Pura Amerthasari – Tempat Memohon Kemakmuran

Pendahuluan

Berbakti kepada Tuhan bukanlah sekadar untuk berbakti dalam wujud ritual formal. Berbakti pada Tuhan dengan sarana tempat pemujaan dengan berbagai kelengkapannya bukanlah sekadar untuk berbakti untuk menunjukkan bahwa kita sudah beragama. Berbakti pada Tuhan memiliki tujuan yang amat luas.

Pura Amertha Sari

Salah satu tujuan berbakti pada Tuhan untuk menguatkan motivasi hidup dengan mengembangkan aspek spiritual. Dari kuatnya motivasi hidup itulah berbagai kegiatan hidup dapat diselenggarakan dengan tepat, baik dan benar. Salah satu pahala dari terselenggaranya kehidupan yang tepat, baik dan benar itu terwujudnya kehidupan yang sejahtera. Mengembangkan dan memelihara kehidupan yang sejahtera Tuhan dipuja sebagai Dewa Wisnu. Dewi Sri adalah sebagai ”saktinya” Dewa Wisnu dalam menuntun umat manusia dalam mengembangkan dan memelihara kehidupan makmur dan sejahtera itu.

Pura Amerthasari di Banjar Merthasari, Desa Adat Lokasari, Loloan Timur, Kabupaten Jembrana adalah pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Ayu Manik Galih. Tujuan pemujaan ini adalah untuk mendapatkan motivasi religius dalam mengembangkan kehidupan yang sejahtera. Dewa Ayu Manik Galih sebutan lain dari Tuhan sebagai dewanya padi. Suburnya tanaman pangan yang disebut padi itu adalah simbol kemakmuran ekonomi.

Dalam tradisi kehidupan beragama Hindu di Bali, Dewa Ayu Manik Galih itu adalah sebutan lain dari Dewi Sri. Dewa Wisnu ”saktinya” adalah Dewi Sri sebagai dewinya kemakmuran ekonomi. Mengapa saktinya Dewa Wisnu yang dipuja? Hal ini mempunyai nilai aplikatif dalam mengimplementasikan pemujaan pada Tuhan.

Sakti dalam pustaka suci Wrehaspati Tattwa dinyatakan: Sakti ngaranya ikang sarwa jnanya lawan sarwa karya. Artinya : Sakti namanya yang banyak ilmu dan banyak kerja. Ilmu yang diamalkan dalam kerja itulah yang disebut sakti. Dengan demikian pemujaan Dewi Sri sebagai saktinya Dewa Wisnu mengandung makna bahwa untuk mengembangkan dan melindungi kehidupan yang makmur sejahtera tidak cukup hanya dengan memuja Tuhan dengan mencakupkan tangan di depan tempat pemujaan Dewi Sri.

Pemujaan itu hendaknya dilanjutkan dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan tepat, baik dan benar dalam wujud berbagai pekerjaan nyata. Dalam ilmu itu ada nilai dan konsep. Wujudkanlah nilai dan konsep itu dalam kerja sehingga memperoleh pahala mulia dari Tuhan. Dalam memelihara kehidupan yang makmur dan sejahtera itu adalah mengembangkan dan melindungi lima hal yaitu Dharma, Dhana, Dhanyan, Guru Wacana dan Ausada.

Dharma itu sering disinonimkan dengan agama. Artinya kalau ingin hidup sejahtera pelihara dan kembangkanlah dharma agama dengan tepat, baik dan benar. Agama jangan dijadikan media formal untuk meraih citra moral semata dengan menampilkan kegiatan-kegiatan eksklusif. Hal ini dapat menimbulkan beban hidup yang memberatkan hidup. Agama yang intinya berupa sradha dan bhakti pada Tuhan hendaknya diimplementasikan menjadi sistem religi yang lebih dinamis untuk menuntun hidup ke dalam berbagai sistem budaya.

Dharma juga berarti kebenaran, kewajiban dan kebajikan. Untuk mendapatkan hidup makmur dan sejahtera itu hiduplah berdasarkan kebenaran, berbuat sesuai dengan kewajiban hidup. Di samping itu, dharma juga berarti melakukan kebajikan pada sesama ciptaan Tuhan.

Dhana artinya harta benda berupa kekayaan. Hal ini harus dicari dan lindungi dengan tepat, baik dan benar. Mendapatkan dhana haruslah berdasarkan dharma. Dalam Wrehaspati Tattwa ada delapan kepuasan hidup atau Asta Tusti yang seyogianya diusahakan dalam hidup ini. Di antaranya Arjana dan Raksana. Arjana artinya rezeki atau penghasilan yang dapat dikumpulkan dengan kerja yang benar. Sedangkan Raksana adalah memperoleh rasa aman. Juga berarti menggunakan rezeki atau Arjana itu dengan sebaik-baiknya sehingga menimbulkan rasa aman dalam diri.

