindu di Bali yang menganut paham Siwaisme.

Terkait dengan ngereh selain Lontar Kala Maya Tatwa ada juga beberapa Lontar tentang pengerehan yakni Lontar Barong Swari yang memuat tentang Kanda Pat, pembuatan barong, rangda, telek, jauk dan lain-lainnya.

Seorang tokoh juga dari Desa Adat Kerobokan Kabupaten Badung Jro Mangku Drs. Made Meja Swarata juga berprofesi sebagai dalang dan sejak masih muda biasa memimpin Ritual Ngereh, walaupun beliau tidak terjun langsung selaku pemerannya mengatakan bahwa Ngereh adalah kegiatan yang dilaksanakan dengan tujuan memohon sesuatu pasupati/kekuatan/kehidupan kepada Ida Bhatara terhadap sesuatu petapakan atau palawatan Ida Bhatara misalnya Rangda atau Barong.

Ritual ini dilakukan setelah Barong/Rangda (petapakan) selesai diperbaiki (bagi yang lama) atau bagi petapakan yang baru dibuat akan mulai dipergunakan. Tentunya sebelum ritual ngereh ini dilakukan terhadap petapakan, terlebih dahulu dilaksanakan penyucian dan pemlaspas serta pasupati (sekala).

Ngereh biasanya berhubungan dengan Upacara Sakral berupa : Pasupati, Ngatep dan Mintonin. Ngereh artinya memusatkan pikiran, dengan mengucapkan mantra dalam hati, sesuai dengan tujuan yang bersangkutan. Pasupati artinya kekuatan dari Dewa Siwa. Ngatep artinya mempertemukan dan Mintonin adalah bahasa Jawa Kuna yang artinya menampakkan diri.

Dalam prosesi Ngereh Petapakan Ida Betara diperlukan tiga tingkatan upakara seperti ; Prayascita dan Mlaspas, Ngatep dan Pasupati, Masuci dan Ngerehin

Tahap Prayacitta dan Melaspas

Tujuan dari upacara ini adalah untuk menghapuskan noda baik yang bersifat sekala maupun niskala yang ada pada kayu dan benda lain yang digunakan untuk pembuatan Petapakan Betara. Noda ini dapat saja ditimbulkan oleh sangging (seni ukir) ataupun bahan itu sendiri. Dengan Upacara Prayascitta diharapkan kayu atau bahan itu menjadi bersih dan suci serta siap untuk diberikan kekuatan. Upakara tersebut dihaturkan kehadapan Sang Hyang Surya, Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Sapujagat.

Tahap Ngatep dan Pasupati

Tahap Ngatep dan Pasupati dapat dilakukan oleh Pemangku (orang suci) dan Sangging (seni ukir). Dengan upacara ini terjadilah proses Utpeti (kelahiran) terhadap Petapakan Betara. Mulai saat itu dapat difungsikan sebagai personifikasi dari roh atau kekuatan gaib yang diharapkan oleh penyungsungnya (Pemujanya).

Tahap Masuci dan Ngrehin

Tahap Masuci dan Ngrehin merupakan tingkat upacara yang terakhir dengan maksud agar Petapakan Betara menjadi suci, keramat dan tidak ada yang ngeletehin (menodai). Tujuan upacara adalah untuk memasukkan kekuatan gaib dari Tuhan. Dengan demikian diharapkan Petapakan Betara mampu menjadi pelindung yang aktif. Upacara ini biasanya dilakukan pada dua tempat yaitu di pura dan di kuburan.

Apabila dilakukan di kuburan yang dianggap tenget (angker), maka diperlukan tiga tengkorak manusia yang berfungsi sebagai alas duduk bagi yang memundut (mengusung). Begitu pula bila dilakukan di pura maka tengkorak manusia dapat diganti dengan kelapa gading muda. Upacara ini biasanya dilakukan pada tengah malam terutama pada hari-hari keramat seperti hari Kajeng Kliwon menurut Kalender Bali.

Sebagai puncak keberhasilan upacara ini adalah adanya kontak dari alam gaib yaitu berupa seberkas sinar yang jatuh tepat pada pemundutnya (pengusungnya). Si pemundut (pengusung) yang kemasukan sinar itu akan dibuat kesurupan (trance) dan pada saat itu pula si pemundutnya (pengusungnya) menari-nari. Kejadian lain yang menandakan upacara ini berhasil adalah apabila Petapakan Betara bergoyang tanpa ada yang menyentuhnya.

Demikianlah beberapa difinisi berdasarkan pendapat beberapa orang yang memang sudah cukup berpenglaman terkait dengan ngereh itu. Memperhatikan beberapa pendapat yang telah diuraikan di depan, pada intinya ngereh itu adalah suatu ritual niskala yang bersifat magis yang merupakan kelanjutan dari ritual sekala yang dilaksanakan terhadap suatu petapakan (biasanya Barong atau Rangda). Jadi ngereh ini bermakna memohonkan kekuatan kehadapan Ida Bhatara agar petapakan menjadi sakral dan memiliki kekuatan gaib sehingga mampu dan diyakini melindungi masyarakat penyungsungnya serta warga disekitarnya.

Ngereh adalah ritual yang langka dan bernuansa magis serta gaib, maka untuk lokasinya pastilah disesuikan. Tentunya, tidak dilaksanakan pada tempat-tempat umum atau keramaian, malah sebaliknya mencari lokasi yang sepi, tenget, sakral jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Dipastikan tempat itu adalah setra (kuburan). Hal ini diperkuat lagi dengan bunyi salah satu definisi atau pengertian dari Ngereh yakni penginjakan pertama pada ibu pertiwi untuk penghidupan pada barong dan rangda yang dilakukan di setra (kuburan).


Mengapa pengerehan dilaksanakan di setra?

Karena setra atau kuburan merupakan tempat pemujaan terhadap Dewi Durga Bhirawi (Dewanya kuburan sesuai dengan Lontar Bhairawi Tatwa), yang merupakan perwujudan dari Dewi Durga. Dalam mitologinya, Dewa Siwa berubah wujud untuk menemui saktinya Dewi Durga (berupa rangda), sehingga memunculkan beberapa kekuatan yang menyeramkan untuk menguasai dunia. Inilah alasannya kenapa setra dipakai sebagai tempat ngerehang Barong atau Rangda. Karena penuh dengan kekuatan gaib atau black magic, sehingga dalam ngerehang ini jika sudah mencapai puncaknya maka ia akan hidup, setelah hidup, rangda akan memanggil anak-anak buahnya berupa leak atau makhluk lainnya.

Tengetnya setra seperti yang tercantum pada Lontar Kala Maya Tattwa, di mulai dengan cerita diadakannya rapat di Sorga Loka oleh Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa sebagai perlambang Tri Purusa. Sedangkan sebagai petugas yang melayani rapat adalah Dewi Uma saktinya dari Siwa yang dibantu oleh para bidadari. Apa yang terjadi ? Ternyata pada saat rapat berlangsung Dewi Uma sedang menstruasi (haid), namun Dewi Uma tidak mau terbuka dan menutupi hal tersebut. Menurut peraturan di Sorga Loka bahwa wanita yang sedang menstruasi (haid) tidak boleh mengikuti kegiatan di Kahyangan.

Kejadian Dewi Uma sedang kotor kain (haid)ini diketahui oleh para Dewa lainnya yang sedang mengikuti rapat, namun Dewi Uma tidak peduli dan berlaku cuek saja. Hal ini diketahui oleh Sada Siwa yang memimpin rapat dan segera memberitahukannya kepada Paramasiwa. Akhirnya kotor kainnya Dewi Uma jatuh dan diketahui oleh Paramasiwa yang menyebabkan beliau marah. Maka diusirlah Dewi Uma dari sorga dan mengutuknya menjadi Dhurga bertempat tinggal di Setra Gandamayu.

Lama-kelamaan Siwa menjadi rindu kepada saktinya Dewi Uma di Setra Gandamayu yang telah berubah menjadi Dhurga. Siwa bermaksud turun ke dunia ingin bertemu dengan Dewi Uma, namun beberapa kali selalu diketahui oleh para Dewa lainnya. Untuk menghindari supaya tidak diketahui oleh para Dewa lainnya, maka Siwa berubah (memurti) menjadi raksasa.

Kemudian bertemulah Dewa Siwa dengan Dewi Uma yang telah menjadi Dewi Dhurga. Mereka bercengkrama yang kemudian mengeluarkan sperma Siwa. Untuk sperma yang jatuh di tanah menjadi beberapa macam kayu, yakni pule, kepah, kepuh dan kayu jaran. Sedangkan sperma yang jatuh di tubuhnya menjadi beberapa makhluk seperti bengala-bengali, bhuta-bhuti, bebai, leak, umik-imikan dan lain-lainnya. Dengan terciptanya tetumbuhan dan makhluk-makhluk seram ini membuat kuburan menjadi angker yang akhirnya memang cocok dipergunakan sebagai lokasi ngereh.

Disamping itu, keluarlah bisama beliau kepada manusia yang isinya agar membuat pura dimana mereka bercengkrama yang diberi nama Pura Prajapati. Pura ini berfungsi untuk meminta keselamatan masyarakat melalui Desa Adat, agar terhindar dari malapetaka, grubug maupun penyakit/hama yang menyerang pertanian. Maka dibuatkan pelawatan atau petapakan beliau seperti topeng, barong, rangda dan lain-lainnya.


Dari uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa ritual Ngereh itu adalah peristiwa kesurupan atau pemasupati, yang sengaja dibuat karena untuk membuktikan bahwa “topeng/benda” yang diupacarai sudah memiliki kekuatan gaib untuk keselamatan masyarakat penyungsungnya (pemujanya).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s