Dhana itu seharusnya digunakan untuk menyukseskan tujuan mencapai Dharma, Artha dan Kama. Pemeliharaan dan perlindungan dhana itu agar jangan mempergunakan dhana itu justru menimbulkan perilaku adharma.

Dhanyan artinya bahan makanan. Bahan makanan itu harus didapatkan dari dharma dengan tidak merusak alam sumber dari bahan makanan itu, dipilih makanan yang satwika, diolah secara Catur Sudhi sehingga bahan makanan yang diolah itu tetap dapat berfungsi sebagai bahan makanan yang sehat dan tetap Satwika Ahara. Pola makan dengan konsep ilmu kesehatan yang tepat.

Guru Wacanam artinya kata-kata bijak atau Subha Sita yang dikembangkan oleh para guru suci seperti para maharesi dan para pandita yang ahli dalam mengembangkan ajaran suci Weda ke dalam kata-kata sastra yang bermakna dan dapat meresap ke dalam lubuk hati sanubari umat. Kata-kata bijak atau Subha Sita itulah yang harus dilindungi dengan diajarkan pada umat melalui sistem pendidikan baik formal, nonformal dan informal. Kata-kata bijak guru suci itu adalah warisan karya para resi yang telah banyak dibukukan, baik dalam wujud Itihasa maupun Purana dan kitab-kitab Sastra Weda lainnya. Kata-kata bijak ini harus disebarkan seluas-luasnya sepanjang masa pada setiap generasi. Dengan demikian umat akan terus tertuntun oleh kata-kata bijak sebagai wacana para guru suci itu sebagai media penyebaran ajaran Weda sabda Tuhan.

Ausada artinya obat-obatan sebagai cara untuk memelihara kesehatan masyarakat. Dalam pengertian yang lebih luas Ausada juga berarti melindungi sistem hidup sehat untuk diterapkan pada setiap generasi. Demikianlah lima hal yang wajib dilindungi kalau ingin mendapatkan hidup yang sejahtera.


Pura Amerthasari

Pura Dang Kahyangan Amerthasari terletak sekitar 1,5 km arah selatan Kota Negara, tepatnya di Banjar Mertasari, Desa Adat Lokasari, Loloan Timur, Negara. Dari dulu hingga sekarang pura ini merupakan sungsungan subak. Hal tersebut terbukti setiap awal musim tanam selalu dilakukan kegiatan dan upacara memohon kepada Hyang Widhi Wasa di pura tersebut. Pura tersebut termasuk Pura Dang Kahyangan (sungsungan jagat) karena yang distanakan di sana adalah seorang guru agama besar pada zamannya.

Bangunan pura ini pernah direnovasi tahun 1961. Namun di tahun 1965 bangunan pura tersebut sempat telantar sebelum sempat selesai dipugar. Akhirnya pada 14 Juli 1976 bangunan tersebut ambruk total akibat gempa bumi yang terjadi. Hingga kemudian empat desa adat menjadi pekandel pura tersebut yakni Desa Adat BB Agung, Puseh Agung Kelurahan Banjar Tengah, Desa Adat Kertha Jaya Kelurahan Pendem dan Desa Adat Lokasari Kelurahan Loloan Timur.

Awal berdirinya Pura Amerthasari ini sebelum direhab tahun 1965 hanya ada satu pura yang terletak di bawah pohon beringin besar. Menurut Pemangku Pura Amerthasari, Mangku Nendra, di sekitar pura tersebut sebelumnya ada telaga kecil. Baru setelah dilakukan rehab, telaga itu dipindahkan dan dibuat meru di sana. Dan sekarang di atas telaga itu dibuatkan Padma. Sedangkan air telaga itu diambil secara modern dari dalam tanah ini sekitar 15 meter, lalu dialirkan di bawah Padma.

Nama pura ini sebenarnya Amerthasari, namun karena orang mempermudah lafal dan biar cepat maka biasa disebut Merthasari. Mangku generasi ketiga ini menjelaskan arti Amertasari itu, dimana Amerta berarti seluruh makanan, sedangkan Sari berarti isinya.

Saat ini Pura Dang Kahyangan Amerthasari memiliki beberapa pelinggih yakni pelinggih Ratu Nyoman, Padmasana, Meru, Pepelik, Taksu dan Dewa Ayu Manik Galih tempat menyembah Bhatari Sri.

Cikal-bakalnya adanya pura ini diawali saat Danghyang Niratha mengajari beragama di Pura Gede Perancak kemudian langsung pindah ke Tanjung Tangis dan bertanya kepada kera-kera di mana ada desa lagi. Lalu kera tersebut menghadap ke utara, lalu ada Desa Budeng. Di sana ada bojog badeng atau ijah. Di sana bertanya lagi di mana ada desa, lalu kera tersebut menghadap ke barat, menuju Merthasari.

Sesampainya di desa Merthasari, beliau mengajari masyarakat bertani. Penyungsung pura ini adalah empat desa yakni Desa Lokasari Kelurahan Loloan Timur, Pendem Desa Adat Kertajaya, BB Agung, Banjar Tengah. Dulu para pengempon kebanyakan dari petani, namun sekarang banyak pengemponnya dari Srono, Blambangan, Jawa Timur.


Sejarah Singkat

Setelah Dalem Waturenggong dari Gelgel (Klungkung) gagal niatnya untuk mempersunting putri Blambangan (Cokorda Ayu Mas) maka Raja Blambangan sempat diasut kaki tangannya untuk mencurigai Danghyang Nirartha, bahwa beliau telah berbuat serong terhadap selir dan Putri Raja.

Untuk menghindari kemurkaan Sang Dalem maka Danghyang Nirartha bersama keluarganya pergi ke Bali dengan menaiki perahu bocor. Beliau sempat singgah di Tanjung Tangis (pesisir selatan Kabupaten Jembrana) pada tahun 1411 Caka, sekitar tahun 1489 Masehi. Di kawasan tersebut memang sudah ada tokoh (pemimpin) yang bergelar Gusti Ngurah Sawe Rangsasa.

Kehidupan beragama penduduk di kawasan tersebut menganut sistem animisme dan menyembah berhala (bukan menyembah Tuhan). Di sanalah kemudian Danghyang Nirartha mulai mengenalkan Padmasana sebagai tempat pemujaan terhadap Tuhan dan mengajarkan cara menyembah Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Maka terjadilah selisih paham antara sang pemimpin dan pendeta yang baru datang yang diakhiri dengan adu adnyana (kesaktian).

Dalam adu kesaktian itu, kekalahan ada pada pihak Gusti Ngurah Sawe Rangsasa yang akhirnya dia pergi meninggalkan kawasan tersebut. Danghyang Nirartha memandang perlu memperbaiki kehidupan beragama yang benar.

Beliau tidak lama tinggal di kawasan Tanjung Tangis ini, setelah penduduk di sana mengerti tentang melaksanakan agama yang benar, beliau akhirnya mendirikan pura sebagai tempat persembahyangan kini disebut Pura Dang Kahyangan Perancak. Dan kawasan tersebut akhirnya disebut Desa Perancak. Pura ini merupakan tempat memohon waranugraha Ida Sang Hyang Widhi bila kita hendak memulai belajar ilmu pengetahuan agama (kerahayuan).

Beliau melanjutkan perjalanan di kawasan Telaga Taman sekitar tahun 1485 Masehi. Kawasan Telaga Taman merupakan kawasan yang sangat subur. Kehidupan beragama sudah agak baik. Di kawasan ini sudah ada lima tempat pemujaan yaitu bagian tengah dan di pojok-pojok kawasan. Kedatangan Danghyang Nirartha di kawasan ini tidak terjadi perselisihan paham dengan tokoh bernama Empu Macan Gading. Di daerah ini beliau mengajarkan ilmu pertanian dan pengolahan hasil pertanian.

Sebagai pelayan pendeta di kawasan ini adalah seorang keturunan dari Pasek dan berdasarkan hikayat ini keturunan yang pantang terhadap ikan julit. Lama-kelamaan kawasan ini berubah menjadi Desa Amrethasari dan sekarang menjadi Merthasari.

Setelah penduduk mengerti cara beragama dan mengolah pertanian, beliau meninggalkan kawasan tersebut. Dengan menuju ke timur dan diantar oleh penduduk (ketugtug) karena tersiar berita bahwa di kawasan bagian timur penduduk diserang wabah penyakit. Kadatangan beliau di sana disambut baik oleh penduduk. Beliau di sana mendapat julukan Ida Peranda Sakti Wahu Rawuh. Akhirnya beliau mendirikan tempat pemujaan yang fungsinya untuk menolak bala (nangluk merana) yang sekarang kita kenal dengan nama Pura Rambut Siwi di Desa Yeh Embang.

Sebelum beliau diangkat menjadi bhagawanta pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (tahun 1460-1550) beliau tiba di Gelgel berkisar tahun 1489 Masehi. Jadi ketiga Pura Dang Kahyangan di wilayah Jembrana memiliki fungsi yang berbeda yaitu Pura Perancak tempat memohon bila memperdalam ilmu agama dan pengetahuan. Di Pura Dang Kahyangan Amerthasari tempat memohonkan amreta (kesejahteraan) dan di Pura Rambut Siwi tempat memohonkan penolak bala (nangkluk merana).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s